
Hari ini beberapa pihak ada yang bahagia, ada juga yang sangat sedih. Pesta pernikahan Darren dan Zaila tengah berlangsung meriah. Zaila teramat bahagia, tapi tidak untuk Darren.
Zaila, putri seorang pengusaha mebel yang mana ayahnya adalah teman Wirawan. Ia adalah gadis yang pandai, sopan dan santun, juga sangat dibanggakan oleh kedua orang tuanya. Zaila adalah tipe anak yang penurut dan sangat menghormati semua pendapat juga perintah ayah dan mamanya.
Jadi tidak heran jika Zaila dengan senang hati mau dinikahkan dengan laki-laki yang sama sekali belum ia kenal atau bahkan cintai. Namun Zaila yakin, lama-lama hatinya pasti akan terbuka untuk Darren. Hanya perlu waktu, Zaila percaya bahwa dirinya dan Darren akan bisa saling mencintai dan menerima 1 sama lain.
Sedangkan di sisi seberang sana sedari tadi Shani duduk menyendiri di kursi itu, memandangi wajah Darren yang tampaknya begitu gembira menyambut tamu-tamu yang datang. Dan di samping kirinya ada seorang perempuan bergaun putih, cantik, senyumannya mempesona. 2 pengantin itu terlihat serasi sekali.
Shani mengelus pelan perutnya yang masih rata. Apa janin yang ia kandung saat ini juga sama hancurnya seperti dirinya? Shani hanya bisa meratapi nasibnya yang sial, hamil di luar nikah, lalu ditinggal menikah oleh laki-laki yang menghamilinya dengan gadis lain. Siapa yang patut disalahkan atas semua ini? Shani, ia cuma bisa menyalahkan dirinya sendiri.
Hampir 30 menit Shani masih saja duduk di kursi bersarung putih itu, memojok, menatap kosong sebuah gelas minuman yang isinya masih utuh. Shani sudah mengambil minuman berwarna hijau dengan biji selasih yang terlihat segar beberapa menit tadi sebelum dirinya duduk di kursinya sekarang, tapi Shani enggan meminumnya. Di pesta pernikahan mewah itu seharusnya ia menghabiskan banyak menu-menu lezat dan minuman beraneka rasa, namun Shani tidak berselera.
Tiba-tiba seseorang menarik kursi mendekati Shani, duduk di sebelahnya membuat perempuan itu menoleh.
“Kenapa nggak diminum?” tanya Malvin. Sudah lama laki-laki itu memperhatikan Shani dari kejauhan. Melihat bagaimana perempuan itu menatap sendu sepupunya yang tengah berdiri di pelaminan bersama Zaila. Tragis, begitulah definisi singkat Malvin untuk menilai hidup Shani.
Shani melempar senyum kecut ke arah Malvin. Kalau saja Shani tidak berdandan hari ini, pasti raut wajahnya itu hanya menampakkan sinar pucat. Ia tengah mengandung, dan suasana hatinya selalu mendung.
“Aku kira yang bakalan berdiri sama Darren di sana itu kamu,” celetuk Malvin menatap kecewa Darren dan Zaila yang masih menyalami tamu. Ia terkekeh miris. “Tapi ternyata perkiraanku salah,” lanjutnya seraya menoleh pada Shani.
Shani berusaha keras menahan cairan bening di pusat matanya. Berhasil, walaupun itu menyisakan rasa sesak yang teramat luar biasa. Tapi setidaknya ia mampu menutupi kesedihannya di depan Malvin. Shani tidak ingin menodai acara bahagia itu dengan air matanya. Dan kalau bisa, sebenarnya dirinya juga ingin bahagia dengan momen itu.
__ADS_1
“Mau cari udara segar di luar?” tawar Malvin setelah mendapati respon Shani yang terkesan membisu dengan semua celotehannya.
“Hm.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Shani, dengan senyuman tipis dan ekspresi yang tidak bisa ditebak.
Malvin pun mengajak Shani pergi dari ruang hotel itu, hotel mahal yang disewa keluarga Argantara untuk melangsungkan pernikahan Darren dengan Zaila.
...◦○⭕○◦...
Udara malam menyelisik kulit Shani. Kebaya press body dengan lengan ¾ tanpa kerah membuat samping-samping lehernya merinding. Malvin melepas jasnya ketika mendapati Shani seperti orang menggigil. Laki-laki itu dengan baiknya memasangkan luaran hitamnya ke bahu Shani. Dan sekarang, tubuh Shani lumayan hangat.
2 orang itu duduk berdua di pematang beton dekat dengan parkiran depan hotel. Dan seseorang di dekat mereka, agak sedikit menjauh, bersembunyi, berniat menguping keduanya. Shani dan Malvin masih saling diam, dan lalu salah satunya mulai menyuara.
“Sebelum pernikahan ini berlangsung, aku sempat bicara sama Darren,” ujar Malvin membuat Shani mulai menyimak. Malvin mengambil jeda sebentar, dan mulai menatap Shani serius. “Aku nyuruh dia tanggung jawab setelah apa yang diperbuatnya ke kamu. Tapi Darren bilang, kamu nggak hamil.”
“Kenapa?”
Shani terdiam sebentar, mencoba mengumpulkan semua pemikirannya untuk diungkapkan kepada Malvin. “Kamu nggak akan ngerti. Tapi kamu pasti tau apa yang akan terjadi kalau aku sampai menikah sama Darren.”
“Darren itu atasan aku. Apa kata orang-orang kantor kalau mereka tau tiba-tiba aja aku nikah sama atasan aku sendiri?”
Malvin menyeringai. “Kenapa kamu mikirin omongan orang-orang yang-”
__ADS_1
“Bukan cuma itu,” sela Shani. “Kamu tau gimana respon Pak Wirawan nantinya? Dia bahkan udah jodohin Darren sama perempuan itu. Dan aku yakin demi apa pun, orang tua Darren nggak akan setuju kalau aku sama Darren sampai menikah.”
Malvin tau. Bahkan jika Shani dan Darren benar-benar akan menikah, Wirawan bisa saja melakukan sesuatu yang jauh lebih ekstrem daripada ketidaksetujuan. Malvin sangat paham bagaimana watak omnya itu.
“Kita nggak mungkin menikah tanpa restu orang tua. Dan aku nggak mungkin menikah sama putra tunggalnya Pak Wirawan. Aku nggak tau kenapa, tapi aku ngerasa aku sama Darren nggak pantas buat hidup berdampingan.”
“Siapa bilang kalian nggak pantas? Kalau boleh jujur, kamu itu justru terlalu baik buat Darren. Kamu tau apa aja yang udah dilakuin Darren selama di Amerika? Sesuatu yang bahkan udah terlalu menyimpang dalam agama dan norma di negara kita,” ujar Malvin.
Shani diam, tertegun, semakin meratapi kehancuran hidupnya.
“Tapi syukur deh kamu nggak hamil,” celetuk Malvin dengan entengnya. Pelan-pelan, ia mulai menggenggam tangan Shani. “Lupain masalah kamu sama Darren. Dan aku mau dengan tulus menerima kamu, Sha. Apa sekarang kamu mau jadi pacar aku?”
“Aku nggak bisa.” Jawab Shani cepat menatap Malvin dengan berkaca-kaca.
“Kenapa? Aku beneran serius sama kamu. Aku suka sama kamu bahkan sebelum Darren suka sama kamu. Waktu kuliah, waktu kuliah dulu aku udah suka sama kamu, Sha.”
“Aku nggak bisa!” seru Shani tegas seiring air matanya bercucuran. “Aku hamil, Vin. Aku nggak bisa pacaran sama kamu,” ungkapnya semakin terisak seiring pegangan Malvin mengendur dari kedua tangannya.
Seketika Malvin membeku. Hatinya berdesir perih mendengar penuturan Shani yang seolah membuat jantungnya merosot ke bawah dan enggan berdenyut lagi. Hamil? Apa ia tidak salah dengar? Shani hamil???
Shani menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis dan terus menangis. Malvin tersambar dengan kenyataan pahit, tapi lebih pahit lagi ketika kenyataan itu dirasakan Shani saat ini. Malvin berusaha menguatkan hatinya, dan ia mulai memeluk Shani.
__ADS_1
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.