The Secretary

The Secretary
PART 4


__ADS_3

Alifia kembali melanjutkan perjalanannya, ia memutuskan untuk pulang saja karena hari sudah sore dan akan melanjutkan mencari pekerjaan nya besok lagi, anggap saja hari ini masih belum rezeki siapa tau besok rezeki nya sudah datang


saat melewati gang yang sepi Samar-samar Alifia seperti mendengar suara anak kecil menangis, Alifia memutarkan tubuhnya menatap sekeliling gang itu mencari keberadaan sumber suara yang ia dengar suaranya terdengar sangat dekat, karena tidak menemukan keberadaan nya Alifia pun kembali melanjutkan perjalanan nya tanpa mau lagi menghiraukan suara tangisan itu karena Alifia fikir itu suara anak menangis di salah satu rumah di gang itu yang ia lewati


Namun tanpa sengaja Alifia melihat seorang bocah kecil sedang duduk, ah tidak lebih tepatnya sedang jongkok di bawah pohon de pinggir gang buntu yang sangat sepii


"Hikss.. hiksss, Mamaa"


Sekilas Alifia mendengar suara anak kecil itu menangis memanggil Mamanya, apa anak itu di buang oleh orang tuanya atau terpencar dari orang tua nya, kasian sekali dia menangis sendirian di tempat yang sangat sepi ini


Perlahan tapi pasti kaki Alifia tanpa sadar berjalan mendekat ke arah bocah kecil yang menangis itu, Alifia terus berjalan mendekat semakin dekat semakin jelas Alifia dapat melihat bocah itu dengan jelas, bocah itu juga memandang ke arah Alifia


"Hai anak tampan, kenapa kamu menangis?" Tanya Alifia lembut, ia ikut jongkok di hadapan bocah itu mensejajarkan tinggi nya, tak lupa tangan nya mengusap rambut bocah kecil itu "wow anak ini tampan sekali" gumam Alifia saat sudah dapat melihat wajah bocah itu dengan jelas, matanya terlihat berwarna biru, sepertinya anak ini keturunan orang luar negeri, dan usia nya terlihat masih berumur 3 tahun


Bocah kecil itu terus menatap lekat ke arah Alifia "hey sayang, kamu kenapa?" Tanya Alifia lagi tak kalah lembut dengan tadi


"Mamaaa" katanya


"Hah? Mama?" Alifia melirik ke arah belakangnya barangkali disana ada ibu dari bocah ini sedang berdiri di belakang nya, tapi nyatanya saat Alifia menoleh ke belakang ia tidak menemukan siapa-siapa disana


"Dimana mama kamu sayang? Hm?"


"Huaaaa mama" anak itu memeluk leher Alifia erat seolah tidak ingin kehilangan nya


"Ha? Maksud nya? Dia nyangkanya aku mama nya kah?" Alifia bertanya-tanya pada diri sendirinya bingung


"Mama angan tindalin lay, lay angen cama mama" anak itu mengusap pipi Alifia


Sungguh entah kenapa hati Alifia terasa sakit seperti teriris mendengar perkataan anak itu

__ADS_1


"Rumah kamu dimana sayang? Biar Tante antarkan kamu pulang ya"


"Ndak au, lay au cama mama" anak itu kembali memeluk Alifia dengan lebih erat


"Iyaa, tapi mama kamu dimana sayang?" Tanya Alifia lembut


"Ni mama lay Agi lay peyuk Tan ma"


Alifia terdiam, ia faham betul dengan bahasa cadel anak kecil karena ia sudah terbiasa berbicara dengan keponakan nya yaitu baim anak bang Ilham saat baim masih kecil berbicara nya sama seperti anak kecil yang sedang memeluknya ini, anak kecil itu mengatakan bahwa saat ini mama nya sedang ia peluk, berati anak kecil itu menyangka bahwa Alifia adalah mamanya


"Tapi Tante bukan mama kamu sayang, mari Tante antarkan kamu pulang ya" Alifia menggendong tubuh mungil itu


"Ndak au, lay au cama mama, huaaa.." anak itu kembali menangis dengan kencang


Alifia kewalahan mendengar tangisan bocah yang terdengar sangat kencang itu "iya sayang iya sama mama kok"


"Mama Ndak au nama na lay? Nama na lay ya lay maa"


"Ohh namanya kamu lay"


"Butan lay mah tapi layy"


"Iya kan lay"


"Butan tu mama, tapi L Lay"


"Oh iya nama kamu Ray?" Tebak Alifia saat sudah ngeh dengan kecadelan Ray yang belum bisa bicara huruf R


"Hu'um maa" Ray menempelkan pipi nya pada dada Alifia dalam gendongan Alifia dan merasa sangat nyaman dengan posisi itu

__ADS_1


Sementara Alifia sendiri bingung memikirkan harus dibawa kemana anak ini, jika di bawa kerumah pasti akan membuat hebot mamah dan kakak-kakaknya, bahkan bisa saja ia di gantung di atas tebing tinggi oleh kak Ilham jika sampai ia tahu bahwa Alifia pulang dengan membawa seorang anak kecil yang memanggilnya dengan sebutan mama


Tapi Alifia juga merasa tidak tega jika harus meninggalkan anak setampan Ray di gang yang sepi ini, udahlah terobos aja, anak ini akan Alifia bawa pulang kerumahnya, toh niat dia juga ingin menolong anak ini


"Kamu kenapa bisa ada di tempat sepi itu sayang, apa kamu engga takut?" Tanya Alifia


"Lay di bawa kecana cama tante ahat maa, muta Tante na teliatan telem banett, lay Dali Adi naliin mama api mama Ndak datang-datang nolongin lay" jawab Ray


Alifia mengangguk faham, ternyata anak itu di buang oleh orang tuanya yang Alifia fikir orang yang membuang anak ini pasti ibu tirinya, tidak mungkin orang tua kandung nya tega membuang anak setampan dan selucu Ray ini


Ray mencium pipi Alifia berkali-kali "lay cayang cama mama" ucapnya dengan wajah yang terlihat polos dan menggemaskan


Hati Alifia sangat senang mendengar pernyataan sayang dari seorang anak kecil yang baru saja ia temukan dan tidak tahu kebenarannya anak siapakah itu, dan anak itu menyebutnya dengan panggilan mama, itu membuat Alifia merasa seperti sudah menjadi seorang mama sungguhan walaupun ia tidak pernah merasakan yang namanya melahirkan, jangankan melahirkan, menikah saja Alifia masih belum pernah


Di usia nya yang sudah memasuki umur 25 tahun, Alifia masih sangat bentah dengan status lajangnya, ia masih belum siap membuka hati untuk siapapun, bagi Alifia ia tidak terlalu memikirkan yang namanya jodoh, toh itu sudah ada Allah yang mengatur semuanya, Alifia percaya jika sudah waktunya juga pasti jodoh akan datang sendiri untuknya tanpa harus ia mencari dan pastinya semoga yang terbaik


"Hari ini mama akan membawa kamu kerumah mama ya" Alifia mencium gemas pipi Ray, dihatinya Alifia tertawa geli saat mengatakan bahwa dirinya adalah Mama


"Te lumah mama? Holee te lumah mama" Ray bersorak senang


"Kamu senang sayang?"


"Iya ma, lay cenang banett"


Alifia terus berjalan sambil berfikir keras apa yang harus ia lakukan pada anak ini bingung memikirkan bagaimana cara merawat anak ini apalagi ia harus bekerja, jika ia menitipkan kepada Mamahnya apa boleh? Tapi ia tidak mau menyusahkan Mamahnya lagi. Anak yang diketahui bernama Ray itu sudah tertidur dengan nyaman di gendongan nya dari sejak tadi, seharian ini Alifia merasa sangatt apes sekali, belum mendapat mendapat pekerjaan baru, lalu di tembak oleh bocah SMP yang tidak jelas asal usulnya darimana kemudian sekarang ia menemukan anak bule terlantar, besok apalagi yang akan terjadi?


"Kasian sekali ada orang yang tega membuang anak setampan dan sepolos ini, tapi sayang nya orang jahat memang tidak punya rasa belas kasihan" fikir Alifia


"Semoga saja Mamah dan bang Irfan tidak merasa keberatan jika aku membawa anak ini tinggal bersama untuk sementara" ucap Alifia dalam hati berharap penuh

__ADS_1


__ADS_2