The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 54 - Gelagat Palsu


__ADS_3

...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


Tokk Tokkk, sekatan pembatas diketuk dengan bunyi keras, dari sela-sela jendela tertangkap visual seorang wanita yang pernah ia temui saat perjalanan pulang dari pasar kota tersebut. Masih dalam keadaan yang sama, berpenampilan seperti wanita yang tidak normal pada umumnya, bahkan cuan yang diberikan Jie Ru tidak disentuh sama sekali untuk membeli busana yang lebih layak.


Kehadiran paras seperti wanita penggoda menarik perhatian dari penduduk desa yang sedang menanam Tudou di ladang kebakaran menyengat itu.



“Wei… Siapa wanita itu? Apa yang dia lakukan di depan pintu?” tanya Li Wei yang menimpa tubuh Wei Heng yang sedang mengintai di balik jendela.


“Dia wanita yang pernah kutemui sewaktu Saya dan Jie Ru turun pasar,” sahut Wei Heng masih dalam keadaan intens.


“lantas apa yang ia lakukan? Mengapa ia mengejarmu hingga kesini?”


“Saya juga tidak tahu apa maksud dan tujuannya, tapi sepertinya ia sedang di intai dan ketika itu ia tengah meminta pertolongan,” timpal Wei Heng.


“Hei apa yang kalian berdua lakukan? Didepan ada orang yang membuka pintu, mengapa kalian tidak membukakan nya, mungkin itu Jie Ru dan Xin Qian sudah balik dari menjual Tudou,” limpah Xiao Jing dari belakang dapur.


Pemuda dingin kaku itu terus mengamati penampakan wanita tersebut, bukan karena ia akan terpesona dengan bentuk dada yang hampir mencuat keluar melainkan ada perkara tidak beres yang masih tak dapat dikatakan.


Apakah sosok tersebut akan menjadi bagian dari monster iblis yang sedang diintai ataupun hanya seorang manusia biasa yang memang sedang membutuhkan pertolongan.


Xiao Jing dengan lagat membukakan pintu yang ia belum tahu siapa dibalik pintu yang sedang mengencang dengan keras.


“Eīī, Siapa nona ini, ada kehendak apa yang membuatmu datang kesini?” tanya halus nada Xiao Jing.


“Saya mencari 2 pemuda, yang satu berambut putih dan satu lagi berambut hitam, apakah mereka tinggal disini?” balas wanita tak senonoh itu dengan kausa lembut.


Dia mencari saya dan Jie Ru untuk apa? Bukankah dia bisa meminta pertolongan kepada yang lain, mengapa dia hanya mencari kami, Guman Wei Heng dalam lubuk hati.


Xiao Jing berpikiran sama, jika niat puan ini tertuju pada Wei Heng dan juga Jie Ru. Lelaki berambut hitam yang sekarang adalah Wei Heng dan pemuda berambut putih adalah Jie Ru.


“Ohhh maaf nona, mereka sedang tidak ada ditempat, mungkin lain hari anda bisa datang kembali,” ujar halus Xiao Jing.


“Tidak, tidak, Saya harus menunggu hingga mereka pulang, Saya ada urusan penting dengan mereka,” cetus wanita tersebut mulai dengan nada tinggi.


“Wei apa mungkin, wanita itu yang kemarin bermalaman dengan kalian berdua dan dia datang untuk meminta pertanggung jawaban,” bisik Li Wei dengan suara yang sangat minim.

__ADS_1


“Tidak, Tidak, Kami tidak pergi ketempat seperti itu, kami hanya membeli hadiah dan setelah itu langsung pulang,” geleng Wei Heng dengan putaran cepat.


Jie Ru dan Xin Qian yang baru melewati perjalanan panjang membawa keranjang Tudou sebagai pencari cuan yang teladan “Da Jie kami sudah pulang,” panggil Jie Ru sebelum ia benar-benar menapaki dirumah tersebut.


Eīī, Sahut wanita keibuaan itu dengan biasanya.


“Ehhh nona? Untuk apa kamu kemari? Apa perak yang kuberikan padamu masih kurang?” ujar Jie Ru dengan terus terang tanpa berpikir pertanyaan nya, dapat membuat orang yang dituju sakit hati atau tidak.


“kamu sudah pulang Xian Sheng, sini kupapah dirimu,” tanya wanita tanpa nama itu layaknya seperti seorang istri yang menunggu suaminya pulang.


“tidak perlu, pulang lah jangan menggangu ku,” ucap Jie Ru tak menghiraukan wanita tersebut.


“Tidak, Saya harus tinggal bersamamu,” desak puan itu dengan paksa.


“Cukup, kubilang hentikan, jangan memaksa ku untuk menyerang wanita,” hardik Jie Ru dengan mimik wajah mengganas, menerpa dengan keras hingga wanita tersebut jatuh tersungkur dan diperlihatkan penduduk setempat yang sedari tadi mengamati perkara yang sedang terjadi.



“saya hamil anakmu,” teriak sosok tersebut mengguncangkan hati pemirsa yang sedang mencari bahan pembicaraan.


DEGGGHH, mengejutkan penghuni seisi kediaman dikagetkan dengan lontaran yang tidak jelas asal usulnya.


“Ha? Apa katamu? Saya menghamilkanmu? Jangan terlalu pandai mengarang lelucon, pulanglah sebelum saya benar-benar akan naik pitam,” bantah Jie Ru dengan sorot mata tajam.


“bertanggung jawablah sebagai lelaki bijaksana, jangan menyia-nyiakan wanita yang tulus padamu,” sanggah seorang pertapa tua yang menetap di pemukiman tersebut.


Siapa sosok wanita ini? mengapa ia terus mengaku-ngaku jika Jie Ru yang membuatnya seperti ini, apa mungkin ia sedang menargetkan A Ru, Siapa dibalik tuan nya itu?, ujar Wei heng dalam hati.


“tak mungkin!!! apa kau gila bisa berpikiran seperti itu,” hardik Wei Heng.


Nu Li, ingat pesanku, targetkan pada pemuda berambut putih, ingat tujuan mu. Jangan sampai kau juga terbuai dengan tampannya. Kembali jika kau sudah menyelesaikan tugasmu. Bunuh Dia!!!


Nu Li\= arti dalam bahasa mandarin adalah budak, yang menjadi nama keseharian wanita tersebut.


Baik Mo Wang.


“bawa dia masuk!” kelakar Xiao Jing dengan tatapan kecewa bercampur marah.



“Da Jie saya berani sumpah tidak pernah menyentuh wanita ini,” lagat Jie Ru.


“Sudahlah bawa wanita ini masuk terlebih dulu, nanti akan kami bahas didalam,” ujar Xin Qian menepuk pundaknya.


“Masuk!!!” pintanya pada wanita yang masih tersungkur menangis.


*

__ADS_1


“pakai ini, tutupi aurat mu, jangan sampai menjadi tontonan keempat pria ini,” sungut Xiao jing melempar hanfu pribadinya dan kembali mengebrak pintu kamarnya.


keempat pemuda yang berada di hadapan wanita tersebut hanya menganga tak percaya jika seorang Xiao Jing yang dikenal sebagai wanita lembut, bisa menjadi wanita ganas jika sudah dikecewakan.


“apa Xiao Jing berubah menjadi seperti ini jika sudah marah,” tanya Li Wei pada Xin Qian selaku adik angkatnya.


Lawan bicaranya hanya menggelengkan kepalanya, menyahuti untaran Li Wei.


“Apa maksudmu!?” hardik Jie Ru langsung fokus pada tujuan.


“Ha? Apa maksudku? Bukankah kemarin malam kita…”


“Jaga bicaramu!!! Saya tidak pernah menyentuh wanita sedikitpun,” tegas Jie Ru.


Targetnya bukanlah Jie Ru melainkan diriku.


Batu Giok kembali beraksi ketika Wei Heng berdekatan menyenggol lengan Nu Li. Semua rencana ini sudah direncanakan sejak awal oleh Wei Heng yang mencurigai tingkah wanita tersebut dengan maksud tersembunyi nya.


“Siapa kau sebenarnya? Siapa tuanmu?” cetus Wei Heng dengan tatapan menusuk.


“Sa-saya diperintah oleh penolongku, Maaf Saya tidak memberitahu kalian siapa pemilik ku. Tapi kalian harus percaya padaku, Saya ini dijebak olehnya, tolong aku.”


“Biarkan Dia tinggal sehari kita akan memantau gerakannya,” bisik pemilik rumah pada Wei Heng.


“besok kamu sudah harus pergi darisini, dan buat penjelasan kepada penduduk desa dengan ucapan yang tidak masuk akal yang kau ujarkan itu,” tegas Wei Heng meninggalkannya di ruang tamu.


Pembahasan kembali terjadi di kamar para pria itu sedang berkumpul, suasana kamar makin mencekam menarungi pengamatan yang sedang berlangsung.


SIUNGGG, Sebuah magnet energi diluncurkan oleh Wei Heng dalam tujuan mengunci suara dan pergerakan yang direncanakan keempat pemuda tersebut.


“Wei darimana kamu mengetahui wanita itu diperintah oleh tuannya,” tanya Li Wei membuka suara.


“dari batu ini,” arahnya pada batu giok yang melambung tinggi menerangkan kegelapan dengan cahaya merahnya.


“Dia dari keempat Si Xiong?” imbuh Jie Ru.


Golengan kepala masih belum bisa menjawab pertanyaan Jie Ru yang masih menjadi pembahasan utama di pemikiran pria dingin itu “Batu ini tidak bisa mendeteksi, apakah Ia monster iblis atau iblis jahat lain yang ingin mencari keuntungan.”


“tidurlah, besok kita akan bahas kembali,” ujar Xin Qian yang sudah menguap.


Lain Rubrik seorang wanita sedang berbaring dengan pikiran kalut, antara percaya dan tidaknya terhadap kejadian yang barusan terjadi.


Ikuti perintahku, semua yang kuperintahkan harus kau patuhi. Tepat Zao Chen, bawa sebuah pisau dapur dan letakkan pada halaman belakang, berdiri tepat dan hunuskan pisau itu dileher mu sendiri. Gema titah yang membuyarkan lamunan nya.


Zao Chen\= pagi hari atau subuh.


Arahan dari ruang mediasi mengontrol pikiran Xiao Jing mengikuti perintahnya, kilau manik mata Xiao Jing berubah menjadi gemerlang hitam kabut yang menyelimuti seluruh retina nya.

__ADS_1


Apa yang akan terjadi esok harinya? apakah ada seseorang yang akan menolongnya atau ia akan mati mengenaskan seperti yang diperintahkan alunan suara yang mengawasinya.


Keempat pemuda itu terpulas tak sadarkan diri dengan apa yang sedang terjadi pada Xiao Jing, sedangkan iblis tak berwajah terus mengawasi gelagat penghuni rumah yang sudah berada di alam bawah sadar. Hanya seorang Wei Heng yang terus berwaspada terhadap kejadian yang sedang dialami, berpikir keras dalam mencari informasi.


__ADS_2