
“Malam, Om.” Malvin menyapa Wirawan yang tengah duduk ditemani seorang laki-laki berseragam hitam yang berdiri sekitar setengah meter di samping kirinya.
Malam ini Wirawan memang berjanji temu dengan Malvin di sebuah rumah makan. Awalnya Malvin bingung kenapa omnya itu tiba-tiba menelepon dan mengajaknya untuk membicarakan sesuatu. Tapi sebingung apa pun Malvin, ia tetap memilih untuk datang menemui Wirawan.
Wirawan melempar senyum kepada keponakanya. “Om kira kamu nggak bakalan datang,” celetuk Wirawan tersirat tatapan aneh, dan Malvin tidak bisa mengartikannya.
“Ya…, karena ini Om, makanya aku datang.” Jawab Malvin pada Wirawan. “Jadi Om Wirawan mau bicara apa?” lanjutnya bertanya.
Wirawan pun menyamankan posisi duduknya, mengambil napas pendek lalu menghelanya. “Om mau negosiasi sama kamu.” Ia mendecak. “Mungkin perbandingan keuntungannya untuk kita 1 sama.”
“Maksud, Om?”
“Ini tentang Shani.” Wirawan mengambil jeda sebentar untuk melihat respon Malvin yang tampaknya sedikit terperanjat. “Om nggak tau semenarik apa dia sampai kamu dan Darren bisa-” Wirawan terkekeh singkat. “Bisa dikatakan main hati, kan?”
Masih di posisi tertegun, Malvin tidak tau dengan apa yang sudah direncanakan Wirawan kali ini dan mengajaknya bertemu seperti ini.
“Kamu tau kan kalau Darren harus mempertahankan pernikahannya dan mengalah soal ini?”
Malvin diam-diam menelan ludah terus menatap Wirawan. “Apa maksud, Om….” Ia hendak menebak, namun Wirawan cepat-cepat menyahutnya.
“Ya, kamu yang harus maju.”
Malvin terdiam, kepalanya terus berpikir dan mempertimbangkan tawaran omnya barusan.
“Jadi gimana? Kita akan sama-sama diuntungkan. Om bisa menyelamatkan pernikahan Darren, dan kamu, kamu bisa mendapatkan perempuan itu.”
“Apa jaminan keberhasilan rencana ini sudah Om pertimbangkan?” setelah berpikir cukup lama, akhirnya Malvin buka suara.
“Semua ada rencananya. Om cuma butuh persetujuan kamu untuk tahap awal.”
__ADS_1
Mata Malvin menyorot tajam mengilaskan arti yang Wirawan harap adalah keuntungan besar untuknya. …. Dan di rumah makan itu, akhirnya keduanya mencapai kesepakatan. Kemudian setelahnya, Malvin pun pergi dari sana meninggalkan Wirawan yang masih duduk melipat tangan dengan tatapan ngeri menusuk.
“Susun langkah selanjutnya dengan baik. Kali ini semuanya harus beres dan saya tidak mau mendengar kegagalan kalian,” seru Wirawan pada anak buahnya yang masih setia menemani.
“Baik, Pak.”
Dan kemudian Wirawan pun menenggak segelas minuman di depannya hingga tidak bersisa, lalu beringsut berdiri dan pergi dari restoran itu.
...◦○⭕○◦...
Darren terpaksa harus menghampiri Shani ke rumahnya karena sejak insiden penculikan yang dilakukan papanya terhadap perempuan itu, Darren tidak lagi bisa menghubungi Shani. Pesan-pesan Darren tidak dibaca, dan ditelepon pun nomor Shani tidak aktif. Hal itu membuat Darren khawatir, apalagi ditambah soal ocehan Jia pagi tadi, Darren takut jika Shani kenapa-napa.
Shani ragu-ragu membuka pintu rumahnya untuk melihat siapa tamunya yang datang di jam 7 malam ini. Begitu melihat wajah Darren, hati Shani merasa lega. Namun, entah kenapa kelegaan itu selalu bercampur sesak.
“Aku boleh masuk?” tanya Darren terus menatap Shani sedari perempuan itu membukakan pintu untuknya.
“Apa kamu sengaja matiin HP? Kenapa nomor kamu sulit banget buat dihubungi?” Darren bertanya setelah menjatuhkan pantatnya duduk ke kursi ruang tamu.
“Aku nggak tau HP aku ada di mana.” Jawab Shani menunduk setelah mengambil jeda beberapa detik. “Tas kerja aku sama isi-isinya hilang sejak papa kamu nyulik aku kemarin. Aku nggak tau di mana, tapi kayaknya dibawa sama papa kamu.”
Darren tertegun mendengar pengakuan Shani. “Dan kamu sesantai ini pas udah tau jika itu hilang?”
Shani pun akhirnya mendongak dari tunduknya menatap Darren. “Terus aku harus gimana? Lapor polisi? Aku nggak mau masalah keluarga kayak gini dibesar-besarkan sampai ke pihak berwajib.”
“Tapi tas kamu-” Darren menghentikan kalimatnya sendiri dan menghela napas sedikit kencang. Ia mulai menatap Shani dengan keibaan. “Maaf,” celetuknya. “Aku minta maaf karena selalu bikin kamu kesulitan.”
Shani terpaku menatap Darren dan lalu segera mengerjap saat merasakan air mata mulai menggenang di kantung matanya. “Nggak pa-pa, ini semua cobaan. Aku ikhlas kok ngejalaninnya.”
Walaupun kenyataannya begitu perih saat ia mencoba kuat menghadapi semuanya, Shani tetap ingin meyakinkan orang-orang kalau ia baik-baik saja menjalaninya. Daripada terus mengeluh dan berteriak jika dirinya begitu benci akan takdir sulit ini, Shani memilih menoleransi. Setiap orang tidak harus tau bagaimana ia sangat kesusahan karena masalahnya.
__ADS_1
Dan keheningan pun merayap di antara mereka. Shani dan Darren sama-sama membisu. Laki-laki itu terus menatap wajah lesu perempuan di depannya. Shani masih tetap cantik walaupun rautnya tidak secerah kala Darren mengenalnya dulu untuk yang pertama kali.
“Apa kamu udah makan?” tanya Darren memecah keheningan.
“Hem.” Jawab Shani terdengar lirih.
Darren menghela udara dari hidungnya, lalu beringsut menghampiri Shani di kursi seberang. Darren kemudian berjongkok di depan Shani, menatap perempuan itu seraya menggenggam kedua tangannya yang dipangku. “Kalau gitu kamu bisa istirahat. Aku akan pulang kalau kamu udah tidur,” ujarnya.
“Tapi istri kamu-”
“Dia baik-baik aja. Ada Mama sama Papa di rumah, kamu nggak perlu khawatir,” sela Darren.
Dan Darren pun menuntun Shani menuju ruang kamar, membantu perempuan itu membaringkan tubuh ke ranjang, lalu menyelimutinya. Shani memiringkan tubuh ke kanan dan Darren duduk di lantai menghadapnya. Kedua insan itu saling menatap lekat.
“Tidurlah. Aku jagain kamu di sini,” cuit Darren seraya mengelus-elus kepala Shani dengan tangan kanannya.
Shani meraih tangan Darren dari kepalanya melepas elusan laki-laki itu. “Mulai sekarang, kamu jangan kasih aku perhatian lebih.” Shani tersenyum getir. “Orang-orang mungkin berpikir kalau aku ini simpanan kamu.”
1 tusukan melukai hati Darren. Laki-laki itu mengingat lagi betapa bodohnya ia menyia-nyiakan perempuan itu. Kembali menyalahkan dirinya sendiri, jika saja ia lebih bekerja keras untuk memperjuangkan cintanya, mungkin setiap hari Darren bisa memberikan lebih dari gerakan elusan di kepala Shani.
Setiap kilas balik yang menyiksa selalu terngiang karena buruknya kenyataan yang sulit untuk diterima dan dilupakan. Shani dan Darren saling menatap dalam kebekuan. Hati mereka melayang menjauhi pikiran yang bersikeras mengusik kenyamanan perasaan di antara keduanya.
Dan waktu berjalan lebih cepat di saat-saat seperti ini. Shani telah terlelap, dan Darren terus menatap wajahnya. Andai saja jika status istrinya disandang oleh perempuan yang memejam mata di depannya itu, betapa bahagianya Darren.
Darren beralih menatap perut Shani yang tertutup kemul. Pelan-pelan, tangannya mulai mengusap. “Maaf, Ayah udah buat ibumu menderita. Nanti kalau kamu udah besar, tolong jaga dia dengan baik. Kamu harus tau usaha kerasnya untuk menjagamu selalu aman di sana, walau kehadiranmu membuat dia merana setiap hari. Tapi percayalah, ibumu lebih hebat menyayangimu daripada Ayah.”
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.
__ADS_1