The Secretary

The Secretary
BAB 43


__ADS_3

Shani dan Darren masih berada di ruangan itu. Tangisan Shani mulai memudar seiring Darren terus memeluknya menenangkan. Darren tidak henti mengusap kepala dan punggung perempuan itu yang memberikan reaksi hangat untuknya.


Darren pun kemudian menangkup wajah Shani, menatapnya, begitu lekat. “Kamu nggak pa-pa? Perut kamu ada yang sakit? Apa kita perlu ke dokter?”


Shani hanya merespon dengan gelengan sembari wajahnya tampak masih menahan air mata.


“Kalau gitu ayo kita keluar dari sini,” ajak Darren.


Shani mengangguk, dan Darren bergegas membopong tubuh Shani lalu meninggalkan gedung terbengkalai itu.


...◦○⭕○◦...


Darren mengendarai mobilnya pelan-pelan seraya mencuri-curi pandang ke sisi kirinya. Di sana, Shani terlihat merenung, diam, dan cukup tampak kacau. Kejadian yang baru saja menimpanya adalah hal kejam yang membuat Shani semakin cemas dan takut jika itu akan terulang lagi.


Tangan kiri Darren meraih tangan kanan Shani, ia menggenggamnya dan terus fokus mengemudi. 2 orang itu tidak menyuara, mereka sama-sama diam. Dan seiring waktu tersita oleh kebisuan, Darren sampai menghentikan mobilnya tepat di jalanan depan rumah Shani.


“Lebih baik sekarang kamu istirahat. Kamu jangan khawatir, aku bakal pastiin Papa nggak akan bisa lagi macam-macam sama kamu,” ujar Darren pada Shani.


Mereka saling menatap, dengan keraguan, dengan kecemasan masing-masing.


“Tapi gimana kalau papa kamu sama anak buahnya datang lagi?”


Darren terdiam sebentar, lalu beringsut menghadapkan tubuhnya ke arah Shani dengan nyaman. Darren meraih kedua tangan Shani dan menggenggamnya. “Kamu percaya kan sama aku? Aku akan lindungi kamu Shani, dan calon anak kita.” Darren mengusap lembut sisi kiri kepala Shani. “Aku nggak akan biarin siapa pun ganggu atau bahkan melukai kalian.”


“Tapi Darren, aku-”

__ADS_1


“Shani,” panggil Darren terdengar lembut tapi menyela. “Tolong percaya sama aku.”


Shani mendadak dilema. Sorot mata Darren terlihat meyakinkan, namun Shani juga tau kalau laki-laki itu juga punya istri yang tengah hamil yang juga harus diurusnya. Tidak mungkin kan Darren akan selalu ada saat ia membutuhkannya?


Dan Shani pun terpaksa harus memendam ketakutakannya sendirian. Shani turun dari mobil Darren, dan laki-laki itu pun berpamit pergi. Saat sedan hitam Darren semakin menjauhinya, Shani bergegas masuk ke dalam rumah.


Shani sangat trauma, ia mengunci rapat-rapat semua pintu di rumahnya, termasuk jendela. Perempuan itu terus beranjak naik ke kasur, duduk di sana menepi dan bersandar di tengah-tengah kepala ranjang, dan menutupi tubuhnya dengan selimut. Badan Shani bergemetar.


Shani menunduk dan air matanya mulai berjatuhan. Siapa yang bisa diandalkannya? Siapa yang bisa membuatnya merasa aman sekarang? Tidak ada. Jika pun ada, tidak akan sepenuhnya bisa untuk ia percayakan.


Entah kenapa semuanya semakin berat untuk Shani jalani. Saat usia kandungannya jam demi jam semakin bertambah tua, dan nanti, hari demi hari, berminggu-minggu, dan bulan demi bulan. Akankah Shani yakin bisa melewatinya sendirian?


Kesedihannya saat ini membuat Shani lupa akan kebahagiaan yang harusnya juga ia dapatkan. Ketika pikirannya mengacak dan semakin pusing, Shani pun mulai memejam mata dan terlelap. Masih di posisi yang sama, duduk meringkuk dengan selimut setebal 2 sentian, Shani akhirnya tertidur.


...◦○⭕○◦...


“Kenapa, Mas?” Zaila yang mendengar pekikan suaminya terus keluar dari ruang dapur dan menghampirinya.


“Mana Papa?” tanya Darren pada Zaila.


“Papa….”


“Ada apa?” Tiba-tiba Wirawan berjalan pelan menghampiri Darren dan Zaila.


Ekspresi Darren getem-getem menatap papanya. “Apa Papa udah gila?” celetuk Darren pada Wirawan. “Bisa-bisanya Papa nyuruh anak buah Papa buat perkosa Shani? Papa benar-benar udah sangat keterlaluan!”

__ADS_1


Wirawan telah memperkirakan ini akan terjadi, putranya akan memprotes parah dirinya dan mengomentari tindakannya terhadap perempuan itu. Rencana Wirawan gagal dan anak buahnya sudah memberitahunya. Berbeda dengan reaksi keterkejutan Zaila saat mendengar pengakuan dari Darren, Wirawan hanya merespon datar dan terlihat tidak acuh.


“Kalau Papa bertindak lebih jauh lagi, aku nggak akan segan-segan buat laporin Papa ke polisi. Aku nggak peduli kalaupun Papa adalah papa aku.” Darren terus memperingati Wirawan. “Kalau Papa berani lagi buat menyentuh Shani, aku akan benar-benar hancurin semuanya yang udah Papa bangun dari awal. Papa ngerti kan maksud aku?”


Seiring ancamannya selesai, Darren pun bergegas pergi meninggalkan Wirawan dan Zaila yang hanya mematung diam di sana. Zaila terlihat cukup syok dengan semua ucapan suaminya barusan. Dan Wirawan, ia tau jika Darren tidak main-main dengan ancamannya, tapi Wirawan tidak takut. Siapa yang bisa mengalahkannya? Bahkan hingga saat ini Darren belum juga tau jika ia masih memegang kendali penuh perusahaan.


Wirawan menghela napas pendek, kemudian menatap menantunya. “Zaila, kamu tau kan jika Papa melakukan semua ini untuk mempertahankan pernikahan kamu dengan Darren? Jadi jangan diam saja, kamu juga harus bergerak untuk menghentikan si jalang sialan itu merayu suamimu.”


Zaila hanya bisa menunduk, dan Wirawan pun meninggalkannya.


...◦○⭕○◦...


Zaila membuka pintu kamarnya, dan di sana Darren tampak menyibuk dengan telepon genggam. Zaila pun berjalan menghampiri Darren. Ia duduk di tepi ranjang sembari menatap suaminya yang terlihat tidak acuh atas kedatangannya.


“Mas,” panggil Zaila pada Darren, namun Darren tidak menggubris. “Apa terjadi sesuatu sama Shani?” tanya Zaila dan kali ini membuat Darren mulai menolehnya.


“Apa peduli kamu?” sewot Darren pada istrinya. “Kamu pasti seneng kan kalau Shani dan bayi di perutnya kenapa napa? Berhenti sok peduli karena aku tau kamu nggak jauh berbeda sama Papa,” lanjut Darren menuduh.


Zaila terdiam sebentar dan semakin menatap intens suaminya. “Papa cuma pengen perjuangin rumah tangga kita supaya nggak berantakan. Kamu jangan pandang tindakan Papa dalam konteks negatif aja. Kamu juga harus lihat sisi positifnya.”


Darren terkekeh menyeringai tidak percaya dengan ucapan Zaila. “Gimana bisa tindakan Papa kamu sebut positif? Hal yang positif tidak pernah membenarkan hal yang negatif, kamu tau?” Darren mengambil jeda sebentar. “Papa udah bertindak lebih dari kata keterlaluan ke perempuan yang aku cintai. Dan apa kamu bilang? Aku harus lihat sisi positif atas semua itu?”


Zaila berusaha kuat walau Darren membuat hatinya perih. “Aku nggak pernah bilang buat membenarkan tindakan Papa, tapi aku cuma mau kamu pandang maksud baik dari Papa buat kita.” Zaila terus menyeru. “Papamu cuma ingin yang terbaik buat rumah tangga anaknya. Dia pengen kamu sadar, Mas. Pernikahan itu bukan permainan, kamu nggak bisa gini terus.”


“Tapi aku pikir pernikahan kita emang cuma permainan.” Jawab Darren cepat-cepat. “Bahkan sampai sekarang aku nggak bisa cinta sama kamu. Dan aku rasa nggak akan pernah bisa.”

__ADS_1


...◦○⭕○◦...


Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.


__ADS_2