
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
Sungguhan hidangan yang menarik mata, tersusun rapi di sebuah meja yang berteraskan pemandangan langsung dari air terjun Ping Jing, lapisan udara yang akan sulit dilupakan untuk seseorang yang menyukai alam dan kebersamaan bersama. Gambaran inilah yang cocok untuk menceritakan atmosfer kehidupan saat ini.
“Da Ge, Masakanmu sangat harum, Bisa-bisanya Saya akan terbangun ketika mencium bau masakanmu,” gombalan Jie Ru seperti biasanya ketika melihat makanan nikmat.
Bukan hanya karena desa He Ping menanam Tu Dou maka semua makanan juga harus bertemakan kentang. Xin Qian tiap hari akan turun bukit untuk pergi ke pusat kota, menjual Tu Dou untuk mendapatkan tael perak mengganti bahan baku sayur lainnya.
Ikan kukus ala Xin Qian yang menjadi salah satu makanan favorite penduduk He Ping, yang pernah diciptakan pertama kalinya oleh tangan Xin Qian itu sendiri. ikan yang dimasak dengan jahe, minyak wijen dan juga rempah lainnya seperti bawang putih, daun bawang yang menghasilkan keharuman semerbak yang meliputi ruangan terbuka tersebut.
"Sangat nikmat jika ada semangkok nasi hangat sebagai teman penikmat," ujar Jie Ru menjilat bibirnya.
"Lailo, Lailo 5 mangkok nasi hangat sudah datang," ucap Xin Qian dengan mangkok yang memenuhi tangannya.
Tumis kental jamur kuping makanan yang diolah sesuai dengan penamaanya. bahan utama dengan jamur kuping kering, wortel, bawang Bombay, daun bawang dan juga pelengkap lainnya yang disajikan dengan campuran berbagai sayuran dan dilarutkan dengan tepung maizena sebagai andalan pelekat makanan.
"Aiyoo, Jamur ini masih segar, Da Ge saya suka dengan masakanmu yang ini. Biar saya habiskan tanpa sisa," ujar Wei Heng merebut dari tangan Jie Ru.
__ADS_1
" Iya, Jamur itu baru kubeli dari pusat kota yang langsung dipetik, Silahkan dimakan."
Tumis kentang kering/ Tudousi, salah satu andalan koki Xin Qian yang sudah diolahnya dengan menggabungkan baceman baput dan juga cabe merah. Kentang yang diiris tipis dan dikeringkan setelah itu dimasak bersama rempah kering lainnya yang menjadi kesatuan makanan sempurna.
"kalau Saya tergiur dengan Tudou Xin Qian, bukan hanya karena gurih tapi juga bermakna," ujar Li Wei.
"Maksudnya?" tanya Xiao Jing.
"karena Tudou dipotong panjang seperti hubungan pasangan kekasih yang akan saling menyatu hingga akhir," ujar Li Wei menatap Xin Qian.
"Li Xiong, ternyata kau sudah lupa dengan ucapanku. gombalan yang berlebihan tidak baik untuk kesehatan. Hati-hati kamu akan sakit hati," ledek Jie Ru.
Kalian saus tiram juga diikut sertakan untuk menyambut para ketiga tamu yang sedang duduk rapi diatas kursi. Sayur kalian yang dipotong dan dimasak bersama bawang putih cincang serta kecap asin dan minyak wijen yang dimasak hingga harum.
"Kailan ini yang paling disukai Da Jie, bukan begitu Da Jie?" ujar Xin Qian yang menebak selera Xiao Jing.
Keempat masakan yang melambangkan kesejahteraan desa Xin Qian yang akan selalu ada sebagai makanan pembuka untuk menyambut para tamu yang sedang merantau atau berkunjung.
“Kalau kalian menyukai masakanku, Saya sanggup tiap hari memasak untuk kalian,” ujar Xin Qian yang sudah melayang tinggi.
“Kalian tidak tahu, Xin Qian dijulukin ratu dapur oleh warga disini, bahkan masakannya akan lebih nikmat mampu mengalahkan orang tua yang sudah berkemampuan tinggi dalam masalah dapur,” papar Xiao Jing memuji Xin Qian.
“Hahaha kalian cukup beruntung bisa merasakan kenikmatan dunia setelah mencicipi masakanku, seumur hidup kalian akan merasa beruntung,” puji Xin Qian yang semakin besar kepala.
“Nikmatilah masakannya, sebelum menjadi dingin.”
Kebersamaan di siang hari bertambah hangat ketika berkumpul bersama saling berseru ria membahas kenangan tersendiri, tawa lepas menyertai siang hari di atas teras rumah Xin Qian dengan matahari yang masih berdiri tegak diatas atap rumah dengan kabut awan yang cukup tebal menyelimuti badan matahari.
“Wei boleh saya meminta tolong padamu?” tanya ragu pria bertubuh pendek dengan perkiraan sekitar 1,5 meter.
__ADS_1
“Yah Da Ge ada perlu hal apa, silahkan panggil saja, aku siap membantu,” ujar Wei Heng dengan tulus membantu.
“nanti sekitaran Xiawu San Dian, temani saya untuk turun bukit menjual semua Tu Dou yang sudah panen, Bagaimana?” tanya Xin Qian.
Xiawu San Dian\= sore jam 3
“Ohhh masalah itu jangan terlalu sungkan, Saya tetap akan siap membantu,” papar Wei Heng.
Jie Ru yang sedang mengunyah terfokus pada percakapan dua orang ini, yang hendak turun gunung berarti ia akan ikut berjalan-jalan mencari pencuci mata.
“Saya ikut, dimana Wei Di melangkah disana juga saya berada,” tutur Jie Ru dengan kunyahan di mulut yang masih terisi.
Penghuni yang masih berada di teras hanya menatap dengan senyuman dan gelengan kepala, melihat kelakuan Jie Ru yang masih tidak dewasa pada umurnya. Sifat Jie Ru yang terbuka dan apa adanya dapat mencairkan suasana kelam menjadi lebih berwarna, seperti halnya ia mengubah sifat Li Wei yang lebih sedikit berbicara dan sulam, ketika masih berada di Bukit Bunga dengan merantau sendiri menjadi seorang pendekar. Kini kehidupannya lebih berwarna dengan gurauan Jie Ru yang selalu bertindak bodoh di depan semua orang.
Semua hal berbau kelam ia musnahkan dengan keberadaan nya di sisi lingkungan manusia yang berada di dekatnya. terkadang sedikit menjengkelkan tetapi kejahilan yang dibawa Jie Ru mampu menghangat suasana seperti berada dekat dengan keluarga sendiri. Meskipun begitu, seorang Jie Ru tetap memiliki tekanan hati berkaitan dengan permasalahannya yang berada di istana.
Sampai saat ini, orang yang berada didekatnya pun belum mengetahui maksud tersembunyi dibalik kebahagiaannya yang selalu menyertai orang disekitarnya. Bahkan Wei Heng sendiri sebagai orang terdekatnya yang sudah berjalan cukup lama, belum mengetahui sisi buruk dibalik seorang Jie Ru.
Sebenarnya masalah apa yang ada dibenakmu? Mengapa saya sebagai seseorang yang sangat dekat denganmu tidak dapat membantumu, Saya berharap suatu hari, kamu akan menceritakan kepadaku sebagai orang pertama. Saya menunggu hari itu, Terima Kasih sudah menemani hari suramku. Tanpamu, mungkin hari ku sejak dilemparkan dari istana langit tidak akan mengubah karakterku yang susah beradaptasi dengan manusia. Batin sahabat Jie Ru yang masih menatap senyum sedih dibalik sisi terang Jie Ru.
Terima kasih Jie Ru, Meski saya baru mengenal dirimu, tapi kamu mampu mengubah sikapku menjadi lebih hangat. Tidak ada manusia lain yang berani mendekati, sebab kekurangan fisik yang menjadi kelemahan terbesar dalam hidupku. Saya merasa hina jika harus memiliki seorang teman dekat, tapi karena dirimulah saya dapat mengubah pola pikirku menjadi lebih bermakna dengan hidupku sendiri. Batin Li Wei dengan niat terdalam berterima kasih pada seorang lawan debatnya.
Entah kenapa, perasaan akrab ini muncul ketika saya bertemu untuk pertama kalinya dengan sosok Jie Ru, perasaan yang tidak pernah saya rasakan kepada siapapun itu. Bahkan dengan Xin Qian sendiri, saya tidak pernah merasa nyaman ketika berada di dekatmu. Apa kita pernah ada ikatan hubungan saudara sebelumnya? Batin Xiao Jing melihat tawa lepas dari mulut Jie Ru.
“Aiyaa, mengapa kalian menatapku seperti itu? jangan lihat terlalu lama atau kalian juga akan jatuh cinta padaku,” ujar Jie Ru membuyarkan lamunan ketiga manusia tersebut.
“lebih baik kalian mendoakan ku supaya lebih cepat kaya, mendapatkan lebih banyak permaisuri dan juga selir-selir yang mendampingi ku hingga akhir hayat. Ohh Tidak, saya tidak berharap memiliki permaisuri ataupun selir, Saya hanya berharap semua orang yang berada di sekitarku akan turut berbahagia seperti diriku.” Ucap Jie Ru memamerkan gigi putihnya.
Pria pendek masih tak mengerti dengan lontaran Jie Ru yang begitu menghayati permintaanya “Kau berkata begitu, seperti hari ini adalah hari terakhir nafasmu.”
“Ehhh Sialan jaga ucapanmu, jika hari ini saya mati bagaimana kedua manusia ini akan melanjutkan perjalanan tanpa adanya diriku. Mereka berdua akan seperti orang bisu yang saling bersahutan.”
__ADS_1
Perdebatan berlangsung cukup lama, hingga asap awan sudah mulai melapisi bahu matahari yang berada diatas kepala.