The Secretary

The Secretary
BAB 45


__ADS_3

Sesampainya di Argantara Group, alih-alih langsung menuju ruang kerjanya, Jia malah bergegas dengan langkah cepat dan ekspresi tegas menuju ruang CEO. Ia mengetuk pintu 3 kali terus langsung masuk ke dalam. Dan di saat itulah Darren menatapnya dengan wajah bingung.


“Ada apa, Jia?” tanya Darren ketika mendapati Jia hanya berdiri sekitar 2 meter darinya dengan tatapan tampak marah.


“Apa yang sudah Pak Darren lakukan pada Shani semalam sampai dia demam?” Jia mengambil jeda sebentar. “Saya yakin kalau Pak Darren sudah melakukan hal-hal bodoh lagi terhadap Shani.”


“Shani demam?” Mendengar ocehan Jia justru membuat Darren seketika menjadi khawatir.


“Pak Darren tidak usah sok peduli begitu,” timpal Jia yang melihat gelagat Darren terlihat gelisah. “Semalam saya ke rumah Shani dan dia kelihatan kacau sekali.”


Entah kenapa mata Jia mulai berkaca-kaca. Mengingat dan membayangkan keadaan dan kehidupan Shani sekarang membuat Jia melankolis. “Kalau Pak Darren tidak sanggup bertanggung jawab dan membuat Shani bahagia, setidaknya jangan membuat dia sedih dan ketakutan.”


“Shani sedang hamil, Pak. Kasihan jika mentalnya terus terganggu.” Jia terus mencelotehi Darren. “Pak Darren harus sadar. Sejak awal perbuatan Pak Darren itu sudah membuat Shani cukup stres. Dan karena perbuatan Pak Darren itu, semakin lama bukan semakin membuat Shani lepas dari masalah. Tapi membuat dia tambah terjerumus ke dalam masalah yang semakin kacau dan rumit.”


Darren hanya bisa tertegun terus menatap Jia dan mendengarkan ucapannya.


“Jadi tolong, tolong Pak Darren berhenti mengganggu Shani. Melihat keadaannya semalam membuat saya takut. Shani bisa benar-benar gila, Pak.”


“Saya tidak bisa melepaskan Shani. Saya sudah berjanji akan melindunginya. Shani butuh saya, dan saya harus membantunya.” Dan kali ini Darren mulai menyuara.


Jia terkekeh remeh. “Shani membutuhkan Bapak? Apa Bapak yakin?” Ia mengambil jeda sebentar. “Yang ada Bapak-lah yang sebenarnya membutuhkan Shani. Karena saya tau Shani. Dia bukan tipe perempuan yang bergantung pada orang lain, dia perempuan yang mandiri.”


“Kamu tidak tau apa-apa, Jia. Berhenti menyimpulkan.” Darren pun mulai emosi karena harga dirinya mulai direndahakan Jia.


“Saya hanya mengungkapkan fakta. Itu kenyataan.”


“Saya dan Shani saling mencintai, kamu tidak tau itu. Saya akan segera menyelesaikan masalah ini, jadi kamu tidak perlu ikut campur dan mengocehi saya dengan omong kosong kamu.”


Jia menyeringai. “Saya hanya menuntut pembelaan untuk sahabat saya. Justru Bapak-lah yang suka beromong kosong. Bertanggung jawab, mencintai, apanya?” Jia menggeleng pelan. “Pak Darren tidak membuktikan semua itu. Apa benar Pak Darren tulus mencintai Shani? Bukankah sejak awal Pak Darren hanya menganggapnya sebagai pelacur? Sekedar untuk ditiduri dan-”


“Jia!!!” Darren membentak.


“Pak Darren sadar kan sudah menghancurkan kehidupan Shani?”


“Sekali lagi kamu bicara, saya tidak akan segan-segan memecat kamu,” ancam Darren pada Jia.

__ADS_1


“Silakan saja jika Pak Darren mau pecat saya. Saya juga sudah muak bekerja dengan bos culas seperti Anda,” sahut Jia.


Darren terdiam. Memecat Jia sama saja menjauhkannya dari Shani. Darren benar-benar frustrasi, ia bingung harus bagaimana.


“Berhenti mengganggu Shani atau Bapak akan menyesali semuanya.” Dan Jia pun berjalan meninggalkan ruangan itu.


Darren mulai mencengkeram kepalannya dengan mata memejam dan kedua siku bertumpu di meja depannya setelah Jia pergi dan kembali menutup pintu ruangannya. Kemudian Darren teringat kembali akan keadaan Shani. Apa benar perempuan itu sampai demam karena peristiwa penculikan itu? Tanpa memikirkan pekerjaannya yang begitu menumpuk, Darren pun bergegas pergi meninggalkan kantor. Darren merasa tidak tenang jika belum bertemu Shani dan mengetahui kondisi yang sebenarnya.


...◦○⭕○◦...


Walaupun masih sedikit kurang fit, Shani tetap memaksakan diri untuk bekerja. Ini baru hari keduanya bergabung bersama perusahaan milik Malvin, tidak mungkin dirinya berani untuk mengambil izin. Shani merasa segan.


“Hai,” sapa Malvin tersenyum menghampiri Shani yang tengah menyibuk dengan laptop di meja kerjanya.


Shani pun merespon dengan senyuman singkat seraya menatap sekilas wajah Malvin.


“Bentar lagi jam makan siang. Gimana kalau kita makan di luar?” tawar Malvin pada Shani.


Shani yang tangannya tengah mengetik seketika menjadi diam. Ia tertegun sembari memikirkan tawaran Malvin. “Aku makan siang di sini aja. Masih banyak data pesanan yang harus aku input,” tolaknya.


Malvin pun beringsut menarik kursi yang berada di dekatnya dan duduk mendekati Shani. “Kenapa?” tanyanya seraya terus menatap perempuan itu.


“Aku pikir ibu hamil butuh refreshing yang banyak?” Malvin mengambil jeda sebentar. “Gimana kalau kita pergi ke taman bermain? Di deket sini ada, kok.”


Shani tertawa kecil. “Mau ngapain?”


“Main ayunan. Biasanya cewek suka, loh. Kamu juga suka, kan?”


Shani mengerling sebentar. “Ya… suka.”


“Nah, ya udah. Yuk, berangkat sekarang.”


“Sekarang?”


“Ya iyalah.”

__ADS_1


“Tapi-”


Belum sempat Shani meneruskan kalimat, Malvin sudah menyambar tangan kirinya dan menariknya pergi dari ruangan itu.


...◦○⭕○◦...


“Gimana planning kamu selanjutnya? Apa kamu yakin bakalan rawat bayi kamu sendirian?”


Shani dan Malvin duduk bersebelahan di ayunan taman bermain itu sembari menyendoki nasi kotak yang telah mereka beli sebelum menuju ke sana.


“Walaupun nggak yakin, aku harus yakin. Nggak ada pilihan yang terbaik lagi selain ngejalanin ini semua sendirian.” Jawab Shani menunduk menatap makanan di pangkuannya.


Malvin terdiam terus memandangi wajah Shani dari samping kanan. Terkadang ia berpikir, kenapa perempuan secantik dan sebaik Shani harus menerima kenyataan gila ini? Tentu, Malvin sangat marah terhadap orang yang sudah membuat Shani hancur. Tapi mengetahui jika orang berengsek itu adalah sepupunya, Malvin menjadi dilema. Andai saja itu orang asing yang tidak Malvin kenal, mungkin ia akan benar-benar membunuhnya.


Shani sontak menoleh Malvin setelah laki-laki itu tiba-tiba menaruh sebuah nugget ke dalam kotak makannya.


“Tambahan gizi buat ibu hamil,” sahut Malvin diakhiri dengan senyuman.


Shani terpaku menatap Malvin sebentar, lalu tersenyum tipis dan kembali melahap makan siangnya. Suasana mendadak canggung, Shani dan Malvin sama-sama membisu. Dan kemudian,


“Gimana soal tawaranku?” celetuk Malvin, lalu menoleh Shani yang sudah menolehnya terlebih dahulu. “Kamu belum jawab.”


“Tawaran apa?” tanya Shani bingung.


Malvin terdiam sebentar terus menatap mata Shani tampak serius. “Soal aku mau jadi ayah dari anak yang kamu kandung.”


Batin Shani langsung terperanjat ketika mendengar celetukan Malvin.


“Aku masih suka sama kamu, Sha. Gimanapun keadaan kamu sekarang, aku tetep suka sama kamu.”


Shani terus memalingkan wajah setelah terpaku dengan mata Malvin untuk beberapa detik. “Maaf, tapi aku nggak bisa.” Jawabnya menunduk.


Sekali lagi, sampai pada detik ini pun penolakanlah yang Malvin dengar dari mulut Shani.


...◦○⭕○◦...

__ADS_1


Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.


Maaf ya hampir seminggu nggak update. Baru ada waktu sekarang huhu. Yuk next baca, tapi jangan lupa like dulu ya. Lanjut!!!


__ADS_2