The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 26 - Perasaan Terdalam


__ADS_3

...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


“Xi Xi ambilah ini dan lekatkan pada saku A Yi”, ujar Wei Heng dengan menyerahkan sebuah jimat pelindung yang sudah dimantrai.



“Xiansheng, Ini apa?” tanya Xi Xi yang menatap aneh dengan barang itu.


“Hushenfu, jimat pelindung diri."


Xi Xi yang masih merasa terheran-heran dengan bentuk Hushenfu, lantaran mereka tidak pernah mengenal sesuatu yang berbau dengan benda keramat,hanya doa dan sembahan yang mereka terapkan dalam kehidupan sehari-hari “Apa Xiansheng yakin ini Hushenfu dapat membantu A Niang."


“Coba kamu pakaikan jika tak percaya,” saran Wei Heng.


“Jika begitu Xie Xie, kalau boleh saya tahu siapa nama besar Xiansheng dan Jie Jie?” lontar Xi Xi menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Wei heng, cukup panggil saya Wei Xiansheng."


“Chen”, lanjut Chen Fei yang hendak menyebutkan namanya


“Chenjie, Yahh namanya Chenjie, panggil dia Chen Jie Jie,” Sambung Wei Heng yang teringat dengan cerita desa Jianchi yang akan melenyapkan orang dengan sebutan nama belakang Fei.


Chen Fei yang baru tersadarkan diri dari tuturan yang diceritakan oleh Xi Xi “Yah kalau begitu Xi Xi boleh panggil saya Chen Jie Jie,” ujar Chen Fei dengan senyum isyarat kepada Wei Heng.


“Baiklah kalau begitu, kita harus kembali, esok kita akan kembali,” ucap Chen Fei mengelus anak rambutnya Xi Xi yang dibalasnya dengan senyuman.


Pasangan insang kembali melanjutkan perjalanan pulang dengan langit yang sudah tidak menerangi jalan berbatuan. Hakikat senja sudah tiba pada waktunya, memandang langit terindah yang teringat pada sebuah keinginan untuk melayangkan kedua sosok yang masih kesulitan menghadapi perjalanan senjanya.


Wei Heng yang tiba-tiba membawa Chen Fei dengan merangkul pinggangnya dan berdiri melayang diatas pedang Gang Jiang nya “Hei, Apa yang kau lakukan?” racau wanita berambut panjang terurai yang terkesima dengan perlakuan Wei Heng.


“Membawa kita pulang, Sebelum harimau jantan itu berteriak membangunkan semua orang di penginapan Baihua,” balas Wei Heng tanpa menatap wanita yang masih setia menatap nya.


Lukisan langit senja yang diselimuti nuansa keindahan yang tak terlukiskan dengan kata-kata, ditambah dengan kicauan burung yang sudah akan kembali ke sangkarnya, angin sejuk yang menerpa dingin di luar hangat didalam, membawakan kedua manusia hingga terlarut dalam perasaan dalam diam.


__ADS_1


Kamu adalah langit yang lainnya hanyalah cuaca. Kagum dalam diam, Diam adalah harapan. Kita saling melempar senyum, namun tak pernah berkata. Hanya dari hati maka dapat menyentuhmu, Hanya ini caraku mengagumimu dalam diam tanpa satu orang pun yang akan tau dengan isi hatiku, mungkin dengan seiringnya waktu yang berjalan kau akan mengetahuinya.


“Wei, Apa kamu pernah…” ujar Chen Fei yang masih ragu-ragu dengan pertanyaan nya.


“Hmm Ada apa Fei?” balas Wei Heng yang masih memusatkan pikirannya dalam menerbangkan pedang Gang Jiang.


“Ahh Bukan apa-apa," sambung Chen Fei yang tak dapat mengungkapkan isi hatinya.


Wei Heng bertanya-tanya dalam benaknya apa maksud dari perkataan Chen Fei yang hanya merupakan teka teki jawaban, tanpa menanggapi lebih lanjut ia kembali memusatkan pikirannya melanjutkan perjalanannya.


“Fei sudah sampai, turunlah,” ujar Wei Heng seraya menyimpan kembali pedang Gang Jiang yang tersembunyi dalam energinya.


Dengan segera Wei Heng beranjak keatas hendak menemui rekan seperjuangannya “A Ru,” panggil Wei Heng dengan nada riang.


“Ada apa? Kemana kalian berdua? Kenapa kalian meninggalkan ku dengan manusia laknat itu?” Bisik Jie Ru dengan pelan.


“Nanti akan saya ceritakan dimana kami tadinya, sekarang kau duduk ada sesuatu yang akan kuberikan untukmu,” ujar Wei Heng menarik tangannya.


“Wow kau membuatku penasaran, Setelah seharian kau melantarkanku sendirian ternyata kau juga menyogok hatiku untuk luluh ,” ledek Jie Ru.


Wei Heng yang mengacak kedua sakunya yang berkenan mengambil sepasang gelang giok yang akan diberikan kepada sosok pemuda yang ada dihadapannya, ia rogoh seluruh isi sakunya serta seluruh tubuhnya.tetapi ia tidak menemukan sedikit cerah pun menemukan gelang giok itu. Dengan sedikit kecemasan hingga menimbulkan keraguan di raut wajah kedua manusia lainnya yang masih menatapnya dengan tatapan aneh.


“Apa yang kau lakukan Wei?” tutur Chen Fei.


“Hilang,” balas Wei Heng yang masih merogoh sakunya.


“Gelang giok pasangan yang berwarna hijau itu, dimana aku menyimpannya?” ujar Wei Heng bertanya kepada Jie Ru yang bahkan tidak tahu apa yang terjadi.


“Hahaha sudahlah, kita masih bisa membelinya,” papar Jie Ru dengan tawa manisnya.


Sedangkan Wei Heng masih duduk termenung mengingat dimana ia menyimpan barang berharganya itu, meskipun gelangnya tidak terlalu mahal tetapi maknanya begitu dalam. Apalagi gelang itu barang pertama yang akan ia berikan pada sahabatnya “Tidak, Tidak Saya harus menemukannya. Fei apa kau ingat dimana aku meletakkannya?”


“Entahlah, Apa kau menjatuhkannya saat perjalanan pulang."


Ketika mendengar lontaran Chen Fei yang cukup masuk akal, Wei Heng spontan berlari cepat kearah pintu masuk penginapan Baihua mencari sedikit cerah, barangkali ia akan menemukannya di tengah jalan. Di tengah kondisi malam yang sudah gelap gurita dan dingin yang menembus kulit pun ia masih menggeledah sepanjang jalan. Alhasil, ia tidak menemukan apapun tentang gelang giok itu.


“Apa kau menjatuhkannya ketika saat kita ada di jembatan Zang Jiao,” teriak Chen Fei dari dalam penginapan yang tidak ikut membantunya.


Rintikan hujan yang mulai menghujani kota Pai Tian dengan perlahan membasahi siapapun yang ada dibawah teduhnya, membuyarkan pencarian sosok pemuda yang masih setia menelusuri seisi perjalanan yang tadinya ia lalui.


“Wei Heng masuklah sebelum kau sakit kehujanan,” ujar Chen Fei yang terlihat panik.


Tetapi Wei Heng tidak menanggapi lontarannya, ia masih setia berada di bawah terik hujan yang membasahinya hingga Hanfu kebesarannya juga ikut tersiram sempurna.


Dibalik itu, seorang pemuda dengan anggun ia berjalan menghadang angin dan hujan yang menerpa tubuh tinggi Wei Heng, dengan jubah perlindung yang berwarna hitam dengan corak phoenix keemasan yang menjuntai di bawahnya, ia menutupi seluruh tubuh Wei Heng yang masih bersimpuh.

__ADS_1



“Wei Di apa yang kau lakukan, masuklah angin luar semakin kencang,” lontar Jie Ru dengan garis wajah yang panik.


Dengan langkah gontai kedua pemuda itu masuk kembali kedalam penginapan Bianhua dengan keadaan Wei Heng yang sudah tak menentu, rambut basah kuyub dengan raut muka yang mesam. Sebab gelang giok itu adalah salah satu barang berharga yang akan diberikan kepada Jie Ru.


Ketiga manusia itu kembali ke kediamannya untuk melanjutkan kegiatan makan malam yang sudah tertunda.


“A Ru maafkan aku, gelang itu sudah hilang,” papar Wei Heng dengan menundukkan kepalanya.


“Iya tak apa, kita masih sanggup membelinya, cukup jerih payahmu mencarinya saya sudah begitu tersentuh,” ucap Jie Ru yang penuh perasaan memecahkan suasana dingin dari hujan.


“Cepat makanlah, Saya sengaja memesannya untukmu, Fei kamu juga makanlah sebelum hidangannya dingin,”ujar Jie Ru.



Chen Fei kembali ke kamarnya yang berada di sebelah posisi kamar Wei Heng dan Jie Ru, meninggalkan keduanya dengan penerangan lampu meja yang meremangi dalam kamar.


“A Ru dimana Wu Hui, Kenapa dari tadi saya belum melihatnya?” tanya Wei Heng berjalan kearah ranjangnya.


“Dia mencari keberadaan Qiong Ji dan hari ini dia tidak akan kembali ke penginapan,” balas Jie Ru yang ikut beranjak ke ranjang sebelah Wei Heng.


Wei Heng terperanjat dengan ucapan Jie Ru dan berkata “Bukanlah terlalu terburu-buru dengan meninggalkan kita yang seakan tak mampu berbuat apa-apa."


“Biarkanlah sesukanya, sehari ia tidak menganggu kita itu sudah lebih dari cukup,” ujar Jie Ru seraya hendak mematikan lampu hias yang ada dimeja.


Dibalik badan Wei Heng, ia masih memikirkan rencana tersembunyi Wu Hui yang terpendam tanpa ada yang merasa curiga dibaliknya.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Mo Wang, Saya datang menghadap.


“Bagaimana perkembangannya? Apakah kalian sudah tahu keberadaan dimana Qiong qi,” ujar iblis gagak yang duduk di singasana.


Qiong qi ada di kota Pai Tian dan di istana Maiyingong , tempat ia menyamar jadi wanita penghibur, Sedangkan lainnya saya masih belum mengetahuinya, ujar seorang Xiashu yang masih bertekuk lutut dibawah singasana iblis gagak.


“Tetap pantau mereka, jangan sampai Qiong Qi jatuh ke tangan mereka, jaga posisi aman mu jangan sampai kau ketahuan oleh mereka."


Baik, Mo Wang saya hendak meminta sebuah ramuan dari mu sebagai bantuan untuk langkahku selanjutnya.


“Katakan,” ujar iblis gagak yang menghempaskan tangannya.


Itu…


”Ambillah,” ucap iblis gagak menyerahkan ramuan itu.

__ADS_1


Xie, Mo Wang.


 


__ADS_2