
Sudah 2 hari ini Shani absen dari Argantara Group. Sekitar jam 12 siang, seseorang terdengar mengetuk pintu rumahnya. Shani pun berjalan pelan menghampiri sumber suara tersebut.
Baru 5 detikan Shani menatap kejut tamunya itu, tiba-tiba pipi kirinya ditampar. Zaila, perempuan itu menatap Shani dengan air mata. Dan sejak sehari lalu ia telah membenci Shani saat Darren mulai mengungkapkan semuanya secara blak-blakan.
"Dasar perempuan hina!" celetuk Zaila mengatai Shani dengan suara rendah namun menekan nadanya.
Shani yang mendengar itu seketika meneteskan air mata. Pipinya baru saja ditampar, rasanya masih panas. Dan hatinya, rasanya sangat perih.
Zaila benar-benar tidak tau harus melakukan apa untuk mempertahankan rumah tangganya. Di 1 sisi ia tidak ingin menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya. Zaila tidak ingin menecewakan ayah dan mamanya karena mereka berdua sudah cukup dikecewakan oleh kakaknya.
Zaila pun tidak punya pilihan lain. Ia tidak bisa membiarkan rumah tangganya yang baru saja dibina menjadi hancur. Zaila juga tidak ingin kelak anaknya lahir dengan keadaan broken home.
Satu-satunya alasan yang dapat Zaila tempuh adalah menyalahkan Shani. Perempuan itu memang patut untuk disalahkan karena dengan tidak tau dirinya hendak merebut suaminya. Begitulah kesimpulan Zaila.
Shani menunduk, lalu menyeka air matanya. Kemudian, ia mulai menatap Zaila lagi. "Saya tau kalau saya ini perempuan hina. Tapi Bu Zaila juga harus tau, yang membuat saya hina seperti ini adalah suami Ibu sendiri," ujar Shani pada Zaila diakhiri dengan mata berkaca-kaca.
Zaila terdiam terus menatap Shani dengan perasaan campur aduk.
"Kalau Bu Zaila ke sini hanya untuk menghina dan menyalahkan saya, lebih baik Bu Zaila pergi." Shani mengusir. Shani tidak tau sejauh mana Zaila mengerti tentang masalahnya dengan Darren. Tapi Shani yakin, Zaila pasti sudah tau banyak.
"Kamu emang pantas untuk dihina. Kamu adalah puncil dari semua masalah ini. Jika tidak ada kamu, pernikahan saya mungkin akan baik-baik aja," tegas Zaila dengan sorot mata penuh kebencian.
"Apa Bu Zaila yakin?" Shani mengambil jeda sebentar. "Lalu apa saya juga harus bilang begini, kalau saja tidak ada Bu Zaila, mungkin saya dan Pak Darren akan menikah?"
Emosi Zaila mulai tidak terkendali. Perempuan itu sontak mendorong Shani hingga membuatnya tersungkur ke lantai. Dan dalam sekejab, "Aw...." Shani merintih kesakitan.
Tepat pada kejadian itu berlangsung, Darren baru saja tiba. Darren melihat semuanya. Suara mesin mobil mahal Darren yang pelan dan hampir tidak terdengar membuat Zaila dan Shani enggan mengetahui kedatangan laki-laki tersebut. Tentu juga karena perselisihan mereka. Bahkan Shani yang menghadap ke arah jalanan depan sampai tidah ngeh dengan kedatangan sedan hitam Darren.
Shani mulai menangis memegangi perutnya. Akibat dorongan itu perut bagian bawahnya terasa mengencang seperti kram. Darren pun cepat-cepat menghampiri Shani.
Zaila melebar mata benar-benar terperanjat ketika mendapati suaminya tiba-tiba muncul di hadapannya.
__ADS_1
"Shani, kamu nggak pa-pa?" tanya Darren begitu khawatir terhadap perempuan yang amat dicintainya.
"Perutku sakit banget. Bayi kita, Ren. Cepet bawa aku ke rumah sakit!" seru Shani sangat panik sembari terus menangis.
Darren pun langsung membopong tubuh Shani. "Kalau Shani dan bayinya sampai kenapa-napa, aku nggak akan maafin kamu," ancam Darren pada Zaila, kemudian bergegas pergi meninggalkan perempuan itu.
Semua syaraf di tubuh Zaila seperti membeku. Ia mematung seakan tidak bisa berkutik apa-apa. Semua yang ada pada dirinya, semuanya hancur.
Di depan mata kepala Zaila sendiri, suaminya lebih mencemaskan wanita lain. Sudah jelas jika Darren begitu mencintai Shani. Dan hal itu membuat Zaila semakin merasa tidak adil.
...◦○⭕○◦...
"Aw...." Di dalam mobil Darren, Shani terus berkeluh kesakitan. Ia menangis dengan batin memohon agar janin yang dikandungnya akan baik-baik saja.
Sementara itu Darren terus mengemudikan mobilnya dengan cepat namun hati-hati. Darren juga tidak mau nyawa kecil di perut Shani kenapa-napa. Darren selalu berharap jika Shani dan kandungannya bisa selalu sehat.
Darren mulai meraih tangan kanan Shani dengan tangan kirinya untuk menggenggam. Namun, Shani menangkisnya. Niatan Darren untuk memberikan ketenangan pada perempuan itu ditolak mentah-mentah.
...◦○⭕○◦...
"Kandungan Bu Shani baik-baik saja. Tapi alangkah baiknya Bu Shani menghindari jatuh atau terbentur benda-benda keras. Khususnya di bagian perut. Tolong lebih waspada dan berhati-hati lagi."
Mendengar penuturan dokter yang seperti itu, Shani dan Darren pun bernapas lega. Shani mengusap perutnya lembut dan tersenyum. Darren pun juga ikut tersenyum saat menatap wajah Shani.
"Kalau begitu ini saya kasih resep vitamin dan obat penguat kandungan untuk Bu Shani. Silakan di tebus di apotek depan," ujar dokter itu tersenyum sembari menyodorkan secarik kertas.
Darren pun menggapai kertas itu. "Terima kasih, Dok. Kalau begitu kami permisi dulu." Dan Darren pun kemudian menatih Shani pergi dari ruangan itu.
...◦○⭕○◦...
"Aku pulang naik taksi aja," seru Shani pada Darren setelah laki-laki itu melepas gandengannya dari tangan Shani tepat di dekat pintu mobilnya.
__ADS_1
Darren dan Shani baru saja selesai menebus resep obat dokter. Darren yang merasa bertanggung jawab akan anak di perut Shani dengan sangat ikhlas membayari pembelian obat tersebut. Lagi pula, Shani juga tidak membawa dompet.
Sekarang, 2 orang itu tengah berdiri di parkiran depan rumah sakit.
Shani berusaha menyahut kantong keresek berisi vitamin dan obat penguat kandungannya dari tangan Darren, namun laki-laki itu menarik jauh kantong kereseknya supaya tidak bisa diraih Shani. Shani pun menatap mata Darren dengan binar nanar. "Enggak. Kamu harus pulang sama aku," tegas Darren pada Shani.
"Aku nggak mau." Shani menolak.
Mereka saling beradu pandang dalam beberapa detik. Dan secepat kilat, Darren menarik tangan Shani memasukkan perempuan itu dengan paksa ke dalam mobilnya. Dan setelah itu, Darren pun melajukan sedan hitamnya pergi dari halaman rumah sakit itu.
...◦○⭕○◦...
"Niat aku sudah bulat. Aku akan segera menikahi kamu," celetuk Darren tiba-tiba.
Shani yang sedari tadi hanya diam seketika terperanjat dan mulai menoleh ke arah laki-laki di samping kanannya itu.
"Setelah Zaila lahiran, aku akan menceraikan dia." Darren tersenyum seolah kata-kata dan tindakannya adalah hal yang sudah tepat. Kemudian, ia menoleh Shani sebentar. "Dan kita akan hidup bahagia selamanya," lanjutnya seraya terus mengemudi.
Shani masih saja terperanjat. Mulutnya hampir saja ternganga mendengar ocehan Darren dan gaya santai laki-laki itu. "Aku nggak akan mau nikah sama kamu." Shani menegasi sikap Darren.
Darren yang mendengar itu terus menepikan mobilnya dan mulai menatap Shani.
"Apa kamu nggak punya hati?" tanya Shani pada Darren. "Gimana bisa kamu nyakitin perasaan 2 perempuan sekaligus?"
"Aku nggak ada niatan buat nyakitin perasaan kalian. Tapi agar masalah ini cepat selesai, salah satu dari kalian harus pergi. Dan aku, aku cuma ingin kamu. Satu-satunya cuma kamu."
Shani benar-benar tidak mempercayai ini. Sebenarnya apa yang membuat Darren begitu terobsesi dengan dirinya? "Bagaimanapun aku tetap nggak bisa nikah sama kamu. Aku akan jalanin semua ini sendirian. Dan aku nggak mau Zaila pergi dari kehidupan kamu. Biar aku aja yang pergi."
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.
__ADS_1