
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
“Kalian pertimbangkan dengan baik, Saya pergi menyusul Wei Heng,” pamit Senlin Shen yang hendak mendeportasi hayatnya.
“Shen Xian tunggu! Saya akan ikut bersama mu,” Kilah Jie Ru menyambar lengannya.
“Tidak Tidak! Si pemuda dingin itu telah memerintahkan ku untuk tidak membiarkan kalian melangkah sedikit pun dari wilayahku!” celetuk Dewa Hutan yang tak ingin disalahkan Wei Heng jika ia masih hidup.
“mengapa Kau seorang dewa besar hendak takut dengan perintah manusia,” bantah Jie Ru yang cukup masuk akal.
Seketika benak Senlin membeku, Daya pikir nya tidak menangkap jika pemuda sakit jiwa ini akan menanyakan persoalan yang sulit untuk dijawab.
“Hmm… Haa… Hmm… Ahh sudahlah, Kau mau saya pergi menjemputnya atau tidak!” potong Senlin yang kehabisan jawaban.
SIUNGG, Tubuhnya bak angin menteleportasikan raganya secepat kilat.
“Hahaha, Kau sedang tidur?” ucap Kakek berjanggut ini yang meneliti Wei Heng dari jauh.
Tak ada sahutan ataupun tak ada argumen yang menimpali sambutan Dewa Hutan yang menyindirnya. hanya penggalan daun kering yang menyisir wajah putihnya.
“apa kau sudah mati?” cetus Senlin Shen meneliti
mimik Wei Heng.
Masih tak ada balasan yang menanggapi pertanyaan buruk Shen Xian satu ini.
“Ohooo… ternyata kau sudah mati rupanya, baguslah jadi saya hanya perlu mengabarkan kematian mu kepada teman gilamu itu, jika kau sudah bersisa tengkorak hidup yang tergeletak mengenaskan,” tanggap Senlin dengan ide mujarab.
“Apa kau tidak senang melihatku tidur sejenak!?” gerutu Wei Heng membuka mata yang langsung menyorot tajam ke arah teman dewanya.
“Hahaha, kupikir kau sudah mati, jadi jangan salahkan aku,” seru Senlin seraya memeriksa keadaan nadi pemuda yang sudah berganti rambutnya menjadi semula.
__ADS_1
Sebab jika energi spiritualnya melemah maka batu giok tidak akan berefek apapun, pada segala perubahan yang dilakukannya. begitu juga dengan corak rambut Jie Ru yang sudah kembali menghitam karena efek sihirnya telah menghilang.
“lepaskan tanganmu dari ku!” hempas Wei Heng yang tidak ingin diperiksa kondisi keadaan nya.
Pelemahan tanaga dalamnya mulai beraksi di dalam aliran inderanya, pendengarannya mulai kabur seiring berjalannya waktu. Meski ia masih dapat menangkap isyarat mulut lawan ketika sedang berbicara, tetapi sudah sangat sulit untuknya mendengar suara yang sedang berbincang dengannya.
“Ada apa denganmu? Kau tak apa?” tanya Senlin mulai khawatir.
Wei Heng hanya menanggapi dengan henyakan tangan yang menyuruhnya untuk meninggalkan ia sendiri. Bukan karena ia angkuh tak ingin dibantu oleh orang lain, tapi ia lebih sadar diri jika penyakitnya akan sulit untuk diobati dan tak ingin menyusahkan orang lain.
Tanpa disadari Wei Heng, Senlin sudah mengenggam nadinya tanpa ada perlawanan dari Wei Heng memang sedari sudah melemah.
DEGHHH, pelumpuhan seakan menjadi penyakit mematikan yang harus diterima oleh seseorang yang berilmu tinggi, sebab Lin Dan ataupun energi tenaga dalam nya akan hancur lebur mengikuti arus waktu.
“Kau masih dapat mendengarku,” tanya Senlin kepada pria lemah itu, harapnya jika Wei Heng akan menjawab kata “IYA” untuk memastikan.
Lain jawaban yang diberikan Wei Heng lewat mulutnya, ternyata ilmu iblis Singa cukup kuat untuk melemahkan energi sarafnya.
“tolong jangan katakan pada Jie Ru dan lainnya,” mohon Wei Heng yang sudah tersedak darah karena terlalu banyak bicara.
“ini, Makan obat pil ini,” beri Dewa dengan obat yang sama, seperti yang pernah ia berikan pada Jie Ru untuk mengobati rasa sakit kaki nya yang terkena sisa racun Hua Kui.
Seteguk pil ia tanamkan bercampur dengan saluran darahnya yang menusuk kulitnya.
“obat ini tak akan bertahan selamanya, hanya akan menyokong ragamu selama Yi Ge Yue. lewat dari itu, efek racun iblis itu kembali menyengat tubuhmu,” ujar Senlin.
Yi Ge Yue\= 1 bulan
“Xie Senlin, dengan waktu itu saya sudah sanggup mengumpulkan kembali Si Xiong,” imbuh Wei Heng yang sudah menerima kembali indera pendengaran nya.
“kembali lah, Jie Ru dan lainnya Sudah menunggumu, dan masih ada hal penting yang harus kau urus.”
“begitu banyak masalah, tidak ada hari damai untuk kehidupanku,” rengek Wei Heng.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
“Wei Di! Bagaimana dengan kondisimu? Apakah ada yang terluka,” panik Jie Ru.
“You Zhi, bagaimana mungkin orang bertarung tanpa ada yang terluka,” ujar Wei Heng tersenyum kaku.
__ADS_1
You Zhi\= perilaku kekanak-kanakan.
HAAA, Nafas lega melihat saudara dekatnya sudah kembali dengan selamat tanpa ada kekurangan apapun, yang mereka lihat dari tampilan luar jika Wei Heng masih dalam keadaan normal. Belum tahu setelah 1 bulan kedepan, apa yang akan terjadi menimpa Wei Heng.
“Bagaimana dengan Da Jie, apa ia masih bisa kembali?” ujar Wei Heng.
Yang ditanya hanya menyesuaikan dengan suasana suramnya Hutan yang memuncak keheningan.
“Bisa, Da Jie bisa kembali,” ujar lantang Xin Qian dengan kukuh.
“caranya?” tanya lagi Wei Heng dengan gelagat bodoh.
“ikut aku,” pinta Senlin Shen yang sudah tak tahan dengan sikap palsu Wei Heng.
Satu jam lamanya, kedua nya saling berbincang dengan solusi dan jalan keluar lain, yang memang hanya inilah keputusan terakhir yang harus dilalui. Percekcokan antar kedua Dewa ilahi ini masih saling membahas cara lain untuk menyelamatkan hidup Xiao Jing yang mungkin sudah sampai di gerbang neraka.
Dalam mitologi China, seseorang yang telah meninggal keduniawian, harus melewati proses jalan neraka untuk mengintai proses kehidupannya selama ia masih hidup. Jika dirinya benar-benar bersih maka ia akan dibebaskan dari siksa neraka.
Langit sudah mulai berkabut, karena di Hutan Cahaya Bintang tidak akan pernah diterangi oleh cahaya matahari. Hanya berdasar dari sebuah kristal warna yang akan menunjukkan waktu tepatnya di dunia manusia.
Para anggota pendekar itu sudah terlarut dalam mimpi, merebahkan otak dan pikiran yang kemudian diesok harinya harus memberi keputusan tepat. Apakah Xin Qian yang harus dikorbankan ataukah Xiao Jing yang selaku akan meninggalkan dunia fana.
Xin Qian melayap pelan ke singgasana Senlin Zhi Shen yang sedang bermeditasi memusatkan pikiran “Shen Xian… untuk terakhir kalinya saya Xin Qian membutuhkan pertologanmu.”
“Tolong selamatkan Xiao Jing!” ujar nya dengan nada tersendat.
“apa kamu sudah yakin?” imbuh Senlin.
“Hmm… tapi masih ada satu permintaanku sebelum saya bertukar posisi dengan Xiao Jing.”
“Shen Xian… bisakah kamu membawa ku terbang kembali ke Desa He Ping untuk memberikan penghormatan terakhir kepada orang tuaku?” mohon Xin Qian untuk terakhir kalinya.
“Anak yang berbakti, pantas mendapat yang terbaik, jika Lao Tian Ye tidak membantu, maka Saya yang akan mengabulkan permitaanmu,” jawab Senlin Shen terharu.
...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...
“Lao Ba… ini adalah penghormatan terakhir dari Xin Qian anakmu, selanjutnya Saya akan menemani di duniamu, tunggu aku Lao Ba,” hormat Xin Qian dengan Kowtow.
Lao Ba\= panggilan kepada ayah yang sering didengar dalam Bahasa percakapan sehari-hari. Secara harfiah Lao berarti tua sedangkan Ba berarti Ayah.
__ADS_1