The Secretary

The Secretary
BAB 33


__ADS_3

Darren menatap ke arah papanya dengan sorotan tajam. Wirawan terlihat tidak acuh tampak terus menikmati hidangan malamnya. Sedangkan, Fiona dan Zaila mulai menatapi menyimak perangai dan obrolan Darren dengan Wirawan.


“Darren nggak akan pecat Shani,” tegas Darren membuat papanya menoleh padanya.


Wirawan meletakkan alat makannya dan mulai menatap Darren antusias. “Kenapa?” tanyanya pada putranya itu.


Darren terdiam beberapa detik. Ia harus segera mencari alasan, tapi rasanya otaknya seperti enggan bekerja untuk berkilah. “Karena Shani adalah orang yang paling Darren butuhkan di perusahaan.” Jawab Darren.


Wirawan memicing sebentar. Kemudian, “Papa curiga kamu ada sesuatu dengan perempuan itu,” celetuknya membuat batin Darren terperanjat. Begitu pun Zaila, perempuan itu mulai berpikiran yang bukan-bukan.


“Hm, Darren memang punya hubungan khusus dengan Shani,” seru Darren membuat ketiga orang di sana mulai memperhatikannya dengan saksama.


“Apa maksud kamu? Jangan macam-macam, Darren.” Wirawan mulai mengancam.


“Percuma Papa peringatin Darren. Semuanya udah terlambat. Dan sekarang, Darren harus bertanggung jawab.”


Fiona dan Zaila masih terus setia menyimak pembicaraan membingungkan antara Darren dan Wirawan.


Darren beralih menoleh ke Zaila. “Kalian semua harus tau. Seharusnya sejak awal aku menikah dengan Shani. Tapi karena desakan Papa sama Mama, aku jadi menikahi perempuan yang salah. Perempuan yang nggak aku cintai sama sekali,” ujarnya seraya terus menatap mata Zaila.


Seketika perasaan Zaila benar-benar sakit. Matanya mulai berkaca-kaca. Suaminya sungguh tega sekali.


“Jaga bicara kamu, Darren!” bentak Wirawan membuat Darren kembali menolehnya. “Apa kamu pikir kamu pantas bicara seperti itu? Istri kamu sedang hamil.”


“Dia hamil karena kalian ingin dia hamil. Dan itu bukan keinginan Darren.”


“Darren!” seru Fiona memelototi putranya.


Air mata Zaila mulai menetes. Ucapan suaminya membuat hatinya sangat perih. Zaila pikir Darren melakukan malam pertama itu karena ia benar-benar ingin melakukannya dan menikmatinya, namun ternyata salah, Darren melakukannya tapi dengan rasa hampa dan keterpaksaan.


“Darren udah capek sama semua aturan Mama sama Papa,” ungkap Darren menatap Fiona lalu Wirawan. “Apa Papa sama Mama nggak bisa sedikit aja kasih Darren kebebasan untuk memilih jalan hidup sendiri?”

__ADS_1


Wirawan dan Fiona terus menyimak tuntutan putranya itu. Ekspresi Fiona yang awalnya marah mulai mendatar. Tapi Wirawan, ia terlihat semakin marah.


“Mulai sekarang Darren akan berhenti mengikuti aturan Papa sama Mama.” Darren mengambil jeda sebentar. “Darren akan menikah sama Shani.”


“Menikah sama Shani?” Fiona terheran sekaligus bingung. “Darren, kamu udah punya istri. Istri kamu lagi hamil, loh.”


“Aku nggak peduli, Ma. Aku akan ceraikan Zaila setelah Zaila lahiran nanti. Dan secepatnya, aku akan menikahi Shani.”


Dada Zaila semakin sesak. Apa suaminya baru saja menalaknya malam ini? Air mata tidak lagi bisa dibendung, cairan itu terus mengalir tanpa rasa di kedua pipi Zaila.


“Papa sama Mama nggak akan merestui kalian. Buat apa kamu menikahi perempuan miskin itu?” tanya Wirawan pada Darren.


Darren mengambil ancang-ancang. Sekaranglah saat yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. “Karena Shani hamil.” Jawabnya membuat Wirawan, Fiona, dan Zaila benar-benar terperanjat.


“Apa maksud kamu hamil? Hamil anaknya siapa?” Fiona super bingung.


“Anak aku, Ma.” Jawab Darren blak-blakan.


“Kamu jangan cepat percaya sama perempuan seperti dia. Bisa saja itu bukan anak kamu.” Wirawan mulai menghasut Darren.


Tapi Darren tidak goyah. “Papa jangan menuduh Shani yang bukan-bukan. Di sini itu yang bajingan adalah aku, anak Papa sendiri.” Darren mulai menoleh pada Zaila. “Bahkan usia kehamilan Shani jauh lebih tua dari usia kehamilan Zaila.”


“Darren, biarin Papa kamu selidiki ini dulu. Kamu nggak boleh gegabah, Sayang. Siapa tau Shani itu bukan perempuan yang baik-baik.” Fiona menimpali.


Darren ingin menyeringai, tapi itu hanya terkesan dengan ekspresi tidak respek dan enggan mempercayai. “Apa aku perlu bilang kalau aku udah perkosa Shani?” ujar Darren spontan membuat Fiona yang ditatapnya seketika membulat mata.


“Anak berengsek!” seru Wirawan mulai geram sekali.


Darren menoleh pada papanya. “Itu emang kenyataannya, Pa. Dan kalau Papa menyalahkan Shani, Papa salah. Karena aku adalah orang yang udah paksa Shani buat lakuin itu.”


Zaila mulai tidak kuat dengan semua obrolan panas malam ini. Perempuan itu seketika berlari pergi meninggalkan meja makan menuju kamarnya. Zaila terisak dengan perasaan hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Darren dan kedua orang tuanya masih memaku di tempat duduk. Wirawan dan Fiona masih melempar pandang ke arah Darren. Dan Darren, ia terus menatap muak papanya.


“Jadi mulai sekarang Papa nggak perlu kirim-kirim anak buah Papa buat gangguin Shani. Dan kalau Papa sampai macem-macem sama dia, Darren nggak akan tinggal diam.”


Dan setelah itu Darren pun juga meninggalkan papa dan mamanya dari ruang makan tersebut menuju ruang kamarnya. Wirawan dan Fiona sama-sama tertegun. Mereka tidak habis pikir dengan semua yang Darren baru saja ungkapkan ke meraka.


...◦○⭕○◦...


Zaila menatap wajahnya begitu menyedihkan di cermin rias ruang kamarnya. Matanya sudah memerah karena tangis. Dan tangisan itu terus membasahi pipinya.


Pintu kamar tiba-tiba dibuka. Darren baru saja masuk. Laki-laki itu terus duduk di tepi ranjang sembari memandangi punggung istrinya.


Darren bersedekap. “Jadi sekarang kamu udah tau semuanya, kan? Setelah kamu lahiran, aku akan segera mengurus perceraian kita,” ujar Darren begitu arogan.


“Kamu nggak punya hati, Mas.” Zaila terisak enggan menatap suaminya. “Kenapa kamu nikahin aku kalau ujung-ujungnya kayak gini?”


“Terus kenapa kamu mau aku nikahi?” sahut Darren kembali bertanya. “Ini semua rencana orang tua kita. Bukan kita sendiri yang mau pernikahan ini untuk dilaksanakan.”


“Terus kenapa kamu hamilin aku?” pekik Zaila seraya membalik badan menatap Darren dengan kekecewaan.


Sebenarnya Darren tidak tega melakukan semua ini pada Zaila. Namun karena rasa sayangnya begitu besar terhadap Shani, Darren enggan memilih yang lain. Darren hanya ingin Shani, satu-satunya, hanya wanita itu.


“Karena orang tua kita menginginkan bayi itu.” Jawab Darren menatap singkat perut Zaila.


Zaila pun memegangi perutnya dan semakin sesenggukan. Ternyata semua masalah ini adalah karena suruhan dan aturan orang tua mereka yang otoriter. Zaila bukan hanya menyalahkan Darren, tapi juga menyalahkan dirinya sendiri karena sudah terlalu mengikuti perintah orang tuanya untuk dijodohkan dengan laki-laki yang ternyata tidak baik untuknya.


Darren menatap Zaila penuh belas kasihan. Ia sebenarnya bukan laki-laki yang tega membuat wanita menangis seperti itu. Dan 1 lagi, Zaila juga hanya korban dari semua ini. Darren merasa jika dirinya telah menyeret Zaila ke dalam masalahnya. Kemudian, Darren pun berjalan pelan menghampiri Zaila dan memeluknya untuk menenangkan.


...◦○⭕○◦...


Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.

__ADS_1



__ADS_2