The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 15 - Kuserahkan Padamu


__ADS_3

...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


“Itu Saya," ujar Wei Heng menunjuk dirinya sendiri.


“Da ge? Wei Heng? Apa maksudmu Da ge?" tanya Di Lang dengan nada bingung.


“Nanti akan Saya jelaskan di Istana, Sekarang lebih baik kamu perbaiki kesalahanmu dengan Kaisar Zhang," ujar Wei Heng menunjuk jari kearah Kaisar yang masih ada di Perbatasan istana.


Di Lang dengan berat hati menerima perintah dari Wei Heng, Sebab itu semua adalah murni kesalahan dia yang tak sadarkan diri dibawah pengaruh monster Iblis, Ia berjalan kearah pintu gerbang utama dan langsung bersimbah sujud.


“Mau apa Kau masih ada disini, Apa masih belum cukup perperangan tadi?” bentak Kaisar Zhang dengan nada yang masih emosi membara.


“Maaf Kaisar Zhang, Bukan maksud kami untuk menyerang wilayah Anda, Tetapi Adikku ada di bawah pengaruh pencuci otak Monster iblis. Mohon Kaisar dapat memaklumi, sebagai ganti ruginya istana Ru akan mengadakan Perjamuan untuk membahas pertikaian ini hingga tuntas. Bagaimana menurut Zhang Wang?” ucap Wei Heng dengan penjelasan yang rinci dengan maksud memperbaiki pertikaian Kedua pihak.


“Baiklah, karena Anda sudah berniat baik untuk membantu menghentikan Perang, oleh karena itu saya menerima maksud baik anda," balas Kaisar Zhang menerima uluran tangan dari Wei Heng.


“Jika begitu, istana Ru menyambut Kaisar Zhang. Mingtian Chusen istana akan mengadakan perjamuan untuk menyabut kedatangan anda," ucap Wei Heng dengan kehormatan.


Mingtian Chusen \= esok hari, pukul jam 15/16 sore hari


“Hahaha, Anak muda yang bertanggung jawab," tawa Kaisar Zhang sembari menepuk-nepuk bahu Wei Heng.


“Bangunlah, renungkan kesalahanmu, untuk kali ini Saya maafkan dirimu atas hubungan baikku dengan Ayahanda mu serta pertimbangan dari Kakakmu," ujar Kaisar Zhang menepuk lengan Di Lang.


“Xie Zhang Wang," ucap Wei Heng dan Di Lang sembari hendak memberi hormat dengan Kowtow.



Kowtow\= Bentuk penghormatan yang tertinggi sebagai ucapan terima kasih, berserah diri atau memohon dan biasanya dilakukan pada sosok yang dihormati.


“Ehhh… Apa yang kalian lakukan, jika kalian Kowtow tanpa sebab itu hanya akan memperpendek umur saya, Berdiri Berdiri," ujar Kaisar Zhang mengangkat lengan Kedua Pemuda itu berdiri.


Lepas berpamitan dan permintaan maaf, Ketiga pangeran kuda kembali ke istana Ru untuk menegakkan misi selanjutnya.


Di Ruang Aula, Terlihat dengan jelas sosok dua dewi yang sedang bimbang dan gelisah layaknya menunggu pangeran pulang untuk menjemputnya, Seketika dewi itu tampak senyum sumringah ketika melihat sosok pemimpin yang baru selesai dengan perperangan, yang berjalan melintasi pintu aula kebesaran.

__ADS_1


“Er Geeee," teriak Ru Xiang berlari dengan langkah jingkak sembari memeluk kakak keduanya.


Sedangkan Chen Fei yang masih berharap kepulangan dari saudara seperguruannya yang dikabarkan telah mati dibunuh.


“Wei Heng, Jie Ru" ujar Chen Fei dengan tatapan kosong, Mengindai tatapan ke arah dua sosok pemuda yang sedang menitipkan tali kudanya ke prajurit penjaga pintu.


“Ha? Wei Heng, Bukankah mereka… Ha? Wei Henggg," teriak Ru Xiang dengan keras melepaskan pelukan Di Lang.


Buliran air mata yang mulai mengalir dari mata indah Chen Fei "Apakah ini nyata atau mimpi" setelah ia tersadar bahwa ini adalah nyata bukanlah mimpi.


“Apa yang terjadi dengan kalian berdua, Bagaimana bisa kalian...” Ucap Ru Xiang yang tak dapat menyambung lontarannya, ketika ia masih meratapi kematian mereka berdua dengan meneteskan air mata.


“Hei Hei Hei, Apa yang terjadi dengan kalian berdua? Mengapa Kalian menangis?" lontar Jie Ru yang bingung, Ketika menatap kedua wanita ini yang sedang menangis.


“Ku ku pikir Kalian akan me meninggalkanku di istana ini," rengek Chen Fei yang masih mengusap air matanya.


“Hahaha, Kita berdua tak akan begitu mudah mati, Bukankah begitu Da Wang?” sindiran Jie Ru dengan sengaja menyenggol lengan Di Lang.


“A Ru, Bie nao," ujar Wei Heng menggelengkan kepalanya.


Bie nao\= jangan berulah, jangan membuat masalah.


Kelima manusia itu sembari berjalan kearah Ruang Aula hendak membahas permasalahan dan misteri yang masih terpendam.


“Maksudmu Huanguang yang ini?” ucap Wei Heng dengan mengeluarkan kantung kain yang sudah dimantrai.


“Huanguang bukanlah seorang manusia, melainkan ia salah satu Si Xiong yang kita incar, Dan tujuan kami berkelana yahh mencari monster iblis ini. Sebelum mereka ditunggangi oleh iblis gagak yang sudah kembali bangkit dari alamnya," ujar Wei Heng panjang lebar menjelaskan.


“Jadi bagaimana Kalian bisa meloloskan diri dari pembunuhan itu?” ujar Chen Fei yang masih penasaran dengan pertanyaan yang baru ia lontarkan.


Sedangkan Di Lang tidak berani untuk menanggapi lebih lanjut, Sebab pertama ia termasuk salah satu pihak tersangka diatas pembunuhan yang terjadi meskipun dalam keadaan dipengaruhi oleh Monster Iblis. Dan yang Kedua, ia sama sekali tidak paham maksud mereka, Dengan siapa Wei Heng yang dimaksud.


“Ketika pembunuhan di hutan, Anak buah Xue Yang mati jatuh ke jurang dan kebetulan kami juga ikut jatuh ke jurang. Sebelum pada dasar jurang, Seorang Kakek tua yang menyelamatkan Kita. Ketika itu, Kami pergi ke jurang tempat jatuhnya kedua anak buah Xue Yang, dengan mengganti pakaian mereka dan menggunakan qi pembiasan wajah untuk menyiasati Huanguang, Begitulah ceritanya," papar Jie Ru yang menjelaskan segala taktik yang dipersiapkannya.


”Shanshen, panggil dia Shanshen , Dia itu bukan Kakekmu, Sangat tidak sopan," ujar Di Lang yang sudah mulai bosan dengan tarik ulur yang keluar dari mulut Jie Ru.


”Shanshen? Bagaimana Seorang Dewa hendak turun tangan untuk membantu kalian berdua," ujar Ru Xiang.


“Apa yang tidak mungkin? Afei apa kamu masih ingat dengan Penatua yang ada di bukit imajinasi," tanya Jie Ru pada Chen Fei.


“Ya”


“Dia adalah Shanshen, Dialah yang sudah menyelamatkan kita untuk kedua kalinya”.


Di Lang yang semakin bingung dengan pembahasan dan arahan yang tak ia mengerti. Dengan segala kesiapan hati dan batin, Ia dengan berani menyampaikan suaranya di atas kursi kebesarannya.

__ADS_1


“Da ge, Hari ini juga Takhta Kaisar, akan kukembalikan padamu. Saya tak mampu memimpin istana Ru dengan baik, Maafkan Saya," ujar Di Lang dengan menundukkan kepalanya.


“Tidak, Kursi Kaisar saya tak pantas memilikinya dan Plat Emas Naga akan ku kembalikan padamu Ru Xiang," balas Wei Heng mengembalikan plat emas itu.


“Kursi Kaisar hanya seorang keturunan yang bisa mendudukinya, Dan saya tidak pantas untuk menempatinya," ujar Wei Heng.


“ Da Ge, apa maksudmu? Kau seorang Putra Mahkota, Bagaimana mungkin Kamu tidak berhak atas Takhta Kaisar," ujar Di Lang.


“Bukan, Lihatlah baik-baik," ujar Wei Heng dengan menampilkan wajah aslinya, yang sebenarnya tak jauh berbeda dengan spesies Ru Xin Lang.


”APA!!! Kamu bukanlah Da Ge, Mengapa kamu tidak terkejut sama sekali Xiao Mei," ujar Di Lang yang melihat tak ada perubahan pada raut wajah Ru Xiang.


“Hahaha apa yang perlu dikagetkan, Saya sudah tahu dari awal. Dengan adanya bantuan Wei Heng, Er ge lebih cepat tersadarkan. Bukankah begitu teman?" ucap Ru Xiang merangkul tubuh Wei Heng.


“Hmm i iya," jawaban kaku dari Wei Heng yang merasa agak risih.


"Apa yang berbeda dari Wei Di, kamu masih memiliki mata yang biru dengan bibir kecil dan rambut putihmu," ujar Jie Ru memantau seisi wajah Wei Heng dengan teliti sambil bertolak pinggang.


"Kau bukan Wang Zi, Lantas kau itu siapa?" ujar Chen Fei.


"Sekali lagi kau bertanya, akan kusumbat mulutmu dengan Mantou," ujar Jie Ru sedang mengunyah Mantou di tangan kanannya.



Mantou\= makanan khas org china dengan isian daging dan sayuran, diindonesia disebutkan sebagai bapao.


“Lantas, Apa kamu bersedia menjadi Huanguang kepercayaan di istana Ru sembari mendampingi Saya?".


“Maaf Da Wang Bukan maksud ku untuk menolak, Tetapi masih ada penumpasan yang masih harus saya tindak lanjuti," balas Wei Heng.


“Jika Anda bersedia, Saudara saya sanggup menggantikan posisi Huanguang," ucap Wei Heng yang melihat kearah Jie Ru.


“Ohh Tidak tidak, Saya tak sanggup dengan posisi itu dan saya sudah berjanji akan ikut saudaraku pergi berkelana," ujar Jie Ru memegang lengan, sosok yang ada disampingnya.


“Da Wang, Kami izin pamit, mungkin setelah perjamuan dengan Zhang Wang. Kita bertiga sudah harus pergi dari istana untuk melanjutkan perjalanan," ucap Wei Heng.


“Begitu cepat, tak bisakah menetap lebih lama," papar Ru Xiang dengan nada kesedihan.


“Tidak Xiao Jie, kami telah melewatkan waktu yang begitu lama, setelah kami menjalankan tugas kami pasti akan kembali," balas Chen Fei memeluk Ru Xiang.


“Yang artinya Nona Chen Fei juga akan ikut pergi," raut wajah Di Lang yang mendadak berubah dengan raut penyesalan.


“Ya Da Wang”


Setiap pertemuan tetap ada perpisahan, pertemuan yang begitu cepat bahkan tak ada kata manis diantara kata pertemuan pertama, Begitu cepat berlalu hingga akhirnya berujung perpisahan. Kelima manusia yang masih setia di Aula, saling melepas rindu, Yang kemudian hari esok belum tahu kapan waktu nya mereka akan kembali bertemu.

__ADS_1


__ADS_2