
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
“Pencuri, Pencuri kembalikan emas ku, Kejar pencuri itu,” ujar seorang wanita muda yang berlari dari tampak jarak yang masih jauh.
Seketika pemuda berbaju hitam itu sudah menghilang bayangan dipersimpangan jalan.
Wanita muda yang sedari tadi menjerit tak menentu, alhasil nya pencuri itu tetap menghilang. Wanita yang penampakan fisiknya begitu rusuh tak jauh berbeda persis seperti Wei Heng yang pertama kali ke sekolah Qi Jing.
“Kenapa kalian tidak mengejarnya?” Bentak wanita itu yang merasa Wei Heng tak ada tindakan pengejaran pencuri itu.
Wanita itu terkulai lemas di bawah lantai batu, disertai tangisan bening yang mengalir di pelupuk matanya. Mata wanita muda yang bermanik abu-abu dengan sedikit sayu atas tangisannya yang dari tadi tak berhenti.
Kini ketiga manusia itu ikut terduduk di lantai, tanpa menoleh ke perkumpulan penduduk yang mulai mengerumuni hendak mencari tahu masalah apa yang sedang terjadi.
“Kalian apakan nona itu, Mengapa ia tak berhenti menangis,” ujar seorang bibi tua yang membawa keranjang sayurnya
“Maaf Ayi, Adikku tersandung jadi dia menangis,” ujar Chen Fei mengalihkan kenyataan.
Ohhh Begitu rupanya, kerumunan penduduk kota itu kembali menjalankan aktivitasnya seperti semula tanpa memperdulikan kenyataan yang sebenarnya terjadi.
“Maaf nona, Kami tidak tahu jika pemuda itu adalah seorang pencuri,” ujar Wei Heng yang hendak berdiri.
“Ya tak apa, Bukan salah kalian. Mungkin sudah takdir Lao Tian Ye jika emas itu harus hilang di tangan pencuri itu."
Wei Heng merasa ada suatu kejanggalan terhadap wanita muda itu, sebab wanita rusuh dapat dikatakan dari kalangan kaum bawah tetapi bisa semua emas yang mahal harganya “Darimana, ia bisa memiliki sebuah emas,” gumam Wei Heng dalam hati.
“Maaf nona, Kalau boleh kami tahu siapa namamu dan hendak apakan anda dengan emas itu?" ujar Wei Heng dengan sopan.
“Saya Xi Xi, Rumah ku ada di bawah jembatan Zang Jiao dan emas itu saya dapatkan dari…” lirih Xi Xi yang merasa tak pantas untuk melanjutkannya.
Zang Jiao\= Jembatan yang dipenuhi dengan bukit sampah
“Katakan, kita akan membantumu,” Ujar Chen Fei yang mengelus anak rambut Xi Xi layaknya seorang kakak yang menyayangi adiknya.
Tetapi dari garis wajah kelihatan Xi Xi yang lebih muda dari Chen Fei yang sekitaran umur baru menanjak Shiqi Nian.
Shiqi Nian\= 17 tahunan
__ADS_1
“Saya mendapatkannya dari melayani Shaoye yang ada di istana Maiyingong."
Wei Heng begitu terperanjat emosi seketika, setelah mendengar kata Maiyingong yang langsung terbesit di pemikirannya adalah Huakui yang meloloskan diri.
“Siapa yang menawarkan mu untuk kesana, Kau itu masih muda buat apa kau kesana,” sentak Wei Heng dengan raut yang lebih tegas.
Xi Xi begitu ketakutan mendekam ke pelukan Chen Fei, Ketika Wei Heng menanyakan sebuah pertanyaan dengan wajahnya yang lebih sangar.
“Wei,” panggilan untuk menenangkan pikiran Wei Heng.
“Xi Xi kamu boleh memberitahu kepada Jie Jie,” ujar Chen Fei dengan nada pelan.
Jie Jie\= panggilan untuk sebutan kakak perempuan
Xi Xi yang mulai terbuka hati nya untuk memberitahukan siapa yang menawarinya “Saya ditawari oleh seorang wanita dengan pakaian yang sangat terbuka dan ia menawariku untuk menjadi pesuruhnya, maka ia akan memberikanku emas yang sangat banyak."
*Ter**nyata kelakuan Huakui untuk mencari mangsa melewati korban lain*.
“Untuk apa orang sepertimu menginginkan emas yang begitu banyak,” lontar Wei Heng dengan raut wajah yang garang.
“Ya, Saya memang terlahir dari kalangan bawahan tapi saya masih punya harga diri, Jika bukan untuk pengobatan A Niang saya tidak akan melakukan pekerjaan itu,” ujar geram Xi Xi yang sudah tak dapat menahan amarahnya.
Tatkala itu juga, hati Wei Heng luluh atas lontaran makian yang keluar dari bibir Xi Xi, Setelah itu Wei Heng bukan hendak marah tetapi lebih terniat untuk menolongnya “A Yi sakit apa?”
“Sebaiknya Jie Jie dan Xiansheng ikut denganku,” lontar Xi Xi yang membawa jalan.
Xi Xi mengarahkan kedua manusia yang baru ia kenal ke kediamannya, Setapak demi setapak mereka lalui. Perjalanan dari kota ke rumah Xi Xi cukup dapat dibilang begitu jauh. Jalan kota Pai Tian yang mulus semakin dalam menuju jembatan Zang Jiao maka semakin berbatu. Membuat Chen fei yang belum terbiasa merasa kesusahan, ditambah dengan aroma tak sedap dari bukit sampah yang mulai tercium di pojok pemukiman jembatan.
Chen Fei yang merasa sulit dengan Hanfu nya yang merosot sampai mata kaki, hingga dirinya hampir terjatuh dalam tepian sungai kecil yang diselimuti berbagai macam jenis pembuangan.
“Xie,” balas Chen Fei memegang lengan Wei Heng.
“Xiansheng, Jie Jie ini rumahku,” tunjuk Xi Xi ke sebuah rumah yang hampir runtuh.
Seluruh pemukiman ini tak pantas ditinggali oleh manusia, begitu buruk di pandangan manusia yang berada. Hilir sungai yang terhambat sampah, kediaman yang remuk redam, begitu juga sosok manusia yang begitu kacau balau jika dilihat oleh penduduk kota.
Seluruh tatapan penduduk Zang Jiao menatap Wei Heng dan Chen Fei dengan tatapan yang mengintimidasi, Sebab sudah terlalu lama pemukiman ini tidak kedatangan seorang tamu berada yang tampak dari pakaian nya yang lebih mewah.
“A Niang kita kedatangan tamu,” ujar Xi Xi berlari kecil memeluk ibunya.
Seorang wanita tua yang memakai topi hitam yang berwarna senada dengan pakaiannya, yang berkenan memasak bubur untuk makan malamnya “Sejak kapan rumah kita kedatangan seorang tamu?”
Wei Heng tampak heran dengan penduduk yang ada di jembatan Zang Jiao, rata-rata masih berumur setengah abad tetapi kerutan di dahinya sudah menunjukkan umur hampir dua kali lipat dari umurnya.
“Apa kamu merasa tempat ini sedikit aneh?" ujar Wei Heng yang berjalan ke arah pemukiman itu.
“ada apa?” ujar Chen Fei yang menatap bingung Wei Heng.
__ADS_1
“Rata-rata umur mereka hanyalah setengah abad tetapi garis wajah mereka begitu tua muram, Bahkan Shan Shen yang sudah hidup berabad-abad lebih muda dari mereka semua."
“Dan saya merasa semua penduduk disini kebanyakan adalah orang tua."
“Xi Xi, mengapa disini semua hanya orang tua, kemana semua anak-anak mereka dan dimana teman-temanmu? tanya Chen Fei yang masih penasaran.
“Iya semua manusia disini berubah menjadi tua,” ujar Xi Xi yang hendak mengulang cerita di masa lampau seraya membawa kedua sosok tamu mengarungi tepian sungai.
Dulu jembatan Zang Jiao adalah sebuah desa yang bernama Jianchi yang artinya ketekunan, semua hidup berdampingan saling membantu, bahkan begitu menghormati para leluhur dan dewa dewi langit. Sebuah Kuil naga yang melambangkan keberkahan Desa Jianchi, Setiap tahunnya Desa ini selalu diberkahi dengan kekayaan yang melimpah baik dari panen maupun penghasilan di desa, Hingga kejadian itu terjadi ketika seorang kepala desa yang berhidung belang menyukai wanita penggoda seperti wanita penghibur di Maiyingong, bahkan kepala desa dengan teganya membunuh istrinya sendiri untuk mendapatkan seorang wanita penghibur yang ia bawa dari istana bunga.
“Xi Er, Cepat bawa temanmu ikut bergabung makan bubur ini sebelum dingin,” potong ibu Xi Xi yang membawa nampan berisi bubur di sebuah meja kayu yang tampak sudah tua.
Er\= kata pelengkap untuk seorang anak
“Baiklah A Niang,” sahut Xi Xi yang ikut berteriak.
“Xiansheng, Jie Jie sebaiknya kita makan sebelum buburnya menjadi dingin,” ajak Xi Xi yang kembali ke dalam rumah.
Ketiga manusia itu kembali berjalan ke kediaman Xi Xi yang sudah ditunggu A Niang sedari tadi.
“Xi Er jangan berkata apapun kepada orang yang baru kamu kenal, Setelah itu bawa kembali tamu itu pergi” ucapan sindiran dari mulut A Niang.
Tatapan A Niang seakan menerkam siapapun yang hendak mengetahui masa lalu Desa Jianchi, ketidakpercayaan yang menyertainya sudah terlalu dalam. Seakan ia mengalami masa trauma untuk mempercayai orang luar.
Sedangkan Wei Heng dan Chen Fei yang masih mengamati bubur yang dimeja hingga membuatnya tak bisa berpikir jernih, bagaimana manusia bisa dikatakan merasa kenyang hanya melahap bubur ini.
“Fei, saya akan pastikan A Ru tak dapat hidup disini,” ujar Wei Heng yang masih menatap bubur itu.
“Hahaha, mungkin iya."
Setelah mereka melahap habis bubur itu sebagai tanda penghormatan, Wei Heng menyerahkan makanan dan jajanan yang ia beli sejak tadi.
“A Yi ini ada sedikit makanan untukmu?” ujar Wei Heng memberikan dengan rasa hormat.
“Xie."
Wei Heng dan Chen Fei yang sudah mulai terbiasa dengan sikap perangainya, hanya bisa berdiam dan menurutinya.
“Kalau begitu kita pamit,” lanjut Chen Fei.
Chen Fei menarik tangan Xi Xi yang hendak ia tanyakan dengan ribuan pertanyaan yang masih terngiang di otak nya.
“Xi Xi sejujurnya A yi sakit apa? Daritadi kami lihat ia seperti manusia pada umumnya,” ujar Chen Fei.
“ketika kalian melihat A Niang mungki ia masih bersikap seperti biasa, jika sudah mendekati waktu Wu Ye maka A Niang akan meringis kesakitan di sekujur tubuhnya,” ungkap Xi Xi yang mempraktekkan ketika ibunya kesakitan.
Wu Ye\= tengah malam
__ADS_1
“jika kamu bersedia, kamu bisa menceritakan segalanya kepada kami. Barangkali kami dapat membantumu,” ujar Chen Fei.
Kepercayaan yang telah dibuat runtuh oleh A Niang, Sekarang tumbuh kembali setelah ia merasa penolongnya telah tiba untuk menolongnya.