The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 47 - Lebih Baik Hujan Daripada Panas


__ADS_3

...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


“Ayo Xian Sheng, kami menunggu kalian menari, jika tidak kami akan mengembalikan seluruh Tudou yang sudah kami beli,” Desak wanita berambut kepangan tersebut.


“Ya ya ya sebentar yah kami sedang mendiskusikan akan membawa lagu apa,” tipu Jie Ru dengan wajah yang dibuat manja untuk melelehkan hati para wanita, sebenarnya ia juga tak kalah panik dengan yang lainnya, meski ia bukan jadi pemain.



“Wei Di kamu bisa bermain Guqin kan?” tanya Jie Ru.


“Bisa, tapi sudah cukup lama saya tidak memainkannya.”


"Saya percaya padamu."


“Shi Xiong kamu bisa bernyanyi?” tanya Jie Ru ke pemain lain.


“Semampuku,” ujar Li Wei.


“baiklah Nona-nona, Nyonya-nyonya, kedua pemuda ini akan membawakan permainan guqin dan bernyanyi untuk kalian semua,” ajak pemuda pencari masalah.


Yeahhh, sorak ramai para wanita kota tersebut.


Wei Heng mengambil posisi di depan Guqin, sedangkan Li Wei duduk di kursi berartefak ukiran naga.



Dengan petikan dari 1.000 teknik jari, Wei Heng memainkannya dengan sempurna. Memetik di senar ketujuh dan ketiga sebagai awal pembukaan bait lagu pertama.


TRENGG TIAUUU, bunyi permainan senar dimulaikan, Li Wei masuk dalam irama musik.


Nĭ shuōwŏ xiàng yún zhuōmō bù ding


Qí shí nĭ bù dŏng wŏ de xĭn


Nĭ shuōwŏ xiàng mèng hū yuăn yǒu hū jīn


Qí shí nĭ bù dŏng wŏ de xĭn


Nĭ shuōwŏ xiàng mí zǒng shī kàn bù qīng


Qí shí wǒ yōng bù zài hū yăn cáng zhèn xīn


Kamu mengatakan saya bagaikan awan tidak dapat ditangkap


Sebenarnya kamu tidak mengerti hatiku


Kamu mengatakan saya bagaikan mimpi tiba-tiba menjauh dan mendekat


Sebenarnya kamu tidak mengerti hatiku

__ADS_1


Kamu mengatakan saya bagaikan teka teki tidak dapat dilihat dengan jelas


Sebenarnya saya menyembunyikan hatiku yang sebenarnya.


“hebat lihai, lihai, Alunan nyanyi dan petikan Guqin kalian sungguh membuatku terkesan,” tawa keras pemuda berumur menepuk telapak tangannya.



Begitu juga ditimpali oleh para gadis kota yang menurut mereka dapat melunakkan hati mereka dalam sekejap, permainan kedua pemuda tersebut menjinakkan pikiran mereka terhanyut dalam perasaan, sampai akhir lagu pun mereka tidak menyadari jika lagu tersebut telah usai dimainkan.


“Anak muda ini kartu namaku, jika kalian berkenan, Kalian bisa kerja Bantian di kedai ku,” harap pak tua itu.


Bantian\=setengah hari


“ya terima kasih atas penawarannya, kartu ini akan saya terima, jika kami butuh nanti akan kami cari,” sambung Wei Heng menerima kartu nama pak tua.



“Wei langit sudah hampir gelap, sebaiknya kita kembali ke Desa,” tukas Xin Qian memotong perkenalan Wei Heng dengan Pak tua itu.


“Maaf Da Shu kami tidak bisa berlama-lama disini, untuk penawaran nya terima kasih untuk sekali lagi,” pamit Wei Heng dengan sopan.


DUARR, lantang gemuruh membuyarkan keempat pemuda tersebut, santak kembali mengambil keranjang rotan dan memapahnya untuk kembali naik bukit. Meninggalkan pak tua yang masih berdiri di tengah alun tontonan itu.


“Maaf Da Shu, Kami duluan” pamit Jie Ru melewati depan pak tua itu.


“Cepat Jie Ru! Kau sangat lama,” celetuk Li Wei, meninggalkan yang lainnya cukup jauh.


“Hei Kau badan besar tunggu aku!” teriak Jie Ru.


“jangan ikut mengejar, kalau memang tidak sanggup, masih ada aku,” ujar Wei Heng menunggu Jie Ru yang sudah ketinggalan sangat jauh.


“A Ru, Ada apa dengan kakimu?” tanya Wei Heng ketika melihat Jie Ru meringi, Ketika tapak kiri nya baru menaiki sebuah batu besar.


“Tidak apa,” sahut Jie Ru seperti menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh orang lain.


Wei Heng memaksa, ia membuka jubah putih Jie Ru dengan paksaan. Terpapar luka Jie Ru yang sudah cukup lama hingga kini terbuka kembali.


“luka ini? kenapa saya bisa lupa dengan luka ini,” ujar Wei Heng memukul kepalanya sendiri.


“ini bukan salahmu Wei,” bantah Jie Ru.


Luka yang dibuat oleh Hua Kui kembali terbuka setelah lama racun panah itu diserap keluar. meski begitu, lukanya meninggalkan jejak yang cukup sulit untuk disembuhkan. Semua butuh proses yang lama untuk menyembuhkan luka yang sudah terbuka.


“mengapa Kau tidak memberitahu kami, jika Kau tidak ingin orang lain tahu, Kau cukup kasih tahu aku,” papar Wei Heng.


“Tidak ingin merepotkan mu,” tunduk Jie Ru menjawab pernyataan saudaranya.


“Apa yang tidak ingin merepotkan ku! Bukankah Kau bilang kita ini sudah seperti saudara, lantas buat apa kau menutupi semua masalahmu dariku!” bentak Wei Heng.



Jie Ru hanya terdiam dan menunduk menanggapi omongan Wei Heng yang cukup menusuk, Semua masalah ia alami dan simpan sendiri tanpa harus berbagi kepada orang lain yang sudah menjadi teman terdekatnya sekalipun.


“Sudahlah, naik!” perintah Wei Heng memotong argumen tersebut.


“Ha?” tanya Jie Ru dengan heran, ketika melihat Wei Heng berjongkok didepan membelakangi dirinya.


“naik ke punggung ku, Apa lagi?” tukas Wei Heng.

__ADS_1


“Tidak tidak, tubuh saya berat, lebih baik Saya berjalan pelan, Kamu kembalilah duluan,” sambung Jie Ru mengayunkan telapaknya.


“Tubuh kurusmu tak akan menjadi permasalahkan beban tubuhku.”


DUARRR, hembusan angin semakin kencang seakan-akan memberi peringatan jika kuasa alam sebentar lagi akan turun.


“Cepatlah! Saya lelah berjongkok.”


Mau tak mau, Jie Ru menerima usulan Wei Heng yang tengah berjongkok tak bergeming sedikitpun. Kedua pemuda tersebut hanya mampu melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda akibat pertikaian yang terjadi.


Rintihan air hujan mulai tidak mendukung perjalanan sunyi dan suram kedua pemuda menuju puncak bukit. Semua itu tak dipermasalahkan oleh Wei heng yang mampu membuat ruang dimensi yang dibentuk dari elemen air yang selama ini tidak diketahui orang lain.


“Wei sejak kapan kamu memiliki Qi yang bisa mengendalikan air?” tanya Jie Ru dibalik punggung Wei Heng.


“Sejak berlatih di bawah air terjun,” jawab Wei Heng dengan lugas.


Masih tersimpan keraguan di benak Jie Ru, tidak mungkin seorang manusia biasa mampu belajar Qi secepat itu bahkan hampir menguasai seluruhnya. Lebih baik tidak terlalu banyak bertanya daripada menjadi masalah, prinsip itu yang masih menjadi tekad Jie Ru untuk tidak terlalu banyak bertanya, daripada lingkaran persahabatan tersebut terjadi perdebatan karena masalah kecil.


“Wei, Kalian lama sekali,” racau Xin Qian yang sudah duluan menempati kubu besarnya.


“Apa kalian tidak melihat hujan nya turun deras!” tampik Jie Ru.


"Hahaha dasar kau yang lamban," timpal Xin Qian.


" Jie Ru, hari ini seharusnya kau bersemedi dibawah air terjun He Ping, cuci semua mulut sialmu itu Hahaha," imbuh Kakak seperguruannya.


" ada apa dengan mulutku?"


"Lahh tadi bukannya kamu bilang lebih baik hujan daripada panas kan?" ujar Li Wei mengingatkan.


"Oohh Hahaha, tapi lebih baik hujan, jadi Saya bisa berlama-lama dengan Wei Di dan tidak diganggu oleh kalian berdua," lugas Jie Ru menggoda Wei Heng.


"Kau menjijikkan! Hei sadarlah Kau itu pria jadi seorang pria itu harus tangguh menaklukan para wanita, bukan mengubah sikapmu menjadi seperti wanita, Dengar tidak?" seru Xin Qian yang semakin lama semakin panas melihat adegan mesum sikap Jie Ru.


Sebenarnya yang menjadi lama perjalanan bukan karena hujan yang menghambat tetapi karena Wei heng yang berjalan pelan memapah Jie Ru, dengan sembilah menggunakan energi qi nya menciptakan bola air yang cukup mengulas energi.


“Sudah, sudah, cepat kumpul kesini, Nah ini Da Jie sudah buatkan wedang jahe, silahkan diminum selagi masih panas,” ujar Xiao Jing membawa tampan besar berisi teko dan cangkir kecil.



“Xie Dajie,” gelut Jie Ru dengan manja.


Li Wei yang mengamati wajah Xiao Jing yang tersenyum lebar, tersipu malu jika ia harus menatap wanita yang sungguh perhatian kepada mereka semua layaknya seperti seorang ibu yang menyayangi semua anaknya.


Perhatian Li Wei masih tak lepas pandang dari wajah Xiao Jing, sehingga pemuda yang berada disampingnya menyadarkan nya dari haluan panasnya


“jangan melihat lebih dari 10 detik atau kau akan menyukainya,” imbuh Xin Qian mengikuti ujaran Jie Ru.


“Hahahaha, Da Ge kau sudah pintar rupanya, Sih badan besar ini ternyata menyukai Da Jie," balas Jie Ru tertawa lepas.


"A Ru jangan bertindak kurang ajar, Shi Xiong bukan si badan besar yang kau maksud itu," tutur Wei Heng yang menikmati wedang nya.


"Ooo" sahut Jie Ru menutup mulutnya.


Begitulah suasana dingin menghangatkan manusia yang tengah menikmati hujan yang sedang berproses.


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2