The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 46 - Saya Dikerjai!!!


__ADS_3

...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


“Jie Ru cepatlah! Kau lama sekali,  Buat apa kau masih berdandan?” Teriak Li Wei yang sudah berdiri di depan pintu bersama Wei Heng dan Xin Qian.


“Hei Saya tidak berdandan! Kau pikir aku wanita!, Biar kau tahu saya sudah tampan sejak lahir,” muji Jie Ru.


Ternyata yang dilakukan Jie Ru dari belakang rumah, tengah membantu Xiao Jing mengisi air tong sampai terisi penuh.



Dahinya dipenuhi dengan peluh yang membanjiri wajah manisnya. Wei Heng yang melihat hal itu, mengambil sebuah kain tangan dari balik sakunya, mengelap nya pelan hingga wajah Jie Ru bersinar kembali.


“Xie.” Ujar Jie Ru.


Wei Heng yang menerima ujaran terima kasih itu, hanya tersenyum menganggukan kepalanya. Xin Qian yang menafsir jika laki-laki itu harus menjadi pria tangguh, mengamati pemandangan yang ada dihadapannya, membuatnya merasa geli jika diharuskan mengamati kedua pemuda yang saling membalas kasih “Hee, Kalian berdua itu pria, jangan mengotori mataku dengan kemesraan kalian di depan mataku. Jika sekali lagi kulihat kalian begitu, Saya dan Li Wei akan gantung kalian di atas pohon air terjun itu, kutelanjangi kalian berdua biar sadar diri jika kalian berdua itu pria,” hardik Xin Qian yang membalikkan badannya.


“Aiyahh Da Ge ini bentuk persahabatan, apa kau tidak tahu itu arti persahabatan, Pantesan kalian berdua seperti pria tak normal, Hahaha,” ledek Jie Ru mengarah jari ke Li Wei bergantian ke Xin Qian.


“Sialan kau!” maki Li Wei.


“Haiyaa, jika dibahas terus, Kita tak akan sampai ke pusat pasar,” ujar Wei Heng memotong perdebatan.


Hari sudah semakin sore, kabut kuning kejinggaan mulai melayang pelan diatas kepala matahari, keempat manusia ini masih bertumpu memapah keranjang rotan yang dijadikan sebagai tas pengisi Tudou.



“Semakin sore semakin panas, Aiya Lao Tian ye ã Lao Tian Ye, lebih baik hujan daripada panas,” gerah Jie Ru mengibas-ngibas lengan bajunya.


“Hati-hati dijalan, jangan terlalu malam pulang,” imbuh Xiao Jing yang sedang menyiram tanaman anggrek bulan.



Setelah cukup berpamitan, keempat pemuda tersebut beranjak turun bukit menuju ke pusat kota untuk mencari pendapatan hidup. Matahari yang semakin menguning membelakangi mereka yang sedang berjalan turun.


“Wei Di Lihat, bayangan mu sangat tinggi diantara kita semua,” unjuk Jie Ru.


“Iya kau juga tak kalah jauh tinggi dariku,” ujar Wei Heng.


“Ben Dan! Umurmu bahkan sudah pantas untuk menikah, Kau masih melontarkan pernyataan bodoh seperti itu” Sindir Li Wei yang berada di posisi sebelah Wei Heng.


Ben Dan\= idiot, bodoh, kekanak-kanakan.


“Ckck, bilang saja kau iri, manusia yang salah berkembang, dimana-mana orang tumbuh keatas bukan kesamping,” ledek Jie Ru.


“Sialan anak nakal ini, tak bisa kau sedikit hormati aku sebagai senior mu!?" maki Li Wei memukul punggung Jie Ru lewat belakang Wei Heng.


Atmosfer perjalanan mencair hangat ditimpali candaan dan gurauan yang saling berargumen, dibalik itu seseorang yang tengah mengintai dibalik cermin iblis dari sihir gagak terlihat jelas, Jika mereka cukup bahagia tanpa ada kehadiran nya yang menjadi pengganggu.

__ADS_1


UAKKK UAKKKK, burung yang bersemedi dibalik ranting pohon menerjang tinggi ke atas, terbang kearah tanpa batas, meninggalkan jejak bulu hitamnya dan suara melengking yang menyadarkan jika ada seseorang dibalik bukit ini yang sedang mengamati pergerakan keempat pemuda itu.


“Hati-hati! Ada yang sedang mengintai,” tanggap Wei Heng meninjau sekelilingnya.


Bulu hitam yang terjun mengayun jatuh tepat diatas kepala Xin Qian “Bulu gagak,” ujar Li Wei memungut bulu itu dari rambut Xin Qian.


“maksudmu iblis gagak sedang mengikuti kami?” tanya Xin Qian yang sudah mengetahui cerita perjalanan ketiga pemuda ksatria ini.


Isyarat kepala membenarkan pertanyaan Xin Qian yang cukup peka dalam kondisi bahaya.


"Tetap berjalan dan saling mengamati kondisi sekitar,” ujar Li Wei.


Perjalanan dari Desa He Ping menuju pusat kota termasuk dalam kata “Aman” meski sempat terjadi sebuah permasalahan ditengah jalan.


“Woahh Kalian cukup beruntung, Hari ini ada pesta tahunan, setiap wanita cantik akan berdandan cantik dan menari di tengah bundaran panggung itu,” ujar Xin Qian menatap sekumpulan gadis cantik yang tengah berbaris mengikuti lomba ajang bakat.


“Ihhh kau sungguh genit,” ledek Jie Ru.


“Hei Saya masih pria normal, Masih menyukai wanita, mana tahu dari salah satu diantaranya ada yang kepincuk dengan tampangku, Hahaha,” muji Xin Qian.


Jie Ru hanya mendengus kesal dan kembali pada tujuan awalnya, menjual Tudou dan mengambil sejumlah koin untuk diberikan kepada Xiao Jing.


Di tengah alun atas panggung itu, tengah ramai penduduk yang terlarut dalam permainan para gadis kota itu. Semua tampak menarik mata dan hati para pemuda, bahkan yang sudah beristri pun ikut andil meramaikan suasana panggung.


Menari, bernyanyi, memainkan karakter China serta memainkan alat musik tradisional Tiongkok yang bersenar tujuh Guqin sudah mahir ditangan para wanita itu.


Ketiga manusia yang masih membopong keranjang berisi kentang, lupa akan tujuan mereka turun gunung, menikmati alunan musik yang dipetik dari Guqin membuat mereka terlena dalam penghayatan setiap bait. Sedangkan pria tinggi ini masih kesal dengan temannya yang masih berdiri di posisi tanpa bergelak, Bahkan Wei Heng ikut lupa diri mengikuti syair petikan alat panjang itu.


“Aiya Mai Tudou õ, Silahkan dipilih, Silahkan dipilih. Besar, dan tahan lama,” teriak keras Jie Ru yang sengaja membuyarkan ketiga manusia itu.


Mai Tudou\= menjual kentang


Pemuda lainnya mengikuti gerak gerik Xin Qian yang menyerakkan kentangnya di bawah pinggiran jalan bersama dengan pedagang lainnya. Jie Ru tersenyum sinis melihat gerak gerik mereka yang malu pada sikapnya.


“Mai Tudou, Mai Tudou, Nyonya-nyonya silahkan dipilih Tudou nya, masih segar habis panen dari desa,” teriak Xin Qian menimpali teriakan Jie Ru.


Li Wei hanya berdiri kaku bersembunyi dibelakang tubuh Wei Heng, yang tak sanggup menutupi seluruh tubuh nya yang besar berisi.


“Shi Xiong… Sedang apa dirimu?” ujar Wei Heng yang agak risih dengan kelakuan kakak seniornya yang sedang mengintip pengunjung dibalik badannya.


“Saya malu jika berhadapan dengan wanita disini,” lagatnya yang malu jika ia harus bertemu dengan wanita di daerah sini, perihal ia mengenakan pakaian yang cukup mewah untuk dikatakan seorang pangeran, tetapi malah berjongkok mengikuti kawanan itu menjual kentang, Mau taruh dimana mukanya.


“Haisss” nafas panjang dari mulut Wei Heng, ternyata kakak seniornya adalah seorang yang pemalu meski ia berbadan gagah.


“Jie Ru, tidak ada pembeli, semua pengunjung lari kesana, jadi bagaimana Tudou ini bisa laku?” tanya Xin Qian yang sudah lelah berteriak.


“Hahaha, Saya punya ide,” senyum seringai penuh siasat.


“Mai Tudou Loh, mari beli, silahkan dipilih, siap beli kakak tampan ini akan menari di alun kota,” teriaknya menarik segerombolan pengunjung yang sedang menikmati tontonan wanita itu, segera beralih ke para pemuda tampan yang berjongkok menjual hasil bawaannya.


“Aduhh, Saya bisa gila melihat tingkah laku bocah itu, Mau kutaruhkan dimana wajahku,” Gumam Li Wei.


“Mana? Dimana pria tampannya?” tanya salah seorang wanita yang kira-kira hampir sebaya dengan usia Jie Ru.



“Hahaha, bukankah saya adalah pria tampannya?” ujar Xin Qian dengan bangga.

__ADS_1


“Shen Jing Bing, lebih baik kubawa pulang pemuda yang ada disampingmu daripada harus membawa dirimu,” maki keras wanita itu.


JLEEBBB, Hatinya bagai ditusuk jarum, sakit tapi tak berdarah yang sedang dirasakan oleh Xin Qian Ketika ditolak mentah-mentah oleh seorang wanita.


Jie Ru yang mendapat pujian itu, tersenyum-senyum sendiri, jika ia masih dikategorikan sebagai pemuda pujaan para wanita.


“Xian Sheng apa benar? Jika kami semua membeli Tudou ini, kamu akan menari diatas alun kota?” tanya malu wanita dengan rambut sanggulan, menenteng seuntai selendang merah jambu.



“Hahaha, Bukan saya tapi pemuda itu yang akan menari,” arah Jie Ru ke posisi Wei Heng yang baru siap memisahkan kentang kecil dan besar dari keranjang kentangnya


“Aiyahhh tampan sekali pemuda itu.” Imbuh wanita itu


Para wanita itu berpindah lapak kearah kiri tepat disebelah lapak Jie Ru dengan Xin Qian. Seperti kawanan ayam yang berpindah posisi Ketika mendapatkan makanannya.


“Xian Sheng, apa kamu akan menari jika kami membeli semua Tudou mu?” tutur sekali lagi dengan pertanyaan yang sama.


“Siapa yang bilang?” papar Wei Heng yang tidak mengerti Dengan gelagat para wanita kota itu.


“Pemuda itu yang bilang.”


A Ru Kau sedang menjual Tudou atau menjual diriku, lemparan bahasa tubuh yang ia lontarkan kepada saudaranya. Jie Ru yang mengerti maksudnya hanya tertawa dan mengangkat sebelah bahunya.


“Hahaha Iya-iya, Saya dan saudaraku akan tampil dipanggung,” ringis Wei Heng menarik tangan kekar Li Wei.


“Ha? Ahh ahhh Iya,” jawab kaku Li Wei.


“Aiyoyo, pemuda-pemuda ini sangat tampan, sini A Yi mak comblangkan dengan anak tertangga yang belum menikah, nanti tinggal kasih komisinya Hehehe,” ujar A Yin berbadan ramping, dengan genitnya menyentuh dan memegang dada Li Wei yang tampak berotot.



“Saya juga mau A Yi, Saya juga,” timpal wanita muda yang minta dipasangkan dengan para lelaki tampan.


“Eiii Eiiii… kami menjual Tudou bukan menjual tampang!” hadang Jie Ru disela-sela perselisihan dengan wanita muda tersebut.


Sialan, Kau yang memulai kau juga yang mengakhiri, batin Wei Heng menggelengkan kepalanya.


“Aiyo jangan terlalu ganas Xian Sheng, kamu juga bisa ikut daftar kalau mau mencari calon istri, A Yi siap membantumu, sesuai kesepakatan hanya bagi komisi,” ujar A YI mengisyaratkan dengan tangan nya.


“Tidak, Tidak sesuai aturan, beli Tudou maka pemuda ini akan menari, Bagaimana?” bantah Jie Ru.


“Ahhh terserah sajalah padamu anak muda,” Hardik A Yi yang merasa sudah tidak ada harapan memungut komisi.


“Jadi bagaimana nona-nona? beli Tudou nya? gratis melihat tontonan pemuda ini,” tanya genit Jie Ru kepada para wanita.


“beli yah beli , berapa harganya?”


 Dalam sekejap kentang yang sangat banyak, diperkirakan 50 Kg ludes dalam waktu yang cukup singkat.


“sekarang kalian harus naik panggung sesuai perjanjian,” sorak wanita berambut ikatan kepangan dua



“Gara-garamu kan, jadi harus gimana? Saya tak bisa menari,” bisik Wei Heng yang sudah dikepung para dewi cantik.


“Yah mau gimana, kalau tak begini caranya Tudou nya tidak akan laku terjual, Sudahlah tampilkan saja kemampuan yang kau kuasai” ujar Jie Ru dengan santai, masalahnya bukan dia yang akan menjadi pemain utama dalam permainan.

__ADS_1


 


 


__ADS_2