
Hari sudah pagi, dan Zaila tampak menyibuk di dapur membantu Bi Darsih, pembantu rumah tangga yang Wirawan pekerjakan di rumahnya, untuk membuat sarapan. Zaila sebenarnya bingung dan cemas karena sampai detik ini Darren belum juga pulang. Ponsel Darren juga masih tidak bisa dihubungi.
“Aw,” seru Zaila tiba-tiba memegangi perutnya. “Aw, perutku,” lanjutnya mengeluh membuat Bi Darsih mulai menghampirinya.
“Kenapa, Non?” tanya Bi Darsih panik ketika mendapati ekspresi Zaila tampak kesakitan.
“Perutku sakit, Bi. Aw….” Zaila mulai menangis sembari terus memegangi perutnya.
Bi Darsih seketika tambah kelabakan mendengar ungkapan perempuan itu. “Nyonya…, Tuan…!” pekik Bi Darsih memanggil Fiona dan Wirawan. Perempuan tua itu tidak tau harus melakukan apa untuk menolong Zaila yang kesakitan.
Selang tidak lama Wirawan dan Fiona pun tiba menghampiri mantu dan pembantunya yang berteriak memanggil di ruang dapur.
“Zaila kenapa, Bi?” tanya Fiona pada Bi Darsih sembari memegangi Zaila dengan ekspresi khawatir.
“Perutku sakit, Ma.” Jawab Zaila pada Fiona.
“Bawa Zaila ke kamar, Ma. Biar Papa panggil dokter,” titah Wirawan pada istrinya.
Zaila pun ditatih menuju ruang kamarnya oleh Fiona dan Bi Darsih, kemudian Wirawan cepat-cepat menelepon dokter untuk memeriksa anak mantunya.
...◦○⭕○◦...
“Gimana, Dok?” tanya Fiona setelah dokter itu tampak selesai memeriksa perut Zaila.
“Bu Zaila dan kandungannya tidak apa-apa. Sakit perutnya cuma dikarenakan kram perut ringan. Biasanya kalau hamil muda itu hal yang normal. Bu Zaila hanya perlu banyak istirahat dan menghindari stres,” jelas dokter itu.
Fiona dan Wirawan bernapas lega, begitu pun Zaila, perempuan itu sangat bersyukur karena janinnya baik-baik saja.
“Tapi kalau Bu Zaila sering merasakan kram perut seperti ini, sebaiknya segera periksa ke rumah sakit. Takutnya ada masalah yang serius atau apa,” tutur sang dokter diakhiri dengan senyuman.
“Iya, Dok. Terima kasih,” ujar Fiona membalas senyuman si dokter.
“Kalau begitu saya permisi dulu.” Dokter itu pun berpamit.
__ADS_1
“Mari saya antar,” tawar Wirawan penuh keramahan.
Wirawan pun mengantar dokter langganan keluarga Argantara itu untuk meninggalkan kediamannya. Sedangkan, Fiona masih menemani Zaila yang tengah berbari di kasur. Wanita itu mengusap lembut dahi mantunya terlihat begitu sayang.
“Ma, Mas Darren ke mana?” tanya Zaila pada Fiona.
Fiona bingung harus menjawab apa. Suaminya sudah memberi tau jika katanya semalam Darren menginap di apartemen, tapi ia tidak tega mengungkapkannya pada Zaila. Fiona takut jika dirinya mengatakan itu semua akan membuat Zaila sakit hati dan merasa kalau Darren tidak memperdulikannya yang tengah hamil muda.
“Udah, kamu jangan mikirin suamimu dulu. Sebentar lagi dia pasti pulang. Kamu harus banyak istirahat dan nggak boleh banyak pikiran,” bujuk Fiona mencoba menenangkan kecemasan Zaila.
Zaila pun terus diam dan menuruti ucapan ibu mertuanya.
...◦○⭕○◦...
“Saya permisi dulu ya, Pak. Kalau ada apa-apa silakan hubungi saya lagi,” suruh dokter itu tersenyum pada Wirawan.
Wirawan dan dokter langganannya itu berdiri tepat di ambang pintu depan rumahnya.
“Iya, Dok. Sekali lagi terima kasih.”
“Oh, putra saya sedang di apartemen. Sebentar lagi juga pulang.” Wirawan berkilah dengan senyumnya.
Dokter itu menunduk terdiam sebentar mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Apartemen?” celetuknya terus menatap Wirawan lagi. “Sekitar beberapa bulan lalu Pak Darren menghubungi saya untuk datang ke apartemennya. Saya memeriksa seorang perempuan. Tapi kok saya lupa namanya.”
“Perempuan?” Wirawan terlihat bingung.
“Iya, Pak. Perempuan itu kelihatannya dekat sekali dengan Pak Darren.”
“Dokter yakin?” tanya Wirawan ragu-ragu mempercayai.
“Tentu.” Dokter itu kembali mengingat. “Kalau tidak salah hari itu Senin pagi. Saya dengar Pak Darren sudah diangkat jadi CEO ya sekarang? Nah, itu sepertinya kejadiannya sebelum Pak Darren jadi CEO.”
Wirawan mulai terperanjat menduga-duga. “Apa perempuan itu bernama Shani?” tebaknya tiba-tiba menanyai si dokter.
__ADS_1
Dokter itu mengingat lagi. “Iya. Sepertinya benar namanya Shani.”
Wirawan tertegun. Laki-laki itu mulai berkecamuk dengan bayang-bayang aneh. Wirawan adalah tipe orang yang memiliki ingatan tajam. Sebelum Darren menjadi CEO, di hari Senin pagi, dan tepat di mana Shani pernah absen kerja. Pikiran Wirawan pun mulai negatif.
“Ya sudah, saya permisi dulu ya, Pak.”
Wirawan hanya tersenyum acuh tidak acuh merespon pamitan si dokter. Dan dokter itu benar-benar pergi dari rumah Wirawan. Sedangkan Wirawan, ia masih mematung di ambang pintu rumahnya mencoba mencerna informasi janggal yang baru saja ia dapatkan.
...◦○⭕○◦...
Sedangkan di kediaman Shani, Darren terlihat tengah sarapan bersama perempuan itu. Darren mengunyah pelan makanannya sembari memandangi Shani yang tengah meminum susu ibu hamil dan membaca sebuah buku jadwal. Tiba-tiba, Darren tersenyum kecut.
“Mungkin aku bakalan jadi orang yang paling bahagia di dunia kalau bisa nikahin kamu,” celetuk Darren membuat Shani menolehnya.
Shani dan Darren pun saling beradu mata dengan disekat jarak sebuah meja makan di depannya. Hati keduanya sama-sama perih. Sejak semalam hingga pagi ini, mulai dari tidur bersama hingga sarapan berdua, namun semuanya bak halusinasi.
Hati mereka sama-sama memiliki. Tapi kenyataan pahit yang membuat perasaan itu bagaikan bumi dan langit yang sama-sama melengkapi namun faktanya saling terpisah berjauhan. Kesalahan keduanya membuat masalah baru yang semakin dirasa semakin berat untuk ditanggung.
Shani kembali menyibuk dengan buku jadwalnya. “Kamu cuma perlu pertahanin pernikahanmu dengan Zaila. Aku yakin dia juga bisa buat kamu bahagia,” ujar Shani tanpa melihat ke arah Darren sedikit pun.
“Tapi aku nggak mau kehilangan kamu,” tukas Darren.
Shani kembali menatap Darren. “Jangan egois. Zaila lebih membutuhkan kamu daripada aku. Dan sebenarnya aku juga nggak butuhin bantuan kamu, kok. Aku bisa lewatin semua ini sendirian. Tanpa kamu.”
“Cukup, Shani.” Darren menggarangkan tatapannya. “Aku akan bertanggung jawab dengan kehamilan kamu. Kita akan menikah dan-”
“Enggak!” Shani menyela. “Aku nggak mau nikah sama laki-laki yang udah punya istri. Aku nggak mau jadi yang kedua, simpanan, atau perusak rumah tangga kalian. Aku nggak mau, Darren.”
Darren membuang muka enggan merespon ucapan Shani. Kemudian, ia beranjak pergi dari rumah itu. Shani hanya bisa membeku di tempat duduknya dengan mata berkaca-kaca.
Darren pun meninggalkan rumah Shani. Sedan hitamnya sudah terparkir dengan rapi di jalanan depan rumah perempuan itu. Beberapa menit tadi Darren telah menyuruh anak buahnya untuk mengambil mobilnya dari parkiran apartemen. Sudah hampir pukul 9 pagi, jadi Darren harus bergegas pulang. Kali ini Darren akan benar-benar siap dengan semuanya.
...◦○⭕○◦...
__ADS_1
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.