
Acara pernikahan Darren dan Zaila hampir di penghujung waktu. Tamu-tamu undangan mulai pergi. Namun Shani, Malvin, Jia, dan Andra masih duduk-duduk berkumpul tampak mengobrolkan sesuatu sembari menikmati minuman di meja seberang sana.
Karena bujuk rayu Malvin, Shani yang ingin pulang meninggalkan pesta pernikahan itu tidak jadi pergi. Shani hanya membasuh muka di toilet, dan menggunakan kembali beberapa make up yang ia bawa di tasnya. Setidaknya tampangnya yang hancur karena tangis sudah membaik berkat keajaiban make up itu.
Seolah tidak pernah terjadi apa-apa, Shani dan Malvin bercanda bersama Jia dan Andra. Begitu pun Jia, ia juga berakting sangat baik dengan senyum dan gelak tawanya. 3 orang itu sama-sama menutupi aib, sama-sama menyimpan rahasia.
Dan di sisi seberang, Darren tampak memperhatikan perempuan itu. Jika saja Shani tau, sebenarnya Darren merasa tidak tenang sejak acara pernikahannya dimulai. Sedari awal Darren terus mencuri-curi pandang untuk celingukan berusaha mencari keberadaan Shani.
Setelah cukup lama, kemudian Darren menemukan Shani. Perempuan itu kelihatannya baik-baik saja. Darren memandangi Shani yang tersenyum-senyum di sana dengan 3 orang yang juga ia kenal, Malvin si sepupunya yang menyebalkan, Jia, dan juga Andra.
“Zai, aku tinggal dulu, ya,” pamit Darren pada Zaila tiba-tiba.
“Mau ke mana, Mas?” tanya Zaila penasaran.
“Ngobrol sama temen-temenku.” Jawab Darren acuh tidak acuh.
“Aku ikut, ya,” pinta Zaila seraya memegangi lengan kiri Darren.
Darren enggan menjawab, dan kemudian ia berjalan pergi terus diikuti oleh istrinya.
...◦○⭕○◦...
Shani, Malvin, Jia, dan Andra yang awalnya terkekeh-kekeh mendadak mendatarkan ekspesi. Kedatangan Darren dan Zaila membuat suasana terasa aneh. Dan sekali lagi, Shani merasakan perih di hatinya semakin menjadi-jadi.
Mereka semua membisu. Darren hanya berdiri seraya menatap Shani dan begitu juga sebaliknya. Zaila mulai bingung mendapati 2 insan yang tampaknya terpaku oleh memori. Memori apa pun itu, Zaila hanya menyimpulkan. “Mas,” panggil Zaila pelan menepuk pundak Darren menyadarkan lamunan suaminya itu.
Darren pun beringsut duduk, menarik kursi, juga mempersilakan istri barunya untuk duduk. Suasana semakin caggung. Bahkan Malvin juga tidak punya niatan untuk menyapa sepupunya sendiri untuk sekedar basa-basi.
Jia menunduk sok menyibuk dengan isi tasnya yang entah ada apa di sana. Andra menggaruki tengkuk dan samping lehernya yang tidak gatal memasang tampang bodoh yang khas walaupun sebenarnya ia tidak bodoh. Malvin membuang muka sembari menyilang tangan enggan memperdulikan Darren dan Zaila yang baru datang untuk bergabung.
__ADS_1
Dan Shani, ia menunduk melihat jam tangannya. “Aku pamit dulu, ya. Udah malem banget,” celetuknya tiba-tiba. Kemudian, ia berdiri mulai menenteng tas hitamnya.
“Aku anterin, ya? Sekalian aku juga mau pulang,” tawar Malvin ikut berdiri menyusul Shani.
“Shani, aku mau bicara sebentar.” Mendadak Darren berceletuk dan ikut berdiri juga.
Zaila semakin merasa aneh. Aneh dalam arti tidak mengerti. Tatapan suaminya terlihat berbeda kepada perempuan itu yang barusan ia ketahui namanya adalah Shani.
Tidak sempat Shani menjawab ucapan Darren, Malvin segera menyelanya. “Bicara apaan? Ini udah malem, Shani harus istirahat.”
Darren mengernyit mencoba menelaah kalimat Malvin. Shani harus istirahat karena ini sudah malam? Bukankah semua orang memang harus istirahat karena sudah malam? Malvin hanya sudah memberi spoiler dengan konteks kalimatnya. Namun, sepertinya Darren tidak terlalu paham.
“Shani, kita bareng aja pulangnya. Aku bawa mobil, kok. Rumah kita juga searah.” Jia pun menimpali dan ikut beranjak berdiri mengalungkan tas selempangnya ke pundak.
Tanpa menunggu jawaban dari Shani, Jia langsung meraih tangan sahabatnya itu menggandengnya. “Sekali lagi, selamat ya Pak atas pernikahannya,” ujar Jia tersenyum pada Darren. “Permisi semuanya,” lanjutnya berpamit dan meninggalkan semua orang itu bersama Shani.
Andra yang merasa dianaktirikan oleh kedua sahabat perempuannya langsung menyusul ikut berpamit. Setelah Shani, Jia, dan Andra pergi, Malvin juga pergi. Laki-laki itu hanya melempar tatapan malas pada Darren, dan kemudian langsung meninggalkannya, Darren dan Zaila.
...◦○⭕○◦...
“Kalo lo lagi butuh sesuatu, lo hubungin gue aja, Sha.” Dan Jia pun akhirnya menyuara.
“Maksud lo?” tanya Shani mengernyitkan dahi menatap Jia yang sibuk mengemudi.
“Ya maksud gue, gue lihat akhir-akhir ini tu lo kayak muram nggak bersemangat gitu. Jadi gue sebagai sahabat terbaik lo dengan senang hati akan ngebantuin lo. Kalo lo ada masalah, lo bisa cerita ke gue.”
Shani tertegun sebentar, lalu ia tersenyum kecut. “Nggak, ah. Nanti lo ember kalo gue ceritain masalah gue. Lo kan tipe-tipe…, yah….”
“Tipe-tipe suka ngegosip?” Jia malah menebak. “Ya tergantung, dong. Kalo masalah lo begitu rahasia dan privasi, gue juga bisa tutup mulut. Tapi kalo soal yang….”
__ADS_1
“Yang apa?” sahut Shani menanyai Jia.
Jia hanya mencebik bibir mengedikkan bahu.
Dan tidak berselang lama, Jia pun sampai mengantarkan Shani pulang. Setelah sapaan familier, Jia langsung mengegas mobilnya pergi. Dan Shani, ia mulai masuk rumah terus istirahat.
...◦○⭕○◦...
Darren dan Zaila terlihat cukup lelah setelah menyelenggarakan pesta pernikahannya. Keduanya sudah sampai di kediaman keluarga Argantara untuk merehatkan badan. Zaila duduk di pinggir ranjang sembari membalurkan losion pelembab ke tangan dan kakinya.
Darren baru saja keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu sudah memakai baju tidur dengan legan dan celana yang model panjang. Dan Zaila, perempuan itu tampak memakai piyama seksi yang sudah ia siapkan untuk menyenangkan mata suaminya.
Malam ini Zaila cukup menggoda. Pria berlibido mana pun pasti akan langsung menikamnya jika mendapati perempuan itu di kamar yang sunyi seperti saat malam ini. Tapi kelihatannya Darren tidak tertarik, atau mungkin ia menahan dan mencegah meniduri istri barunya itu.
Darren meletakkan handuk mandinya ke tempat semula. Lalu ia membaringkan tubuh ke ranjang dan mulai memejam mata. Kalimat romantis atau bahkan ucapan selamat tidur untuk Zaila pun Darren tidak memberikannya.
Zaila menghela napas pelan mencoba bersabar dengan sikap suaminya. Pelan-pelan, ia beringsut mendekati Darren. “Mas,” panggil Zaila memegang tangan Darren membuat laki-laki itu tersentak membuka mata.
Darren pun beringsut untuk duduk bersandar pada kepala ranjang. “Kenapa?” tanyanya menatap tajam mata Zaila. Hal itu membuat Zaila menelan ludah, gugup, sedikit takut.
“Besok kita akan pergi bulan madu. Kalau kamu-”
“Aku capek.” Darren menyela. “Urusan bulan madu kita tunda dulu. Besok aku harus kerja. Kondisi perusahaan belum sepenuhnya stabil karena pimpinannya baru ganti. Kamu bisa ngertiin aku, kan?”
Zaila mengangguk, dan Darren kembali beringsut tidur.
Malam ini bisa dikatakan sebagai malam pertama untuk Darren dan Zaila, namun malam ini nyatanya begitu dingin, begitu tidak indah. Zaila seakan mendapatkan penolakan dari Darren. Tapi Zaila juga paham, menjalani pernikahan karena perjodohan itu tidaklah mudah. Pernikahan ini juga berat bagi Zaila. Dan Darren, laki-laki itu juga pastinya merasa sulit untuk menerima gadis asing yang tiba-tiba saja sudah menjadi istrinya sekarang.
...◦○⭕○◦...
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.