The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 59 - Hanya Menjadi Sebuah Kenangan


__ADS_3

...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


Sepenggal surat yang ditinggalkan oleh peninggalan Xin Qian, yang kian menjadi sebuah surat kenangan berharga. Diletakkan di masing-masing ranjang ketiga pemuda yang masih belum beranjak dari bangunnya.



“Hoamm… pagi yang suram,” ruap Jie Ru menyipitkan matanya.


“Wei… Shi Xiong… bangun! Sudah siang,” goda lelaki infantil mencubit paha seniornya.


“Auchh… Kau!” tuduh Li Wei mengacu jari pada Jie Ru.


“Hmm… Dimana Da Ge?” ujar Wei Heng mengekspos pandangannya mencari sosok peran utama.


 Kedua pemuda lainnya ikut mengedarkan penglihatannya melacak keberadaan Xin Qian, lamun hanya sepucuk surat yang tertinggal di pojok ranjang samping meja.


Dengan tulisan yang kurang rapi, namun masih jelas dibaca, ciri khas dari penulisan Xin Qian yang bertangan kidal.


Untuk sahabat seperjuanganku Jie Ru


Cukup aneh bukan, sepagi ini kamu sudah menerima surat panggilan dari ku, Hahaha… iya benar rupanya. jika kau sudah membuka suratku ini, maka saya sudah tidak dapat menemani perjalanan panjang kalian. Dan terima kasih untuk semua lelucon bodoh mu yang selama ini kau perankan. Hanya disurat ini, saya berani melontarkan kata bodoh untukmu. Cukup senang dengan kedatangan kalian di perjalanan hidupku. dengan adanya dirimu, Saya sudah lebih banyak tertawa daripada merenung. Terima kasih untuk sekali lagi Jie Ru.


Salam kenang Xin Qian.


“apanya yang pagi! Ini Sudah menjelang siang bodoh!” bentak Jie Ru dengan kelopak mata yang sudah dibasahi dengan air mata kenangan.


__ADS_1


“Hei! Apa yang kau tangisi bukankah ini hanya sebuah surat?” tanggap Li Wei.


Wei Heng yang tak kalah penasaran, ketika dirinya juga ikut mendapatkan secarik surat kecoklatan yang mengatasnamakan dirinya.


Untuk sahabat dewaku Wei Heng


Kau terkejut bukan ketika saya memanggilmu Sahabat Dewa, Hahaha… yah saya sudah tahu sejatinya dirimu adalah seorang dewa, meski saya hanya diam tanpa suara, tapi Saya dapat merasakan hawa Dewa mu masih menetap pada tubuhmu. Sebab Saya sendiri juga adalah prajurit kecil surgawi yang juga mendapatkan kutukan hidup. Dan lebih sialnya sampai dunia manusia pun saya mendapatkan kesialan bertubi-tubi. Kau sudah tahu bukan kalau seorang dewa jika sudah mendapat hukuman akan dibersihkan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, tapi Saya masih beruntung dari pada dirimu, proses kutukan ku sudah berakhir sejak hari ini. Perjalanan mu masih terlalu panjang untuk kembali menjadi seorang dewa. Walau begitu, imam mu yang terlalu kuat harus memberantas seluruh makhluk iblis sampai tuntas. Dan terima kasih Wei, Kamu sudah memberikan arahan baik untukku. Jika tidak ada dirimu, penyesalan ku tidak akan pernah habis sampai kutukanku berakhir.


Salam Dewa Xin Qian.



“bodoh, yang kau bilang itu benar kalau Xin Qian adalah orang bodoh,” cela Wei Heng memecahkan sebuah kendi pot yang masih terisi dengan Huo He Hua, hancur hingga berkeping-keping.



Huo He Hua\= Bunga Anthurium/ Bunga Kuping Gajah


Rasanya sudah terlalu sesak, jika di setiap perjalanan harus menangisi kematian seorang teman, Baik itu iblis yang mengakui kesalahan ataupun seorang dewa kecil yang mendapat kutukan, seperti halnya kematian Chen Fei yang disaat itu dibunuh oleh Hua Kui.


Berlalu Lalang meninggalkan kedua sekutu yang masih melongo melihat aksi bengarnya. Jie Ru yang melihat hal itu, berlari mengejarnya yang sudah dipastikan jika Wei Heng akan meminta penjelasan terhadap Dewa Hutan.


Kuserahkan Da Jie kepadamu, tolong gantikan aku untuk selalu menjaganya. Meski kulihat kalian seperti 2 manusia yang sedang jatuh cinta, tapi percayalah Da Jie selalu memikirkan mu, bahkan setiap malam nya, Saya mendengarnya sendiri ia sering memimpikanmu dan memanggil namamu. Sungguh iri bukan, Saya yang sudah hidup lama bersama dengannya tidak pernah mendapatkan perhatian khusus darinya. Tetapi hal itu sudah tak akan kusesali, Saya beruntung jika ia memilih mu sebagai pasangan hidupnya. Dan tolong usapkan kepala Da Jie jika ia menangisi kepergianku, sebab cara menenangkan hati wanita terletak dikepalanya. Saya memberi cara terbaik karena sifatmu yang kaku tak mungkin bisa menarik perhatian wanita. tolong untuk sekali lagi, tolong jaga Da Jie seperti ku menyayangi dia.


Salam Xin Qian.



“Yah sangat pantas kau menerima amukan Wei Heng, ternyata bukan hanya otak mu yang bodoh, tapi kau juga pria tebal muka yang berani menyuruh ku menggantikanmu menjaga Xiao Qing,” bantah Li Wei yang beranjak pergi dari ranjang.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


“Shen Xian! Shen Xian! Shen Xian dimana Kau! Saya butuh penjelasan darimu,” pekik Wei Heng menggoyahkan pertapaan Dewa Hutan.


“Apa kau pikir disini adalah rumahmu?” jawab Senlin yang masih melakukan persemedian.


“Dimana Xin Qian!” Hardik pemuda yang sudah diujung tanduk.

__ADS_1


“Apa kalian belum menerima surat darinya!? Isi surat itu sudah mewakili jawabanku,” tutur Senlin Shen dengan santai.


“Ta-Tapi”


“Iya… Dia sudah menyerahkan nyawa nya kepada Dia,” isyarat Senlin ke figur wanita yang sudah lebih terpancar sinar kehidupan.


“Kau masih mau menyalahkan ku! Bukankan Saya sudah menyelematkan tamu kalian!?” seru Kakek tua yang tak terima jika ia harus disalahkan atas perbuatannya.


Yang lain hanya bertekuk lutut menangisi kepergian Xin Qian yang tiba-tiba tanpa sepengetahuan.


“lantas kapan Ia akan tersadar kembali dan dimana raga Xin Qian?” ujar Li Wei.


“tubuh temanmu sudah diserap oleh alam ilahi untuk kembali ke asalnya, karena dia adalah seorang prajurit kecil yang pernah melanggar aturan surgawi dan ia juga sedang menjalankan kutukan dunia.”


“Xiao Jing sudah waktunya bangun dari tidurmu, Kau tertidur sudah cukup lama, mau seberapa lama kau membuat mereka mengkhawatirkan mu,” panggil Senlin yang langsung disalurkan dalam alam dibawah sadarnya.


HMMM, gelaknya membuka mata yang sudah tertutup kaku, “Kenapa kalian semua berkumpul disini? Dimana ini? Dan mengapa kalian menangis?” pertanyaan beruntun yang langsung disampaikan Xiao Jing setelah ia melupakan semua kejadian yang menimpanya.


“Apa kamu sudah lupa dengan peristiwa kematianmu,” tanya pemilik Hutan.


“Saya? Mati? Jadi ini sudah di surga?” jawab Xiao Jing dengan linlung.


“Haa… haruskah Saya yang menjelaskannya?” sindir Senlin membuka mulut.


Dengan pelan Wei Heng menjelaskan awal mulanya Shizi Mo mengendalikan pikirannya, Asal kedatangan iblis singa sampai Xin Qian yang sudah mengorbankan hidupnya dengan diam-diam.


“Jadi maksudmu, Xin Qian menggantikan ku? Dia menyerahkan nyawa nya untuk ku!?” cetus Xiao Jing dengan mata memerah, namun masih tersimpan ketidak percayaan kematian tersebut.


Yang menjadi salah satu lawan bicaranya hanya menggangukan kepalanya “Yah Dia sudah pergi dan ini surat untukmu,” penyerahan surat Xiao jing yang dititipkan oleh Dewa Hutan.


Untukmu Da Jie Xiao Jing


Da Jie kau sudah kembali? Kau sudah dapat melihat isi surat ini? Ingatlah untuk jaga dirimu, jangan sampai roh jahat mengendalikan mu kembali. Jika hal itu sampai terjadi, maka kematianku akan sia-sia. Hahaha… Saya tahu kau sedang menangis ketika kau melihat isi surat ini. Jangan menangis, sudah waktunya Saya menyerahkan yang sudah seharusnya dan tidak akan membebani mu kembali jika setiap bulannya kau harus mengiris lapisan lenganmu. Saya sedih jika harus melihatmu pedih dalam luka setiap bulannya. Ingat jangan menangis di hadapan Li Xiong atau dia akan menganggapmu sebagai wanita cengeng. Setelah kepergian ku ini masih ada mereka bertiga yang akan menjagamu. Dikehidupan berikutnya, jika takdir masih menerima kita sebagai kakak adik maka saya akan sangat senang menerimanya. Sampai jumpa Da Jie.


Sayangmu Xin Qian.


__ADS_1


Tak dapat berkutik dalam pernyataan yang ditulis oleh tangan Xin Qian sendiri, hanya sebuah bayangan yang terbayang di balik lembaran surat yang kini hanya berisi sebuah kenangan.



__ADS_2