
Jia hampir tiba di jalanan depan rumah Shani. Dari kejauhan ia melihat 2 orang pria baru saja berjalan pergi dari arah rumah sahabatnya itu, ia pun berhenti sebentar. Setelah memperhatikan cukup serius, Jia mulai mengegas motornya lagi sedikit lebih cepat dan bergegas untuk menemui Shani.
“Shani,” panggil Jia amat terkejut setelah mendapati Shani tengah duduk memojok di lantai dan menangis.
Dengan cepat Jia memeluk Shani menenangkannya. Shani semakin terisak di pelukan Jia. Jia mengelus-elus kepala perempuan itu dengan perasaan khawatir.
Setelah cukup tenang, Jia mulai menangkup wajah Shani mengarahkan pandangannya ke mata sahabatnya itu. “Lo nggak pa-pa kan, Sha? Lo kenapa?” tanya Jia pada Shani.
Shani menggeleng. “Gue takut, Ji. Gue takut,” ungkap Shani terisak lagi.
“Shuttt…. Nggak pa-pa, ada gue di sini.” Jia pun kembali memeluk Shani.
...◦○⭕○◦...
Shani berbaring di ranjangnya, dan Jia duduk di bibir ranjang itu mulai menyelimuti tubuh Shani.
“Gue ke sini karena khawatir sama lo,” ungkap Jia pada Shani. “Lo kenapa nggak masuk kerja?” lanjutnya bertanya.
Hari ini Shani memang absen tanpa sedikit pun informasi. Semalam hingga pagi tadi saat Darren di rumahnya, laki-laki itu memang memerintah Shani untuk tidak bekerja hari ini. Dan bodohnya Shani karena terlalu larut dalam kesedihan, ia jadi enggan sekedar mengecek ponselnya untuk melihat ada pesan apa saja di sana.
Shani hanya diam tidak merespon ucapan Jia.
“Sha, mendingan lo jujur sama gue.” Jia mengambil jeda sebentar. “Gue tau kalo lo hamil.”
Batin Shani seketika terkesiap. Matanya terlihat biasa, tapi berani sumpah jika sebenarnya ia tengah memelotot karena saking terkejutnya mendengar ungkapan Jia yang tiba-tiba. Dari mana sahabatnya itu tau kalau sekarang dirinya tengah berbadan 2?
“Pak Darren kan yang hamilin lo? Tapi dia nggak tanggung jawab.”
Air mata Shani menetes dengan rasa hampa. Ekspresinya membeku terus menatap pada Jia. Ia tidak tau harus mengatakan apa pada perempuan itu.
__ADS_1
Jia menatap mengelus perut Shani yang kelihatannya masih rata di balik baju dan selimut yang perempuan itu kenakan. “Gue respek sama lo karena lo mau pertahanin bayi ini.” Jia pun kembali menoleh Shani.
“Terus gue harus gimana, Ji?” tanya Shani menyedihkan.
“Lo harus yakin, Sha. Lo bisa jalanin ini semua. Gue akan selalu nyemangatin lo dan bantu apa pun yang gue bisa.”
Shani mengerjap membuang air matanya yang menampung di sudut-sudut mata. Sepositif apa pun ucapan Jia, Shani tetap merasa tidak tenang. Hamil tanpa seorang suami adalah aib besar dan sangat tidak mudah untuk dijalani.
“Gue bener-bener bego, Ji. Seharusnya gue nggak pernah ngenal Darren. Seharusnya gue nggak ngelakuin itu sama dia.” Shani terisak.
“Kenapa lo malah nyalahin diri lo sendiri? Satu-satunya orang yang bener-bener salah di sini adalah bos sialan itu!” umpat Jia mengatai Darren.
“Udah Sha lo jangan nangis lagi.” Jia mengelap air mata Shani dengan tangannya. “Gue akan selalu ada buat lo. Jadi lo jangan takut lagi, ya.”
“Gimana gue nggak takut, Ji? Pak Wirawan mulai kirim anak buahnya buat nanyain gue. Gue takut, mereka semua kasar,” ungkap Shani membuat Jia terkejut.
Dan pelan-pelan, Shani pun mulai terlelap. Jia menatap miris wajah Shani. Kehidupan sahabatnya itu penuh lika-liku. Jia pun beranjak berdiri. Ia harus melakukan sesuatu agar Shani tidak terlalu terbebani.
...◦○⭕○◦...
Darren terburu-buru masuk ke rumah Shani setelah ia mendengar kabar dari Jia kalau anak buah papanya baru saja mendatangi Shani di rumah. Darren kemudian terhenti ketika mendapati Jia yang tengah duduk menyilang kaki dan tangannya di ruang tamu rumah tersebut. Jia menatap tajam wajah Darren mengisyaratkan laki-laki itu untuk ikut duduk di kursi sana.
“Di mana Shani? Apa dia baik-baik aja?” tanya Darren pada Jia, wajahnya memucat kentara sekali jika laki-laki itu tengah panik sekarang ini.
“Pak Darren masih bisa tanya apa Shani baik-baik aja?” Jia terheran. “Tentu enggak, Pak.”
Dada Darren berdesir perih. Ia tau jika Shani pasti sedang tidak baik-baik saja. Darren merasa dirinya benar-benar bodoh karena gagal menjaga wanita yang dicintainya itu.
“Saya bingung sama Pak Darren. Orang yang kelihatannya berpendidikan, punya jabatan tinggi, dan sangat dihormati di tempat kerja, ternyata adalah orang yang bajingan,” ujar Jia pada Darren, ia tidak peduli jika karena ucapannya itu ia akan dipecat dari kantor.
__ADS_1
Tapi nyatanya Darren justru membenarkan makian Jia. Darren hanya diam terus menyimak perempuan itu. Dirinya memang patut untuk disalahkan.
“Sekarang Pak Darren mau lakuin apa? Shani butuh tanggung jawab. Dia dan bayi di kandungannya, mereka semua butuh diperhatikan.”
“Saya tau. Saya akan tanggung jawab.”
“Saya nggak butuh omong kosong Pak Darren. Saya cuma pengen Pak Darren sadar dan segera ambil tindakan. Lama-lama perut Shani akan membesar. Dan jika orang-orang tau, yang akan tersakiti di sini adalah Shani. Shani sudah cukup menderita karena harus menanggung beban ini sendirian, ditambah lagi gunjingan orang nantinya.” Jia menggeleng. “Apa Pak Darren setega itu sama Shani?”
Darren menunduk, lalu memijat-mijat keningnya. Darren tau dirinya harus tanggung jawab. Tapi bagaimana?
Dan setelah perbincangan itu, Jia pun menyuruh Darren pergi. Jia merapikan beberapa barang-barang di rumah Shani yang terlihat berantakan agar sahabatnya itu tidak perlu membuang tenaga untuk merapikannya. Dan kemudian, ia kembali ke kantor meninggalkan Shani yang masih tertidur.
...◦○⭕○◦...
Keluarga Argantara tengah makan malam bersama. Darren benar-benar tidak kuat dengan semua ini. Kelihatannya saja keluarganya tampak harmonis dan tenang, namun dirinya dan perasaannya begitu terguncang akan masalah.
“Zaila, kamu harus makan yang banyak. Biar calon cucu Mama sehat-sehat terus di perut kamu,” ujar Fiona tersenyum sembari menambahkan sepotong ikan tuna bumbu kuning ke piring makan mantunya.
“Makasih, Ma.” Zaila pun tersenyum.
“Darren, Papa dengar hari ini kamu tidak pergi ke kantor. Papa tau sekarang istrimu sedang hamil, tapi kamu juga tidak bisa lepas kendali begitu saja dengan urusan pekerjaan,” celetuk Wirawan pada putranya.
Darren pun berhenti mengunyah. Mood-nya selalu tidak baik jika papa atau mamanya mulai mengocehinya saat jam makan, terlebih lagi kalau itu makan malam. Darren berusaha enggan merespon papanya, ia kembali menyibuk menyendoki nasinya.
“Dan 1 lagi. Papa minta kamu segera melakukan PHK untuk beberapa karyawan kita. Papa lihat beberapa kinerja mereka kurang baik dan mulai bermasalah. Khususnya Shani, lebih baik dia kamu pecat.”
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.
__ADS_1