The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 57 - Kematian Yang Berharga


__ADS_3

...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


Dengan nafas mencengat, Wei Heng beranjak dari pelepasan aroma yang menyeruak. Tiada manusia lain yang ikut menolongnya, sebab kericuhan itu ditunaikan dalam parallel 2 atmosfer yang tidak akan bersangkutan dengan perkara yang sedang terjadi dibalik dunia dimensi.



“tak ada yang lebih baik selain pertarungan tanpa pertumpahan darah, cukup Saya yang terluka tanpa harus melibatkan orang lain,” pikir Wei Heng yang sudah gelagapan.


Wajahnya memutih bak mayat hidup yang hanya tinggal sepenggal nyawa, nadi tangan nya sudah melemah bagai sudah putus dari dagingnya, bibir pucat pasi dengan olesan darah yang menghiasi sudut mulut dan juga jubah luarnya.



Pertahanan yang luar biasa, dan bagaimana dengan teori seorang Dewa bisa mati? Bagaimana dengan gelar Dewanya? Jika dilihat-lihat sungguh aneh bukan seorang dewa harus mengalami kematian.


Dalam asal usul mitologi China seorang dewa dibuat berdasarkan imajinasi untuk makhluk seperti manusia atau manusia yang telah meninggal, diberi kemampuan tambahan karena tingkah laku sama dengan beratnya. Imajinasi ini pun berkembang menjadi sebuah dunia lain yang mempunyai mekanisme mirip dengan mekanisme dunia manusia. Karena dunia lain tersebut merupakan parallel dunia manusia yang mengenal makhluk jahat. Dan intinya dalam peradaban Cina, para dewa mampu digantikan ataupun hilang dalam istilah mati.


Keadaan Jie Ru saat ini sulit dikondisikan, pekikan histeris mengguncang pelosot wilayah Senlin Shen, Hutan yang selama ini jarang disentuh oleh manusia, yang tenang ditemani dengan lambaian dari tepukan daun ke daun, kian menjadi tempat keluar masuk ketiga pemuda ini dengan membawa seorang tamu wanita yang masih tergeletak tak bernyawa.


“Wei Heng sudah memberitahuku dari awal, jika kalian sedang dalam masalah,” ujar Senlin Shen dalam pertemuan untuk kedua kalinya.


“Jie Ru tenanglah, tidak akan terjadi apa-apa pada Wei,” ucap Xin Qian menenangkan jiwa pemberontak Jie Ru.


“Kau tahu apa! Apa kau juga ikut serta dalam pertarungan itu! Kau bahkan tidak mempunyai ilmu tenaga dalam, dimana kau saat kita sedang menyergap Shizi Mo! Kau manusia paling tidak berguna yang pernah Saya temui,” lontar Jie Ru dengan nada kasar.


Yang menjadi lawan bicaranya, hanya tertunduk tak mampu menyahuti tanggapan yang dilontarkan Jie Ru, sudah semestinya dirinya yang tak berguna ini menerima ujaran kasar Jie Ru yang benar adanya. Hanya satu kata yang mampu diucapkan Xin Qian “maaf”


“Ru dengar baik-baik, Wei Heng manusia hebat, tak ada yang bisa melawannya, percayalah,” bimbing Li Wei menepuk pundaknya dengan pelan.

__ADS_1


“omongan kalian tak bisa dibuktikan! Minggir kalian semua! Biarkan saya keluar dari sini dan membawa Wei Di kembali,” ujar nya dengan sorot mata yang sudah berapi dalam kemarahan.



Dibalik drama yang sedang terjadi, Senlin yang terdiam akhirnya membuka suara, bukan memberi sebuah nasehat melainkan tawa keras yang mengguyur telinga ketiga pemuda yang sedang dilanda kesedihan. Bukan niatnya ikut larut dalam kesedihan malahan ia memberi hawa positif dengan figur tawanya.


“Hahaha, teman sekorib rupanya, sungguh beruntung Wei Heng mendapatkan teman manusia yang tulus seperti mu,” ujar Dewa Hutan turun dari pertapaannya.


“Kalian berdua papah wanita ini ke batu besar bercahaya itu, cukup langsung saya bilang bahwasan nya wanita ini sudah tak dapat diselamatkan,” imbuh Dewa Hutan yang langsung berterus terang.


JLEBBB, hati para manusia itu seakan roboh mendapatkan berita yang sungguh tak pantas didengarkan, apalagi untuk hati Li Wei yang sudah hancur berkeping-keping tak bersisa sedikitpun, bahkan untuk menyesali pun itu sudah terlambat.


Jie Re selaku adik kandung yang belum tahu diketahui oleh Xiao Jing, jika selama ini Jie Ru mengintainya dalam diam, juga ikut terpukul untuk kedua kalinya setelah mendengar pengucapan Dewa penyelamat.


“A-Apa semua ini sudah takdir!? Sungguh tidak adil, mengapa kejahatan yang harus berada diatas kebaikan. Apa Lao Tian Ye juga tidak punya mata untuk melihat!” sedih Li Wei terjungkal lemas berpangku pada lututnya.


Xin Qian berkaca-kaca menatap lekat wajah Xiao Jing yang tertidur dengan tenang tanpa ada beban yang membebani “Kau sungguh jahat! Bagaimana dalam kondisi seperti ini, kau bisa tidur dengan pulas! Kau jahat selalu membuat kami khawatir,” batin Xin Qian larut dalam kesedihan.


Sedangkan Jie Ru sudah tak dapat beranggapan apapun selain hanya menatap dalam diam. Di satu sisi ia sedang memikirkan kondisi Wei Heng yang belum ada kabar baik darinya, bahkan jika Xiao Jing adalah kakak kandungnya yang terlampau mati, ia akan lebih sedih jika harus menerima kabar duka dari Wei Heng.


“Masih ada cara lain,” potong Dewa Hutan ditengah situasi berduka.


“nyawa diganti dengan nyawa.”


“maksudnya?” lagat Li Wei tak dapat mengartikan maksud Dewa Hutan.


“nyawa diganti nyawa, Dia bisa kembali jika salah satu ada yang bersedia menyerahkan nyawa menggantikan roh Xiao Jing yang sudah meghilang.”


“Kalau begitu ambil nyawaku, Saya sudah tidak butuh,” sergah Li Wei dengan mudah yang beranggapan nyawa seseorang dapat dibeli dengan harta.


“Apa kamu yakin? Jika kamu mati dan dia hidup, maka kalian berdua juga tak akan dapat bersatu” tanya Senlin dengan memancing.


“Yah saya bersedia menanggung resiko, asalkan dia masih hidup saya akan tenang di alam sana,” tegas Li Wei dengan pasti.


Pertapa Dewa itu hanya mendengus dingin, ia beranggapan jika diluar sana manusia yang tak memiliki hati Nurani akan berbondong-bondong menarik paksa roh manusia untuk dijadikan tumbal pemberi umur panjang, berbeda dengan pemuda ini yang rela menyerahkan nyawanya hanya untuk seorang wanita.


“tapi sangat disayangkan, hanya manusia yang berutang budi kepadanya  lah yang dapat menolongnya,” firman Dewa memantau kearah Xin Qian.

__ADS_1


Mengapa Dewa Hutan menatap kearah Xin Qian, ketika ia berfirman jika hanya seorang manusia berutang budi yang dapat menolong pahlawannya.


“apa lagi maksudnya! Jangan memotong informasi penting Shen Xian,” sungut Li Wei yang masih mencerna berita penting yang dipotong Shenlin.


*Flashback On


Xiao Jing dilahirkan sebagai wanita berdarah ganda, maksud dari artinya ialah jika darah Xiao Jing mampu mengobati seseorang yang mengalami kesialan dengan mengidap penyakit aneh yang ditularkan dari roh jahat. Dan orang sial itu adalah Xin Qian yang baru menginjak usia9 tahun.


Disaat itu, Xin Qian menaiki gunung mencari potongan kayu diatas perpohonan tinggi. Gunung tersebut terkenal dengan gunung pemakan roh.


jika itu adalah hari kesialan baginya maka akan ada penolong yang menyelamatkan hidupnya. Sejak saat itu, Xin Qian yang sudah dirasuki dengan roh hitam penari gunung. Setiap tanggal 7 bulan lunar Kalender Cina, maka ia akan menjadi perantara sosok iblis penyerap roh manusia yang bermukim di sekitar pegunungan.


kepanikan melanda kekacauan pikiran ayahnya, dan disaat itulah penyelamat Xin Qian datang menghampirinya.


Desa He Ping kedatangan seorang pendeta sakti yang hampir mencapai tingkat Nirwana, memberi solusi Xin Qian bisa sembuh jika kedatangan seorang yang berdarah ganda, Setiap bulan sebelum tanggal 7 maka penyelamat itu harus mengiris sedikit daging tangannya untuk dijadikan obat pengampu Roh jahat.


Tepat keesokan harinya, Xiao Jing yang kasihan dibuang melintasi aliran hilir sungai melewati penetapan Xin Qian, yang kemudian dibawa pulang oleh ayahnya Xin Qian. yang lebih mengagumkan nya, disaat tubuh Xiao Qing mengapung di atas sungai, mengeluarkan cahaya terang yang menyelimuti dirinya seakan itu adalah sebuah pemberkatan yang akan menolong anaknya.


Sungguh menderita jika setiap bulannya harus mengiris darah dagingnya sendiri untuk diberikan kepada Xin Qian. Jika Xiao Jing kira selama ini Xin Qian yang sudah menyelamatkan hidupnya, maka ayah Xian Qian beranggapan jikalah Xiao Jing yang sudah menyelamatkan nyawa anaknya.


Sudah berpuluh tahun lamanya, hanya cara inilah yang paling ampun menekan Jiwa Roh yang akan mengendalikan tubuh Xin Qian. Dan sampai saat inilah, Xin Qian masih berutang budi berpuluh kali lipat untuk menyelamatkan Xiao Jing.


*Flashback Off


Li Wei menggapai tangan Xiao Jing yang mulai mendingin. Potongan bekas sayatan sudah tertutup kembali dengan bentuk tangan yang sudah tak beraturan. Perih rasanya jika ia harus melihat langsung penderitaan yang diderita Xiao Jing selama berpuluh tahun.


“Saya Siap!” Sela Xin Qian.


“Tidak! Kau tidak boleh pergi! Shen Xian biar saya yang menggantikannya, jika kau pergi maka Xiao Jing akan sedih,” sanggah Li Wei.


“Tidak! Sudah seharusnya Saya menggembalikan hidupku kepada pemiliknya, jika tidak ada Da Jie mungkin Saya sudah lama berakhir di peristirahatan terakhir, berkat dialah saya masih dapat mengumpul kenangan ini” imbuh Xin Qian dengan cekal yang sudah pasti.


“Tidak Qian, kita bisa mendapatkan cara lain, bukankah begitu Shen Xian?” tanya nya pada sosok berjanggut panjang.


Tetapi Kakek Dewa hanya menggelengkan kepalanya, jika ini adalah cara terakhir untuk mengembalikan jiwa pada jasadnya.


Sangat berat jika harus melepaskan genggaman sohib yang sudah menemani perjalanan waktu lama, meski baru bertemu sudah harus terpisah waktu untuk selamanya.

__ADS_1


 


__ADS_2