The Secretary

The Secretary
BAB 22


__ADS_3

Beberapa hari lalu saat Shani masih di kampung halamannya Darren baru saja bertunangan dengan seorang gadis yang berstatus sebagai anak dari teman Wirawan. Secara pribadi Darren sama sekali belum pernah bertemu dengan gadis pilihan papanya itu. Namun, diam-diam Wirawan dan Fiona berjanji temu dan bersepakat dengan temannya untuk melangsungkan pertunangan sesegera mungkin.


Dan terjadilah, 3 hari sejak Shani mulai mengambil cuti dari Argantara Group, Darren dengan sangat terpaksa mengikuti kemauan papa dan mamanya untuk bertunangan dengan gadis yang tidak ia cintai. Darren juga harus memanfaatkan momen itu untuk melupakan Shani. Mungkin dengan menikahi gadis lain dapat membuatnya berhenti mencintainya.


...◦○⭕○◦...


Hari demi hari berjalan. Sejak pembicaraannya bersama Darren kala itu, Shani menjadi pribadi yang berbeda. Jia dan Andra merasakan perubahan sikap Shani yang lebih ke pendiam, tertutup, dan jarang mau berkumpul bersama mereka.


Komunikasi Shani dan Darren benar-benar berubah. Mereka sama-sama bersikap dingin, dan hanya bicara sekadar konteks pekerjaan. Bahasa kembali formal, sapaan terasa asing, tapi jiwa mereka sama-sama merananya.


Darren berharap penuh bisa melepaskan perasaannya dari Shani, namun kenyataan membuatnya sulit. Setiap hari Shani mengunjunginya di ruang CEO. Walau gadis itu hanya datang membawa berkas-berkas yang perlu ia rekap atau tanda tangani dan kemudian pergi, tapi hal itu justru membuat Darren semakin sukar melupakannya.


Darren semakin gila dibuat oleh rasa penasaran. Setiap kali ia melihat wajah dan mata gadis itu, setiap kali juga ia melihat keputusasaan. Darren harus tau saja betapa sedihnya Shani saat ini.


Shani hanya perlu bilang kalau ia membutuhkannya, kalau ia mencintainya, dan kalau ia ingin menghabiskan sisa hidup bersamanya. Darren hanya ingin kalimat itu dikatakan Shani langsung kepadanya. Namun bukan karena egois, tapi Shani hanya tidak bisa. Dan alasannya, entah kapan Shani akan mampu mengutarakan.


...◦○⭕○◦...


Tubuh Shani merosot ke lantai ruang kamarnya, terduduk lemas, matanya berkaca-kaca. Dan yang ke sekian detik, air mata itu mulai menetes, sedikit demi sedikit, namun terus. Pandangannya tidak henti menatap kepada tanda 2 garis biru itu.


Sebuah tespek menunjukkan bahwa Shani sekarang tengah hamil. Hatinya seakan ditusuk-tusuk oleh pedang tajam. Bagaimana ia akan melewati semua ini? Siapa yang akan bertanggung jawab? Apa hanya dirinya yang akan menanggung semua beban?


Tepat 2 minggu setelah kejadian malam itu, dan shani positif hamil. Tapi Darren sudah menyebar undangan pernikahan sehari yang lalu ke seluruh pegawai Argantara Group, termasuk Shani. Darren akan menikah 1 minggu lagi.


Shani benar-benar bingung harus melakukan apa. Tidak ada pilihan lagi, Shani tidak bisa menghancurkan pernikahan Darren. Dan Shani, ia juga tidak bisa menghilangkan janin itu.


...◦○⭕○◦...


Banyak karyawan Argantara Group yang bertanya-tanya. Besok adalah hari pernikahan CEO mereka, tapi kenapa pimpinannya itu malah sibuk mengantor dan seakan tidak mau tau soal hari bahagianya yang tinggal menghitung jam? Darren memang betul-betul tidak peduli akan itu.

__ADS_1


Dan pagi ini sekitar pukul 9 tiba-tiba Shani merasa pening. Tubuhnya terasa aneh, dan ia pun memutuskan untuk membuat teh hangat di pantri. Baru saja mengaduk segelas teh di gelas kaca itu, mendadak Shani ingin sekali muntah.


Darren yang tidak sengaja lewat di depan pintu pantri mendapati Shani keluar dari sana dengan menutupi mulut dan memegangi perut. Shani tidak tahan dengan rasa mualnya sampai tidak menyadari jika ia baru saja berpapasan dengan Darren. Darren pun mulai mengikuti langkah Shani yang menuju toilet.


Darren tiba-tiba menjadi waswas saat menguping suara Shani yang tampaknya tengah muntah-muntah. Dan sekitar 5 menit kemudian, Shani keluar dari ruang toilet itu. Ia terkejut saat pandangannya bertemu dengan tatapan Darren.


Tapi tubuh Shani yang tidak bertenaga mulai terhuyung ambruk. Dan dengan sigap, Darren menangkapnya. Shani pingsan di pelukan laki-laki itu. Wajah Darren membeku seolah apa yang dikhawatirkannya akan terjadi. Begitu ia menggeleng untuk menyadarkan diri, Darren terus mengangkat tubuh Shani membawanya pergi menuju rumah sakit.


Beberapa karyawan yang melihat adegan Darren membopong tubuh Shani dengan raut wajah cemas mulai bertanya-tanya. Namun Darren yang begitu gelisah hanya berpikir akan keadaan Shani. Darren tidak peduli dengan tatapan aneh para karyawannya, ia hanya harus peduli dengan keadaan Shani.


Darren memasukkan Shani mendudukkan gadis itu di kursi depan mobilnya. Dan dengan bergegas ia mulai mengemudi membawa Shani ke rumah sakit. Tangan kanan Darren sibuk menyetir, dan tangan kirinya menggenggam erat tangan kanan Shani.


...◦○⭕○◦...


Shani tersadar begitu dirinya dibaringkan ke ranjang rumah sakit untuk diperiksa.


“Shani,” panggil Darren menatap binar mata gadis itu seraya mengusap kepalanya. Betapa leganya Darren melihat Shani bangun dari pingsannya. Ia bersyukur.


“Dan kamu keluar sekarang,” sahut Shani pada Darren.


Darren hanya terdiam menatap mata gadis itu yang terkesan membencinya.


“Keluar!” seru Shani membentak Darren dan tanpa sadar meneteskan air mata.


“Bapak, silakan keluar dulu. Biar saya periksa pasien sebentar,” ujar dokter itu menengahi.


Dan pada akhirnya Darren pun menurut. Darren keluar dari ruangan itu. Dan Shani mulai diperiksa dokter.


...◦○⭕○◦...

__ADS_1


“Jadi benar Dok saya hamil?” tanya Shani memastikan jika diagnosis dokter akan dirinya yang tengah berbadan 2 adalah benar.


“Iya benar, Bu. Kehamilan Ibu baru menginjak trimester awal. Jadi rasa mual, pusing, dan hal-hal wajar yang Ibu rasakan saat ini adalah normal.”


Shani mendengarkan ucapan dokter, tapi batinnya tertegun. Semua sudah terbukti benar. Shani hamil, dan ia belum tau harus berbuat apa. Mempertahankan janinnya dengan meminta pertanggungjawaban Darren, atau mempertahankan janinnya dengan kesanggupan dirinya sendiri? Tapi semua konsekuensi dari 2 pilihan itu sama-sama beratnya.


“Saya tidak memberikan obat apa pun karena kondisi janin dan keadaan Ibu baik-baik saja. Saya hanya menyarankan agar Ibu selalu mengkonsumsi sesuatu yang bergizi. Dan jangan lupa untuk meminum susu hamil.”


Shani tidak peduli dengan apa yang dikatakan dokter padanya. Pikirannya hanya terus berkelanan entah ke mana. Ia masih mencoba menerima kenyatan, tapi rasanya sulit sekali.


Dan setelah pemeriksaan berakhir, Shani keluar dari ruangan itu. Di sana Darren masih setia menunggunya. Laki-laki itu duduk di sebuah kursi tunggu menatapnya yang baru saja keluar setelah pemeriksaan.


Darren menghampiri Shani yang berdiam di dekat pintu. “Apa yang dibilang dokter? Kamu nggak pa-pa?” tanya Darren masih dalam mode cemas. Tanggannya menggenggam tangan Shani.


“Aku nggak pa-pa.” Jawab Shani terus melepas tangannya dari tangan Darren. “Kamu bisa pergi sekarang,” lanjutnya malah mengusir laki-laki itu.


“Enggak. Aku mau tau keadaan kamu dulu.” Darren menolak, lalu ia bergegas masuk ke ruangan pemeriksaan untuk menemui dokter yang tadi memeriksa Shani.


Tidak ada 5 menit Darren sudah keluar dari ruangan itu. Shani sudah pergi, dan harapannya yang kuat dikecewakan. Darren pikir Shani tengah mengandung, tapi kata dokter, Shani hanya masuk angin dan kelelahan.


Shani memang tidak ingin Darren tau akan keadaanya yang sebenarnya. Ia tadi meminta tolong pada dokter yang memeriksa untuk berbohong pada Darren jikalau laki-laki itu menanyakan hasil pemeriksaannya. Shani pikir ia akan sangat jahat jika memberi tau Darren bahwa dirinya hamil, padahal besok adalah hari pernikahan Darren.


Shani hanya tidak ingin melukai hati wanita itu, wanita yang akan bersanding bersama Darren di pelaminan esok hari. Kabarnya wanita itu sangat baik dan mendekati sempurna, sangat berbeda jauh dari dirinya. Shani tidak peduli jika ia akan menderita di bawah kebahagiaan orang lain. Ya, lebih baik begitu, daripada ia yang merasa lega di atas kesedihan orang yang tidak bersalah. Shani hanya harus kuat.


...◦○⭕○◦...


Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAN untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.


__ADS_1




__ADS_2