
Jia benar-benar terkejut dengan apa yang baru saja ia dengarkan. Matanya ikut berkaca-kaca seolah juga merasakan bagaimana yang dirasakan sahabatnya saat ini. Jia, ia telah menguping semua obrolan Shani dan Malvin.
Saat Jia tidak sengaja melihat laki-laki yang ditaksirnya berjalan keluar gedung bersama Shani meninggalkan jamuan enak di ruang pesta pernikahan atasannya itu, ia langsung mengikuti mereka berdua. Dan betapa mirisnya hasil penguntitannya itu. Jia akhirnya tau jika saat ini Shani tengah mengandung anak dari Darren.
Masih senantiasa memperhatikan mereka, Shani dan Malvin, Jia terus menguping walaupun keterangan yang ia peroleh sampai saat ini sudah membuat hatinya cukup terluka. Malvin melepaskan pelukannya dan berganti menangkup wajah Shani. Make up yang dikenakanya sudah hancur, tapi Shani masih terisak.
“Kamu pasti bohong, kan?” Tidak bisa percaya, Malvin malah menanyai Shani dengan mata memohon agar semua itu hanyalah candaan.
Shani menggeleng dengan air matanya yang terus berderai.
Tangkupan tangan Malvin pelan-pelan lepas dari kedua pipi Shani. Ia terdiam sebentar, lalu mulai menegaskan pandang ke arah perempuan itu. “Kalau begitu ikut aku sekarang.” Malvin menarik pergelangan kiri Shani memaksanya berdiri.
Wajah Shani berubah bingung. Malvin berusaha menyeretnya pergi entah ke mana. “Ayo, Shani,” ajak Malvin menatap nanar mata Shani.
“Kita mau ke mana?”
“Darren harus nikahin kamu. Dia harus tau kalau kamu hamil!” seru Malvin membuat Shani langsung terperanjat.
“Enggak. Aku nggak mau.” Shani menolak mulai berusaha melepaskan pegangan Malvin dari tangannya.
“Kamu gila? Darren harus tanggung jawab. Dia yang udah bikin kamu hamil, Sha. Dia nggak bisa ninggalin kamu kayak gini dan malah kawin sama cewek lain.”
Sekali lagi mata Shani berkaca-kaca.
“Ayo kita ke dalam. Hari ini Darren juga harus nikahin kamu!” Malvin menarik-narik tangan Shani memaksanya.
Shani memberontak. “Enggak. Lepasin, Vin! Aku nggak mau ngacauin semuanya. Lepasin!” Shani ingin berteriak membentak tapi suaranya hanya terkesan seperti mohonan menyedihkan karena isakannya.
__ADS_1
Shani terus menahan tubuhnya memaku di tempat enggan ikut bersama Malvin. Namun laki-laki itu memaksanya lebih keras. “Aw…. Berhenti….” Dan saat Shani memberontak lebih hebat, perutnya terasa sakit. Janin itu seolah ikut teraniaya dan mencoba membantu ibunya untuk dilepaskan.
Malvin sadar telah berbuat kasar, jadi ia melepaskan pegangannya dari tangan Shani. “Shani,” panggilnya hendak menolong perempuan itu yang memegangi perutnya dengan sesenggukan, namun Shani menepisnya. Malvin terlihat khawatir menatap Shani dengan rasa menyedihkan.
Pelan-pelan Shani mendudukkan tubuhnya ke tempat semula. Ia mencoba mengatur napas dan emosi untuk meredakan rasa nyeri aneh di perutnya. Dan begitu ia mencobanya, rasa sakit itu perlahan hilang.
Malvin kembali duduk di samping kanan Shani, menatap perempuan itu. “Darren harus tau kalau kamu hamil. Dia harus tanggung jawab,” tuturnya.
“Darren udah nikah, terus dia harus tanggung jawab kayak gimana? Apa aku harus nerima tawaran Darren buat nikahin aku secara siri?”
“Nikah siri?” Batin Malvin terkejut.
“Bahkan sebelum aku hamil, Darren ngajakin aku buat nikah. Tapi nikah secara siri. Kamu tau gimana perasaan aku? Aku bahkan nggak bisa ngebayangin gimana keadaan kita ke depannya, gimana respon orang tua Darren.” Shani mengambil jeda sebentar.
“Dan sekarang aku hamil. Aku nggak bisa ngebayangin gimana kecewanya bibiku di kampung. Dia pasti marah dan-” Shani langsung menggeleng tidak bisa mengungkapkan betapa kecewanya Rumi kalau sampai tau jika putri angkat kesayangannya yang dibanggakan tengah hamil, dan kehamilan itu karena zina.
“Tolong jangan kasih tau Darren soal ini. Aku tau dia harus tanggung jawab, tapi aku nggak mau jadi racun di pernikahannya yang baru dilaksanakan sekarang. Aku takut bikin istrinya Darren sakit hati,” kata Shani pada Malvin.
“Kenapa kamu malah mikirin perasaannya orang lain, sedangkan perasaan kamu sendiri juga layak buat dipikirin? Mementingkan diri sendiri itu juga terkadang harus dilakuin, Sha.”
“Tapi aku nggak bisa. Aku perempuan, dan aku tau gimana perasaannya perempuan lain.” Shani meraih tangan Malvin memohon pada laki-laki itu. “Tolong, tolong jangan kasih tau Darren kalau aku hamil. Aku bisa jalanin ini semua sendirian.”
“Tapi, Sha. Kamu-”
“Please, Vin. Aku mohon. Kamu lihat kan gimana bahagianya Zaila pas di pelaminan sama Darren? Aku nggak mau ngelukain perasaan orang yang nggak bersalah kayak dia. Jadi tolong, kamu yang laki-laki coba ngertiin perasaan kita sebagai perempuan.”
“Oke.” Dan setelah melewati beberapa detik terdiam, Malvin pun merespon. “Aku akan tutup mulut. Tapi aku juga nggak jamin. Sewaktu-waktu semua ini pasti bakalan terbongkar. Perut kamu akan tambah besar, Sha. Dan kamu nggak bisa nutupin itu.”
__ADS_1
“Aku tau.” Jawab Shani menunduk, lalu menatap Malvin lagi. “Saat ini aku cuma butuh kerja sama dari kamu. Aku bakalan terus mikir buat rencana seterusnya, tapi aku perlu waktu.”
Shani yang masih memegangi tangan Malvin mulai mengangkatnya sedikit. “Kamu bisa kan bantuin aku buat nutupin semua ini dari Darren?” tanyanya memohon lagi.
Malvin enggan menjawab, ia malah menatap Shani dengan kesedihan. Dan lalu, Malvin pun meraih tubuh Shani mendekapnya dengan kehangatan. Tapi di sisi sana yang Jia masih berdiri memperhatikan keduanya, hatinya semakin dan semakin berantakan.
Sudah cukup lama Jia mendengarkan pembicaraan Shani dan Malvin, bahkan hingga akhir. Adegan perhatian dan penuh ketulusan yang Malvin berikan pada Shani membuatnya cemburu. Tentu saja, namun Jia tau inti maksud dari apa yang dilakukan Malvin pada Shani.
Shani hanya butuh semangat dari orang-orang di sekitarnya. Jia menyimpulkan jika Malvin adalah manusia sosial yang begitu baik. Laki-laki itu kelihatannya tidak merasa jijik pada perempuan yang disukainya, walaupun perempuan itu sudah hamil, hamil dengan pria lain di luar nikah.
Bodohnya Jia yang tersirat akan harap jika Malvin-lah yang seharusnya menjadi ayah dari anak yang dikandung Shani saat ini. Bahkan jika dibandingkan dengan Malvin, Darren itu bukan cuma pecundang, tapi lebih parah daripada sampah. Jia hanya ingin yang terbaik untuk Shani.
Setelah hatinya benar-benar mati rasa, Jia kemudian undur diri dan pergi meninggalkan Malvin yang masih memeluk Shani menenangkannya. Dan beberapa detik kemudian, pelukan itu mengendur. Shani dan Malvin saling melepaskan.
“Ayo kita masuk,” ajak Malvin pada Shani.
“Kayaknya aku langsung pulang aja, deh. Make up-ku pasti udah hancur banget sekarang,” ungkap Shani membuat Malvin lebih dengan jeli memperhatikan wajahnya.
“Enggak, kok. Kamu tinggal cuci muka aja di toilet terus pake bedak. Pasti bakalan cantik lagi.”
Shani menyeringai. “Bohong banget.”
Malvin hanya tersenyum tipis.
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.
__ADS_1