The Secretary

The Secretary
BAB 50


__ADS_3

Suasana mendadak sunyi setelah Shani mengucap nama Darren di hadapan Malvin. 2 orang itu masih di sana, duduk bersampingan sembari menikmati hidangan yang disajikan restoran. Malam ini adalah kesempatan besar bagi Malvin untuk mendekati Shani, jadi ia tidak akan menyia-nyiakannya.


"Sebenernya kamu punya perasaan suka kan ke Darren?" tebak Malvin seraya memotong steik dagingnya enggan menatap Shani.


Batin Shani terkesiap, namun ia sangat lihai menutupinya. Ia pun menoleh pada Malvin terus diikuti laki-laki itu yang juga menolehnya. "Itu dulu. Dan sekarang aku nggak boleh suka sama dia." Jawabnya tersenyum.


Shani kembali menyibuk dengan makanannya, tapi Malvin masih terus terpaku pada wajah wanita itu. "Aku tau tujuan kamu baik. Tapi bisa aja orang-orang salah paham dan menganggap kamu munafik," celetuk Malvin membuat Shani kembali menolehnya setelah tertegun beberapa detik. Dan mereka pun saling menatap tanpa ekspresi.


"Bilang aja kamu masih suka sama Darren. Kamu bisa bebas kok mau suka atau benci ke siapa aja. Nggak ada batasan buat semua itu. Siapa pun, pasti punya seseorang yang dia sukai, dan dia benci."


Lidah Shani seketika kelu, ia terdiam.


"Tapi, Shani." Malvin mengambil jeda sebentar. "Orang yang kamu sukai saat ini udah berkeluarga. Satu-satunya cara buat menyiasati itu bukan langsung menghilangkan perasaan kamu ke dia, itu bakalan sulit. Tapi carilah orang baru, orang yang bisa kamu sukai dan pelan-pelan akan ngebantu kamu ngelupain Darren."


"Kenapa kamu seantusias itu? Aku cuma pengen sendiri. Tanpa Darren, dan tanpa siapa pun itu yang bisa gantiin perasaan aku ke dia," timpal Shani terlihat emosi.


"Kamu nggak bisa." Malvin menyeru tegas.


"Aku bisa!!!" Dan Shani kembali menyahut lantang. Matanya mulai berkaca-kaca dengan dada terasa sesak karena Malvin berusaha membuatnya putus asa. "Aku bisa lewatin ini semua."


"Kalau kamu terus begini, rumah tangga Darren bisa hancur. Apa itu yang kamu mau?" Malvin terus mendesak. Entah bagaimana obrolan yang seharusnya mendekatkannya kepada perempuan itu berubah menjadi ujaran yang menghakimi.


"Enggak. Aku nggak mau itu terjadi." Jawab Shani tidak berdaya.


"Terus tunggu apalagi? Kamu juga butuh laki-laki yang bisa jaga kamu dan anak kamu kelak." Malvin beringsut memegangi kedua lengan atas Shani. Ia menatapnya begitu lekat. "Aku siap jadi laki-laki itu, Sha. Kurang apalagi aku di mata kamu?"

__ADS_1


"Berhenti paksa aku." Jawab Shani menatap muak wajah Malvin.


"Apa aku kurang baik buat kamu? Aku udah usaha sekeras mungkin, dan kamu masih nggak bisa nerima aku?"


Shani mengerjap membuat air matanya yang menggenang menetes ke pipi. "Jadi semuanya kamu lakuin cuma buat deketin aku aja?" tanyanya menunduk pandang enggan menatap Malvin. Mendapati respon laki-laki itu yang hanya diam, Shani pun kembali menatapnya.


"Enggak. Semua ini aku lakuin karena aku bener-bener suka sama kamu." Jawab Malvin.


Shani mencoba sabar. Ia melerai pegangan tangan Malvin dari kedua lengannya. Shani menyeka air mata dan lalu tersenyum. "Sebelumnya aku makasih banget sama kamu. Karena bantuan kamu, aku ada pekerjaan ganti, aku jadi punya rencana awal. Walaupun itu masih nggak pasti."


"Tapi maaf, aku nggak bisa terima perasaan kamu. Aku nggak peduli kalau sampai seumur hidup pun akan menderita sendiri karena laki-laki yang aku cintai udah sama yang lain."


"Fokus aku saat ini adalah kandunganku, Vin. Aku trauma sama laki-laki. Aku nggak mau punya hubungan khusus lagi. Dan keputusan aku udah mutlak, aku akan jalanin semua masalah ini sendiri."


Malvin mematung. Ia tau jika Shani terlalu egois menutup hati untuk perasaannya. Namun cinta memang tidak bisa dipaksakan. Jika terus begini, jadi dirinyalah yang egois. Malvin tidak bisa menekan Shani, perempuan itu sudah cukup menderita.


Shani tidak merespon. Ia justru memalingkan pelan wajahnya dari Malvin. "Aku mau ke toilet dulu," pamitnya setelah terdiam beberapa detik.


Malvin sontak mencengkeram kepalanya terlihat gusar setelah kepergian Shani. Tatapannya tajam tampak marah. Semuanya kacau dan ia mengumpati dirinya sendiri.


Malvin pun meraih segelas minuman berwarna merah yang ia pesan dari meja depannya. Laki-laki itu meneguknya hingga habis tidak bersisa. Setelah itu, Malvin menjatuhkan tubuhnya ke sandaran sofa seraya memijati kening.


...◦○⭕○◦...


Sementara itu di sisi lain, Shani mencuci tangannya ke wastafel toilet resto. Setelahnya ia menatap dirinya sendiri di cermin yang berada tepat di depannya. Mata Shani berkaca-kaca mengingat betapa jahatnya ia menolak Malvin.

__ADS_1


Shani tau jika dirinya tidak pantas melakukan itu. Namun Darren, laki-laki itu terus mendominasi pikirannya menorehkan rasa sakit yang mengecewakan sekali. Tapi bodohnya Shani, ia masih mencintai laki-laki itu dan merasa sulit untuk melupakannya.


Shani menarik napas dalam-dalam, kemudian membuangnya singkat melalui mulut. Ia menipiskan bibir menyemangati diri sendiri dengan tatapan optimis. Shani yakin jika ini adalah pilihan yang tepat, menjauhkan Malvin dari korban perasaannya adalah keputusan yang benar.


Shani pun berjalan pergi meninggalkan toilet itu kembali menuju ruang VIP yang mana Malvin masih menunggunya di sana. Namun saat ia membuka pintu ruangan, Malvin terlihat memegangi dada seperti tengah menahan sakit. "Kamu kenapa?" tanya Shani seraya menghampiri Malvin.


"Vin? Kamu sakit?" Shani pun memegangi lengan kiri Malvin karena laki-laki itu tidak kunjung menjawab. Tapi, "Badan kamu kok panas? Kamu nggak pa-pa, kan? Vin? Jawab, dong." Shani mendadak panik.


"Tolong kamu pergi sekarang. Aku nggak pa-pa," ujar Malvin terdengar sesak.


"Hah? Nggak pa-pa gimana? Masa aku-"


"Pergi!" sela Malvin dengan tegas seraya menatap mata Shani membuat perempuan itu tertegun. "Aku nggak kuat lagi, jadi tolong kamu pergi sekarang."


"Ma-maksud kamu apa?" Shani kebingungan.


"Aku nggak tau kenapa. Tapi kayaknya minuman itu dikasih sesuatu," jelas Malvin menunjuk gelas kaca bekas minumannya yang telah kosong.


"Tolong pergi sekarang, aku nggak mau terjadi hal yang nggak kita inginkan," pinta Malvin pada Shani sembari mendorong-dorong pelan wanita itu menyuruhnya untuk segera beringsut keluar.


Shani masih tidak tau apa yang dirasakan Malvin. Tapi sepertinya, laki-laki itu sedang terbius oleh sejenis obat perangsang. "I-iya, aku pergi." Daripada terjadi hal yang tidak-tidak, Shani pun menuruti suruhan Malvin.


Shani bergegas meninggalkan tempat itu. Namun saat ia mencoba membuka pintu ruangannya, pintunya terkunci. Seseorang telah menguncinya dari luar.


...◦○⭕○◦...

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.


__ADS_2