The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 34 - Sebuah Pengorbanan #3


__ADS_3

...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


“Mustahil, jika Chen Xiaojie adalah Fei Fei, Kami tidak percaya,” cetus ungkapan penduduk dari satu mulut ke mulut lainnya yang makin keras


Penghuni desa Jianchi berbondong-bondong berkumpul mengelilingi para manusia yang baru selesai melakukan pertempuran.


“Percaya atau tidaknya itu semua terserah kalian, Saya sudah memberitahukan amanah dari Chen Fei,” ujar Wei Heng yang tidak peduli dengan opini penduduk.


“Dan saya rasa jasad Chen Fei seharusnya berada disini bersama dengan kuburan kepala desa.”


“jika memang Chen Xiaojie adalah Fei Fei, maka kami tidak sudi jika sekalipun jasadnya menginjak tanah ini,” protes salah satu petuah yang berbadan  bungkuk.



“Yah kami tidak sudi, Buang mayat itu, Buang iblis itu seperti kebejatan yang dia lakukan pada istri kepala desa. Kami semua tidak sudi menanggungnya,” ujaran yang kian makin meluas, semakin diperbesar maka semakin tidak ada hentinya.


“TIDAKKK!!! Jangan menyentuh Chen Jie,” bela Xi Xi yang sudah tidak tahan dengan hinaan.


A Niang menarik Xi Xi dari perkumpulan manusia yang membawa jasad Chen Fei agar tidak mendapat amukan dari penduduk yang masih dilanda emosi “Xi Er, Apa yang kau lakukan? Jangan mendekat disana jika tak ingin terkena masalah.”


“A Niang apa yang kau lakukan, Selama ini Chen Jie telah baik dengan kami semua,” bela Chen Jie yang hendak kembali ke alun perkumpulan manusia.


“Apa kamu juga lupa, Jika wanita iblis itu yang membuat kita menjadi seperti ini. A Niang tiap hari harus menanggung rasa sakit, itu semua ulah siapa?”bentak A Niang.


“Ta-tapi.”


“A Niang bilang masuk, Cepat masuk!” pinta A Niang mendorong Xi Xi kedalam rumah.

__ADS_1


Amarah Penduduk yang semakin menggebu-gebu ketika mengetahui jika Chen Fei adalah Fei Fei yang telah membuat kesalahan besar tak termaafkan “Pergi kalian semua, sebelum kami sendiri yang turun tangan mengusir kalian, terlalu hina jika kami harus menampung jasad wanita iblis itu.”


“Chen Fei yang dulunya memang banyak berbuat salah, tetapi semenjak mengikuti kami, sifatnya telah berubah menjadi wanita yang sangat baik, Apa kalian tidak dapat memaafkannya?” ujar Jie Ru yang mulai menjelaskan.


Argumen para manusia tua semakin membesar, Satu sisi ada yang membenarkan ucapan Jie Ru, Sisi lain masih bertekad pada pendiriannya sendiri.


Jika Chen Fei masih bernafas, Ia pasti akan begitu sedih mendengar lontaran penduduk Jianchi yang begitu membencinya hingga menulang rusuk. Kesalahan dan kekejian yang pernah ia perbuat tak dapat diterima oleh mereka meskipun beratus-ratus kali lipat jika ia telah berbuat bajik.


“Apa kalian sanggup melantarkan jasad wanita yang telah menebus kesalahannya yang di masa lalu dengan menolong kalian secara diam-diam, Apa kalian sanggup?” teriak Xi Xi yang berlari dari dalam rumah.


Sejenak penduduk desa itu terdiam menyikapi ucapan Xi Xi.


“Kalian begitu menghormati Yu Huang Da Di. Bahkan jika Dewa sekalipun berbuat salah, Kalian pasti tetap akan memaafkannya. Mengapa dengan seorang wanita iblis yang telah menebus kesalahannya tidak akan kalian ampuni. Jika itu adalah Lao Tian Ye, pasti juga akan memaafkan Chen Jie.” Lontar Xi Xi dengan panjang lebar dan tangisan air mata yang masih menyelimuti wajahnya.



Tidak hanya sampai disana, Xi Xi masih melanjutkan ungkapannya untuk membuka hati dan pikiran para penduduk termasuk juga ibunya “A Niang, Jika Chen Jie tidak menyelamatkanku saat itu, mungkin saya sendiri yang akan menggantikannya terbaring disana,” ujarnya membuka pikiran ibunya.


Xi Xi, kamu wanita yang luar biasa, Bahkan kamu juga pandai menebak jika Lao Tian Ye yang saat ini duduk di istana langit akan memaafkan seorang monster iblis. Dan Buktinya Lao Tian Ye yang telah memaafkan diriku untuk menjalani hukuman pertobatan hingga bertemu dengan kalian semua. Ini semua menjadi suatu berkah untukku. Xie Xi Xi kamu telah mengingatkanku kembali.


Tubuh Chen Fei semakin dingin kaku dengan wajah yang sudah membiru. Aliran darah Chen Fei sudah mengering sedari perjalanan tadi, hanya sisa dan bekas yang menyimbahi jubah luar Chen Fei.


“Da Jie…” panggil Mu Tong yang masih meragukan ucapan Xi Xi.


“Apa kamu masih meragukan ucapan anakku, Kita umat yang menghormati dewa dewi khayangan, bahkan beberapa tahun silam Long masih berbelas kasihan untuk menolong desa kita dari bencana, Bukankah tidak adil jika kita masih menyimpan dendam pada wanita yang sudah meninggal,” ujar A Niang meluluh lantakkan pendirian manusia lainnya.


“Tapi bagaimana dengan kutukannya? Apa kita masih harus mengalami kutukan ini sampai nyawa kita berakhir,” protes laki-laki bertubuh bungkuk lainnya.


“Entahlah, kurasa Saya sudah terbiasa dengan tubuhku ini,” balas A Niang yang merenggangkan tubuh rentannya.


“Yasudah Lah, Kami ikuti apa kata Da Jie, mungkin ini sudah kehendak Lao Tian Ye untuk desa ini,” ujar Mu Tong itu kembali.


Sahabat Chen Fei lainnya memapah kembali jasadnya, berjalan mengarungi bukit yang ada di belakang desa yang sebagai perbatasan dengan desa lainnya.


“Anak muda” panggil Mu Tong


“Kami semua akan membawa jalan untuk kalian,” ujar pemuda tua berbadan gembul itu.

__ADS_1



Desa Jianchi menjadi sepi, Semua  penghuni membawa jalan untuk mengiringi pemuda bangsawan lainnya yang tengah berjalan ke bukit itu


*


“Inilah pemakaman kepala desa, Wanita ini bisa kalian makamkan disini.”


Wei Heng, Jie Ru, Li Wei serta penduduk laki-laki menggali lubang untuk menguburkan Chen Fei. Ketika jasad wanita itu hendak dikuburkan, tusuk konde pemberian Wei Heng jatuh diatas tanah pemakamannya.


Seketika itu juga, Langit berubah menjadi gelap dengan kabut awan yang menyelimuti bukit itu. Gunturan petir terdengar keras hingga beberapa kali, seakan dewa dewi telah benar-benar akan mengutuk desa Jianchi.


Tetapi istana langit berkehendak terbalik, kutukan itu telah hilang. Wajah, tubuh renta semuanya telah kembali pada semula. Bahkan tubuh kakek tua yang bungkuk kembali gagah pada umumnya.



“A Niang wajahmu telah menjadi lebih muda,” ujar Xi Xi mentap ibunya dengan lekat.


“Iya semua sudah kembali pada awalnya, Yang seharusnya sudah kembali pada asalnya,” jawab A Niang dengan senyuman.



Kebahagiaan telah melingkupi semua orang. Teriakan dan sorakan telah hadir bersama dengan kematiaan Chen Fei yang tak sia-sia.


Sedangkan ketiga sahabat Chen Fei masih tak bersuara, hanya dengan tangisan pilu yang akan meninggalkan Chen Fei untuk selamanya.


“Afei jika kamu dapat melihat kami semua, Kamu pantas bahagia disana, Kamu sudah menyelamatkan Desa Jianchi Fei,” lontar Jie Ru mengusap papan nisan yang bertuliskan CHEN FEI


“Fei kamu sungguh jahat meninggalkan kami semua Ketika Si Xiong masih belum terkumpulkan, Kau berjanji akan selalu bersama dengan kami dan kau sendiri yang mengingkarinya. Tapi kami semua sayang padamu sebagai saudara perempuan kami, Xie Fei atas ketulusanmu,” timpah Wei Heng yang menuangkan secangkir arak di atas tanah kuburannya.



Li Wei tidak dapat bersuara, meskipun ia baru mengenal dengan adik seperguruannya, tetapi ia sudah memliki perasaan dekat yang juga menganggapnya sebagai saudara seperguruannya “Fei mungkin saya baru mengenali dirimu, tapi Xie Fei dengan adanya dirimu dan juga lainnya, hidup saya lebih berwarna,” ujarnya dalam hati.


Seluruh manusia yang masih menetap dibukit itu, memberikan pernghormatan terakhir kepada Chen Fei yang telah menyelesaikan misinya, tanpa mengenal kata belas dendam yang sudah dihapuskan dari benak penduduk desa.


Saudara, Sahabatku, Semuanya jika kalian dapat melihatku, Saat ini saya sudah menempuh jalan kebahagiaan. Saya sudah menyelesaikan tugasku, Desa Jianchi sudah kembali pada semula. Terima kasih semuanya dan maafkan aku yang telah berbuat salah, Maafkan Aku. potongan suara gema yang mengarungi bukit itu.

__ADS_1


 



__ADS_2