
"Hai mba Arni apa kabar? Wah makin besar aja, gimana nih kabar keponakan aku" kata Alifia sambil menempelkan telinga nya pada perut mba Arni seolah sedang mendengarkan suara bayinya
"Seperti yang Fia dengar, Dede Utun nya suka tendang-tendang" jawab mba Arni sambil mengelus-elus perutnya dengan penuh kasih sayang
"Wow sepertinya bakal dapet cowo lagi ni yakin deh mba" ujar Alifia senang
"Aaamiinnn" ucap mba Arni
"Biar baim ada temen main bola"
"Sok tahu kamu! Dokter juga bukan" suara bang Ilham yang sedari tadi hanya menyimak
"Bawel ah si Abang mah"
"Eh bawel katanya, gini emang punya adik engga ada akhlaq kamu engga niat tanyain kabar Abang gitu?" Protes bang Ilham
"Lagian aku udah tau kalo Abang baik-baik aja kan jadi engga usah aku tanya lagi" jawab Alifia cuek
"Dasar kamu! Kapan gedenya coba kelakuan masih kaya bocah aja" bang Ilham mencibir
"Bang Ilham juga kapan jadi ustadz nya coba, kerjaannya ceramah terus tapi engga jadi ustadz" timpal Alifia tak mau kalah
"Fiaaa Ilham!! Sampe kapan kalian mau di situ aja? Engga niat masuk? Tuh liat istri kamu Ilham sampe masuk kamar sendiri karena cape dan kamu nya malah debat sama adikmu, kalian emang sama-sama masih kecil kok, udah debat nya sana bubarr!" Seru Bu Reni
"Tau nih mah kurcaci kerjaan ngajak debat teros!"
"Dasar tower"
"Berhenti debat atau mamah lempar pake sendal satu satu ha?"
Kedua kakak beradik itu pun langsung ngacir bubar sebelum sendal yang di layang-layang kan oleh mamahnya berhasil mendarat ke wajah mereka masing-masing
...
__ADS_1
Setelah berhasil menidurkan baim dan Ray di kasurnya Alifia membuka-buka beberapa dokumen kantor nya yang akan ia bawa besok mengoreksi nya kembali barangkali disana masih ada suatu kesalahan kata, jika memang iya ada yang salah habis sudah Alifia akan kena semprot oleh mulut jahat pak bos kampret nya, typo satu huruf saja pasti akan menjadi bagian dari Omelan atasan nya yang bernama tuan Hafizh
Sampai sebuah suara mengganggu ke fokusan Alifia
"Dek fi, kamu di tunggu sama bang Ilham di bawah. Katanya dia mau ngomong" kata Irfan dan kembali berlalu pergi
"Mau ngapain coba? Udah malem gini juga engga tau apa kalo aku lagi cape bentar lagi juga niat nya mau tidur" keluh Alifia
"Ada apa sih bang? Ini udah malem, aku cape pengen tidur juga mau ngomong apa cepetan bang" kata Alifia to the poin begitu ia bertemu dan melihat kakaknya sedang duduk santai di sofa ruang keluarga
"Ini bocah baru juga muncul langsung ngomong aja, bukan nya duduk dulu sini kek yang sopan"
Tanpa banyak bicara Alifia langsung menuruti ucapan kakaknya, ia mendudukkan pantatnya di sofa dengan nyaman "oke udah duduk ni, cepet kak ada apa?" Tanya Alifia tidak sabaran
"Gini fi, Abang benar-benar khawatir liat kamu yang seperti engga bernafsu sama laki-laki, kamu normal kan fi?"
"Astaghfirullah Abang, bang kalo ngomong jangan kemana aja deh. Aku ini normal, aku masih suka sama laki-laki" kata Alifia tidak terima
"Ya terus?" Tanya Alifia
"Itu udah termasuk umur dewasa, Fia kamu engga berniat menikah?" Tegas bang Ilham
Masya Allah Abang nya ini bicara apa? Apa katanya barusan menikah? Alifia harap ingatan bang Ilham ini masih bagus dan belum pikun, tapi kenapa ia seperti tidak ingat dan tidak merasa sama sekali bahwa penyebab Alifia belum menikah ini adalah dirinya! Ya dirinya lah yang menyebabkan seorang Alifia masih melajang di usia nya yang ke dua puluh lima tahun, karena apa? Karena setiap ada lelaki yang datang kerumah nya dengan berniat melamar Alifia pasti laki-laki itu akan di buat ketakutan oleh nya dengan cara di cerca berbagai macam pertanyaan yang membuatnya takut, setelah itu pun tidak pernah ada lagi yang datang melamar Alifia
Tapi sekarang apa katanya barusan? Bang ilham menyangka Alifia tidak normal? Yang jelas adalah bang Ilham yang tidak normal karena pikun nya keterlaluan bukan Alifia!!!
Ingin rasanya sekarang Alifia ngamuk berteriak dan mencakar-cakar wajah tampan nan mulus milik bang Ilham hingga hancur karena saking kesalnya
"Apa Abang lupa? Bukan nya Abang kan yang melakukan semua ini? Kan Abang juga yang ngebuat aku kaya gini, kalo Abang galak terus sama orang lain, laki-laki mana coba yang berani nikah sama aku?"
"Ini karena Abang? Apa boleh buat? Perasaan Kita semua terutama Abang tidak akan merasa tenang jika sampai kamu terjatuh ke tangan orang yang salah apalagi kamu adalah adik dan anak perempuan satu-satunya di keluarga ini" wajah bang Ilham terlihat serius
"Abang fikir aku mau? Aku juga ya engga mau lah jatuh ke tangan orang yang salah" sudut bibir Alifia terangkat
__ADS_1
"Alifia, kali ini Abang bicara serius engga sedang bercanda, kamu emang susah di atur ya apa perlu kakak Carikan jodoh buat kamu?" Kata bang Ilham dengan seringai di wajahnya muncul
"Abang jangan ngaco, aku masih bisa cari sendiri engga usah Abang cariin" tegas Alifia
"Nyari sendiri? Kamu yakin dengan adanya bocah yang manggil kamu dengan sebutan mama itu? Orang mana yang akan mau sama kamu? Pasti mereka pada nyangka kamu janda"
Siapa sangka perkataan bang Ilham barusan membuat Alifia marah sangat tidak terima "Bang Ilham! Jangan bawa-bawa Ray! Anak kecil itu engga bersalah sedikitpun! Sekarang terserah lakukan aja apapun yang bang Ilham suka asal jangan bawa-bawa Ray!!!"
Alifia langsung berdiri dari duduknya dan beranjak masuk ke dalam kamar nya meninggalkan bang Ilham yang terbengong seorang diri disana, ia tidak menyangka bahwa adiknya itu sudah sangat terobsesi dengan seorang anak kecil yang identitasnya tidak di ketahui dengan jelas.
Dikamarnya Alifia sangat kesal ia hampir saja membanting pintu kalo saja ia tidak ingat bahwa disana ada dua malaikat kecil yang sedang tertidur dengan pulas
Alifia memperhatikan wajah polos Ray yang tengah tertidur pulas, perlahan tapi pasti kemarahan Alifia mereda seketika hanya dengan memandangi wajah tampan Ray, di sela-sela lamunan nya Alifia kembali teringat dengan perkataan mamahnya tadi tentang Ray, memang benar apa yang di katakan oleh mamahnya bahwa suatu saat pasti Ray akan kembali kepada keluarga nya tapi hati Alifia tidak terima dengan semua itu, sekarang baginya Ray adalah putra kecil nya, Ray adalah anak kesayangan nya sampai kapanpun Alifia tidak akan pernah mau kehilangan seorang Ray
Dalam hatinya Alifia bertekad bahwa ia tidak akan pernah mempertemukan Ray dengan keluarganya bagaimanapun itu, sekarang Ray adalah miliknya seorang tidak boleh ada yang merebutnya darinya, walaupun Ray bukan terlahir dari rahimnya namun Alifia tidak peduli dan tidak mempermasalahkan semua itu baginya Ray adalah hidup dan penyemangat nya
Tiba-tiba ponsel Alifia yang berada di atas meja menyala tanda ada pesan masuk
"Hai, slmat malem"
Sebuah SMS dengan nomer tidak dikenal
Alifia mengernyit, siapa ini ada orang ngeSMS malam-malam gini dan ini apa pula ketikan nya macam gaya ABG
"Maaf, mungkin salah alamat" respon Alifia kemudian ia naik ke atas kasur merapikan bantal dan selimutnya untuk ia tiduri
Tiba-tiba hp nya kembali menyala
"Lah kok cuek gt sih... Gk brubah jga ya trnyata sejak kita trakhir kali brtemu"
"Siapa sih ini? Sok akrab banget deh ini orang" batin Alifia
Alifia menyimpan kembali hp nya di atas meja tanpa berniat merespon kembali pesan dari orang asing itu, menurutnya jika Alifia terus saja merespon pesan itu pasti engga akan ada ujungnya yang ada makin membuat Alifia tambah pusing memikirkan nya maka dari itu Alifia memilih mengambil simpel saja alias tidak mau ribet
__ADS_1