The Secretary

The Secretary
BAB 36


__ADS_3

"Aku akan lakuin apa pun untuk menyelamatkan pernikahan kita."


Zaila kekeh untuk mempertahankan Darren dan rumah tangganya agar tidak hancur. 2 orang itu, Darren dan Zaila, mereka masih saling menatap di ruang kamarnya. Darren berdiri mematung, sedangkan Zaila masih setia duduk di pinggir ranjang menghadap ke arah suaminya berdiri.


"Terserah kamu. Aku nggak peduli kamu mau lakuin apa pun dan memperjuangkan pernikahan terpaksa kita. Tapi jika kamu berani menyentuh dan sampai menyakiti Shani, aku nggak akan tinggal diam," seru Darren setelah terdiam beberapa detik.


Perasaan Zaila semakin kecewa. Darren yang terkesan hanya memikirkan Shani membuat Zaila cemburu. Dan kebencian Zaila kepada Shani mulai semakin tumbuh, berakar, dan bertunas-tunas.


...◦○⭕○◦...


Shani duduk termenung di meja makan setelah melahap 2 buah pil dan sebutir vitamin juga meneguk setengah gelas air sesudahnya. Sekitar 10 menit ia melamun, tiba-tiba suara ketukan pintu memecah keheningan. Shani terdiam sebentar mencoba menebak dan memikir-mikirkan siapa tamunya di jam 7 malam ini.


Setelah ketukan cukup lama dan teratur, juga terdengar sopan dan kalem, Shani pun berjalan menghampiri pintu depan rumahnya.


"Hai," sapa Malvin tersenyum manis pada Shani.


"Hai." Shani menyapa balik namun enggan tersenyum, wajahnya hanya terlihat murung dan pucat.


"Nih," Malvin menyodorkan sebuah kantong keresek hitam ke arah Shani. Shani hanya terbengong enggan meraih kantong keresek itu. "Jia bilang, kamu suka ayam kremes sambel tomat. Jadi ini aku beliin buat kamu," ungkap Malvin kembali menyodorkan bawaannya.


"Makasih," ucap Shani memaksakan senyum singkat pada Malvin. "Yuk, masuk," lanjutnya mempersilakan laki-laki baik hati itu untuk memasuki rumahnya.


...◦○⭕○◦...


Shani dan Malvin duduk bersama di kursi ruang tamu rumah Shani. Shani hanya menunduk diam. Dan Malvin, ia terus menatap Shani memperhatikan gerak-gerik perempuan itu yang begitu kasihan.


"Gimana keadaan kandungan kamu? Sehat-sehat aja, kan?" Malvin mulai menyuara.


Shani pun mengusap perutnya singkat. Ia tersenyum tipis. "Ya, dia sehat." Jawabnya canggung.


Malvin tersenyum. "Bagus. Kamu juga harus jaga kesehatan biar baby di perut kamu juga selalu sehat." Malvin mengambil jeda sebentar. "Terus gimana soal Darren? Apa dia udah ada rencana buat tanggung jawab sama kamu?"


Napas Shani tertahan sebentar, lalu ia menghelanya berat. "Aku nggak menuntut tanggung jawab dia. Dia bilang, dia mau nikahin aku. Tapi aku nggak bisa."


Malvin melebarkan mata sebentar ingin menyela ucapan Shani, namun niatan itu ia urungkan karena Shani tampak hendak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


"Aku nggak mau jadi istri kedua atau bahkan merusak rumah tangga orang. Aku rasa, tekad aku udah bulat. Besok aku akan segera kirim surat pengundur diri ke kantor."


Malvin mendengus pelan. Yang memiliki masalah itu adalah Shani, bukan dirinya. Jadi apa pun tindakan yang Shani pilih, Malvin hanya bisa mendukungnya.


"Terus kamu mau ngapain setelah itu?" tanya Malvin pada Shani.


Shani menunduk diam. Sebenarnya ia juga bingung harus melakukan apa setelah berhasil resign dari Argantara Group. Shani tentu butuh uang, ia butuh banyak biaya untuk menunjang kebutuhannya.


"Aku belum tau. Tapi untuk sementara ini aku cuma perlu menjauh dari Darren. Aku masih punya tabungan, mungkin itu cukup untuk membantu biayaku selama beberapa bulan."


Hati Malvin terenyuh. Tiba-tiba, ia punya ide. "Gimana kalau kamu pindah kerja di tempatku aja?" tawar Malvin pada Shani. "Aku punya usaha retail. Yah, tapi kamu harus tau kalau itu cuma perusahaan kecil, nggak sebesar Argantara Group."


Shani berpikir sejenak. Tidak ada salahnya ia mencari sedikit pengganti pemasukannya. Setidaknya ada uang yang terus masuk setelah ia benar-benar resign dari Argantara Group.


"Kamu serius?"


Malvin mengerling. "Ya..., iya." Ia menatap Shani lagi. "Kalau kamu minat, aku akan dengan senang hati nerima kamu. Tapi kalau soal gaji, aku nggak janji bisa kasih sebanyak gaji yang kamu dapetin di perusahaannya Darren," ujar Malvin malu-malu di kalimat terakhir.


Shani tersenyum. "Nggak pa-pa, kok. Aku coba pikir-pikir dulu, ya."


Suasana pun menghening seiring mereka saling membisu. Selang beberapa menit setelah obrolan sedikit lucu dan menghibur keadaan hati Shani yang kacau, Malvin pun berpamit. "Kalau gitu aku pulang dulu, ya," celetuk Malvin pada Shani terus beringsut berdiri.


"Iya."


Shani berjalan pelan mengantar Mavin keluar dari rumahnya.


"Kamu jaga diri baik-baik ya, Sha. Aku akan selalu dukung kamu." Malvin tiba-tiba tersenyum. "Kalau kamu mau, aku juga akan dengan senang hati akan mau menjadi ayah dari anak kamu."


Shani tertegun seiring Malvin berlalu pergi meninggalkannya.


...◦○⭕○◦...


Keesokan harinya Darren begitu terkejut setelah membaca selembar kertas berisi keterangan pengunduran diri dari Shani. Setelah 3 hari ini perempuan itu absen dari kegiatan kerja, ia memutuskan untuk hengkang dari Argantara Group. Shani tidak ingin muluk-muluk, ia harus menegasi Darren.


Bibir Darren menggigit setelah selesai membaca surat pengunduran diri milik Shani. Dan lalu, Darren merobek-robek kertas itu. Darren mencoba mengontrol emosinya, kemudian ia bergegas pergi dari ruangannya.

__ADS_1


Laki-laki itu berjalan cepat menuju mobil dan langsung mengemudikannya keluar halaman Argantara Group. Darren mengebut. Ia menuju ke kediaman Shani untuk berprotes sekaligus melabrak perempuan itu.


Namun saat Darren sampai di sana, Shani sedang tidak ada di rumah. Pintunya terkunci rapat. Darren mencoba berteriak menggedor-gedor rumah Shani memanggil-manggi wanita itu, tapi tetap tidak ada jawaban.


Darren mengusap rambutnya gusar. Laki-laki itu frustrasi. Darren pun mencoba menghubungi ponsel Shani. Namun nihil, nomor Shani tidak aktif. Darren pun bertanya-tanya tentang ke mana perginya perempuan itu.


...◦○⭕○◦...


Sementara, ternyata Shani sedang bersama bibinya, di kampung.


"Kamu ke sini kok nggak kabarin Bibi dulu, sih?" protes Rumi pada Shani.


Shani tersenyum. "Shani kan mau bikin kejutan buat Bibi. Kabar Bibi gimana? Maafin Shani karena baru bisa jenguk Bibi lagi sekarang."


2 orang itu tengah mengobrol di meja makan sembari menikmati sarapan yang sudah sangat telat.


"Bibi baik-baik aja, kok. Nggak pa-pa, Bibi tau kalau kamu sangat sibuk.


Shani terus tersenyum riang agar bibinya tidak melihat kesan yang sedih.


"Hari ini kamu mau nginep atau langsung balik?" tanya Rumi pada Shani.


"Emmm," gumam Shani berpikir. "Kayaknya malam nanti Shani langsung balik deh, Bi. Shani masih ada urusan soalnya."


Rumi manggut-manggut, terus tersenyum. Tapi, tiba-tiba ia mengernyit memperhatikan wajah Shani dengan teliti. "Kamu sakit? Wajah kamu kelihatan pucat," celetuk Rumi membuat batin Shani terperanjat.


Shani belum bisa mengakui semuanya pada bibinya. Shani takut mengatakannya. Dan lagi, ia juga sangat takut akan respon Rumi nantinya.


...◦○⭕○◦...


Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.


Maaf telat updatenya.


__ADS_1


__ADS_2