
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
“Siapa wanita itu? Aura nya begitu kuat,” ucap Chen Fei yang mengintai dari pintu Maiyingong.
“Dia itu primadona yang ada disini,”ujar Jie Ru yang berdiri ikut mengintai.
“Aneh, Ada apa dengan tubuhku, Kenapa dengan giok ini?,” tutur Wei Heng yang melayangkan batu gioknya
Chen Fei dan Jie Ru merasa aneh dengan batu giok yang tiba-tiba melambung diatas telapak tangan Wei Heng, tanpa sebab yang diketahui. Ataukah ini pertanda?.
Ketiga manusia itu masih meneliti dengan baik dibalik pintu. perihal apa yang sedang terjadi, setelah manusia hidung belang yang sudah dihisap energi qi nya tetapi masih bersikap normal, Seakan tidak terjadi sesuatu dan aula istana bunga tetap dipenuhi teriakan dari manusia yang ada di dalam, bahkan Wu Hui masih terduduk di kursi pojok yang ditemani belaian puluhan wanita.
“Ada yang aneh dengan wanita itu,” gumam Wei Heng dalam batin.
“jika tidak, bagaimana batu giok ini bisa mendadak muncul dari tubuhku, apakah ini pertanda?"
“Cepat Kamu bawa Wu Hui keluar dari sana, Kami akan menunggumu disini, Cepat!!!" perintah Chen Fei.
“Ya kalian tunggu saya disini, Jika ada bahaya kalian harus menolongku,”ujar Jie Ru.
Dengan langkah mengendap-ngendap Jie Ru membawa kembali Wu Hui dari belaian puluhan wanita penggoda. Begitu sulit untuk ditaklukan, sebab Wu Hui yang sudah terlampau mabuk berat, barangkali sudah puluhan botol arak yang masuk dalam organnya.
Hingga kedua manusia itu berhasil lolos dari istana Maiyingong, dengan Jie Ru yang memapah Wu Hui yang masih tak sadarkan diri, bergurau tak jelas hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Wu Hui.
“Eiiii ada apa dengan Kalian bertiga, mengapa Kalian bisa ada disini. Ayo masuk masuk didalam begitu banyak keindahan, Kalian akan merasa terpuaskan,” lontar Wu Hui dengan gontai, ciri khas orang mabuk berat.
“A Ru bawa Dia kembali ke penginapan,” ujar Wei Heng yang sudah bersikap tak peduli.
Sialan jika bukan karena untuk membodohimu, Kaupikir Saya akan memapahmu badan besar mu, Cihhhh…
“Biarkan dia tidur, Besok pagi kita akan bertanya kepadanya?" ujar Wei Heng.
“Baiklah, Saya kembali ke kamarku," balas Chen Fei berpamitan.
Sekarang tinggal kedua manusia itu yang belum terlelap dalam mimpinya, sedangkan manusia lainnya sudah bersiap untuk melanjutkan imajinasi dalam mimpi.
“Pergilah tidur, jangan terlalu larut malam,” ujar Wei Heng dengan kata-kata dingin.
Jie Ru masih merasa bersalah dengan perbedaan sikap atas Wei Heng dengannya, Ia hendak meminta maaf tapi panggilannya tidak disahuti oleh pemuda yang sudah berdiri di ambang pintu.
Jie Ru berjalan keluar dari pintu kamarnya menuju kearah atap penginapan, tampak seorang pemuda yang duduk termenung seakan begitu banyak beban pikiran yang menimpa dirinya, hanya ditemani sebotol kendi arak dengan kaki yang menjulur ke bawah.
__ADS_1
Duka yang dirasakan saat kehilangan orang yang disayangi adalah harga yang harus dibayar untuk memilikinya dalam hidup, apa yang pernah dinikmati tidak akan pernah hilang, semua yang dicintai menjadi bagian dari hidup. Saat seseorang yang disayangi menjadi kenangan, maka kenangan itu menjadi harta karun.
Wei Heng yang termenung sambil bergumam berbagai penggalan kata yang tak jelas dari mulutnya.
Ibaratnya seseorang yang bertemu dengan teman sejatinya, tetapi dikhianati oleh temannya itu sendiri.
Pria yang menyadari dari bawah atap itu merasa bersalah dengan perumpamaan kata yang dilontarkan dari mulutnya.
“Kata-kata yang begitu menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya."
“Apa yang Kau lakukan disini" tanya Wei Heng yang terkejut dengan keberadaan Jie Ru.
“Hahaha sedang mengintai seseorang, jadi apa yang Kau lakukan disini?”tanya balik Jie Ru.
“Menikmati masa kenangan dengan seorang teman,” papar Wei Heng menatap langit tanpa bintang.
“Lantas apa yang dilakukan temanmu itu hingga membuatmu begitu terluka" papar Jie Ru yang penuh kepura-puraan.
Wei Heng yang mendengar pertanyaan yang tak berperikemanusiaan merasa kesal dan melirik pria yang ada disebelahnya dengan mata tajam.
“SUDAH MATI!!! TEMANKU SEKALIGUS SAUDARAKU YANG BERSUMPAH SEHIDUP SEMATI ITU SUDAH MATI!!!" kata-kata yang diucapkan dari mulut Wei Heng bukan membuat Jie Ru merasa frustasi melainkan bergidik geli.
“Hahaha, Dia belum mati, Dia adalah pemuda rupawan yang masih ada disebelahmu,” ucap Jie Ru menyenggol lengannya.
”Haaa begitu membosankan jika terus-menerus berakting didepannya."
“Apa maksudmu?” tatapan sinis Wei Heng.
Perlahan Jie Ru menjelaskan kejadian yang terjadi pada saat di gunung Moguicheng, hingga Wu Hui yang mengendalikan pikirannya, ia jelaskan dengan rinci di atap kamar itu.
Jie Ru yang masih terbebani beban pikiran yang hendak dipertanyakan kepada Wei Heng, sampai di malam inilah waktu yang tepat untuk ia menanyai nya "Wei Di, sejujurnya saya masih penasaran dengan dirimu, Mengapa kau membohongi saya dan Chen Fei kalau kau adalah Wang Zi di negeri Ru, mengapa kau tidak memberitahuku identitas aslimu."
" A Ru bukan maksud saya untuk membohongi kalian berdua, biarkan waktu yang akan menjelaskan segalanya, Maaf" ujar Wei Heng dengan menundukkan kepalanya
" Yasudah lah, jika itu kemauan mu, Saya tidak dapat memaksakan. Biarkan waktu yang akan memberitahuku dengan sendirinya."
Kedua pemuda itu bercerita, mengulang kenangan hingga menghabiskan waktu bersama dari larut malam sampai pagi subuh yang tergeletak di atap kamar.
“A Ru, Bangun, kembali ke kamar sebelum Wu Hui menyadari jika kita tak ada di dalam kamar,” ujar Wei Heng membangunkannya.
Ternyata manusia bodoh dan dungu masih tertidur pulas, bahkan tidur saja mereka berjauhan. Wei Heng, Jie Ru akan kupisahkan kalian berdua dan tujuanku akan tercapai.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
Sementara itu, Di bawah kaki gunung yang terdalam tercipta sebuah kerajaan iblis yang dipenuhi dengan rayapan gagak yang bertengger di atapnya. Heianguo nama gunung yang ditinggali oleh iblis gagak. Gelap, seram, sunyi dan suram yang dapat menggambarkan keadaan kerajaan iblis.
Heianguo\= kerajaan kegelapan abadi
__ADS_1
Wanita yang sudah terlepas dari kematiannya, yang hendak kembali menjerumuskan diri dalam kejahatan, mencari tunggangan empat monster iblis untuk menjadi penguasa dunia.
“Xiashu, Bagaimana?, Apa Kau sudah menyelesaikan tugasmu?”, ujar Iblis gagak yang berkomunikasi lewat energi paralel yang diciptakan dari tangan nya untuk menghubungi seseorang dari jarak yang tak terlampau batas.
Xiashu\=bawahan, pengikut, anak buah,kaki tangan
Ya Mowang.. Saya sudah berhasil, hanya selangkah kita akan mencapai keberhasilan, Saya akan perlahan mencari tahu dimana ketiga monster iblis lainnya, bersabarlah Mowang Saya akan membawanya ke gunung Heianguo.
Mowang\= Penguasa iblis
“Bagus, lebih cepat lebih baik, maka kemauanmu akan segera terwujud, pergilah selesaikan misimu dan tetap beri kabar keberadaanmu."
Baik Mowang.
Dunia akan segera ku kuasai, Bahkan kaisar dan dewa langit bukanlah tandinganku, setelah Si Xiong menjadi tungganganku maka seluruh dunia akan menjadi milikku. Menciptakan ribuan sampai ratusan makhluk iblis yang menggantikan posisi manusia di bumi.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
“A Ru, Kita harus kembali ke Maiyingong, masih ada misteri dari wanita misterius itu yang belum kita pecahkan."
“Ya, sekarang juga Kita akan kesana, jangan sampai Wu Hui ikut atau Dia yang akan mengacaukan segalanya,” Ujar Jie Ru.
“Fei Hari ini saya minta tolong Kamu untuk mengawasi Wu Hui, Jangan sampai Dia mengikuti kita ke Maiyingong," perintah dari Wei Heng.
“Yaa, Saya akan mengawasinya, Kalian hati-hati dan cepat kembali."
Istana Maiyingong masih seperti biasanya, tetap begitu ramai dengan pria berhidung belang dan buaian wanita penghibur yang berdiri di depan pintu utama.
Semua mata wanita penghibur tertuju pada sosok lelaki yang hendak menapaki kakinya di istana bunga itu.
“Kamu akan menjadi Bintang Maiyingong hari ini,” Bisik Jie Ru ditelinga Wei Heng.
“Lihat saja nanti,” Kedipan mata yang meledek Jie Ru.
“Aiyaaa Gongzi, jangan hanya berdiri diluar, mari masuk kedalam. Hari ini ada Bintang primadona istana yang akan hadir melayani Kalian”, ujar salah seorang wanita penghibur yang ada disana.
“Tidak bisa, hari ini Huakui harus ada ditanganku, Saya sudah menunggunya begitu lama tak mungkin akan kuserahkan begitu saja kepada mereka berdua,” lontar pria berhidung belang yang barangkali umurnya sudah setengah abad.
“Aiyaa Shaoye, Jangan berebut masih ada begitu banyak wanita yang ada disini yang sanggup memuaskan dirimu," ujar salah seorang wanita penghibur dengan menggelut ditubuh pria berhidung belang.
Shaoye\= Tuan muda biasanya sebutan untuk tuan yang lebih berumur
“Hahaha, baiklah asal kalian sanggup melayaniku akan kuberi kalian 500 tael emas”, ujarnya sembari menggandeng wanita penghibur yang menawarinya.
Wei Heng dan Jie Ru bergidik geli dengan tingkah tuan itu, tak takut akan ketahuan oleh istri pertamanya. Alangkah lebih baik jika wanita misterius itu kami tangkap dan keluar dari istana bunga ini, sebab penampakan dari istana tak layak dilihat oleh manusia yang masih bermata suci.
__ADS_1