
Ini adalah kedatangan kedua adiknya sejak saat itu ketika Zaila membawa suami barunya untuk dikenalkan padanya. Seperti biasa, Zuilu selalu merespon Zaila dengan angkuh dan dingin. Sesedih apa pun ekspresi Zaila sekarang, Zuilu tetap membencinya, dan tidak ada kata tidak.
“Gimana kabar, Kakak? Aku minta maaf karena baru bisa jenguk Kakak lagi sekarang,” ujar Zaila menatap Zuilu dengan mata sayu dan suara parau yang ditahan-tahan.
Zuilu masih di gaya menyedekapkan tangan, dan kali ini ia melengoskan bola mata setelah mendengar celetukan adiknya. “Peduli apa kamu soal kabarku gimana? Apa ada orang dipenjara yang baik-baik aja?” Zuilu mendengus menyeringai. “Dasar sinting,” makinya bergumam.
Air mata Zaila yang ditahan akhirnya menetes juga. Perempuan itu menunduk sebentar lalu cepat-cepat menyekanya dan kembali mendongak, tersenyum tipis, menatap kakaknya seolah ia enggan untuk menyampaikan tujuan utama yang sebenarnya kenapa ia menjenguk Zuilu di sel tahanan. Semua menjadi begitu berat lagi untuk Zaila.
“Kenapa?” Dan setelah beberapa detik menatap adiknya yang terkesan begitu sedih, kali ini Zuilu mulai antusias menanyai Zaila yang tampak seperti menyembunyikan sesuatu. “Apa pernikahan kalian tidak bahagia?” tebak Zuilu seraya tersenyum menyeringai seolah pertanyaannya itu bukanlah topik sensitif.
Zaila terus mengernyit, memejam mata mencoba membendung air matanya agar tidak berderai gamblang di depan kakaknya. Tapi saat ia terus berusaha menahan, rasanya semakin menyesakkan. “Iya. Aku tersiksa sama pernikahan ini. Aku nggak tau harus cerita sama siapa lagi kalau bukan sama Kakak. Aku bener-bener nggak kuat,” cuit Zaila sembari menangis tertahan.
Seringai Zuilu mulai memudar setelah kata demi kata yang terlontar dari mulut adiknya. Suasana berubah serius, dan Zuilu mulai menyimak semua cerita Zaila. Hanya ingin tau, dan menertawakah cerita itu dalam batin jika isinya adalah kesengsaraan.
“Aku udah hamil, Kak,” ujar Zaila sembari memegang lembut perutnya. “Aku pikir Mas Darren melakukan bulan madu itu karena dia memang ingin melakukannya sama aku. Tapi-” Zaila menelan saliva memberikan kerileksan pada lidahnya yang mendadak kelu. “Tapi ternyata itu semua dia lakukan karena keterpaksaan.”
Sumpah demi setan cekik sekalipun, Zuilu tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan adiknya. Tapi cerita itu cukup membuat Zuilu memiliki hiburan, jadi yah, Zuilu terus menyimak. Sudah sepantasnya Zaila juga merasakan penderitaan, bukan cuma dirinya saja.
Zaila kembali mengatur napasnya dan mulai bercerita lagi pada kakaknya. “Kakak tau kan jika pernikahan kami atas dasar perjodohan?” Ia mengambil jeda sebentar untuk melihat respon Zuilu. Apalagi ekspresi yang harus Zuilu berikan pada adik yang dibencinya itu kecuali hanya wajah datar yang ingin sekali mendengar curhatan mengenaskan hingga akhir?
“Aku kira pernikahan kami akan baik-baik aja. Tapi ternyata enggak, Kak. Kami sama-sama nggak bahagia dengan pernikahan kami.”
__ADS_1
Zuilu mendecak kesal. “Langsung ke intinya aja. Kamu pikir waktu kunjung bakalan cukup buat cerita hal yang nggak penting buat kamu ceritain?” celetuknya tidak sabaran.
Zaila tau itu. Dan kali ini ia mempersiapkan diri untuk menyuarakan inti dari permasalahan pernikahannya yang begitu tragis. “Sebelum pernikahan kami, Mas Darren ternyata udah menghamili wanita lain.”
Jika seharusnya ia terkejut akan ungkapan adiknya, Zuilu justru merasa itu bukan hal yang baru yang mengagetkan. Laki-laki seperti Darren, dan bagaimana Zuilu mengenalnya dulu, itu sudah cukup menyimpulkan jika Darren adalah manusia bajingan. Tidak jauh berbeda dari dirinya, alkohol, mabuk-mabukan, dan ranjang, ketiga hal itu pasti sangat familier.
“Dan Mas Darren masih mencintai wanita itu.” Zaila menunduk dengan tatap kosong. “Enggak, mungkin keduanya masih sama-sama mencintai.” Ia kembali menatap kakaknya. “Terus sekarang aku harus gimana, Kak? Aku nggak tau harus lakuin apa. Aku nggak mau pernikahan kami hancur.”
“Jadi…, suami kamu ngehamilin perempuan lain di luar nikah?” tanya Zuilu memastikan lagi.
Zaila mengangguk dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
“Siapa?”
“Shani?”
“Iya. Dia benar-benar perempuan berengsek!” seru Zaila dengan raut marah bercampur kesal sekali. Namun ekspresi itu seketika berubah sayu, menyedihkan dan seolah patut dikasihani. “Kalau aja dia nggak ada, mungkin pernikahan kami bakalan baik-baik aja.”
Zuilu terdiam mencoba menelaah setiap emosi dan keadaan adiknya. Alih-alih kasihan dengan Zaila, Zuilu justru masa bodoh. Tapi karena Zaila dengan polosnya bercerita panjang lebar pada dirinya, Zuilu pun mendapat ide untuk memanipulasi keadaan.
Melihat bagaimana setiap orang yang dibencinya hancur, pasti akan sangat menyenangkan. Yang pertama adalah adiknya. Zuilu benci jika Zaila terus-terusan bahagia dan enggan merasakan sakit sedikit pun. Bagus, Zuilu menganggap ini semua adalah hukuman dan keadilan. Apalagi yang bisa kedua orang tuanya banggakan akan Zaila jika pernikahan anak kesayangannya itu hancur?
__ADS_1
Dan Shani? Sejak awal perempuan itu memang sudah merampas semuanya. Zuilu masih belum percaya jika Shani sudah melakukan cinta terlarang bersama laki-laki yang pernah ia ingin miliki itu, Darren.
Lewat adiknya dan Shani, Zuilu bisa memanfaatkan keadaan dan menghancurkan Wirawan yang telah membuat hidupnya tambah hancur. Sebenarnya Zaila sudah memiliki rencana awal. Namun karena kondisi dan masalah berubah, ia juga harus merubah rencananya.
“Kakak bisa bantu kamu,” celetuk Zuilu pada Zaila. “Tapi kamu harus bantu Kakak keluar dari sini. Secepatnya.”
“Tapi, Kak. Gimana caranya?”
“Gunain otak kamu. Bukannya kamu punya banyak uang dan koneksi untuk hal mudah seperti ini?” Zuilu mencondongkan tubuhnya ke depan sedikit mendekati Zaila. “Ini cuma sekali tawaran. Kamu nggak mau kan pernikahan terpaksa kamu hancur? Kakak bisa bantu kamu, tapi keluarin Kakak dari penjara ini.” Zuilu berbisik di kalimat terakhir.
Setelah berpikir beberapa detik, Zaila pun mulai buka suara. “Oke, aku akan coba keluarin Kakak dari sini.”
Zuilu seketika tersenyum. Senyuman yang terkesan jahat, dan Zaila dengan bodohnya mempercayai omongan manis kakaknya itu. Tidak ada lagi yang bisa Zaila andalkan, jadi ia akan melakukan apa pun walau itu akan menyalahi aturan.
Masalah yang membuat Zaila semakin berpikiran sempit, tidak ada lagi pengertian dari keluarga. Masalah yang membuat Zaila harus tutup mulut, membuatnya stres dan terbebani. Satu-satunya jalan keluar adalah bersekongkol dengan orang yang tepat, yang Zaila pikir itu adalah kakaknya, Zuilu.
Namun di sisi lain, Zuilu menyiapkan dirinya untuk menjadi boomerang. Siapa bilang ia akan membantu Zaila dan menyelamatkan pernikahan konyol adiknya itu? Zuilu hanya akan memanfaatkan keadaan, memanipulatif semuanya.
Sejak awal yang paling dirugikan adalah dirinya. Zuilu merasa semuanya tidak adil. Dan kali ini, ia bersumpah akan mencari keadilan itu untuk dirinya.
...◦○⭕○◦...
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.