
Darren dan Malvin masih berdiri saling menatap di ruang kamar Shani. Dan selang beberapa detik setelah ketertegunannya, Darren memalingkan muka dari Malvin. Ia berjalan mendekati Shani yang berbaring di sisi kanan kasur.
“Gue bakalan urus semua ini. Jadi sekarang lo bisa pergi. Gue yang akan jagain Shani,” ujar Darren pada Malvin.
Malvin enggan menjawab, dan kemudian ia pergi dari ruangan itu meninggalkan Darren yang tengah memegangi tangan Shani.
Ruangan pun berubah sunyi. Darren menatap wajah Shani dengan perasaan gundah. Laki-laki itu bingung harus berbuat apa.
Darren tidak bisa memilih antara Shani dan Zaila, karena keduanya sama-sama membutuhkannya saat ini. Tapi jika boleh jujur, Darren sebenarnya hanya menginginkan Shani. Namun ia juga tidak bisa membuang Zaila begitu saja. Lalu, apa Darren harus memiliki 2 istri karena masalah ini? Dan apa 2 perempuan itu rela untuk dimadu?
Dan kemudian, kesadaran Shani kembali. Darren merasa lega karena Shani terlihat membuka matanya pelan-pelan. “Darren?” panggil Shani terdengar lirih, lalu Darren memeluknya.
“Maafin aku, Shani. Aku minta maaf. Aku janji sama kamu akan tanggung jawab akan bayi kita. Aku akan jagain kamu dan selalu ada buat kamu,” seru Darren membuat Shani tampak bingung.
“Darren, aku-”
“Aku udah tau semuanya. Aku tau kalau kamu hamil. Aku tau aku udah ngecewain kamu.” Darren menyela sembari terus memeluk erat perempuan itu.
Air mata Shani menetes. Ia terdiam di pelukan Darren. Hatinya yang dingin karena merindukan kehangatan laki-laki itu, rasanya sekarang terobati sudah.
...◦○⭕○◦...
Sudah berkali-kali Zaila meneleponi nomor suaminya. Namun, tidak 1 pun panggilannya dijawab. Zaila cemas, dan ia tidak bisa tidur.
Sudah pukul 11 malam lebih, Darren yang ditunggu istrinya di rumah tidak juga kunjung pulang. Fiona yang baru saja keluar kamar hendak menuju dapur untuk minum, tiba-tiba saja mendapati mantunya tengah duduk-duduk di sofa ruang keluarga. Wajah Zaila terlihat gelisah sembari tangannya mengotak-atik ponsel.
“Zai, lagi ngapain?” tanya Fiona menghampiri istri anaknya itu.
“Mama?”
“Kok nggak tidur? Darren di kamar, kan?”
“Mas Darren belum pulang, Ma. Aku coba telepon nggak diangkat-angkat. Dan sekarang HP-nya nggak aktif,” ungkap Zaila pada Fiona.
__ADS_1
Fiona mengerling, lalu cepat-cepat tersenyum pada Zaila. “Ini udah malam, kamu harus istirahat. Kamu lagi hamil, loh. Biar Mama sama Papa yang coba hubungi Darren.” Fiona mengusap punggung mantunya. “Sana pergi ke kamarmu,” suruhnya dengan lembut.
“Iya, Ma.” Jawab Zaila menurut diakhiri dengan senyuman.
Zaila pun berjalan meninggalkan sofa dan ibu mertuanya. Fiona menghela napas gusar setelah kepergian Zaila. Ia mengurungkan niat untuk pergi minum dan kembali ke kamarnya.
Fiona mulai membangunkan Wirawan yang tengah tertidur pulas. “Pa, bangun. Papaaa…,” panggilnya menggoyang-goyangkan lengan suaminya.
“Apa sih, Ma?” tanya Wirawan tidak acuh masih memejam mata.
“Darren belum pulang. Zaila sampe nggak bisa tidur, tuh. Ke mana sih tu anak?”
“Hah?” Wirawan yang tidak 100% mendengar ocehan istrinya hanya memasang wajah bingung.
“Papaaaaa…,” gerutu Fiona kesal.
Wirawan pun mulai bangun dari tidurnya. Ia mengejap-ngerjap sesekali menggosok mata. “Darren kenapa lagi?” tanyanya.
Wirawan mendecak. “Udah berhenti ngomel. Biar aku cari dia.”
Dan seperti biasa Wirawan pun bergegas memerintah anak buahnya untuk mendeteksi di mana keberadaan Darren sekarang.
...◦○⭕○◦...
Dan di sisi lain sebelum itu terjadi, Darren masih di rumah Shani, tepat di ruang kamar perempuan itu. Darren mengusap lembut perut Shani dan sesekali menciuminya. Shani hanya diam bersandar pada tembok yang ia beri bantal di punggungnya sembari memandangi Darren.
Shani tidak bermaksud kurang ajar atau bahkan mencoba mengambil kesempatan dalam kesempitan. Walaupun laki-laki itu sudah memiliki istri, tapi Darren juga punya hak atas bayi di perutnya. Perlakuan Darren itu Shani anggap sebagai bentuk dari kasih sayang seorang ayah kepada anaknya, yang kebetulan anak itu masih ia kandung di dalam perutnya.
Darren yang juga duduk di kasur itu mulai tersenyum menatap mata Shani. Ia mengusap lembut pipi perempuan itu. “Kamu jangan capek-capek, ya. Aku janji akan ikut menjaga bayi kita,” ujarnya kembali mengusap perut Shani.
“Aku nggak menuntut tanggung jawab kamu. Ini udah malam, kamu harus pulang. Zaila pasti-”
“Zaila pasti nungguin aku,” sela Darren memotong ucapan Shani. “Aku tau. Tapi malam ini, aku mau nemenin kamu.” Darren beralih menatap perut Shani yang masih dipegangnya. “Aku mau jagain kamu sama bayi kita buat malam ini.”
__ADS_1
“Darren,” panggil Shani sekali lagi dengan suara lemahnya terkesan memohon.
“Apalagi? Aku nggak mau kamu terus-terusan ngelawan aku. Jadi please, biarin aku tidur di sini untuk malam ini.”
“Tapi papamu bakalan nyariin kamu. Kamu tau kan dia punya banyak akses? Kalo sampe dia tau kamu di sini, bukan cuma kamu yang habis, tapi aku juga.”
Darren terdiam sebentar mencoba memikirkan sesuatu. “Kalau gitu aku bakalan kecoh Papa.”
“Darren, ayolah.”
“Shuttt….” Darren menangkup wajah Shani menyuruhnya diam. “Sekali ini aja, aku mohon sama kamu.”
...◦○⭕○◦...
“Mobil Pak Darren ada di parkiran apartemen. Ruang apartemen juga terkunci rapat, sepertinya Pak Darren sudah tidur di dalam.”
Wirawan tampak marah setelah mendengar pengakuan anak buahnya itu. Apa yang dilakukan anaknya di apartemen sedangkan di rumah ada istrinya yang tengah hamil? Wirawan benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Darren.
“Apa kamu sudah coba menggedor pintunya?” tanya Wirawan pada sang anak buahnya.
“Sudah, Pak. Bahkan berkali-kali, tapi tetap tidak ada jawaban.”
Wirawan mendecak, lalu mengusir anak buahnya agar pergi. Ini sudah tengah malam hampir menjelang pagi, dan akan percuma jika ia memaksa Darren untuk pulang. Mungkin esok hari saat Darren kembali ke rumah, Wirawan akan mengomeli putranya itu habis-habisan.
Syukurnya rencana Darren berjalan lancar. Baru-baru ini Darren juga memiliki kaki tangan tanpa sepengetahuan orang tuanya. Dengan memanfaatkan itu, dengan gampangnya Darren bisa mengelabuhi papanya.
Darren menyuruh anak buahnya untuk membawa sedan hitamnya pergi dari halaman rumah Shani. Ia memerintah agar mobil mewah itu diparkirkan di parkiran apartemennya. Dengan begitu Wirawan akan mengira kalau dirinya tengah menginap di apartemen. Lagi pula, pin kunci apartemen sudah Darren ganti sejak lama saat ia mulai tau jika papanya mengetahui sandi itu dan sering menyadap ruangnya. Sungguh ide yang tidak buruk.
Dan malam ini dengan perasaan bahagia Darren bisa tidur bersama Shani. Walaupun sebenarnya perempuan itu menolak, tapi akhirnya ia luluh juga. Shani sudah tertidur sangat pulas, dan Darren tidak bisa berhenti memandangi wajahnya sembari mengusap-usap perut perempuan itu.
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.
__ADS_1