
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
Langit yang tampak gelap masih dihiasi kelap-kelip dari percikan kembang api, Angin darat yang seharusnya sudah sunyi kini masih dimeriahkan oleh bunyian petasan yang sangat nyaring. Suara tawa riang dari anak kecil yang berlari berkejaran, Semua tampak sempurna di malam ini.
Kedua pemuda ini menunggangi kuda, layaknya seorang ksatria. Tanpa adanya kusir ataupun kereta kuda yg ikut mengiringi. Berjalan santai menikmati waktu berdua dengan aromatherapy yang timbul dari hutan yang begitu menyeruak ke penciuman, Kicauan burung hantu yang dapat mendinginkan hati manusia, Begitu juga dapat menenangkan hati kedua pemuda layaknya sedang kasmaran di mabuk cinta, Lain dengan kasmaran antara wanita dan pria.
Hanya di area inilah yang masih terdengar sunyi tanpa adanya kembang api ataupun petasan, Setapak demi setapak yang dilalui hanya gerak tawa dan gurauan yang saling mengimbangi serta dua kendi arak Huangweijiu yang difermentasikan dalam kendi porselen bercorak putih kekuningan dengan gambar kuil diatas gunung.
Huangweijiu \= Arak ekor kuning, Karena arak nya difermentasikan dalam kendi yang berbentuk ekor kuning.
“Wei Di…” panggil Jie Ru dengan suara khas nya.
“Hmmm" Sapa Wei Heng dengan bergumam.
“Apa kamu pernah menyangkal? Apa yang akan kamu lakukan setelah penangkapan Si Xiong?” tanya Jie Ru dengan menatap wajah Wei Heng yang penuh pesona.
“Haaaaa...” Hanya sebuah hembusan nafas yang begitu panjang.
"Melunasi semua utang di dunia fana dan mungkin sudah seharusnya saya berada di dunia ini untuk melanjutkan hidupku sembilah berkelana, Mengarungi semua lautan dan gunung yang ada di dunia, Menikmati hidup tanpa adanya kekacauan," ucap Wei Heng dengan bersandar di punggung kuda menatap langit gelap.
“Kamu bisa ikut denganku jika kau mau, Akan kusuruh Fu wang mengangkat mu menjadi Menteri istana," gelak Jie Ru dengan senyum hangat.
“Ahhh Tidak tidak, Setelah ini Saya tidak akan mencampuri urusan duniawi, Lebih baik saya mejadi petapa di luar sana."
“ Lantas bagaimana denganmu? Apakah kamu akan kembali ke istana mu?" papar Wei Heng dengan menatap wajah Jie Ru yang tidak menghadapnya.
“Tidak, Saya akan mengikutimu habis itu terus menggangumu supaya hidupmu tidak membosankan, Kemanapun kau pergi, Pasti saya juga ada disana," ujar Jie Ru dengan antusias.
“Hahaha… Iyakah?Lalu kenapa kamu tak hendak kembali ke istana mu, Bukankah kamu lebih menyukai istana indah mu. Barangkali dengan adanya kedudukan, kamu bisa mencari permaisuri yang sempurna”, ledek Wei Heng menyenggol lengan Jie Ru.
“Lantas kenapa jawabanmu bukan menjadi Kaisar istana Ru, Bukankah seharusnya posisi itu untukmu, dan bukankah kamu juga bisa mencari permaisuri sekaligus selir-selir," timpal Jie Ru kesal sambil menjulingkan bola matanya.
“Tidak saya akan menyerahkan posisi kaisar kepada kedua adikku," Jawab Wei Heng.
__ADS_1
“Saya tidak ingin menjadi pangeran di istana, Saya dijodohkan oleh Fu wang dengan putri negeri Lanyin, Oleh karena itu saya melarikan diri ke sekolah Qi Jing dan mungkin saja ketika kami kembali para murid itu sudah lulus Hahaha."
“ Wei Di… dalam hatimu yang paling, Sudah sejauh mana hubungan pertemanan kita?" pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan Jie Ru.
“Hahahaha ada apa denganmu? Mengapa kau bertanya seperti itu? apa yang kau harapkan dari hubungan pertemanan kita?" ujar Wei Heng menanti jawaban dari Jie Ru.
“Tidak, Saya hanya ingin mengetahuinya," lontar Jie Ru menundukkan kepalanya.
“Hubungan kita tak lain adalah pertemanan di sekolah , Sama seperti hubungan pertemanan ku dengan Afei," gelak Wei Heng dengan raut muka yang polos.
“Oohhh…” raut wajah Jie Ru yang mendadak menjadi mesam.
“Iya… akan kutambahkan dua gelar dibelakang hubungan pertemanan kita”.
“Apa?" tanya Jie Ru penasaran.
“Pertemanan sehidup semati," ujar Wei Heng seraya mengedipkan mata kirinya.
Tawa Jie Ru begitu riang setelah mendengar lontaran hubungan pertemanan istimewa yang dilontarkan dari mulut Wei Heng, Pecahan cahaya kembang api diatas langit hutan yang mewakili hati Jie Ru saat ini
“Wowww kembang api yang begitu indah, persis seperti hati ku saat ini," ujar Jie Ru menatap ekor kembang api yang mulai sirna.
Ha? Kembang api? Dalam hutan? Siapa yang melepaskannya dalam jarak yang begitu dekat, Tidak tidak, ini pertanda bahaya.
“A Ru Lari, Ini bukan kembang api biasa ini pertanda bahaya, Hutan ini sudah dikepung," gelak Wei Heng membawa kudanya berjalan kedepan hendak mengamankan Jie Ru yang masih ada dibelakang.
PLOKK PLOKKK PLOKKK, Tepukan tangan dan suara tawa yang timbul dari belakang komplotan pembunuh, dari siluet bayangannya dapat diketahui itu ialah kepala pembunuh.
“Hahaha… pertemanan yang rumit, Saya tak suka dengan hal yang berbau dengan kesetiaan, menjijikan hahaha," tawa gelak kepala pembunuh itu yang masih setia berdiri di dahan pohon kauri yang berdahan besar.
“Hahaha… tak usah kau menutup wajah mu dengan topeng itu, Saya tahu kau pembunuh yang diperintahkan oleh Huanguang," ujar Jie Ru menegaskan dengan menodongkan pedang Mo Ye kearah pembunuh berbaju hitam.
“Hahaha baguslah, Jadi saya tak perlu menutup wajah mahal ku," bengis dari pembunuh itu sembari melepaskan topeng perak nya.
“Dan kamu yang membunuh Pak tua di desa Ru itu kan," tanya Jie Ru dengan suara sedikit teriak.
“Hahaha iya, ada masalah apa rupanya? sudah sedari saya bilang, Saya tak suka dengan yang namanya kesetiaan."
“Hahaha… pantas sifat mu yang tak menyukai kata setia itu, ternyata kau pernah dibohongi oleh temanmu, bukankah begitu Xue Yang, Seorang pria sejati yang pernah dibohongi oleh..." Lontaran kata yang dipotong dari Wei Heng.
“hentikan, Jika kau meneruskannya ku pastikan pedang ini akan memotong lidahmu," bentak Xue Yang yang terbang melayang dari pohon Kauri.
__ADS_1
“dibohongi oleh teman sohibnya Lan Chen bukankah begitu," ujar Wei Heng menyambungkan ucapannya yang terputus.
“Persetan akan kubungkam mulut kau," ujar Xue Yang mengarahkan pedang kearah Wei Heng.
Dengan langkah cepat nya Xue Yang melayangkan pedang nya hingga menggores wajah putih Wei Heng, Pergelutan yang semakin membara. Pertarungan antara Jie Ru dengan anak buah Xue Yang yang berkisaran 5 orang, bertepatan di antara gundukan batu tinggi dan pohon berdahan besar yang tak jauh dari posisi Wei Heng yang sedang menyerang Xue Yang.
SLAASSHHH SLINGGGGG, Suara pedang begitu menyayat telinga, Ketajaman ujung pisau menjatuhkan beribu ranting pohon yang berhembus ke tanah.
Wei Heng masih hendak mengalahkan Xue Yang dengan pedang kembar Gang Jiang yang diberi oleh Mu shifu, ia yang memanjat pohon dengan langkah angin yang hendak menancapkan pedangnya kearah Xueyang. justru berbalik fatal, Xue Yang yang justru melayang kearah sisi lain dengan meloloskan pedangnya di punggung Wei Heng sehingga Wei Heng memuntahkan segumpal darah dari mulutnya.
"Hahaha akan kubuat hari ini adalah hari terakhir kau menatap langit ," seringai bengis yang dikatakan Xue Yang.
“Sialan, Kenapa kemampuannya begitu lincah," pikir Wei Heng dalam hati menahan rasa sakit.
Xue Yang yang melihat Wei Heng mulai lemah hendak menyergap kembali tubuh Wei Heng, tanpa disadari Wei Heng melayang diatas melewati kepala Xue Yang dan muncul dari belakang. Dengan mengiris leher Xue Yang hingga membekas sempurna. Tak hanya cukup itu, Wei Heng juga menyempatkan menggunakan qi yang baru ia kuasai hendak mempraktekkan di dada Xue Yang.
PHUSSSSS, suara energi qi yang begitu kuat menembus dada Xue Yang hingga jejak telapak tangan tersebut menembus ke punggung belakang, layaknya telapak tangan Buddha yang dilontarkan dari tangan Sing.
“uhukk...KEPARATT, Lihai juga kemampuan qi mu, Bagus bagus, setidaknya saya masih melawan musuh yang seimbang, Saya mau lihat sejauh mana kau sanggup bertahan," balas Xue Yang yang menyeka darah kecil di mulutnya.
Pertarungan di hutan belantara yang semakin sengit, Jie Ru yang mulai mengalahkan kelima orang anak buah Xue Yang masih terengah-engah, nama boleh anak buah tetapi kekuatan menyeimbangi ketuanya.
Aliran angin dari Jie Ru begitu besar hingga mencabik tubuh dari kedua anak buah lainnya hingga jatuh ke dasar jurang. selain, ketiga lainnya yang masih melayangkan aksinya menggegerkan pertarungan dengan Jie Ru.
Tak jauh dari sana, Wei Heng yang sudah berada diambang kematian dengan luka dalam yang meresap di bawah tulang rusuk sebelah kiri dan goresan besar yang ada di bawah perut hingga mengeluarkan darah yang begitu deras, dengan Xue Yang yang memanfaatkan kesempatan baik, begitu menatap Wei Heng yang sudah terluka parah.
Wei Heng yang masih menopang lengan nya ke lutut kakinya mencoba untuk bertahan. Tak disangka Xue Yang menghunuskan pedang nya tepat di depan dada hampir mendekati daerah jantung, tusukan yang begitu sadis hingga melayangkan tubuh Wei Heng jatuh kedalam jurang.
Jie Ru yang masih hendak memenangkan pertarungan begitu melihat kejadian yang barusan terjadi, dengan begitu terkejut membulatkan kedua bola matanya.
“Wei Di" ia melayangkan kedua kakinya berlari kearah Wei Heng yang sudah jatuh kedalam jurang.
“Wei Di… Saya akan menjemputmu, Tunggu akuuu….” teriak Jie Ru sembari ikut menerjunkan dirinya kedalam jurang.
“Hahaha, Biarkan mereka, Besok pagi kita akan menggeledah mayatnya Hahaha" tawa penuh kesenangan Xue Yang yang telah berhasil melenyapkannya.
*Wei Heng pov
“Tian Jun tolong aku, tak mungkin saya mati disini, masih begitu banyak tugas yang belum saya selesaikan, Tolong aku... masih ada Jie Ru disana yang menungguku kembali," Kata hati Wei Heng yang masih melayangkan tubuhnya diatas jurang penuh kegelapan yang hanya diterangi oleh cahaya bulan dan bintang, dengan mata yang mulai sayu.
Seketika wajah Jie Ru terpampang jelas tepat dihadapannya dengan kedua bola mata yang sudah mulai meredup.
Senyumannya begitu mengingatkan kisah awal pertemuan yang begitu bermakna, hingga sampai sekarang mereka bagaikan aliran air yang tak pernah putus.
Dengan tangkapan kedua tangan Jie Ru, mereka bersama-sama jatuh kedalam jurang yang sangat curam.
__ADS_1
Tak berselang waktu, sebelum kedua pemuda itu mendaratkan diri ke dasar jurang, sebuah lintasan cahaya yang begitu silau membawa hilang tubuh kedua pemuda hingga melambung tinggi kearah yang tak tahu tujuannya.