The Secretary

The Secretary
BAB 26


__ADS_3

Darren baru saja membuat gempar dengan topik pembahasan para karyawannya. Padahal semalam ia baru saja melangsungkan pesta pernikahan, tapi pagi ini ia sudah menyibuk di ruangan CEO. Hal itu mengundang banyak pertanyaan dan berita miring tentang dirinya.


Dan pagi ini Shani baru saja tiba. Tadi Andra menghampirinya di rumah, laki-laki itu mengajaknya untuk berangkat ke kantor bersama. Walaupun saat ini Shani sedang menghadapi masalah besar, namun di sisi lain dirinya cukup beruntung karena memiliki teman-teman baik seperti Jia dan Andra, dan Malvin.


Darren yang tengah berjalan ke arah pantri tidak sengaja melihat Shani tampak bersenda gurau bersama Andra. 2 orang itu terlihat saling menyenggol lengan. Darren merasa miris karena Shani kelihatannya begitu gembira. Andra sesekali menggelitik pinggangnya. Darren tidak tau apa yang sedang mereka lakukan dan bahas, tapi perasaannya tersirat rasa cemburu.


...◦○⭕○◦...


Shani mengetuk pintu ruangan Darren, kemudian masuk. Ada setumpuk berkas yang perlu Darren cek sesegera mungkin. Dan membawanya kepada Darren, itu adalah tugas sekaligus tanggung jawab Shani akan pekerjaannya.


“Ada beberapa surat komplain yang perlu Pak Darren follow up. Sudah saya tandai, dan yang lainnya hanya beberapa berkas umum yang perlu dicek,” ujar Shani pada Darren, kemudian ia menunduk berpamit pergi.


Tapi saat Shani hendak membuka pintu, Darren tiba-tiba menyerobot. Darren menutup kembali pintu yang berhasil Shani buka sedikit. Dan laki-laki itu menghalangi, menatap Shani dengan sorot mengintimidasi.


“Aku mau keluar,” seru Shani datar, rautnya mengancam.


“Aku mau bicara.” Jawab Darren.


“Bicara apalagi?”


Darren menggapai tangan Shani, menggenggamnya. “Apa kamu baik-baik aja? Apa yang kamu rasain waktu ngelihat pernikahanku kemarin sama perempuan lain? Apa kamu-”


“Baik-baik aja.” Secepatnya Shani menjawab. “Aku baik-baik aja. Aku nggak peduli kamu mau nikah sama siapa pun, itu bukan urusan aku.”


Pelan-pelan pegangan tangan Darren mengendur, lepas dari tangan Shani.


“Ingat Darren, kamu udah punya istri. Lupain semuanya, lupain aku.”


Darren terdiam menatap Shani dengan rasa kecewa teramat dalam. Sekali lagi hatinya teriris-iris. Cintanya kepada perempuan itu terabaikan, bahkan sepertinya enggan ditoleh lagi oleh Shani.


Shani menepis Darren menyuruh laki-laki itu untuk minggir. Dan Darren justru menahan lengan Shani tidak ingin membiarkannya pergi lagi. Tatapannya jadi menajam ketika Shani mulai berusaha melepaskan cengkeramannya.


“Jangan bohong, Shani. Aku tau kamu juga mencintaiku. Kenapa kamu membodohi hatimu sendiri?” Darren menggeleng seiring genggamannya mengencang. “Jangan bohong,” sambungnya.


Shani terdiam menatap mata Darren dengan berkaca-kaca. “Aku benci. Aku benci semuanya!” pekik Shani terus mendorong Darren sangat kuat, kemudian ia bergegas pergi meninggalkan ruangan itu.

__ADS_1


Shani berjalan cepat sedikit berlari kecil menuju toilet. Ia mulai bersandar di pintu toilet itu, menangis, dan semakin sesenggukan. Yang barusan ia katakan pada Darren adalah, ia benci dengan semuanya, khususnya perasaannya karena memang mencintai laki-laki itu.


...◦○⭕○◦...


Hari demi hari berjalan tanpa permisi. Usia kandungan Shani menginjak 2 bulan. Dan kabarnya, Zaila juga tengah hamil sekitar 2 mingguan.


Wirawan dan Fiona yang menggadang-gadang ingin segera meniman cucu tidak bisa Darren elakkan. Hatinya menolak, tapi karena kedua orang tua Zaila juga memaksa agar keduanya segera punya anak membuat Darren dilema. Dan ya, Darren terpaksa harus melakukannya bersama istri yang belum ia cintai hingga kala ini.


Darren dan Zaila berbulan madu selama sehari, seharusnya mereka menghabiskan 1 minggu. Tapi karena Darren tidak mau lama-lama dan menjadikan pekerjaan sebagai alasan, Zaila pun menurut. Setidaknya Darren sudah mau mengambil haknya sebagai suami.


Dan berita besar bahwa keluarga Argantara akan segera mendapatkan keturunan baru membuat Shani semakin terluka. Hari-harinya bertambah pilu. Hamil muda tanpa ada yang membantu dan terkadang melewati morning sickness sendirian, sangat menyedihkan.


Setiap hari Shani berusaha kuat. Shani mencoba bertahan. Malaikat kecil di perutnya juga perlu diperhatikan dan dirawat, jadi ia harus ekstra hati-hati.


Terkadang Jia dengan senang hati membawakannya buah-buahan, terkadang juga makanan yang Shani minta. Shani tidak tau kenapa Jia sepengertian itu. Bahkan hampir setiap hari Jia menanyakan tentang apa yang ingin Shani makan.


Shani curiga jika Jia tau sesuatu. Namun Jia selalu mencari alasan yang membuat Shani respek padanya. Jia bilang jika dirinya tidak mau Shani sakit dan muram, ia cuma ingin membantu dan sekadar merawat Shani karena jauh dari keluarga.


Dan Shani pun mengabaikan kejanggalan itu. Jia sudah baik padanya, tulus, juga ikhlas. Shani tidak mungkin mengungkit-ngungkit kebaikan itu dengan tuduhan-tuduhan yang tidak mendasar. Jadi Shani hanya menerima kebaikan Jia. Shani hanya diam, dan berterima-kasih.


...◦○⭕○◦...


Namun saat Shani berbalik, wajah Darren sudah tampak terkesiap di sana. Entah sudah berapa lama Darren memperhatikan Shani dari belakang tepat saat gadis itu memesan dan mendapatkan vitamin dan susu hamil rasa cokelat itu. Dan akhirnya Darren tau semuanya.


Darren berencana membelikan pesanan obat pereda mual yang Zaila suruh di apotek itu, namun apa yang justru ia dapatkan? Untuk siapa Shani membeli susu hamil itu jika bukan untuk dirinya sendiri? Dan lagi, apakah Shani benar-benar hamil?


Kedua mata mereka saling terbelalak. Dada Shani berdetakan kencang. Dan Darren, ia tidak kalah paniknya.


Tanpa celetuk apa pun Shani langsung bergegas pergi. "Shani!" seru Darren memanggilnya. Shani tidak menggubris, Darren pun mengikutinya.


Rasanya Shani ingin berlari, menjerit, lalu lenyap dari pandangan Darren. Namun karena kondisinya yang tengah mengandung, Shani hanya bisa memegangi perut sembari berjalan cepat. Darren yang tidak terbebani apa pun dengan gesitnya menyamai langkah perempuan itu.


"Shani, berhenti!" Darren menarik lengan kanan Shani hingga membuatnya tersentak berhenti.


Shani menahan air matanya. Ia tidak boleh menangis. Apalagi jika itu di depan Darren, rahasianya harus mampu dipertahankan.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Shani mencoba bersikap tenang.


Darren terdiam sebentar, menatap nanar mata perempuan itu. "Kamu hamil?" tanyanya menebak.


"Enggak." Jawab Shani terdengar pasti, namun sorot matanya berkata lain.


"Berhenti bohong, Shani. Kamu hamil, kan? Buat apa susu itu?"


"Ini titipan tetanggaku. Dia yang hamil, bukan aku." Shani berkilah dengan entengnya.


"Terus kenapa kamu pergi gitu aja? Apa ada sesuatu yang mau kamu tutupin?" Darren terus menggertak.


"Apa yang perlu aku tutupin dari kamu? Nggak ada. Nggak ada sama sekali."


"Bohong!" Darren membentak. "Aku tau kamu penuh kepalsuan. Kamu hamil, kan? Anak siapa itu?"


"Aku nggak hamil. Apa aku perlu teriak ke semua orang di sini supaya kamu percaya?" Shani mengambil jeda sebentar. "Aku nggak hamil, Darren. Berhenti usik hidup aku."


Wajah Darren menggarang seiring mata Shani tampak berkaca-kaca. Tanpa aba-aba Darren mulai menyeret Shani menuju ke dalam mobilnya. Daren tidak peduli kalaupun perempuan itu menjerit memohon untuk dilepaskan, Darren hanya ingin menyadarkan Shani jika ia tidak boleh membohonginya seperti ini.


Darren mulai melajukan mobilnya. Ia membawa Shani menjauh dari keramaian. Shani hanya bisa tertegun mendapati sikap Darren yang familiar untuknya. Shani yakin setelah ini Darren pasti akan bertindak sembrono. Shani ketakutan.


...◦○⭕○◦...


Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.






__ADS_1


__ADS_2