
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
“A Yi, makanan ini saudaraku yang membelinya, bagilah kepada penduduk lainnya,” ujar Wei Heng memberikan makanan pemberiannya.
A Niang teramat senang ketika Wei Heng menyerahkan begitu banyak sembahan untuk para penduduk. Dengan segera, Ia berlari di tengah-tengah alun desa dengan tubuh rentanya.
“Hei penduduk desa Jianchi, Cepatlah kumpul kesini, Tuan-tuan dan Nona ini memberi kita makanan yang begitu melimpah,” lontar A Niang melambaikan tangannya maju mundur.
Meski nama desa ini telah diganti seiring berjalannya waktu, tetapi penghuni desa ini tetap menyebutnya sebagai desa Jianchi yang berarti ketekunan dalam menghormati leluhur dan para dewa dewi tanpa mengenal dimanapun dan kapanpun mereka berada.
Berbondong-bondong halaman rumah Xi Xi dipenuhi penghuni desa dan rata-rata semua penduduk desa adalah orang tua tanpa adanya anak-anak.
“Mana makanan yang kau sebutkan itu Da Jie?”
Da Jie\= panggilan untuk kakak tertua
“A Tong cepat letakkan makanan itu dipiring saji dan letakkan di tengah alun-alun, hari ini kita makan besar, dan ambilkan arak kesayanganmu, Cepat!” perintah A Niang dengan antusias.
Pemandangan yang menyuguhkan mata, begitu menggugah selera bagi siapapun yang menatapnya.
“Memang makanan kota Pai Tian tak ada yang mampu menandingi,” ujar Wei Heng yang ikut menatap makanan di meja itu.
Tahu Mapo hidangan yang diciptakan pada tahun awal pemerintahan Tongzhi di Dinasti Qing (1856-1875) oleh Chenshi, istri pemilik sebuah restoran kecil dibawah Wanfu Bridge dipinggiran Chengdu. Tahu Mapo yang terbuat dari tahu yang dipotong dadu, dibumbui dan dimasak dengan saus pedas. Selain itu terdapat Douban (fermentasi kacang polong dan cabai), Douchi (fermentasi kacang hitam)yang menjadi ciri khas, bersama dengan daging sapi cincang atau varian sayur lainnya seperti jamur kuping kapur dan sayur lainnya.
Bebek Peking sajian popular di china yang diperkenalkan pertama kali oleh seorang juru masak pada masa Dinasti Ming (1368-1644) dan hanya disajikan untuk kaisar dan keluarganya, Bebek Peking yang dibuat dengan terlebih dahulu bebek pedagang khusus direndam pada cairan bumbu cabai selama 24 jam, setelah itu bebek ditiriskan dengan cara digantung selama 6 jam dan kemudian dipanggang dengan 180 derajat celcius selama 45 menit.
Ma Yi Shang Shu masakan khas cina yang memiliki nama yang sangat unik dan terdengar puitis yang artinya semut memanjat pohon. Makanan ini diberi dengan nama demikian karena potongan daging cincang yang lengket pada mie yang ditarik dengan sumpit saat menyantap makanan ini terlihat seperti setitik semut yang sedang berusaha mendaki sebuah pohon.
Jian Bing sudah dikenal di propinsi Shandong pada masa tiga raja (220-280 SM), konon ahli strategi militer Zhuge Liang menyuruh tentara memasak telur diatas lempengan besi karena wajan mereka telah hilang, Jiang Bing sendiri adalah makanan semacam crepes atau kebab yang biasa dimakan sebagai sarapan, di tiongkok Jian bing biasanya dijajakan di street food dengan bahan dasar adonan tepung gandum dan jagung yang dimasak menggunakan wajan rata bersama telur atau daging, daun ketumbar, dan bumbu lainnya.
__ADS_1
Yumcha dipopulerkan oleh masyarakat kanton selama 100-150 tahun terakhir, Yum Cha sendiri makanan yang telah ada sejak zaman dinasti Han (206-220 SM) yang berarti usia Yum Cha sudah berusia ribuan tahun, sesuai dengan namanya Yum Cha atau dimsum adalah kudapan khas tiongkok yang jenisnya beragam mulai dari siomay, hakau, mantau hingga bapao.
La Ji Zi sama seperti bangsa lain, sejak zaman primitif orang tionghoa bergantung pada hasil buruan dan tangkapan dari laut atau sungai. La Ji Zi yang berarti ayam pedas kering dan berbentuk daging ayam yang dipotong dadu dan digoreng kering, selama digoreng ditambahkan cabai Sichuan kering, pasta kacang pedas, paprika Sichuan, bawang putih dan jahe.
La Mian dalam Kitab Shongshi Yangsheng Bu ditulis oleh Song Yu jika masakan ini sudaha ada ditahun 1504, Yang merupakan mie tarik ala tionghoa yang dibuat dengan cara memutar, menarik dan melipat adonan terigu dengan sedikit tambahan tepung beras khusus sehingga membentuk benang mie-mie tipis. Untuk campuran biasanya ditambahkan daging ayam, rica-rica ayam atau kuah kaldu ayam.
Fu Yung Hai atau disebut juga Puyonghai adalah salah satu jenis masakan khas tionghoa yang terbuat dari telur dadar dengan campuran berupa sayuran, daging atau makanan hasil laut yang disajikan bersama saus asam manis yang terbuat dari tomat dan kacang polos dan ada juga yang disajikan bersama potongan nenas.
Chow Mein yang dikreasikan dengan makanan Tionghoa Amerika ini sudah tenar ke seluruh penjuru dunia yang pertama kali lahir di negara Guangdong , Chow Mein adalah hidangan mie goreng atau secara harfiah berarti mie tumis, yang dibuat dengan cara unik yaitu mie dan bahan-bahan perlengkapnya dimasak terpisah lalu digabung sewaktu disajikan dengan tambahan topping adalah daging sapi atau ayam dan variasi sayuran seperti bawang, seledri dan wortel.
Lun Pia atau yang dikenal dengan lumpia sudah dikenal sebelum zaman Dinasti Tang (618-907). Saat itu, Lunpia merupakan hidangan perayaan musim semi sebagai sebuah berkat , Lun Pia berbahan tepung gandum yang berbentuk lembaran tipis yang dijadikan pembungkus isian yang diisi berupa telur, daging, sayuran, makanan hasil laut maupun rebung bahkan ada pula yang isinya makanan manis.
“Wow menggiurkan,” ucap salah seorang penduduk yang menggelap air liurnya.
“Tepat sepuluh jenis makanan ini akan kuhabiskan,” ujar Xi Xi dengan segera memegang sumpitnya.
Bai Jiu\= arak yang difermentasi dengan anggur putih
“Hari ini kita makan besar,” tutur pak tua bongkok yang sudah memegang sendok kayunya.
“Jie Ge, Xie Xie, pemberianmu sangat enak,” papar Xi Xi yang melahap hingga kedua pipinya mengembung.
Yang lain hanya tersenyum melihat tingkah Xi Xi, lantaran ia salah satu penduduk yang paling muda diantara semua yang telah menua.
“Xie Xiansheng, Xie Xiaojie. Hari ini kita semua dapat menikmati makanan yang sudah begitu lama tidak kami rasakan,” ujar A Niang selaku wanita tertua di desa Jianchi.
Dalam hati nurani Chen Fei, Ia begitu mengasihani seorang Xi Xi yang harus tinggal dengan penduduk yang terlampau tua melebihi usianya tanpa ada teman yang dapat bersanding dengannya, serta pemukiman yang tidak layak untuk menempuh masa depannya.
“Xi Xi jika sudah selesai makan, ikutlah dengan Jie Jie, hari ini saya akan mengubah dirimu."
Xi Xi masih belum selesai mencerna ucapan Chen Fei dengan maksud tertentu, ia hanya menganggukan kepalanya dan kembali melanjutkan kunyahannya.
Kedua wanita itu melangkahkan kaki keluar dari jembatan Gangjiang “Da Shu bolehkah kami menyewa kuda mu,” tanya Chen Fei pada seorang laki-laki yang bersandar di bawah pohon.
Tatapan laki-laki itu penuh curiga dengan kedua wanita itu dan berkata “Jaminan apa yang kalian sanggup bayarkan?”
__ADS_1
Chen Fei mengeluarkan seikat koin emas yang sudah dapat membeli kereta kuda yang lebih besar daripada seekor kuda “Nahhh ini jaminanku, Apa ini tidak cukup?”
“Hahaha ini lebih dari cukup, Berhati-hatilah dijalan, Nahh pegang tali kuda ini,” ujar laki-laki itu yang bermuka dua.
Kedua wanita itu menunggangi kuda perjalanan kearah selatan menuju ke kota She Hua, dimana kota itu rajanya baju hanfu dan perhiasan maupun alat dandan untuk wanita.
“Wow Chen Jie Ini sangat fantastik,” ujar Xi Xi yang mengedarkan pandangannya di toko Hua Xi.
“Belilah sesukamu,” ujar Chen Fei menggelengkan kepalanya.
“Jie, mana yang lebih bagus, yang kiri atau yang kanan."
Kiri.
“Jie, ini mana yang lebih bagus?”
Kanan.
“Jie kalau ini mana yang lebih bagus?”
“Hahaha semua akan terlihat bagus jika kamu yang memakainya,” buaian Chen Fei hingga membuat Xi Xi merona
“Da Niang, tolong ubah penampilan adikku ini, ubah dia menjadi wanita manis,” pinta Chen Fei kepada pemilik toko yang bertugas mendandani tamu.
Da Niang\= bos besar wanita/ pemilik wanita
Setelah menunggu hingga waktunya tiba, Xi Xi keluar dibalik tirai itu dengan perasaan malu, rambut berponi dengan senyum manis yang sesuai dengan usianya, pupil mata yang besar dengan lentikkan bulu mata yang panjang.
“Xi Xi luar biasa,” ujar Chen Fei menunjukkan jempolnya.
“Da Niang bungkus beberapa baju wanita dan laki-laki dan hitungkan semua dalam tagihanku,” ujar seorang pemuda dibalik punggung Chen Fei.
“Li Xiong?”
Pemuda itu hanya menunjukkan garis bibirnya yang meninggi “Iya ini saya, Sangat kebetulan bisa bertemu denganmu Shi Mei."
Shi Mei\= Adik seperguruan wanita
Ketiganya berjalan menunggangi kudanya kembali ke asal posisinya, bercerita peristiwa yang menimpa desa Jianchi hingga bagaimana Li Wei sampai di kota She Hua. Li Wei mengikuti Chen Fei yang hendak kembali ke jembatan Gangjiang “Shi Mei, bawa saya ikut dengan kalian, biar kami bersama mencari tahu penangkal kutukan itu."
__ADS_1