
Semua tokoh tokoh utama di Indonesia hadir dalam pengangkatan david, termasuk teman teman SMA rommy dan bebrapa jenderal utama yang di undang oleh rommy atas pembukaan manajemen perusahaan, termasuk asland davinsn.
David masih mengenali dia, namun asland yang dia ingat adalah asland yang dulu, tetapi tidak dengan yang sekarang.
Dia tak mengetahui rupa ayahnya sendiri sejak 15 tahun lamanya berpisah.
David di perkenalkan rommy kepada tokoh tokoh pejabat yang di undangnya.
"nah ini dia,akhirnya kau datang juga, kawan. lama tak jumpa" rommy merangkul seorang pria sepantarnya dengan penuh rasa rindu.
"bagai mana kabarmu? " tanya rommy memegang kedua bahu pria itu.
"aku baik baik saja, kau sepertinya terlihat selalu sehat,wajahmu tak berubah rommy.."
gelak tawa pecah di wajah rommy mengetahui sahabatnya masih suka bercanda seperti dulu.
"ah, perkenalkan, ini menantuku, antony davidson, dia sebenarnya seorang dokter, tapi aku paksa dia menggantikan ku karna ilmu bisnisnya lebih tinggi dari ilmu kedokterannya." rommy tersenyum merangkul david,memperkenalkan dia dengan pria di hadapannya,pria itu menatap david dengan lekat, sampai seperti tak berkedip sedetikpun.mereka akhirnya bersalaman, "nah david, inilah asland davinsn, teman lamaku yang tlah lama tak ku jumpai, yang selalu ku ceritakan padamu."
rommy menepuk nepuk punggung asland dan david, dia tak tau jika asland dan menantunya itu adalah sepasang ayah dan anak.
David menatap asland di balik kaca mata hitamnya.
ingin rasanya dia merangkul ayahnya itu,yang telah 15 tahun tak bertemu,tetapi, sebelum david memberi tau asland jika dia adalah anaknya, david harus mengetahui siapa pelaku pembuangan anak yang 15 tahun membuangnya, siapa tau jika itu adalah asli suruhan ayahnya, namun ayahnya mengaku terpukul saat kehilangan david di hadapan media.
DAVID
tangan yang kini aku genggam adalah ayahku, ayahku.......
pah aku minta maaf, aku minta maaf karna aku belum bisa mengakuinya sekarang, aku merindukan mu,sangat merindukan mu.
kami berjabat tangan sangat lama,dia terus menatapku tak henti, aku harap papah tak melihatku sedang menahan bendungan air mata di balik kaca mataku, dan aku harap dia tak melihat telinga dan hidungku, yang akan memerah jika aku sedang menahan sesuatu.
"apakah anda sakit" tanyanya melepas jabatan kami, dan menatapku.
"hidung anda memerah, apakah anda sedang flu? "
"aaah, maaf, yah tadi malam saya flu, lupa minum obat." rusuhku segera mengambil sapu tangan yang selalu ku bawa di dalam saku dan menyusut hidungku.
aku tau dia akan melihatnya,kulitku sangat sensitif, aku bukan turunan orang orang barat, yang jika kepanasan ataupun merasakan gejala sesuatu kulitnya akan segera memerah,tapi aku selalu seperti itu dari kecil, makanya aku lebih suka hujan di banding panas, panas membuat kulitku seperti mau terbakar, dan meleleh,mungkin memang benar julukan mereka saat aku duduk di bangku smp,aku memang seperti vampir yang tak boleh terkena sinar matahari.
"kenapa kau tak memberi tau ku jika kau sedang demam." ucap mertuaku menatapku sedikit khawatir.
"aku tak demam pah, aku hanya bersin tadi pagi,kau juga tau kan kalau hidungku selalu jadi hidung cepot bila bersin." balasku yang di balas dengan gelak tawa bebrapa orang yang berada di dekatku.
"kau seperti anakku yang dulu hilang, dia juga selalu memerah jika sedang menangis ataupun kepanasan." papah menceritakan tentangku di hadapanku sambil menatapku.
__ADS_1
"yah, aku ingin bertanya padamu soal itu,kau ini sahabat pertamaku, kenapa kau tak memberi tau ku jika anakmu hilang 15 tahun yang lalu." pak rommy mencengkeram pundak papah dengan satu tangannya,matanya mencerminkan jika dia ikut terluka akan kehilangan anak sahabatnya. yang bahkan kini,tanpa mereka sadari,anak itu berada di depan mata mereka.
"aku minta maaf, selama ini aku berusaha tuk melupakannya, namun sampai saat ini aku masih terpukul, tak tau harus mencarinya ke mana lagi.?" papah menunduk, ingin rasanya aku mendekapnya dan berkata jika aku adalah anaknya dan berhentilah mencari,karna kini anakmu ada di sini.
"jika dia masih ada denganku kini,mungkin anakku sepadan dengan menantumu ini" ucapnya mencengkeram pundakmu dengan satu tangan.
aku tersenyum ke arahnya, dan berpura pura ikut bersedih akan kehilangan diriku sendiri.
"aku akan membantumu mencarinya."
"lebih baik kita mulai acaranya sekarang"
akhirnya papah mengadakan pelantikanku yang di gelar di gedung ber tingakat itu.
gedung pusat dari wijaya baja.
ntah mungkin merasakannya ataupun sangat ingin memperhatikanku,ayahku terus menatapku saat aku berpidato,dengan penuh kekaguman dan rasa terharu, seperti seorang ayah yang melihat kesuksesan anaknya menjadi seorang yang menggenggam perusahaan besar.
yah, memang begitu, dia ayah asliku,dan aku anak aslinya yang hilang.
KAILA.
jam berapa ini? david belum juga pulang, aku sudah menghabisi cemilan dan coklatnya sedari tadi,aku tak pernah berpikir jika coklat batang yang selalu di beli david ternyata lezat juga, lebih lezat dari kopi.
belum lama beberpa menit, suara mobil terdengar dari luar, pintu gerbang di buka pak sapri.
aku segera berlari , masih dengan kemeja dan celana pendek di atas lutut , aku keluar menghampiri suara mobil itu, tanganku belepotan menggenggam coklat.oh,aku seperti anak kecil sedang makan kue yang menunggu ayahnya pulang dari kantor, aku memang sangat menunggu david, aku ingin dia memetik mangga muda itu, sebelum malam semakin larut, karna aku menginginkannya dari tadi pagi.
"sayang aku pulang," suaranya terdengar dari arah luar.
aku langsung berlari ke arah pintu, dan memeluknya, tanpa melihat wajahnya ataupun ada orang di belakangnya.
"sayang...kamu kenapa ?" tanyanya memelukku menyeimbangkan tubuhnya, karna aku menggelantung di dalam dekapannya.
aku segera turun dari pelukannya dan mencium pipinya, dia sedikit menahan tawa setelah melihat wajahku.
"apa?" tanyaku heran, akupun tak tau apa yang di tertawakannya.
"kamu makan coklat sayang..?"
"yah, ternyata ini enak, aku kira ga seenak ini" aku menjilati jari kananku dan jari kiriku yang masih menggantung pada leher david.
"kamu makan coklat sampai blepotan gini"
David memangkuku ke arah sofa,dan menjilati satu demi satu lelehan coklat yang berada di tanganku.
__ADS_1
dia menatapku, dan mendekatkan wajahnya padaku, "stop, mau apa kamu.?" aku menghalangi antara pandangan kami dengan kedua tanganku.
"aku mau membersihkan coklat yang berada di sekitar bibirmu dengan cara yang berbeda." ujarnya menepis tanganku dan langsung melumati pipiku,apa coklat itu juga tersebar di wajahku.?
aku tak berkutik,diam, setelah dia akhirnya menciumku dan melumat bibirku.
aku membalas ciumannya, sebelum aku sadar akan sesuatu yang kulupakan karna adegan ini.
"kenapa?" tanyanya menatapku.
aku gelagapan berbicara padanya, "aku...
"itu.....
"aku......
"aku apa, bicaranya yang normal dong sayang...
"nggak ah, kamu baru aja pulang,buka jas dan dasinya biar aku taruh dulu di kamar, terus kamu makan, aku udah siapin pepes ikan kesukaan kamu.." aku tersenyum ke arahnya dan melepaskan jas dan dasi yang dia kenakan.
David menahan tanganku saat aku akan melepaskan dasinya, "katakan padaku ada apa..?"
" engga engga ada apa apa." aku menatapnya menggelengkan kepala.
"bilang, atau aku akan marah sama kamu."
aku sedikit takut sekarang, dia mencengkeram tanganku erat,"vid ini bukan sesuatu yang penting ko." aku melepaskan tangannya dengan kasar.
"aku marah sama kamu." ucapnya berdiri sebelum akhirnya aku menahannya. "jangan.....
"jangan marah," aku menggenggam tangan david dengan ekpresi manjaku.
"ya terus kenapa??
aku menunduk malu dengan sikapku ini,karna david baru saja sampai, aku jadi tak tega membujuknya agar naik ke atas pohon mangga dan memetiknya.
"katakan ada apa??
"aku ingin mangga muda milik pak adit dari tadi pagi," ucapku dengan wajah menunduk,malu.
"tapi aku ingin kamu yang naik ke atas pohonnya....
" tapi kalau masih cape g papa,besok nanti aja..... "aku menatapnya dengan tatapan ingin segera, dan kasihan padanya.
David tidak menjawab perkataanku, dia melompat dengan lompatan koprolnya dari atas sofa ke belakang.
"David kamu mau kemana??"
"mau be'ol di bawah pohon mangganya pak adit, supaya mangganya tambah banyak."
__ADS_1
dia berkata sambil berlari ke arah luar.
aku melihat dia meminta izin pada pemilik rumah itu dan segera menaiki pohonnya,lalu memetiknya beberapa buah, setelah itu dia berpamitan pada pak adit dan kembali ke rumah.