
Darren baru saja tiba di rumahnya. Saat ia berjalan ke arah ruang TV, di sana Wirawan tampak menyilang tangan duduk di sofa menatapnya dengan sorot mata tajam. Darren yakin jika papanya akan mengomelinya habis-habisan.
"Dari mana saja kamu?" tanya Wirawan pada Darren.
"Apartemen." Jawab Darren tidak acuh, kemudian bergegas menuju ruang kamarnya.
"Papa mau bicara sama kamu," sahut Wirawan membuat langkah Darren terhenti.
Darren pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamar dan kembali menghampiri papanya untuk ikut duduk di sofa sana.
"Ada apa?" tanya Darren terkesan tidak sopan dan tidak acuh.
"Kapan kamu berpikir dan bertindak secara dewasa? Kamu sudah punya istri sekarang. Bisa-bisanya kamu kelayapan nggak jelas dan malah nginep di apartemen?" Wirawan mulai mengomel.
"Darren punya istri karena Papa sama Mama yang mau. Bukan atas dasar keinginan Darren sendiri."
"Darren!" bentak Wirawan pada putranya.
"Darren capek mau istirahat." Darren pun enggan merespon papanya lagi, ia malah pergi meninggalkan Wirawan yang masih emosi di sofa itu sendirian.
...◦○⭕○◦...
"Mas, kamu udah pulang," celetuk Zaila saat mendapati Darren yang baru saja membuka pintu ruang kamarnya.
Darren tidak menggubris sama sekali ujaran istrinya itu yang sedang menyandar pada kepala ranjang sembari mengelus-elus perutnya. Darren mengambil handuk dan pakaian ganti, lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badan. Melihat hal itu perasaan Zaila mulai merasa sakit.
Dan seusai keluar dari kamar mandi, Darren membaringkan tubuh ke kasur. Ia pura-pura menyibuk dengan ponselnya. Padahal di situ Zaila masih di posisi yang sama seperti sebelumnya, perempuan itu sangat menunggu suaminya menyuara.
"Semalam kamu ke mana aja?" tanya Zaila mencoba mengalah untuk mengajak ngobrol Darren terlebih dahulu. Ketika mendapati respon Darren yang hanya diam saja, Zaila pun terus berceletuk. "Tadi perutku sakit. Papa sampai panggil dokter ke sini." Dan kali ini Darren mulai menoleh pada Zaila.
"Kenapa?" tanya Darren sembari menatap perut Zaila sekilas.
"Aku kram perut. Tapi kata dokter itu normal kalau pas hamil muda."
"Terus gimana? Apa masih sakit?"
__ADS_1
Zaila tersenyum. "Enggak, kok. Udah nggak sakit." Zaila yang awalnya berpikiran negatif mulai positif lagi. Ia kira Darren tidak memperdulikan keadaannya yang tengah hamil, tapi ternyata suaminya itu masih terkesan perhatian.
Darren menghela napas sangat pelan. Laki-laki itu merasa lega jika tidak terjadi apa-apa pada janin di kandungan istrinya. Darren pun kembali memalingkan muka dan menyibuk lagi dengan HP-nya.
"Mas," panggil Zaila pada Darren.
"Hm?" Darren merespon, tapi tidak menatap perempuan itu.
"Kamu mau nggak anterin aku jenguk kakak aku?"
"Kakak kamu?" Seketika Darren terheran mengernyitkan dahi, ia lalu menoleh pada Zaila.
"Iya, kakak aku."
"Emang kamu punya kakak?" tanya Darren pada istrinya.
Zaila menunduk sebentar, lalu menoleh pada Darren lagi. "Kamu pasti belum tau soal ini. Ayah sama Mama emang sejak awal nggak kasih tau kamu ataupun orang tua kamu."
Darren terus menyimak Zaila dengan saksama.
"Coret dari KK?" Darren semakin bingung.
Zaila ragu-ragu ingin bercerita kepada Darren. Namun, ia mulai memberanikan diri. "Kakakku sulit diatur. Ayah beberapa kali mergoki dia keluar masuk bar. Kakak suka mabuk-mabukan, suka keluar malam, dan lama-kelamaan Ayah akhirnya nggak bisa toleransi itu."
"Awalnya Ayah cuma stop uang jajannya. Ayah nggak kasih uang bulanan dan sita semua fasilitas yang Kakak punya. Tapi hal itu justru bikin Kakak semakin liar. Kakak mulai nyuri uang Mama, uang Ayah, kadang juga malakin aku."
"Bahkan usaha mebel Ayah hampir bangkrut karena Kakak gadaiin sertifikat tokonya. Sebagian uang modal juga Kakak ambil."
"Dan pada akhirnya kakakku diusir dari rumah. Ayah sama Mama pun lepas kendali. Mereka nggak tau dan nggak urusin Kakak lagi."
"Terus kakakmu sekarang di mana?" tanya Darren pada Zaila.
"Sejak diusir dari rumah kita nggak pernah tau kabar Kakak. Tapi beberapa bulan yang lalu kita sempet syok." Zaila mengambil jeda sebentar. "Kakak ditangkep polisi atas tuduhan bisnis prostitusi dan miras."
Mata Darren sedikit membulat. Ia terkejut sekaligus merasa tersindir. Karena pada kenyataannya ia juga orang yang pernah terjerumus ke dunia seperti itu. Tapi semua itu berhasil papanya tutupi dengan baik. Mungkin jika keluarga Zaila tau, pernikahannya dengan perempuan itu tidak akan pernah terjadi.
__ADS_1
"Kakakku dipenjara. Sejak tau kabarnya seperti itu, aku jadi sering jengukin dia. Walaupun Kakak selalu usir aku dan marah-marah kalau aku samperin dia di sana."
"Ayah sama Mama tambah malu dengan kabar Kakak yang kayak gitu. Mereka benar-benar nggak mau lagi ketemu sama Kakak. Tapi aku kasihan. Jadi, cuma aku yang setidaknya masih dekat sama Kakak."
Zaila mulai meraih tangan Darren menggenggamnya lembut. Laki-laki itu sedari tadi hanya diam mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut istrinya. "Kamu mau kan temenin aku ketemu sama kakak aku di penjara?" pinta Zaila pada Darren.
"Hem, aku temenin." Jawab Darren telah terdiam beberapa detik.
...◦○⭕○◦...
Siang ini Darren mengantar Zaila untuk menjenguk kakak perempuan itu di sel tahanan. Darren penasaran bagaimana rupa kakaknya istrinya itu. Dan setelah melewati beberapa prosedur, pelan-pelan keduanya berjalan menuju ruang kunjungan.
Darren dan Zaila menunggu sebentar, dan tidak lama kemudian kakak dari perempuan itu tiba.
Betapa terkejutnya Darren setelah tau jika kakak istrinya itu adalah orang yang ia kenal. Zuilu, perempuan itu adalah kakak kandung dari Zaila. Sungguh ironis.
Mata Darren dan Zuilu saling bertatapan. Keduanya sama-sama terkejut dan bingung. Dan Zaila, ia merasa keanehan mulai tumbuh dari sorot mata suaminya dan kakaknya.
...
...◦○⭕○◦...
Darren mengendarai mobilnya dengan pikiran berat setelah menemui Zuilu di penjara bersama istrinya. Dunia ini terlalu naif untuk ditinggali. Kenyataan dan takdir bersahut-sahutan terasa semakin tidak masuk akal.
Rumit, semuanya rumit. Darren yang mengira jika Zuilu adalah perempuan yang baik, faktanya tidak begitu. Dan Darren yang mengira jika papanya adalah orang yang hanya merusak kehidupannya saja, ternyata juga salah.
Masalah demi masalah semakin menjadi-jadi. Darren merasa jika semua ini seperti kutukan dari Tuhan untuk dirinya. Darren benar-benar bingung.
Dan di sebelahnya ada Zaila yang hanya bisa terdiam. Perempuan itu merasa bersalah sekaligus sedikit marah. Rasa sayangnya yang besar kepada kakaknya membuat Zaila hampir menyalahkan keluarga Argantara, namun tidak sepenuhnya keluarga suaminya itu keliru.
Sepasang pasutri itu terus membisu. Mereka bergelut dengan pikiran dan perasaannya masing-masing. Dan Darren pun terus mengemudikan sedan hitamnya untuk pulang ke rumah.
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.
__ADS_1