
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
“A YI, Tugas kita sudah selesai, Kami bertiga izin pamit. Darao Yixia,” ujar Wei Heng berpamitan Dengan Gongshou.
Darao Yixia\= permisi, izin, pamit
(Gambar diatas hanya berupa ilustrasi)
Gongshou/ Zuoyi\= Tata krama dalam interaksi ketika saling bertemu atau izin pamit dalam etnis tiongkok dan perantauannya. Dengan kedua tangan saling menggenggam dan diangkat di depan badan dan memberi hormat kepada lawan bicara.
Dari belakang rumah, Seorang wanita dengan kocar-kacir membopong tas besar yang bermotif bunga putih menyusul ketiga temannya yang berkenan meninggalkan desa Jianchi.
“Wei, Wei Ge, Saya ikut dengan kalian,” Ujar Xi Xi mematahkan kesunyian dengan maksud perlarian merantau dengan ketiga pemuda tersebut.
“Xi Er, Apa kamu tidak salah meninggalkan A Niang sendiri?" tanya A Niang yang berdiri disamping anaknya.
“A Niang... Xi Er akan jaga diri baik-baik, Xi Er akan sering mengirim pesan untuk A Niang. Setelah Xi Er telah menyelesaikan tujuan, Xi Er akan kembali.”
“Tidak, Tidak, Kamu hanya anak satu-satunya, Bagaimana mungkin A Niang sanggup melepaskanmu. Tanpa kamu mengikuti Wei Xiansheng, Mereka cukup untuk melindungi diri sendiri,” Ujar A Niang membantah.
“Tidak A Niang, Xi Xi akan membulatkan tujuan Chen Jie semasa ia masih hidup,” papar Xi Xi dengan bersikeras.
“Baiklah, A Niang tidak dapat melarangmu. Kamu juga sudah besar bisa menjaga diri sendiri. Tapi satu permohonan dari A Niang. Wei Xiansheng, kuharap besok pagi kalian baru meninggalkan desa ini karena hari ini kalian harus menyicipi masakan terbaruku,” ujar A Niang yang mengedarkan pandangannya kearah tuan yang dimaksud.
“Yah A Yi” dibalas dengan anggukan Wei Heng.
“Wei Di, Apa kita harus menginap untuk semalam?" bisik Jie Ru di telinga Wei Heng yang dibalas dengan anggukan kepala.
Semangkuk Lianhua Tang tersaji diatas meja kayu yang sudah menjadi penopang disaat makan bersama.
__ADS_1
Dengan campuran biji kurma cina, gojiberry, kacang tanah dan sepotong ayam yang menjadi hidang sempurna.
Lianhua Tang\= Sup akar teratai
“Emmm A Yi Hen Xiang a,” ujar Jie Ru yang langsung mengambil sebuah sendok kayu.
Hen Xiang\= sangat harum, wangi semerbak
A Niang tersenyum lepas ketika mendengar lontaran berupa pujian yang keluar dari mulut Jie Ru.
Pergantian waktu pagi hingga sudah kembali pada malam, matahari yang sudah diambil alihkan oleh bulan. Ketukan suara pintu dari kamar, membangunkan ketiga manusia yang tertidur dengan pulas.
“A Yi, Ya ada apa?” tanya Li Wei yang mengucek matanya.
“Boleh A Yi masuk?” balas ibunya Xi Xi.
“Xiansheng, kumohon jangan bawa Xi Er pergi darisini. A Yi hanya punya seorang anak dan lagi A Yi takut, akan terjadi sesuatu yang buruk pada Xi Xi. A Yi mohon, jangan bawa Xi Xi,” mohon A Yi yang mulai mencairkan air matanya.
Wei Heng merasa iba dengan sikap baik A Yi, yang selama ini telah menampung mereka untuk tinggal bersama. Hingga ia tak dapat menolak dengan permintaan ibunya Xi Xi “A Yi kami tidak akan membawa Xi Xi, lagipula perjalanan kami terlalu sulit untuk ditempuh dan mungkin akan berbahaya untuk Xi Xi.”
“A Yi, Kamu tenanglah, Ketika waktu menjelang akan subuh kami sudah akan meninggalkan desa ini, sehingga Xi Xi tidak akan menemukan kami,” ujar Jie Ru memegang pundak A Niang.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
“Aiyaa sudah pagi,” sambut Xi Xi yang bangun dari malamnya dan sudah mempersiapkan diri.
Berlari kecil kearah kamar yang ada di ruang sebelahnya “Wei Ge, Jie Ge, Li Ge, Apa kalian sudah bangun?”
Tak ada sambutan hangat yang menjadi kebiasaan tiap pagi mereka ucapkan pada Xi Xi dan juga A Niang. Ia segera berlari kearah dapur mencari sosok ibunya.
“A Niang, Mereka semua pada dimana? Tidak ada yang menyahuti ku,” ujar Xi Xi dengan pertanyaan yang membuat ibunya gugup untuk berkata.
“Entahlah mungkin mereka sudah beranjak pergi,” jawab ibunya yang tidak berani menghadap ke tatapan Xi Xi.
“Apa!!! Bagaimana mungkin!” pekiknya dengan berlari kencang kembali ke ruang kosong itu.
Secarik kertas dengan lipatan rapi yang bertuliskan sebuah tulisan tangan yang teratur, diletakkan pada meja lampu.
Xi Xi ketika kamu melihat surat ini, kami pasti sudah pergi dari desa Jianchi. Jaga dirimu baik-baik disana, jangan merasa terbebani pikiran yang menjadi bebanmu, cukup ikuti kata hatimu. Chen Fei mati bukan karena dirimu jangan merasa insiden ini adalah semua kesalahanmu. Jaga A Niang dengan baik-baik, jika ada waktu kami akan menjengukmu dan membawamu menjelajahi dunia. Ini akan menjadi niat kami bertiga.Orang bijak selalu menepati janji, tapi orang paling bijak adalah yang berhati-hati sebelum berjanji. tapi pembuktian lah yang paling penting" TERTULIS WEI HENG, LI WEI, JIE RU❤️
__ADS_1
Tangisan Xi Xi berderai keras, seakan-akan mereka mengerti dengan perasaan Xi Xi yang terbebani dengan misi Chen Fei untuk membasmi kan Si Xiong, yang kemudian ia bertanggapan untuk menggantikan Chen Fei mencari monster iblis.
“Xie Xiansheng, Kalian harus kembali dalam keadaan selamat. Saya akan menunggu janji kalian membawaku menjelajahi dunia,” ujarnya memeluk secarik kertas itu.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
“Aiyoo, matahari semakin tinggi semakin panas, Seandainya di seberang sana ada lautan pasti sudah akan kuceburi tubuhku hingga tak akan beranjak,” gurau Jie Ru memapah tas serutnya.
“lebih baik kita tinggalkan kau seorang di semak ini, terlalu banyak bicara lambat berpikir,” canda Li Wei.
Jie Ru merasa tidak senang dengan gurauan yang ditimpakan kepadanya “Hei Hei Li Xiong, jangan mentang kamu sudah bersama kami, kamu semakin semena-mena mengatai ku ya.”
Wei Heng seorang pemuda dingin hanya tertawa melihat tingkah laku keduanya, yang dipikirkannya ternyata Shi Xiong nya adalah seorang yang cukup ceria dengan gurauan yang tak masuk akal. Bagaimana mungkin ia akan meninggalkan Jie Ru seorang diri ditengah-tengah semak belukar yang menutupi perjalanan panjang yang akan kembali ke kota Pai Tian.
Niatnya kembali ke kota Pai Tian yang sudah lama ia tinggali, untuk menemukan seorang pemuda yang masih tertinggal dikota itu.
“Aiyahh, kembali lagi ke kota Pai Tian,” papar Jie Ru bukan dengan raut wajah yang senang.
Kesuramannya akan kembali melanda dirinya jika ia terus bersama dengan Wu Hui. Tapi apa boleh, Wei Heng masih memikirkan keselamatan teman seperguruan yang tertinggal sewaktu perjalanan mencari Qiong qi.
“maaf Xiansheng, Ada yang bisa saya bantu?" tanya bos penginapan Bianhua kepada para pria itu.
"Aiyooo...Das Shu, ternyata kamu sudah lupa dengan kami," gurau Jie Ru.
"Anak muda, pelanggan ku sangat banyak, tak mungkin saya yang sudah tua ini masih sanggup ingat dengan wajah kalian satu per satu," balas pemilik penginapan.
“Da Shu, Apa kamu melihat teman kami yang berwarna rambut merah dengan ikalan rambut kuda?” balas Jie Ru yang memperagakan gaya rambut Wu Hui.
“Oohhh… Dia sudah pergi sejak kemarin, tinggal sisa barang tas itu yang ia tinggalkan kepada kami,” jawab pemilik penginapan mengarahkan pada tas Chen Fei dan Wei Heng yang ada di rak lemari penitipan barang.
“tas Chen Fei masih tertinggal disana, Wei kamu pergi simpan tas peninggalan Chen Fei kemungkinan masih tersisa barang berharga didalamnya,” papar Li Wei kepada Wei Heng.
Dibalik badan tegap Li Wei, masih berdiri Jie Ru yang masih mengusap dadanya dan bernafas lepas ketika mendengar jika Wu Hui sudah tidak ada di kota ini.
“Hahaha, Apa yang terjadi padamu? Ngapain kau dari tadi mengusap dadamu? Apa dadamu sudah membesar hingga kau terus mengusapnya,” tawa gelak Li Wei.
PLAKKK, Pukulan keras telapak Jie Ru pada punggung belakang Li Wei yang sedang mengibulinya.
Sedangkan Wei Heng tidak meladeni gurauan kedua pemuda itu, Ia masih memeriksa barang kenangan berharga milik mendiang Chen Fei. Dan ia menemukan beberapa surat yang diikat rapi dengan sebuah tali yang berwarna merah.
Ia membuka isi surat itu kemudian membacanya dengan penuh hayatan mendalami maksud dari isi surat tersebut. Genangan air matanya kembali terurai di pelupuk matanya ketika mendengar isi hati Chen Fei yang teruntuk nya.
__ADS_1
Wei… Saya sudah memperkirakan hidupku tidak akan sanggup menemani kalian mencari Si Xiong, Sebab tiap malam saya selalu bermimpi buruk seekor harimau akan datang menerkam ku. Oleh karena itu, Saya tumpahi semua perasaan ku pada isi surat ini, Jika kamu menemukan surat ini mungkin saya sudah ada di alam lain. Terima kasih untuk semua pengorbananmu, jika tanpamu hidupku akan selalu kesepian dan merasa bersalah. Maaf Wei yang sudah membohongimu sejak awal, tetapi mengenai perasaan saya tidak pernah berbohong Wei. Kamu pantas mendapatkan wanita yang lebih baik dariku. Untuk itu, Saya tidak berani untuk mengungkapkan perasaanku, Sudah begitu lama saya menyimpan perasaan ini untukmu tanpa ada yang bisa menggantikannya. Dan juga terima kasih untuk pemberian tusuk konde mu. Tak mengapa jika Kamu tidak mampu menggangapku sebagai pasanganmu hidupmu, untuk menjadi seorang temanmu pun saya sudah sangat bersyukur, Terima kasih Wei. TERUNTUK WEI HENG DARI CHEN FEI.