The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 63 - Perbedaan Derajat


__ADS_3

...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


Bayangan dua manusia dengan postur tubuh tinggi semampai, tubuh yang menyerupai fisik Wei Heng dan Jie Ru terpancarkan dari bayangan sinar matahari yang membelakangi. Dengan gaya jalannya yang gagah perkasa dan sedikit percikan darah kering yang menempel di area bahu kiri, seolah-olah mereka telah berhasil mencari sosok pembunuh yang telah menghancurkan kediaman He Ping.


“Wei mengapa kalian lama sekali! Apakah kalian telah berhasil menemukan siapa dalangnya,” tanya Li Wei dengan tergesa-gesa.


“Heee… kami bukan hanya mencari tahu siapa sosok dalangnya, bahkan kami telah meloloskan kepergiannya,” ucapan santai yang diujarkan Jie Ru serasa tidak bersalah dengan ucapan nya.


“Apa! Kau membiarkannya pergi begitu saja,” pekik Li Wei menarik-narik rambutnya.


“Apa Kau buta! Apa kau tidak melihat bahu Wei Heng yang penuh dengan aroma darah ini,” tunjuknya pada telapak tangan yang dipenuhi dengan bercak darah yang sudah mengering.


“Wei! Ada apa dengan lengan bahumu! Apa masih sakit!” ikut Xiao Jing yang kelihatan panik.


“sebentar lagi akan sembuh, jangan terlalu khawatir, tadi Jie Ru sudah memberi ku daun obat,” jawab Wei Heng.


“Da Jie, bagaimana rumahnya bisa roboh begini! Apa yang terjadi disini?” cetus Jie Ru.


“Saya juga tak tahu apa yang terjadi, secara tiba-tiba kerangka bangunan ini roboh dan hampir mengenaiku.”


“Da Jie kamu harus lebih berhati-hati, karena kita tidak akan tahu kapan takdir langit memberikan jalan yang berbeda, sama halnya dengan kematian Xin Qian yang terlalu mendadak,” lugas Wei Heng.


... ...


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


“Mo Wang, Saya berhasil membakar seluruh tanah Desa He Ping, berikutnya apa yang harus saya lakukan?” sembah sujud pembunuh serigala yang dikenal dengan cakaran apinya.


Di kerajaan persembunyian iblis gagak, dengan ruangan gelap meremang, dan hawa dingin membunuh yang menyelimuti atmosfer ruangan besar yang disertai pernak-pernik kepala hewan yang di bekukan.



"Si Xiong... saya hanya butuh Si Xiong dan batu giok itu, jika Saya sudah menguasainya maka Saya yang akan menduduki seluruh tanah bumi Hahaha. Saya akan menjadi penguasa tertinggi," jawab iblis gagak dengan sombong.

__ADS_1


"Saya akan mengusahakan nya."


Iblis gagak yang dijuluki wanita setengah busana ini menjawab dengan tenang “bagus! jangan hanya tahu membuatku menunggu dengan kegagalan kalian, semua yang dilakukan hanya harapan sia-sia, Shizi Mo sudah mati dibunuh, kau harus tetap bertahan! Kerahkan semua ilmu yang sudah pernah kuajarkan,” keluh Iblis gagak sembari memelintir kukunya yang panjang.



“Baik Mo Wang, semua ilmu yang telah diajarkan akan saya terapkan dengan baik,” Hormat Si cakar api menundukkan kepalanya.


“pegang janjimu, jangan sampai kau pulang seperti keadaan Nuli yang sudah bersimbah darah,” pinta wanita berdarah dingin.


“beri saya dalam waktu Yizhou untuk membawa salah satu anggota pemuda yang selalu menghalangi jalan kita Mo Wang, saya pasti akan menyeret dia bersujud dihadapan Mo Wang,” tegas pria yang menutup Sebagian wajahnya dengan jubah hitam yang kebesaran.


Yizhou \= 1 minggu


“Hahahaha, kau pengikut ku yang paling bisa diandalkan, kalau begitu saya beri kamu waktu selama Yizhou.”


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Panas emosi Li Wei tak kalah saing dengan keterikan panas matahari yang semakin menyengat kulit, telah hilang harapan dengan sisa peninggalan Xin Qian.


Peruh kesah membasahi wajah keempat manusia yang baru beranjak dari Desa He Ping yang sudah berubah menjadi abu kekosongan. Seluruh mayat tengkorak dikubur dalam satu lubang galian besar dan di beri dengan papan nama yang mengatasnamakan ukiran nama penduduk yang telah meninggal dunia.


“Kemana tujuan kita,” ucap Li Wei menyeka keringatnya.


Sebelum Wei Heng membalas pertanyaan Li Wei, Desa tersebut mendapat kunjungan dari seekor burung merpati yang membawa penyampaian surat yang dierat dalam paruhnya



Ini Fu Wang, Kamu sudah terlalu lama berkelana diluar sana nak, sudah saatnya kamu harus pulang menjenguk Fu Wang. Dan sudah saatnya Fu Wang akan membagi harta pembagian wilayah kekuasaan. Fu Wang sudah tidak akan bertahan lama dengan kehidupan menjadi pimpinan istana He Tian, semua kekuasaan singgasana Fu Wang akan berikan padamu, lekas pulang nak.


Dari istana He Tian.


 Sepucuk surat yang dikirimkan dari istana He Tian untuk pangeran ketiga “Fu Wang sakit? Sudah berapa lama saya keluar dari istana itu,” pikir Jie Ru menghitung dengan jari.


“A Ru… apa isi surat itu?” tanya Wei Heng memegang pundak bahunya.


“surat dari istana He Tian,” jawab singkat Jie Ru yang sudah mengubah raut wajahnya.


“istana He Tian? Untuk apa surat itu? Apakah istana He Tian akan membantu kita dalam pencarian Si Xiong?” potong Li Wei.


“Surat untuk pangeran ketiga,” ujar Jie Ru terbebani dengan seribu permasalahan yang terlintas di otaknya.


“salah kirim surat, disini tidak ada pangeran ketiga,” sangkar Li Wei yang akan mengambil surat tersebut.

__ADS_1


“surat itu ditujukan untukku,” potong Jie Ru dengan mata menyorot.


"hahahaha.... tidak sepantasnya kamu membohongi kami semua" tawa gelak Li Wei yang masih tidak percaya dengan perkataan Jie Ru yang dianggap nya hanya sebatas candaan


“Ka-Kau pangeran ketiga?” imbuh Li Wei yang mulai terdiam ketika melihat raut muka yang lainnya berubah menjadi serius.


“Kupikir kamu sudah tahu dengan identitasku, ternyata otakmu hanya tong kosong,” ketus Jie Ru yang menatapnya dengan tatapan yang hendak menyantap mangsanya.


“Ka-kalau begitu maaf atas ketidak sopananku, Sa-saya.”


“tak perlu terlalu sungkan, seorang pangeran bukan manusia yang harus diistimewakan,” papar Jie Ru.


Karena identitas Jie Ru yang sudah diketahui oleh Li Wei dan juga Xiao Jing yang baru kenal dengannya, suasana perjalanan menjadi canggung, takut ada kesalahan dalam berucap kata. Biasanya Li Wei yang suka berargumen dengan Jie Ru, kini hanya terfokus dalam perjalanan melintasi sebuah aliran sungai deras dengan bebatuan besar yang harus dilalui untuk mencapai istana kelahiran Jie Ru, berbeda halnya dengan sikap Wei Heng yang sudah mengetahui asal usul kedatangan Jie Ru.


“Ru, Kamu sudah pasti akan pergi ke He Tian?” tanya Wei Heng dengan khawatir kondisi batin yang dialami Jie Ru.


“semua ini tetap harus dilalui, jika rencana Lao Tian Ye akan mempertemukan kembali dengan Fu Wang, maka saya harus siap menerimanya, hanya saja...”


“Ada apa? Karena Xiao Jing?” papar Wei Heng.


“Hmm… Saya tidak bisa melihat Da jie dibawa oleh Fu Wang.”


“firasatku mengatakan itu semua akan sia-sia, jika Saya terus tidak ingin mempertemukan Da Jie dengan Fu Wang,” papar Jie Ru.


“tak akan terjadi apa-apa, Saya akan siap membantu mu keluar dari jalur rintangan ini, Kita akan hadapi bersama,” imbuh Wei Heng.


Dibelakang sana Li Wei dan Xiao Jing mengikuti jejak langkah Wei Heng dan Jie Ru yang memang membawa jalan didepan.


“mengapa tidak ada yang bersuara, sangat sepi dari biasanya,” ujar Wei Heng membuka keheningan.


“Hmm Hmmm… tidak ada yang ingin diperbicangkan,” fokus Li Wei pada jalanan berair itu.


“Heiii… bocah busuk! Bukankan kau sangat suka mengibuliku? Mengapa hari ini kau seperti bebek ompong yang tak dapat bersuara,” goda Jie Ru yang tahu dengan ketidak beranian Li Wei.


“Ha? Sa-Saya tidak akan berani,” jawab Li Wei dengan tegang.


“Heii ayolah, kau sama denganku, kita sama-sama masih memiliki satu tujuan yang sama. kesampingkan dengan jabatan posisi pangeranku, pertemanan tidak butuh dengan aturan istana yang dimana tingkat tinggi yang harus dihormati,” protes Jie Ru dengan sikap kakak seniornya yang terlalu kikuk.


Dengan segenap cara, Jie Ru tidak berhasil membujuk sifat Li Wei yang sudah takut dengan posisi derajat nya yang lebih tinggi. Alhasil terlintas satu cara untuk membuat Li Wei jatuh geram.


Ketidakmaluan ketika Jie Ru mengharuskan dirinya untuk memeluk tubuh besar Li Wei dari belakang dan mendorongnya jatuh terjun ke aliran sungai yang dipenuhi dengan lintah hitam.


“Sialan Kau! Jika Saya sempat menangkapmu akan kubotaki semua rambut hitammu!” maki Li Wei.

__ADS_1


“Hahaha… kupikir Kau sudah menjadi pria bisu,” ledek Jie Ru dengan girang.


Spontan Wei Heng dan Xiao Jing yang menjadi penonton hanya bisa melihat pertunjukkan bagus yang jarang didapati.


__ADS_2