
kaila.
aku tak bisa mengontrol emosi saat melihat orang tua ricky, rasanya aku ingin mengacak mukanya dan mencekiknya seperti yang di lakukan anaknya padaku.
David memelukku erat, aku mulai sadar, semua orang menjauhiku termasuk orang tuaku,hanya david yang mencoba menenangkanku waktu itu, aku melihat wajah dan matanya berair, mungkin dia menangis melihatku.
David membaringkan ku pelan pada tempat tidur
"kamu tenang yah,ada aku, mereka tak akan menyakitimu lagi, aku akan melindungimu." ucap david mengusap ramputku.
"sayang" ucap seseorang menangis dari arah david.
"apa yang terjadi.?" ucap mamah ku membekap mulutnya sendiri tak kuasa menahan tangis.
aku tak menjawab perkataan mamah, aku hanya menatap david yang duduk di sebelah ku.
"David, maafin aku.?" ucap papahku menatap david.
David menunduk,"semuanya sudah terjadi, tak apa, setelah ini aku akan melindunginya,"
"tapi, aku mohon sama kamu kaila.?" ucap david menatapku.
"menikahlah denganku,maka aku akan bisa melindungimu seumur hidupku,.?"ucap david memberikan sebuah kotak merah berisi sebuah cincin bermata berlian.
apakah dia melamarku..???
dia melamarku dengan cara berbeda dengan yang lain,wanita lain di lamar dengan suasana romantis, aku di lamarnya pada saat aku terbaring stres di rumah sakit.
David adalah orang baik,walaupun dia bukan anton yang asli, tapi hatiku tak bisa memungkiri jika aku telah jatuh cinta padanya.
aku menerima lamarannya,dia tersenyum lebar dan memasukkan cincin itu padaku, saat david menyentuhku entah mengapa rasanya sangat berbeda dari yang dulu, kasar seperti tangan ricky yang menyentuhku waktu itu,
aku menepis tangan david, namun mungkin, david telah dulu mengetahui kendala ku,dia tak marah, dan meminta agar aku memasukkan nya sendiri pada jariku.
__ADS_1
"sangat manis di tanganmu, dan untungnya ini cocok dengan ukurannya.?" timpahnya tersenyum.
David.
apa yang harus aku lakukan, telah ku lakukan, aku melamarnya, walau dengan keadaan yang tak seharusnya, tapi aku merasa puas karna kaila menerimaku.
satu bulan telah berlalu, kaila telah bisa berkomunikasi kembali dengan sebagian orang selain diriku, wisudanya akan diselenggarakan beberpa hari lagi.
"kapankah kita akan menikah, aku sudah menyiapkan semuanya, tinggal undangan dan baju pengantin yang belum ku urus.?" ucapku menatap kaila yang sedang duduk menonton tv.
"aku.?" balasnya canggung.
"apa kamu merasa tak ingin dulu menikah.?" tanyaku sedikit kecewa.
"t..tidak, bukan begitu, kamu atur aja,tanggalnya, nanti gaun nya akan aku urus setelah acara wisudaku.?"ujar kaila dengan canggung.
4 hari telah berlalu,acara wisudanya telah berlangsung, aku yang masih berada di rumah sakit segera mengganti jas ku, dan pergi ke tempat kaila wisuda.
kami berfoto ria, dia tertawa kembali setelah kejadian demi kejadian telah merenggut senyumnya.
aku memberikan hadiah berupa kalung,kalung yang sama persisi dengan kalung ku berikan dulu.
mungkin kalung ini mengingatkan dia pada seorang anton kecil.
kalung berbentuk k dan a, yang ku berikan dulu ku beli dari pedagang kaki lima.
aku tak tau jika kaila masih menyimpan kalung itu atau tidak.
namun kini, aku membelikannya di jerman bersama james, itu semua ku pesan secara khusus.
__ADS_1
kaila menatapku memegang kalung yang telah ku pasangkan di lehernya.
"apa kamu tak menyukainya, aku bisa menggantinya.?" ucapku menatap kaila so bingung.
kaila menunduk menggelengkan kepala,mungkin tak seharusnya aku memberikan kalung itu padanya.
dia menatapku dengan mata indahnya.
"selamat wisuda sayang, kau telah resmi menjadi sarjana master sekarang.?" ucapku telat mengucapkan selamat padanya dan mengengam pundaknya erat.
mata kaila berlinang, dia memelukku dengan erat, bersembunyi di balik pundakku yang kekar.
"sudah, jangan menangis jika kau menangis,make up tebalmu akan luntur .?" gurau ku melepaskan pelukannya.
kaila geram mencubit ku, aku merasa jika dia mencubit ku tak terasa geli seperti dulu, namun sakit.
apa kaila mencubit jahitan oprasi ku.
aku tak menghiraukan rasa sakitku, dan mengusap pipinya pelan dengn ujung telunjukku namun di tepis kembali.
"Maaf maaf, aku ga sengaja.?" ucapku canggung.
seharusnya ini tak terjadi, seharusnya hari ini aku bisa memeluk dan menciumnya.
bukan...bukan hari ini, tetapi 1 setengah bulan yang lalu,setelah aku meninggalkannya pergi dan kembali yang hanya di sambut dengan marahnya kaila terhadap kesalahfahaman.
__ADS_1