The Secretary

The Secretary
BAB 27


__ADS_3

Darren menepikan mobilnya setelah cukup lama mengebut tanpa arah dan tujuan. Shani masih saja diam enggan menyuara sedikit pun sedari tadi. Mereka berdua sama-sama bergelut dengan emosi masing-masing.


“Apa beratnya kalau kamu jujur sama aku?” tanya Darren berceletuk, lalu menoleh Shani yang duduk di samping kirinya. “Jujur aja, Shani. Kamu hamil, kan?”


Shani diam masih menatap kaca depan mobil itu, melamun, kemudian air matanya berderaian.


“Shani,” panggil Darren seraya meraih tangan kanan perempuan itu menggenggamnya dengan tatapan tulus dan memohon jawaban.


Shani menunduk, menyeka air matanya, lalu menoleh pada Darren. “Kamu pasti udah ditungguin Zaila di rumah. Dia lagi hamil, kan? Kamu harus selalu ada buat dia. Aku permisi dulu.”


Darren menahan Shani yang hendak membuka pintu sedan hitamnya. Shani tertegun berusaha mengontrol air matanya untuk tidak jatuh lagi. Betapa beratnya untuk Shani jika harus mengakui semuanya pada Darren.


Darren meraih kepala Shani menangkup kedua pipinya. Pandangan keduanya saling beradu. Tatapan binar bercampur nanar keduanya saling luapkan.


“Zaila butuh kamu. Kamu harus pulang sekarang,” ujar Shani pada Darren, terdengar lembut namun menyakitkan.


“Aku nggak peduli. Kenapa kamu maksa aku buat mikirin dia sedangkan aku maunya cuma mikirin kamu?” Darren menggeleng pelan. “Jangan ganti topik pembicaraan kita, Shani. Jangan bohong.”


“Aku nggak bohong.” Jawab Shani seraya memejam membuat setetes cairan bening keluar dari pelupuk matanya. “Aku nggak bohong, Darren.”


Amarah Darren mulai tersulut. Mendapati Shani yang keras kepala dan ingin mempertahankan egonya membuat Darren semakin muak. Secepat kilat Darren langsung memagut habis bibir perempuan itu.


Memberontak seperti apa pun Shani, Darren tetap gencar menciuminya. Pagutan itu justru semaki dalam, semakin kasar, dan semakin menyiksa. Setelah cukup lama Darren menyesap dan menghabiskan udara di rongga-rongga mulut perempuan itu, ia pun kemudian melepasnya.


Napas Shani memburu, terengah-engah, tidak beraturan. Darren masih menangkup wajah Shani menatapnya dengan sorot mata tajam. Ingin rasanya Darren memberikan pelajaran lebih untuk Shani, namun sepertinya saat ini bukan waktu yang tepat.


“Sekali lagi kamu bohong sama aku, aku nggak akan segan-segan lakuin sesuatu yang selalunya kamu benci.” Darren mengancam. “Katakan yang sejujurnya, Shani. Kamu hamil, kan? Anak siapa itu? Apa itu anak aku?”

__ADS_1


Shani masih memcoba mengatur napasnya. Wajahnya berubah sayu dan tampak melemas. Darren tidak sempat mendapatkan jawaban karena perempuan itu mendadak pingsan.


“Shani. Shani, bangun. Shani,” panggil Darren mulai panik menepuk-nepuk pipi Shani.


Darren menyandarkan tubuh Shani kembali ke kursinya. Darren frustrasi. Dan sesegera mungkin, laki-laki itu membawa Shani pulang ke rumahnya.


...◦○⭕○◦...


Malvin terlihat mondar-mandir di teras depan rumah Shani. Ini sudah cukup malam, tapi perempuan itu tidak ada di rumah. HP-nya sangat sulit untuk dihubungi, jadi ke mana perginya Shani?


Tidak lama kemudian sebuah sedan hitam berhenti tepat di jalanan depan sana. Malvin merasa tidak asing dengan mobil itu. Dan begitu seorang laki-laki jangkung keluar dari pintu kemudi, Malvin seketika terperanjat.


Darren segera membopong tubuh Shani membawanya ke dalam rumah. Perempuan itu masih belum sadarkan diri. Hal itu membuat Darren sangat khawatir.


“Shani kenapa? Lo apain dia, Ren?” tanya Malvin mulai heboh.


Malvin segera mencari kunci pintu rumah Shani dari dalam tas itu. Dan setelah Malvin menemukannya, ia mulai membuka pintunya. Darren langsung menyerobot masuk membawa Shani ke ruang kamar dan membaringkan tubuhnya ke kasur.


“Apa yang udah terjadi? Lo apain Shani?” Malvin kembali menginterogasi Darren.


Darren hanya diam enggan menjawab. Laki-laki itu malah mengelus-elus kepala Shani berharap dalam hati agar perempuan itu baik-baik saja. Malvin yang mulai jengkel karena Darren mengabaikan pertanyaannya, ia mulai menarik kerah baju sepupunya itu.


“Jawab gue! Lo apain Shani?” pekik Malvin pada Darren.


Darren mendorong Malvin menjauhinya. 2 laki-laki itu saling melempar tatapan tidak suka. Suasana ruang kamar itu pun mulai memanas.


“Gue nggak apa-apain dia. Gue cuma butuh Shani jujur!!!” Darren membentak di kalimat terakhir.

__ADS_1


Malvin terkekeh miris. “Kejujuran apalagi yang pengen lo denger dari Shani? Belum puas lo nyakitin dia?”


Darren membuang muka seolah benar-benar tersindir dengan ucapan Malvin.


“Kalo gitu biar gue aja yang jujur sama lo,” celetuk Malvin membuat Darren kembali menolehnya. “Lo lihat Shani sekarang,” suruhnya pada Darren sembari menunjuk Shani yang tengah berbaring di ranjang.


“Dia hamil, Ren.” Dan bagai tersampar petir, batin Darren langsung menggelegar hangus seakan terbakar habis setelah mendengar pengakuan dari Malvin. “Hamil anak lo.” Sekali lagi, hati Darren tercabik-cabik.


Entah sudah berapa lama Darren tidak lagi meneteskan air mata. Namun hari ini, tepat di detik ini rasanya begitu sangat menyedihkan. Setetes air mata secara gamblang keluar dari sudut mata Darren, meluncur begitu saja saat laki-laki itu menatap Shani yang terbujur pingsan di sana.


“Lo bener-bener parah, Ren. Sekarang apa yang bakalan lo lakuin? Lo harus tanggung jawab sama Shani. Bayi yang ada di perut Shani, dia ada karena ulah lo,” ujar Malvin menuntut Darren.


Darren tertegun masih menatap Shani dengan mata berkaca-kaca.


“Apa pun resikonya, lo harus nikahin Shani. Shani nutupin semua ini bukan karena dia egois. Justru satu-satunya di sini yang paling tersiksa itu adalah Shani. Dia perempuan yang baik, Ren. Shani cuma pengen jaga perasaan bini lo, makanya dia nutupin kehamilannya.”


“Dan seharusnya lo sadar. Dengan sikap Shani yang kayak gini, harusnya lo lebih tau diri. Gue nggak habis pikir sama lo. Kalo emang lo beneran cinta sama Shani, mestinya lo perjuangin dia dari awal. Tapi gue lihat lo nggak gitu. Seolah semuanya bukan beban buat lo, dan lo malah nerima perjodohan yang orang tua lo-”


“Lo tau kan masalah gue?” Tiba-tiba Darren menyela ucapan Malvin. Darren mulai menoleh, menatap Malvin dengan rasa jengkel. “Lo tau kan gue nggak bisa nolak permintaan Papa sama Mama?”


“Tapi lo laki-laki. Kalo lo berusaha lebih keras lagi, lo bakalan bisa bilang enggak sama orang tua lo,” tukas Malvin.


“Nggak segampang itu, Vin. Hidup yang seharusnya diatur sama Tuhan dan gue, nyatanya malah diatur sama orang tua gue.” Darren menyangkal. “Lo bahkan tau, kan? Di setiap hari ulang tahun gue dulu, gue nggak dibolehin makan permen sama Mama. Gue juga pengen bebas, Vin. Gue juga pengen kayak lo.”


“Gue tau, Ren. Tapi kebebasan itu juga punya aturannya. Seolah lo mau bebas lakuin apa pun di dunia ini, itu jelas nggak bisa. Semua itu ada hukumnya. Dan kenyataan bahwa lo udah hamilin dan perkosa Shani, itu adalah kesalahan besar.”


...◦○⭕○◦...

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.


__ADS_2