The Secretary

The Secretary
BAB 41


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama Shani bekerja bersama M Crop. M Crop adalah sebuah perusahaan retail barang-barang impor yang dikelola oleh Malvin. Malvin telah memulai bisnis itu dari nol hingga saat ini yang omzetnya sudah mulai lumayan besar.


“Selamat bergabung ya, Shani. Semoga kamu bisa betah bekerja di sini,” harap Malvin diakhiri dengan senyuman.


Shani dan Malvin tengah berbincang di ruang direktur. Lebih tepatnya, itu adalah ruang pribadi Malvin kala bekerja. M Crop tidak sebesar Argantara Group, jadi Malvin hanya mengelolanya dengan santai. Seperti di rumah sendiri, ia pergi sesuka hati, masuk ke sembarang ruangan sesuka hati. Dan pegawai-pegawainya pun bisa dibilang tidak terlalu formal.


“Iya, aku harap juga begitu.” Shani menipiskan bibir sebentar. “Makasih ya Vin karena kamu udah nolongin aku. Sebenernya aku juga bingung mau kerja di mana lagi setelah keluar dari Argantara Group. Dengan kondisi aku yang kayak gini, terus terang aja kalau ketemu sama orang-orang baru pasti bakalan bikin aku sulit buat beradaptasi.”


Shani pun tersenyum pada Malvin. “Aku bakalan kerja keras buat M Crop. Kalaupun setiap hari harus lembur, aku juga mau, kok. Aku….”


“Kamu nggak perlu capek-capek buat kerja di sini,” celetuk Malvin tiba-tiba, lalu beringsut menyedekapkan tangan bersandar pada punggung kursi hitam beroda yang ia duduki. “Sebenernya aku lagi butuh manajer, sih. Aku butuh sekretaris buat temenin aku wira-wiri.”


Malvin membuang napas pendek dari mulutnya. “Tapi karena kamu lagi hamil dan nggak boleh kecapekan, kamu stay aja di ruangan ini. Tugas kamu cek pesanan masuk dan transfer data pesanannya ke gudang. Nanti aku ajarin cara pake webnya.”


Shani pun merespon ucapan Malvin dengan senyuman.


...◦○⭕○◦...


Sekitar pukul 4 sore, Shani baru sampai di rumah. Malvin mengantarnya pulang dengan mobil dan langsung bergegas pergi setelah menurunkan Shani di jalanan depan rumahnya. Shani pun berjalan pelan menghampiri pintu dan hendak membuka kuncinya.


Di sisi lain, sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir di pinggir jalan tidak jauh dari kediaman Shani sedari tadi mengintai perempuan itu. Di dalamnya ada Wirawan dan 2 anak buahnya. Sejak Shani turun dari mobil Malvin, Wirawan menjadi tau jika perempuan itu rupanya juga dekat dengan keponakannya.

__ADS_1


“Lakukan tugas kalian sekarang,” seru Wirawan kepada kedua anak buahnya.


2 orang bertubuh tinggi dan kekar itu kemudian bergerak keluar mobil dan menghampiri Shani yang terlihat akan membuka pintu rumahnya.


Shani terkejut ketika tiba-tiba saja kedua lengannya ditarik ke belakang oleh seseorang. Begitu ia menoleh ke kanan dan ke kiri, rupanya ada 2 pria asing yang waktu itu menginterogasinya dengan kasar. Shani langsung tau jika mereka berdua adalah orang-orang suruhan Wirawan.


“Kalian mau apalagi?” tanya Shani ketus seraya berusaha melepaskan kedua lengannya dari cengkeraman 2 orang itu.


“Ikut kami sekarang,” titah salah satunya kepada Shani.


“Enggak, saya nggak mau. Lepasin saya!” Shani memberontak. “Tolong!!! To-”


Salah satu anak buah Wirawan seketika membingkam mulut Shani dengan selembar sapu tangan yang sudah diberi obat bius agar perempuan itu tidak berteriak meminta bantuan. Shani pun pingsan, lalu digendong menuju ke dalam mobil. Di sana Shani didudukkan di samping kiri Wirawan, kemudian mereka membawanya pergi.


...◦○⭕○◦...


Shani mulai ketakutan. Tiba-tiba napasnya terengah-engah, dan ia mulai menangis. Ruangan itu sunyi dan kosong, hanya ada penerangan sebuah bohlam lampu kuning yang remang-remang. Tidak ada jendela, dan pintunya tertutup rapat. Juga tidak ada ventilasi udara, lantainya sangat berdebu, dan plafonnya sedikit berlumut dengan beberapa sarang laba-laba.


Kaki dan tangan Shani diikat dengan tali tambang, ia tidak bisa menggerakkannya. “Tolonggg!!!!!” teriak Shani. Beruntung mulutnya masih bisa dibuat menyuara, setidaknya itu juga tidak ikut dibingkam. “Tolong…. Siapa pun tolong saya,” ujar Shani merasa putus asa kemudian terisak.


Sekitar 5 menit kemudian, pintu ruangan itu tiba-tiba dibuka dari luar. 2 pria asing tadi yang menculik Shani mulai memasuki ruangan itu, terus di belakangnya diikuti oleh, Wirawan. Shani pun seketika terperanjat.

__ADS_1


Wirawan dan 2 anak buahnya mulai mendekati Shani. Mata Wirawan menusuk menatap tajam perempuan itu yang terlihat begitu menyedihkan dengan kaki dan tangan terikat. “Kamu pasti sudah sangat paham kenapa saya membawa kamu ke sini,” celetuk Wirawan pada Shani.


“Saya tau kalau saya telah berada di tengah-tengah masalah keluarga putra Anda. Tapi apa salah saya pada Anda sampai Anda melakukan ini semua?” Mata Shani berkaca-kaca.


“Salah kamu adalah karena terlibat masalah dengan putra saya.” Jawab Wirawan cepat-cepat. “Karena adanya kamu, pernikahan anak saya jadi terancam.”


“Kenapa Anda menyalahkan saya atas hal ini? Justru putra Anda-lah yang harus disalahkan. Kenapa Anda menekan saya seperti ini!???” Shani memekik di kalimat terakhir.


“Saya tau Darren terlalu bodoh karena dengan mudahnya bisa terjebak perasaan dengan wanita rendahan seperti kamu.” Wirawan mulai mencaci Shani. “Tapi saya sangat yakin jika Darren tidak akan melakukannya kalau kamu tidak menggodaanya,” lanjutnya membuat Shani semakin sakit hati.


Air mata Shani mulai mengaliri pipinya. Hinaan dan makian Wirawan sudah cukup membuatnya hancur. Namun, apa yang akan terjadi setelah ini dan selanjutnya? Shani takut sekaligus khawatir jika nyawa kecil di perutnya terancam. Hanya janin itu yang saat ini Shani sangat pikirkan, bukan dirinya, ataupun perasaannya.


“Perempuan macam apa kamu? Apa kamu sudah men-setting semuanya? Kamu membuat seolah-olah Darren meniduri kamu, dan sekarang kamu mengaku padanya kalau kamu hamil. Kamu pikir saya bodoh untuk langsung mempercayai jika bayi yang kamu kandung itu adalah anak dari putra saya?” Wirawan tidak berhenti menuduh Shani.


“Atau jangan-jangan kamu hanya mengada-ngada?” celetuk Wirawan menyeringai, lalu cepat-cepat mendatarkan ekspresinya. “Dasar wanita sialan! Apa gaji kamu di tempat kerja kurang sampai-sampai kamu harus memoroti anak saya dengan drama murahan seperti ini!?”


Shani tidak henti-henti mengeluarkan air mata karena semua ucapan Wirawan padanya. Shani tidak bisa melawan. Dan jika ia menjawab, itu akan percuma saja. Sekeras apa pun Shani meyakinkan Wirawan jika ia memang tengah hamil dan bayi di perutnya itu adalah anak kandung Darren, dengan watak Wirawan yang seperti itu, laki-laki itu tentu tidak akan mudah percaya. Atau bahkan, Wirawan tidak akan mempercayainya sama sekali.


“Dasar jalang! Apa kamu haus akan ****? Menggunakan anak saya sebagai pemuas ranjang dan birahi kamu. Apa seperti itu?” Dan kali ini celotehan Wirawan pada Shani sudah sangat keterlaluan.


...◦○⭕○◦...

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.



__ADS_2