
“Tapi aku nggak mau ganggu rumah tangga kalian. Aku nggak mau ngerusak semuanya, Darren.” Shani mulai terisak.
“Shuttt…. Enggak, kamu nggak boleh berpikiran begitu,” tutur Darren seraya cepat-cepat menangkup wajah Shani. “Mulai sekarang kamu jangan nyalahin diri kamu sendiri. Oke?”
Shani pun menggangguk karena ucapan lembut dan tatapan hangat mata Darren. Begitu Shani tenang, Darren mulai memeluk perempuan itu lagi. Masih di ruang rumah sakit di sana, mereka, Shani dan Darren, keduanya saling meluapkan perasaan sumpek yang sedikit demi sedikit mulai memudar.
...◦○⭕○◦...
Keesokan harinya Darren baru saja sampai di rumah sekitar pukul setengah 7 pagi. Wirawan, Fiona, dan Zaila tampak sudah menikmati setengah porsi sarapan mereka. Darren pun menghampiri ketiganya di meja makan.
“Dari mana saja kamu semalam?” tanya Wirawan saat Darren baru saja duduk ke kursi.
“Dari rumah Shani.” Jawab Darren acuh tidak acuh enggan menatap papanya dan Zaila mulai menuangkan beberapa centong nasi untuknya.
Wirawan tiba-tiba menggebrak meja membuat istri dan anak mantunya amat terkejut, kecuali Darren. “Buat apa kamu ke rumah si jalang itu? Di sini ada Zaila yang seharusnya kamu urusin!” seru Wirawan memelotot pada putranya.
Darren pun mulai menoleh pada Wirawan. “Dan di rumah Shani, di sana ada Shani dan calon anak Darren yang juga harus Darren urusin.” Darren mengambil jeda sebentar. “Papa bisa nggak sih ngertiin posisi Darren untuk saat ini? Darren tu lagi pusing, Pa. Jadi tolong, Papa berhenti protes dan ngomel ke Darren.”
“Tapi dia bukan istri kamu. Zaila yang istri kamu. Kamu lebih berhak mengurus Zaila daripada perempuan nggak jelas itu,” timpal Wirawan pada Darren.
“Kalau gitu Papa sama Mama bisa bantuin Darren, kan? Di sini masih ada Papa sama Mama yang bisa ngurus Zaila. Lagian Zaila juga bisa kok ngurus dirinya sendiri.” Jawab Darren.
“Darren! Istri kamu itu lagi hamil.”
“Darren tau.” Darren terus menatap kesal papanya. “Dan Darren paham kalau Zaila juga butuhin Darren.” Ia mengambil jeda sebentar. “Tapi Shani jauh lebih membutuhkan Darren, Pa. Dia tinggal sendirian dan nggak ada yang nemenin dia ngelewatin masalah-masalah ini. Apa Papa nggak kasihan? Shani juga lagi mengandung cucu Papa sama Mama.”
__ADS_1
“Kamu benar-benar anak yang nggak bisa diatur,” seru Wirawan menatap tajam mata Darren.
“Terserah Papa. Darren capek ngeladenin Papa terus.” Darren pun meninggalkan ruang makan tersebut dan membiarkan nasi di piringnya utuh tidak berkurang sedikit pun.
Setelah kepergian Darren, Fiona mulai mengusap-usap punggung Zaila yang tengah duduk di kursi samping kanannya. Sejak mendengar celotehan Darren tadi yang terkesan memihak Shani, air mata Zaila terus menetes. Zaila sakit hati dan merasa terabaikan sebagai istri sah suaminya.
“Kamu yang sabar ya dengan sikap Darren,” ujar Fiona menatap sedih anak mantunya itu.
Zaila pun cepat-cepat menyeka air matanya dan menoleh pada Fiona. “Iya, Ma.” Jawabnya tersenyum dengan hati yang begitu perih.
...◦○⭕○◦...
Fiona menghampiri Darren yang tengah memejam mata sembari bersedekap di kursi lounger tepi kolam renang rumahnya.
“Darren,” panggil Fiona setelah duduk di kursi satunya di samping kanan kursi Darren.
“Mama mau minta maaf sama kamu,” celetuk Fiona tiba-tiba membuat Darren mulai membuka matanya. “Kalau ada masalah, tolong kamu cerita ke Mama. Mama pengen dengar keluhan kamu, hal-hal yang udah kamu alami, dan Mama juga pengen dengar tentang hal apa pun yang kamu inginkan.
Darren menatap Fiona menyeringai dengan posisi yang masih sama, yaitu berbaring di kursi santainya. “Mama pengen dengar hal-hal yang Darren inginkan? Apa Darren nggak salah dengar? Gimana bisa Mama mau dengar kalau apa pun yang Darren pengen lakuin, itu selalu nggak tepat buat Mama sama Papa.”
“Karena itu, Darren. Karena itu kali ini Mama mau dengar masalah kamu. Mama nggak mau kamu terus-terusan hidup seperti ini. Mama pengen kamu jadi suami yang bertanggung jawab, laki-laki yang menyayangi istri dan calon anaknya. Apa kamu nggak kasihan sama Zaila?”
“Terus apa Mama nggak kasihan sama aku?” Darren melempar balik pertanyaan. “Apa Mama nggak kasihan sama anak Mama sendiri?”
Fiona terus menatap sedih mata Darren.
__ADS_1
“Andai aja aku nggak bego dan Mama sama Papa nggak paksa aku buat nikah sama Zaila, pasti sekarang aku udah bahagia sama Shani, Ma.”
“Soal Shani, apa benar dia hamil anak kamu? Apa kamu udah sangat yakin jika itu anak kamu?”
“Jadi Mama nggak percaya? Apa Darren perlu tes DNA? Apa Darren perlu ungkapin lagi kalau Darren udah perkosa Shani?”
Hati Fiona seketika nelangsa. Ia merasa gagal mendidik anaknya menjadi laki-laki yang baik. Fiona sadar jika mengekang Darren dan memaksanya melakukan hal yang anak itu tidak suka telah membuat Darren memiliki karakter yang salah, karakter yang sesat dan penuh berontak.
“Darren cuma cinta sama Shani, Ma. Darren pengen bertanggung jawab atas semua kesalahan yang udah Darren lakuin. Tapi sekarang udah terlambat.” Darren mengambil jeda sebentar sembari terus menatap mamanya. “Karena Mama sama Papa menyuruh Darren menikah sama perempuan yang nggak bisa dan sepertinya nggak akan pernah bisa Darren cintai, Darren jadi sakit hati.”
“Dan karena itu juga bukan cuma Darren yang hancur. Tapi Shani juga, Ma. Dia lebih hancur lagi karena harus menanggung kehamilannya sendirian. Shani menolak Darren nikahi karena dia nggak mau rumah tangga Darren dan Zaila berantakan. Dia perempuan yang baik, Ma. Tapi anak Mama ini, anak Mama ini yang dengan berengseknya udah bikin dia menderita.”
Mata Fiona berkaca-kaca. Ia tidak tau lagi harus mengatakan apa pada Darren. Fiona benar-benar bingung.
Darren beringsut duduk menghadap mamanya yang juga tengah duduk menghadapnya. Darren meraih kedua tangan Fiona sembari menatapnya memohon. “Jadi tolong, Ma. Darren sangat minta tolong sama Mama supaya Mama bisa cegah Papa agar nggak ngelakuin hal-hal buruk ke Shani. Kalau Papa nyakitin Shani, Darren juga ngerasa sakit.”
Fiona kemudian memeluk putra tunggalnya itu, mengelus punggungnya, dan meneteskan air mata di sana.
“Mama bisa kan tolongin Darren? Shani juga lagi mengandung cucu Mama. Darren nggak mau calon anak Darren di perut Shani kenapa-napa.”
“Iya, Mama akan bantuin kamu.” Fiona melepas pelukannya dan beralih menangkup wajah Darren. “Mulai sekarang kamu jangan khawatir dan memaki diri kamu sendiri. Mama akan baik sama Shani, Mama juga akan berusaha nerima dia. Kamu percaya sama Mama,” ujar Fiona meyakinkan Darren.
“Mama serius?”
Fiona mengangguk dengan pipinya yang basah karena air mata. “Iya, demi kamu. Mama akan lakuin apa pun demi anak Mama.” Dan Fiona pun kembali memeluk putranya.
__ADS_1
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.