The Secretary

The Secretary
BAB 35


__ADS_3

Shani dan Darren masih duduk memaku di kursi mobil. Obrolan mereka sudah sampai pertengahan. Keduanya sama-sama berpandang bergelut dengan kenyataan pahit dan perasaannya masing-masing.


Darren menatap kecewa mata Shani. Ia tidak tau harus marah atau mengasihani dirinya dan perempuan itu. Tapi rasa keras kepala untuk ingin memiliki Shani seutuhnya sudah membelenggu di pikiran Darren, hinggap dan bersarang di sana.


"Aku nggak akan biarin kamu pergi. Sampai kapan pun, aku nggak akan lepasin kamu," tegas Darren menatap tajam mata Shani.


"Terserah kamu mau bilang apa. Aku bakalan tetep pergi." Shani pun bergegas membuka pintu mobil Darren, namun tidak bisa. Darren sudah mengunci semua pintu dan kaca mobilnya. "Buka," suruh Shani menatap marah mata Darren.


"Enggak." Jawab Darren masih dengan menatap mata Shani.


Shani yang mulai muak terus beringsut hendak menekan tombol off pengunci pintu. Namun Darren yang melihat itu segera menghentikan Shani. Shani memberontak dan Darren pun mendorong perempuan itu menghimpitnya ke tempat duduk.


"Lepasin! Lepasin, Darren! Aku mau pergi," ujar Shani, kemudian diam karena merasa percuma saja ia semakin bergerak dan Darren semakin mengunci geraknya.


Mata 2 orang itu pun saling beradu. Darren seakan memohon agar perempuan di depannya itu tidak lagi membohongi perasaannya sendiri. Sedangkan Shani, ia hanya ingin menjauh dari Darren dan membiarkan laki-laki itu hidup bahagia dengan Zaila.


"Kamu juga cinta kan sama aku?" tanya Darren pada Shani. "Ayo bilang, Shani. Sebenarnya kamu juga mau kan kita bersama?"


Shani terdiam sebentar. Jika saja Darren tau kalau hati Shani rasanya seperti dilema untuk sekarang ini. Shani akui jika ia juga mencintai Darren dan ingin menikah dengannya, namun hal itu tidak boleh dilakukannya. Shani tidak ingin merusak rumah tangga Darren. Shani akan dan berusaha sanggup untuk menghadapi masalahnya sendirian.


"Enggak." Shani mengambil jeda sebentar. "Aku dulu emang sempat jatuh cinta sama kamu. Tapi buat sekarang, semua itu udah hilang. Aku nggak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Aku udah nggak cinta lagi sama kamu, Darren. Dan nggak akan pernah bisa cinta lagi."


Darren menggeramkan bibirnya. Ia marah karena ucapan Shani lagi dan lagi telah melukai perasaannya. Darren pun meraih tengkuk Shani dan memagut bibir perempuan itu tanpa ampun.

__ADS_1


Shani tidak bergerak sedikit pun. Ia memilih pasrah dan membiarkan Darren melampiaskan semua kekesalannya. Hati Shani sudah mati rasa, dan ia tidak peduli lagi dengan sikap Darren yang selalu membuatnya seperti wanita murahan.


Darren terus mengulum mulut Shani. Setelah ia cukup menerima respon pasif dari perempuan itu, Darren pun menyudahinya. Darren menatap Shani yang pipinya sudah dialiri air mata.


"Aku tau kamu bohong, Shani. Aku tau kamu juga-"


"Cukup!!!" bentak Shani memotong ucapan Darren. "Cukup, berhenti. Aku nggak mau denger lagi. Aku nggak mau. Aku mau denger lagi," lanjut Shani menutupi kedua telinganya sembari menggeleng-geleng frustrasi.


Shani terlihat histeris dan kacau. Darren yang melihat itu pun mulai tertegun. Pelan-pelan Darren meraih tubuh Shani hendak memeluknya. Namun Shani menepis-nepis.


"Shani, tenang, Shani." Darren terus berusaha mendekap tubuh perempuan itu. Dan seiring tenaga Shani habis juga perutnya yang mulai terasa aneh, ia pun meleleh di pelukan Darren. "Maafin aku. Aku minta maaf," ujar Darren sembari mengelus kepala Shani dan mengecup puncak kepalanya singkat.


Setelah Shani cukup tenang dan behenti menangis, Darren pun segera membawanya pulang ke rumah. Shani istirahat dan mulai tertidur di kasurnya. Darren masih menatap mengelus kepala perempuan itu. Dan setelah Shani terlelap, Darren pun pulang. Ia beringsut meninggalkan Shani sendirian.


...◦○⭕○◦...


"Apa kamu gila?" hardik Darren pada Zaila. "Jangan berani-berani lagi kamu menghampiri Shani di rumahnya. Kalau kamu macam-macam sama dia, aku nggak segan-segan juga macam-macam sama kamu!" lanjutnya mengancam.


Zaila mengerjap begitu air mata mulai menetes dari sudut mata kanannya. Ia menunduk sekejap, lalu menatap Darren lagi. "Aku cuma mau mempertahankan rumah tangga kita. Apa itu salah?"


Darren terdiam sebentar. Suara Zaila terdengar ironis. Menyayat dan memilukan. "Ya, itu salah. Karena aku nggak mau mempertahankan pernikahan kita. Aku nggak mau terus hidup sama perempuan yang nggak aku cintai."


"Terus gimana sama anak kita? Apa kamu mau dia lahir dengan keadaan keluarganya yang hancur? Apa kamu juga nggak mikirin perasaan aku?"

__ADS_1


Darren menjadi dilema. Ia tentu tidak mau takdir buruk menimpa buah hatinya yang tengah dikandung Zaila, begitu juga buah hatinya yang satunya, yang sekarang tengah dikandung oleh Shani. Sebagai calon bapak, Darren pasti enggan mengorbankan salah satunya.


Namun, "Aku akan merawat anak kita. Setelah kamu melahirkan dia, kamu bisa bebas. Aku dan Shani akan merawat dia dengan ikhlas," ujar Darren pada Zaila.


Zaila menggeleng cepat-cepat. "Enggak. Aku nggak mau." Ia mulai memegangi perutnya. "Aku nggak mau anak aku diasuh sama perempuan hina seperti Shani. Aku nggak sudi!"


"Jaga mulut kamu!" seru Darren pada istrinya.


"Kenapa?" Zaila menatap bola mata Darren bergantian. "Apa kamu juga ngerasa kalau dia wanita hina? Atau kamu ngerasa kalau kamu udah bikin dia jadi wanita hina?"


Lagi-lagi batin Darren tersindir. Ia membeku terus memandangi Zaila yang terduduk di bibir kasur tepat di hadapannya. "Shani bukan perempuan murahan yang seperti kamu pikirkan. Akulah yang udah bikin dia dicap sebagai perempuan buruk, jadi aku harus bertanggung jawab."


"Terus gimana tanggung jawab kamu sama aku?" tanya Zaila pada Darren memutarbalikkan kata-kata. "Kamu udah bersedia nikahin aku. Dan sekarang aku hamil. Bagaimanapun, aku hamil karena kamu juga mau melakukan itu sama aku."


Sebetulnya Zaila tidak ingin membahas topik sensitif ini, namun ia harus melakukannya. Zaila menelan ludah untuk mengatasi kegugupannya. "Aku juga butuh tanggung jawab kamu, Mas. Untuk anak kita, dan untuk kehormatan keluargaku."


Darren masih terdiam dengan sesekali mengedipkan mata agar terlihat tidak tegang.


"Orang tua kita udah ngerencanain perjodohan ini. Dan mereka juga udah bekerja keras untuk melangsungkan pernikahan kita. Kalau sejak awal kamu menolak, aku juga akan menolak."


"Tapi karena kamu udah bertindak lebih jauh dan mau menikahi aku, aku nggak bisa ngelepasin kamu. Aku nggak bisa buat diem aja ngelihat rumah tangga aku hancur di depan mata kepalaku sendiri. Aku akan usaha terus supaya pernikahan kita bisa permanen, bisa langgeng dan damai."


...◦○⭕○◦...

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.


__ADS_2