
Shani dan Malvin masih di taman bermain itu. Dan tanpa mereka sadari, sedari tadi, seseorang tengah mengintai keduanya. Seseorang itu terus menguping dan memperhatikan bagaimana Shani dan Malvin berinteraksi.
“Kenapa? Bukannya aku jauh lebih baik daripada Darren?” Malvin tidak sabaran untuk mengetahui semua isi perasaan Shani yang sebenarnya setelah yang kesekian kalinya ia ditolak oleh perempuan itu.
“Tentu, menurutku kamu jauh lebih beruntung daripada Darren.” Jawab Shani enggan menatap Malvin dan terus memainkan sendok yang dipegangnya ke kotak makan.
“Beruntung?” Mavin mengernyit bingung.
“Aku nggak terlalu tau, justru mungkin kamu yang paling tau. Soal Darren sejak kecil, dan gimana dia tumbuh dengan harus menuruti semua keinginan orang tuanya.” Shani mengambil jeda sebentar. “Sebenernya kalian sama-sama baik. Tapi karena kamu jauh lebih beruntung daripada Darren,” Dan kali ini Shani mulai menoleh pada Malvin. “jadi kamu yang jauh lebih baik.”
“Aku nggak seberuntung itu,” sangkal Malvin setelah terdiam beberapa detik.
Shani hanya merespon dengan mengedikkan bahu.
“Apa kamu masih mencintai Darren walaupun setelah semuanya yang dia perbuat ke kamu?”
Shani bergeming sesaat setelah mendengar pertanyaan Malvin yang seolah adalah pedang bermata 2 untuknya. “Mungkin dulu iya.” Shani kembali memalingkan muka, menunduk, menatap nasi kotak yang dipangkunya yang masih tersisa banyak. “Tapi sekarang aku nggak tau sama perasaanku sendiri.”
Malvin mengerjap, kemudian ikut memalingkan muka ke arah depan. Ia menghela napas, lalu kembali melanjutkan melahap makan siangnya. Semua penuturan Shani cukup membuat Malvin menyimpulkan sesuatu jika perempuan itu masih memiliki perasaan terhadap Darren.
Setelah semua percakapan itu, hanya tersisa keheningan di antara mereka. Shani dan Malvin sama-sama diam dan mulai fokus pada makan siangnya masing-masing yang rasanya sudah hambar dan tidak menyelerakan lagi karena obrolan mengecewakan itu. Dan di seberang sana, seseorang yang bersembunyi untuk mengamati mereka pun mulai pergi.
__ADS_1
...◦○⭕○◦...
Darren terus menutupi kegelisahannya karena sejak pagi ia tidak bisa menghubungi nomor Shani. Perempuan itu juga tidak ada di rumah. Menurut seorang tetangga Shani yang Darren tanyai, orang itu bilang jika Shani pergi bekerja. Kalau saja Darren tau tempat kerja Shani sekarang, mungkin ia bisa langsung menghampirinya. Darren hanya ingin memastikan jika wanita yang begitu ia cintai itu dalam kondisi baik-baik saja.
“Mas, kamu mau nambah sayurnya?” celetuk Zaila ketika mendapati suaminya terlihat melamun dan hanya menyendoki sayur bayamnya saja.
Darren dan keluarganya memang tengah makan siang bersama di rumah. Mereka semua membisu dan terkesan mulai canggung sejak semua masalah Darren mulai menguar. Walaupun begitu, Zaila tetap saja menjadi menantu kesayangan Wirawan dan Fiona.
“Enggak.” Jawab Darren datar enggan menatap istrinya.
Tidak berselang lama, Wirawan pun berdiri dari duduknya. Tanpa satu pun kata laki-laki itu terus berjalan pergi meninggalkan istri beserta anak dan mantunya yang masih belum selesai menghabiskan menu makan siang hari ini. Zaila dan Fiona menatap canggung kepergian Wirawan, kecuali Darren yang sudah tidak peduli sedikit pun akan papanya itu.
“Mas, minggu depan kita nginep yuk di rumah orang tuaku. Ayah sama Mama bilang kalau kangen sama kamu, Mas,” ungkap Zaila pada Darren.
“Darren…, maksud Zaila kan baik. Kamu juga harus deket dong sama orang tuanya Zaila. Kalian ini suami istri, loh.” Fiona menimpali.
Darren seketika menyentakkan sendoknya ke piring hingga berdenting cukup keras. Kemudian, ia menoleh ke arah mamanya. “Mama sebenernya dukung hubungan Darren sama siapa, sih? Zaila atau Shani?” tanyanya emosi.
Fiona hanya bisa terperangah mendengar ucapan putranya. Fiona tidak bisa memilih antara Shani atau Zaila. Kedua perempuan itu sama-sama membutuhkan Darren untuk menanggungjawabi hidupnya. Di sisi lain, Fiona juga harus mempertimbangkan karena Shani memintanya untuk bisa membujuk Darren mempertahankan rumah tangganya bersama Zaila. Untuk membuat semua masalah ini selesai, salah satu dari Shani atau Zaila harus berkorban, bukan?
Darren pun beranjak meninggalkan meja makan dan kembali ke kantor. Saat ini pikirannya benar-benar kalut. Kepala Darren hanya berisikan Shani dan Shani, lalu diganggu oleh masalah-masalah yang entah bagaimana cara menyelesaikannya.
__ADS_1
“Ma, Zaila ke kamar dulu, ya.” Setelah kepergian suaminya, Zaila pun berpamit pada Fiona.
Fiona melempar senyum dan membiarkan Zaila berjalan menuju ruang kamar. Bahkan makan siang hari ini juga kacau karena masalah gila putranya dan perempuan itu, Shani. Fiona refleks mencengkeram kepala yang rasanya begitu nyut-nyutan. Ia tidak tau kapan masalah ini akan berakhir. Fiona juga ingin hidup tenang sebagai calon nenek yang mendambakan cucu imut yang sehat dan ceria.
...◦○⭕○◦...
Wajah Zaila terlihat gelisah begitu ia terduduk lemas di bibir ranjang. Apa maksud pertanyaan Darren kepada ibu mertuanya tadi? Apa Fiona akan mendukung rencana Darren untuk menceraikannya? Kenapa? Bukankah yang menjadi korban di sini adalah dirinya?
Saat pikirannya bingung dan hatinya seakan mati rasa, Zaila juga tidak bisa menahan atau bahkan memperkirakan kalau air matanya akan jatuh begitu saja. Cairan bening itu keluar begitu mudah dari pelupuk matanya, dan mengalir menuruni pipi lalu mendarat ke pangkuannya. Zaila bukannya sedih, tapi ia benar-benar gelisah.
Jika saja ada seseorang yang bisa mengerti posisinya sekarang dan mau mendengarkan curhatannya, Zaila mungkin akan sedikit lega. Ia tidak bisa bercerita kepada siapa pun, bahkan kepada kedua orang tuanya. Masalah Darren seolah mengikat dan memenjarakannya, lalu membebaninya sendirian.
Hidup Zaila yang dulunya teratur, selalu disegani dan terhindar dari hampir semua hal buruk mendadak berubah total. Suaminya sendiri bahkan tidak menganggapnya sebagai istri. Itu fakta jika Darren tidak mencintainya. Pernikahannya cuma terpaksa. Dan ia hamil, itu juga karena keterpaksaan.
Mungkin jika ayah dan mamanya tau tentang ini, keluarga Argantara mungkin akan tumbang. Zaila yakin jika modal 50% yang ditanam ayahnya ke Argantara Group akan ditarik. Argantara Group akan benar-benar bangkrut. Belum lagi pasar saham akan sepi setelahnya. Zaila tentu tega jika memang harus melakukan semua itu, namun ia peduli dengan janin di perutnya.
Zaila pernah berpikir jika ia menyesal telah mengandung anak Darren. Namun karena semua ini sudah terjadi, tidak ada pilihan lain selain menerima. Jika kesabarannya saat ini masih bisa menoleransi, Zaila yakin dirinya akan kuat.
Ketika pikirannya benar-benar buntu, Zaila mendadak teringat 1 orang. Orang yang tepat, yang mungkin bisa ia curahi kepedihan tentang pernikahannya, orang itu adalah kakaknya, Zuilu. Zaila pun cepat-cepat menyeka air mata dan bersiap untuk mengunjungi Zuilu di sel tahanan.
...◦○⭕○◦...
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.