
Darren menggeret paksa tangan Shani. “Lepasin! Darren!” seru Shani sembari terisak. Darren tidak menggubris, ia terus menarik tangan Shani lalu menjatuhkan perempuan itu ke kasur.
Darren terus menindih tubuh Shani, kemudian langsung memagut bibirnya tanpa ampun. Shani memberontak karena Darren tidak hanya melakukan itu. Darren terus berusaha menelanjangi tubuh perempuan itu.
Sekuat apa pun Shani melawan, Darren terus bersikeras menguras tenaganya. Darren berhasil membuka ****** ***** Shani dan merobek bagian atas dress yang dikenakannya. Setelah pakaian bawahnya ditanggalkan, Darren segera melakukan penetrasi.
Dan yang ketiga kalinya, Darren menyetubuhi Shani. Shani menangis hingga suaranya tidak terdengar. Ia ketakutan dan merasakan sakit di hati juga perutnya.
Darren terus menandak-nandak, menatap Shani penuh amarah juga gairah. Tangan kiri Darren mengunci kedua tangan Shani ke atas, dan tangan kanannya mendorong paha kiri Shani agar terbuka lebar. Darren tidak berhenti, ia mulai menggagahi Shani dengan kasar.
“Ahhhhh, sakit.” Shani mengeluh bercampur dengan suara isakannya.
“Apa aku kurang membuatmu mengingat rasa ini? Aku nggak akan biarin siapa pun menikahi kamu, Shani. Kamu dan tubuhmu, semuanya adalah milikku,” ujar Darren terus menatap mata Shani yang sudah teramat basah.
“Berhenti. Sakit, Darren.” Shani terus menangis. “Sakittttt….”
Darren tidak memperdulikan ocehan Shani. Hasratnya telah memuncak, dan Darren tidak bisa berhenti. Detik demi detik menyertakan rasa perih di hati Shani, rasa sakit yang begitu sakit. Hingga sepuluh menit lebih, Darren berhasil membuat Shani lemas.
Napas Shani tercekat-cekat. Ia tidak bisa lagi mendefinisikan bagaimana rasanya bagian perut bawahnya. Apakah bayinya baik-baik saja?
Desahan-desahan pendek juga suara napas yang memburu dari mulut Shani membuat Darren semakin menggila. Suara itu yang dengan mudahnya menyihir Darren dan memberinya keingininan untuk lagi dan lagi. Dan ekspresi perempuan itu yang begitu menggoda tidak lepas Darren perhatikan.
Darren pun mempercepat temponya, dengan tandakan yang lebih keras, dengan ritme teratur yang menggetarkan tubuh keduanya. Shani mulai melenguh panjang tanda jika penetrasi itu begitu menyakitkan. Setelah Darren mencapai puncak dan mengeluarkan cairannya, ia terlihat begitu lega.
Darren membelai wajah Shani yang tampak membeku menatapnya. “Aku mencintaimu, Shani. Aku sangat mencintaimu,” ujarnya, lalu mengecup singkat bibir Shani yang mengeluarkan napas memburu yang tersekat-sekat.
__ADS_1
Darren melepas penetrasinya dan bangkit dari tubuh Shani. Laki-laki itu mulai memakai juga merapikan pakaiannya, dan ia mengabaikan Shani yang masih terkapar lemas di ranjang. Shani mulai merasakan keanehan di perutnya semakin kuat. Ia pun pelan-pelan mulai beringsut duduk di tepi kasur sembari memegangi perutnya. Dan beberapa detik di sana, darah terlihat mulai mengaliri kakinya.
Tangan Shani bergetar ketakutan. Air matanya menetes lagi. Shani benar-benar takut jika terjadi sesuatu dengan bayi kecil di perutnya.
Begitu Darren menoleh ke belakang, di saat itu juga ia terpaku pada sebuah objek yang ditatap Shani begitu sendu dan memaku. Cairan warna merah itu membuat Darren seketika syok. Darren pun segera menghampiri Shani.
“Darah? Shani, kamu-” Darren tidak tau harus bicara apalagi, semua ini karena ulahnya.
“Bayiku.” Shani menggeleng histeris. “Enggak mungkin.” Ia terisak.
“Kita ke rumah sakit sekarang,” seru Darren seraya memasangkan luaran yang baru dikenakannya ke tubuh Shani dan ia pun terus membopong perempuan itu menuju mobilnya.
...◦○⭕○◦...
Darren bergegas membawa Shani ke rumah sakit. Sesampainya di sana, Shani langsung diperiksa di IGD. Shani dan Darren sama-sama khawatir dengan keadaan malaikat kecil yang berada di dalam perut Shani.
“Syukurnya kandungan Bu Shani baik-baik saja. Beliau cuma mengalami pendarahan ringan karena kapiler darahnya pecah.”
Darren pun sangat bernapas lega setelah mendengar ucapan si dokter.
“Tapi tolong lebih berhati-hati lagi jika melakukan hubungan intim di saat istri Anda sedang hamil. Hal seperti ini umumnya tidak berbahaya, namun bisa saja menjadi bahaya lain jika terlalu intens dan bersemangat saat melakukannya.” Dokter itu tersenyum ramah. “Usia kandungan Bu Shani juga masih trimester awal, lebih baik jangan melakukan hubungan badan terlebih dahulu untuk mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan.”
“Baik, Dok.” Darren hanya bisa menjawab itu. Perasaannya mulai bersalah, dan ia juga takut jika Shani semakin membencinya setelah ini.
“Kalau begitu saya permisi dulu. Silakan temui istri Anda,” ujar dokter itu kepada Darren.
__ADS_1
Setelah kepergian dokter, Darren pun bergegas menghampiri Shani yang tengah tertidur di ranjang rumah sakit. Ia mengusap lembut dahi perempuan itu, lalu mengecup keningnya pelan-pelan. Darren terus menatap wajah Shani dengan perasaan yang bertabrakan.
Darren mengusap perut Shani dengan penuh perasaan. Karena tangan Darren yang memberikan sensasi sentuhan hangat di perutnya, Shani pun terbangun. Mata mereka pun saling beradu.
“Kamu nggak pa-pa?” tanya Darren pada Shani.
Shani terdiam dan air matanya mengalir dari sudut-sudut matanya. “Kamu bener-bener keterlaluan, Ren. Kamu bener-bener kejam.”
Darren tertegun.
“Apa salah aku sampai kamu bikin aku kayak gini? Apa kamu nggak punya hati?” Shani terus menyuara walau suaranya terdengar pelan dan lemah.
Darren menunduk. Kali ini ia pasrah akan semuanya. Tindakannya barusan memang sudah sangat keterlaluan. Bagaimana mungkin ia mempertaruhkan nyawa anaknya sendiri dan perempuan yang begitu ia cintai untuk melampiaskan emosinya? Darren merasa dirinya memang pantas untuk Shani benci.
“Aku minta maaf,” celetuk Darren pada Shani. “Sesuai kemauan kamu, akan berhenti dengan semuanya.”
Batin Shani terperanjat. Apa ia sedang tidak salah dengar? Apa Darren akan berhenti mengganggunya?
Darren kembali menatap mata Shani yang terlihat berkaca-kaca juga tengah menatapnya. “Aku emang laki-laki bajingan yang udah hancurin hidup kamu. Dan aku udah sangat bodoh nggak bisa perjuangin cinta kita. Dan anak kita, aku belum bisa bertanggung jawab akan dia.”
Air mata Shani menetes lagi. Ia mengerjap dan enggan menatap Darren. “Aku tau keadaan kamu juga sangat sulit. Mulai sekarang lupain aku, dan kamu harus bisa bahagiain Zaila. Aku nggak mau rumah tangga kalian hancur gara-gara aku.” Shani terisak dan Darren mulai memeluknya.
Darren memeluk kepala Shani mendekapnya penuh kasih sayang. “Sesuai kemauan kamu, aku akan pertahanin rumah tangga aku. Tapi aku mohon sama kamu, jangan suruh aku buat lakuin hal yang aku nggak sanggup buat lakuinnya.”
Darren melepas pelukannya dan mulai menatap Shani dalam-dalam. “Aku nggak bisa lupain kamu. Aku nggak bisa biarin kamu terus-terusan sedih dan menanggung beban sendirian. Aku mohon sama kamu Shani, biarin aku mencintai kamu dengan bebas. Aku juga ingin merawat anak kita, merawat kamu. Tolong kamu jangan ngehindar dari aku.”
__ADS_1
...◦○⭕○◦...
Jangan lupa LIKE, VOTE, dan beri HADIAH untuk karya ini. Yuk KOMEN di bawah.