
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
Istana yang sudah megah dari awal penampakan, Tetapi hari ini bahkan lebih megah dibanding dari sebelumnya, Bahkan hanya dari pintu gerbang utama dapat dilihat jika Istana sedang mengadakan pesta penyambutan, Perjamuan khusus yang diciptakan untuk menyambut kedatangan musuh yang telah menjadi teman, Sekaligus mengantar kepergian saudara jauh yang hendak kembali berkelana.
Segala hidangan yang menjadi ciri khas dari istana Ru, disiapkan dan dihidangkan di meja tamu yang penuh dengan piring bermotif burung itu, Dan tak lupa dengan poci arak yang terbuat dari porselen juga ikut andil dalam penyambutan seorang tamu.
Begitu banyak makanan asing yang harus diambil dari hutan, gunung tinggi dan seberang Lautan yang jauh, hanya untuk merayakan kembalinya persahabatan dalam perayaan Zhang Ru, kemudian dengan juru masak Istana terbaik yang mulai dari juru menggoreng, memanggang, mengukus, merebus sehingga semua yang datang mengikuti Pesta makan besar bisa mencicipi lebih dari seratus hidangan masakan yang mengagumkan.
Daging sapi saus tiram, punuk unta kukus dengan perut Ikan, lidah ikan koi, mie jenggot Naga, bubur biji Teratai, ayam mutiara, abalone dengan bunga osmanthus, otot rusa dengan jamur putih, akar teratai, jamur shitake dengan kacang dan beragam buah-buahan, kue dan makanan pembuka lainnya ikut disajikan diantara makanan utama.
Dari isi dan bentuk makanan hidangan Istana Ru, dapat dilihat Negeri ini begitu makmur dan sejahtera, hingga dapat menyiapkan begitu banyak makanan yang begitu sulit untuk ditemukan.
“Huan Ying Zhang Wang,” ujar Di Lang menyambut Dengan tangan terbuka.
Huan ying\= selamat datang
Kaisar Zhang yang masih tersimpan rasa emosi dengan Di Lang tak begitu meladeni sikap baik Di Lang, dengan hanya senyum paksaan yang dilimpahkan dari sudut mulutnya.
“Dimana Wang Zi?" hanya singkatan kata yang keluar dari mulut Zhang Wang.
Wei Heng yang melintasi ruang aula, lantaran hendak bertemu dengan Kaisar Zhang yang masih berdiri di pintu aula. dengan kepandaian mulutnya, Ia mencoba mencairkan suasana dingin diantara kedua manusia yang masih berdiri.
“Zhang Wang, Kamu sudah datang. Mari masuk," ucap Wei Heng yang berjalan ke arah Dua Kaisar itu.
“Wahh begitu banyak hidangan istimewa, begitu banyak sungguhan mata, Saya menghargai usaha Kalian," ujar Kaisar Zhang menatap semua hidangan yang ada. Bukan karena rakus, Tapi hidangan yang dipersiapkan begitu sulit ditemukan di negeri Zhang.
“Silahkan dinikmati Zhang Wang," balas Di Lang mempersilahkan.
Begitu meriah perjamuan yang dilakukan untuk dua negara itu, hingga tarian Yangge di tampilkan ditengah-tengah aula, begitu mempesona dengan langkah indah dari para penari yang sudah terlatih.
__ADS_1
Yangge\= tarian yang menggunakan sapu tangan atau kipas untuk para wanita dan genderang untuk para pria yang ditarikan dengan perasaan gembira dan bersemangat.
“Hahaha Bagus Bagus, penampilan yang luar biasa," papar Kaisar Zhang sambil bertepuk tangan dengan meriah.
Hingga tarian Fei Tian sebagai penutupan tarian yang sempurna, Aula Istana yang berwarna kilauan emas menambah kesan kemeriahan dari tarian ini, Ditambahkan dengan bunga teratai besar yang berada di tengah-tengah penampilan Fei tian.
Fei tian \=salah satu tarian yang terkenal di Dunhuang, yang menggabungkan tarian Dewi dari India yang digabungkan dengan Dewi mitologi Tiongkok "Yuren".
Mendadak muncul seorang dewi yang memiliki wajah bulat dengan alis Panjang dan mata yang indah serta rambut disanggul keatas dan menggunakan selendang panjang di pundaknya, memulai permainan tarian dengan melayangkan selendang yang ada dipundaknya dengan mengayunkan kedua tangan dan kakinya, berjalan kearah bawah bergabung dengan kerumunan penari, menarikan hingga mengelok-elokkan pinggangnya dengan sempurna.
“Sempurna!!! Penampilan yang luar biasa dibawa dengan tepat oleh wanita yang begitu anggun," ujar Kaisar Zhang sembari meminum arak yang dituang dalam poci.
"Siapa wanita itu? tarian nya begitu memesona," ujar kaisar Zhang yang tak berhenti mengedipkan matanya.
Semua pendekar dan prajurit tingkat tinggi bersorak dengan riang gembira, menikmati alunan Tarian yang begitu menerangi hati Siapapun yang memandangnya.
“Dia putri ketiga dari istana Ru, Ru San Xiang," ujar Wei Heng.
“Hebat, Hebat ternyata putra putri Ru Chen begitu baik dalam memainkan perannya," ujar Kaisar Zhang.
“Hahaha Zhang Wang, Bagaimana jika Kita saling membahas hubungan perdamaian ini, sembari menikmati Alunan musik dari Ba Yin ," papar Wei Heng.
Ba yin\= alat musik tradisional yang dimainkan secara tunggal yang tediri dari alat musik senar, suling, sambal, gong dan gendang.
”Hahaha, Baik Baik."
“Zhang Wang kami akan mengganti rugi sebanyak kerugian dari negeri Zhang, kuda, wilayah yang hancur, serta Alat perang dan lainnya akan Kami ganti sampai tuntas," tambahan kata dari Di Lang.
“Hahaha iya, itu semua akan Saya terima dengan tangan terbuka, sudah seharusnya negeri Ru mengganti kerugian perang itu," ujar Kaisar.
Hawa manusia yang tadinya begitu terpesona dengan penari yang ada ditengah aula, kini berganti menjadi begitu intens dan serius dalam hal pembagian kerugian perang sejak kemarin.
pembahasan negosiasi yang memuaskan dari kedua pihak negara, dengan menjalin kembalinya hubungan ikatan persaudaraan.
Perdamaian kedua belah pihak telah diselesaikan dengan pergantian dan perjanjian yang memuaskan, gerombolan Kaisar Zhang mulai kembali ke kediamannya, Kaisar Zhang bagaikan simbol Harimau yang banyak dihormati oleh masyarakat, begitu juga dengan Kaisar Zhang yang datang disambut dengan megah , pulang juga diantar dengan kereta kuda yang sangat elegan namun fantastik sebagai tanda penutupan dari perjamuan.
”Xie Ru Wang, semoga kedepannya kita dapat menjalin hubungan yang baik," ujar Kaisar Zhang seraya melambaikan tangannya.
“Ya, Xie Zhang Wang”, ucap Di Lang membalas lambaian tangan Kaisar Zhang.
__ADS_1
Istana Ru yang tadinya begitu ramai dengan kehadiran Tamu, kini hanya bersisakan Lima orang yang masih terduduk di Liangting mendiskusikan kepergian Wei Heng, Jie Ru dan Chen Fei.
Liangting\= Paviliun, Gazebo, Menara pandang
“ingat Istana Ru masih sanggup membantumu, jika Kau dalam kesulitan," ujar Di Lang yang sudah mulai ada rasa peduli terhadap Wei Heng.
“Xie Da Wang, Kami akan mengingat budimu, jadilah pemimpin yang bijaksana hingga penduduk merasa makmur dengan adanya Kaisar yang bijaksana," ucap Wei Heng menepuk pundak Wei Heng.
“Wei Heng terima ini sebagai tanda terima kasihku, Tunjukkan Kalung ini jika kau butuh dengan bantuan ku, Jangan sungkan," Ujar Di Lang.
Di Lang menghadiahkan tiga buah kalung giok dengan bentuk ovale campuran warna putih dan hijau kepada Wei Heng, Jie Ru dan Chen Fei, dimana kalung langka hanya ada tiga buah yang dipesankan khusus hanya untuk Mereka.
“Xie Da Wang, Kami pergi," ujar mereka bertiga dengan membawa bekalnya masing-masing.
“Fei ingat, Setelah pencarian kalian selesai, ingat untuk datang ke Istana," ucap Ru Xiang yang kembali memeluk Chen Fei.
“Ya Gong zhu," balas Chen Fei.
“ Afei, Apakah Kamu bisa mengikuti Ku sebentar?” sambar Di Lang dengan rasa malu.
“Ya, Da Wang," balas Chen Fei yang mengikutinya berjalan ke arah Taman Istana.
*
Taman Istana yang disuguhkan dengan pemandangan yang indah dengan kupu-kupu yang saling mengejar dan aroma bunga yang begitu menyeruak penciuman, dengan suasana angin yang mendukung seseorang yang hendak menyatakan cintanya.
“Fei, Saya tahu Kamu akan mengganggap ku sebagai manusia bodoh, dengan kelakuanku di masa lalu pastinya kamu akan mengganggap ku sebagai manusia yang tak berguna. tapi hari ini Saya berjanji akan menjadi yang berguna di depan matamu, Saya harap Kamu jangan pergi dan menetaplah di Istana ini," ujar Di Lang yang menyatakan isi hatinya di depan seorang wanita yang masih linglung dengan perkataannya.
“Maaf Da Wang, tapi Saya sudah berjanji untuk saling bersama dengan Saudaraku," balas Chen Fei dengan jawaban yang sedikit menolak.
“Xie Da Wang telah menjagaku selama masih di Istana, tapi maaf Saya tidak akan meninggalkan mereka," balasan Chen Fei yang menolak arahan tangan dari Di Lang.
“Kamu akan berpikir jika perhatianku seakan pengaruh dari Huanguang, Tapi percayalah ungkapan ku murni dari isi hatiku," tutur Di Lang yang masih menaruh harapan.
“Mau seperti apapun kondisinya, Mau sejauh apapun jaraknya, Kalau takdir telah menyatukan, Kita pasti akan bertemu," ujar Chen Fei dengan meninggalkan Di Lang yang masih ada di taman.
“Xie Xiao Jie, selama kepergian Wei Heng dan Jie Ru kalianlah yang begitu menjagaku, Xie," ujar Chen Fei memeluk Ru Xiang yang kemudian membalikkan badan tanpa melihat keadaan yang ada dibelakang.
“Ada apa dengan Dia?" tanya Jie Ru dengan sorot mata kebingunan.
“Entahlah," balas Wei Heng dengan menaikkan bahunya.
“ Xiao Jie kami pamit, tolong sampaikan kepergian Kami kepada Da Wang, Zai Jian," ujar Wei Heng dan Jie Ru bersamaan dengan melambaikan tangannya.
Perpisahan yang tak terduga, Seketika waktu berakhir dengan cepat, Pertemuan yang begitu cepat meninggalkan kenangan yang tak begitu indah. Waktu masih panjang, Tetapi belum tahu kapan waktunya tiba untuk bertemu kembali.
__ADS_1