
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
“Wei Di, Cepatlah kita harus melihat Caihong dibalik bukit itu, Cepatlah, Saya sudah melihat ekornya,” ajak Jie Ru yang menarik paksa tangan Wei Heng yang masih tertidur pulas.
Caihong\= pelangi
“Haaa, Biarkanlah, Saya tidak terniat untuk melihatnya, ajaklah Chen Fei jangan mengganguku,” tutur Wei Heng yang masih setia bergelut dengan ranjangnya.
Jie Ru yang menyiasati untuk membangunkan Wei Heng yang masih tidak hendak beranjak “Apa kamu tidak berniat membayar gelang giok yang hilang,” bisik Jie Ru.
Dengan sigap Wei Heng beranjak menyadarkan kesadarannya dengan segera mengganti baju Hanfu nya dan memakai sepatu putihnya “Cepatlah sebelum Caihong itu menghilang, bangunkan Afei sekalian."
Dengan cepat mereka membuka pintu kamarnya yang hendak membangunkan Chen Fei yang berada di sebelah kamar, Sebelum kedua manusia itu mengetok pintu kamar sebelahnya, Chen Fei sudah sembari membukakan pintu hingga keduanya jatuh terjungkal kedepan kamar.
“Hei Apa yang kalian berdua lakukan?” ujar Chen Fei yang masih berdiri di samping pintu.
“Sial, kenapa kau membuka pintu? Seharusnya kau memberitahu kami,” ujar Jie Ru yang hendak berdiri dan memapah Wei Heng yang ada dibawahnya.
“Hahaha dasar bodoh” lontar Chen Fei yang berjalan mendahului keduanya.
“Kemana kau hendak pergi?” balas Jie Ru.
“Melihat Caihong, dasar lamban."
"Darimana ia tahu kalau kita mau melihat Caihong," tanya Jie ru yang dibalas Wei Heng dengan mengangkat bahunya yang tandanya ia tak tahu.
Ketiga manusia beranjak dari penginapan Baihua dan berjalan kearah belakang kota Pai Tian. tepat di sebelah gunung Maiyingong, ketiga nya berjalan ke bukit bunga.
Proses pelangi dengan hasil rintihan hujan yang terjadi kemarin malam membuahkan sebuah hasil yang menenangkan mata dengan matahari yang baru tampak dari tidurnya, memancarkan sinarnya menerangi pelangi yang memutari tubuhnya.
“Wuhuuuu ini sangat indah,” ujar Chen Fei memutari baju hanfunya sembari mengambil keranjang bunga dengan senyum manisnya
Kedua pemuda yang dibelakangnya hanya menggeleng kepala melihat sikap kekanakan Chen Fei.
“Wei Di, Chu ju ini sangat cocok dirambutmu,” ujar Jie Ru yang memasang bunganya disamping daun telinga Wei Heng.
__ADS_1
Chu Ju\= Bunga Daisy
Wei Heng memetik sebuah bunga yang tepat di sebelah kakinya “Lan Hua ini juga cocok denganmu."
Lan Hua\= Bunga Anggrek
“Hei Hahaha ada apa dengan penampilan kalian berdua, Kalian seperti wanita yang menggoda Dao Sui qi."
Kedua pemuda itu saling menatap dan saling melempar canda gurauan “Hahaha Wei Di kau dapat mengalahkan Huakui” ujar Jie Ru yang tertawa memegang perutnya.
"Hahaha, kecantikanmu juga dapat mengalahkan wanita yang menertawaimu," ujar Wei Heng yang masih tertawa.
“Ehem,” muncul seorang pemuda dari balik pohon dengan gaya karismanya memegang sebuah buku kayu kuno.
“Maaf Xiansheng suara kami membangunkanmu,” ujar Wei Heng dengan membungkukkan kepalanya.
“Tidak apa, Saya senang mendengar gurauan kalian,” papar pemuda berkipas itu.
“Tadi saya mendengar ada yang menyebut kata Huakui, Ada apa dengan Huakui jika saya boleh tahu?"
Ketiganya hanya saling melempar tatapan, tak ada yang berani untuk mengungkapkan kebenaran yang sebenar-benarnya.
“Iya, kami menemukan Huakui adalah monster iblis yang menjerma menjadi wanita penggoda di istana Maiyingong,” ujar Jie Ru dengan berterus terang.
Chen Fei merasa kesal dengan mulut Jie Ru yang sangat berterus terang terhadap orang asing, ia memukul kepalanya dengan keras.
“Auu, Apa yang kau lakukan? Mengapa kau memukulku?”
“Dasar tidak tahu diri,” balasan dari kekesalan Chen Fei.
Pemuda berkipas itu menatap tingkah laku dari kedua manusia yang saling berargumen sedangkan Wei Heng hanya menatapnya dalam diam seakan begitu banyak kecurigaan yang hendak ia lontarkan.
“Xiansheng, Apa anda juga terlibat dalam kasus Huakui?” Tanya Wei Heng dengan tatapan penuh kecurigaan.
“Iya, Saya murid pertama dari Mu Tong Shifu, Li Wei dari sekolah Qi Jing. Tugas utama kami dari dunia ilmu qi yang sudah menerapkan akan membantu siapapun yang membutuhkan pertolongan,” papar pemuda berkipas dengan panjang lebar.
“Shixiong terima hormat kami, Saya Wei Heng murid Mu Shifu yang bertugas untuk mencari Si Xiong,” ujar Wei Heng yang bertekuk lutut memberi penghormatan.
Shixiong\= kakak senior dari perguruan yang sama
Hingga kedua manusia yang sedang berargumen tak henti-hentinya merasa terheran dengan sikap Wei Heng yang tiba-tiba bersimpuh lutut di depan pria yang memegang kipasnya.
“Hei, Ada apa denganmu? Kenapa kau berlutut didepan pemuda ini,” tuntut Jie Ru yang merasa tidak pantas.
“Li xiong maaf kelancangan saudaraku."
__ADS_1
“Bangunlah, tak perlu terlalu sungkan denganku, kita hanyalah seorang murid dari guru yang sama, Hahaha tak perlu terlalu sungkan,” ucap Li Wei Memapah Wei Heng.
“Iya, Saya Li Wei murid pertama dari Mu Tong Shifu dari sekolah Qi Jing,” lontaran untuk memperjelas kedudukannya.
“Oohh… jadi ini murid kebanggaan Mu Shifu yang selalu menyebut namanya di setiap perkataanya, Maaf Li Xiong kami telah lancang,” ujar Chen Fei dengan memberi hormat.
“Li Xiong saya mendengar dari Mu Shifu bahwa kamu memiliki energi qi khusus, Apa kami boleh tahu kemampuan apa itu?" ujar Wei Heng.
“Hahaha kalian jangan terlalu makan dengan omongan Mu Shifu, dia hanya terlalu pintar untuk melebih-lebihkan, Energi qi ku hanya mampu mengendalikan seluruh tanaman alam semesta hingga seolah-olah tanaman itu bisa menyerupai makhluk hidup. Dan ini semua, tanaman yang sudah saya kendalikan termasuk tanaman yang kalian petik,” ujar Li Wei.
“Ohh maaf,” Wei Heng segera mancabut tanaman yang masih melekat di daun telinganya.
“Lihatlah bunga Chuju itu” pinta Li Wei menunjuk bunga daisy yang ada di telapak tangan Wei Heng.
Bunga Chuju seolah-olah mirip persis dengan makhluk hidup yang telah dimantrai, memiliki wajah, anggota tubuh dan dapat bergerak sendiri, bahkan bunga itu menyerupai manusia yang sudah diperintahkan.
“Li xiong Bunga ini sangat hebat, ia dapat menuruti perkataanmu,” ujar Jie Ru yang ikut menatap Lan Hua yang ada di telinganya.
“Hahaha ini tidak sebanding dengan kemampuan kalian, qi apa yang kalian miliki kalau kalian berkehendak memberitahuku?" tutur Li Wei.
Jie Ru dengan senang hati menunjukkan qi anginnya yang berputar seperti tornado, Sedangkan Chen Fei mengendalikan pikiran Jie Ru dengan menyuruhnya memanjat pohon tinggi yang ada disebelahnya, dan untuk yang terakhir Wei Heng tidak mampu mengeluarkan qi pemecah jiwa raganya, sebab jika ia melakukan hal tersebut maka batu giok nya akan keluar dengan sendirinya.
“Maaf, siapa namamu Wei… kenapa kamu tidak menunjukkan qi mu, apa kau masih meragukanku?”
“Nama saya Wei Heng , Tidak Li xiong. Saya tidak meragukanmu, Hanya saja."
“Tak apa, tunjukkanlah, sebisanya saya akan membantumu,” ujar Li Wei dengan tekad membantu.
Wei Heng terduduk di tanah gundukan pohon tinggi yang menjulang ke atas, mengatur nafasnya dan mengeluarkan Batu gioknya dengan bantuan energi qi nya, tampak lah sebuah batu giok yang memancarkan sinarnya di atas tangan kebesaran tuannya, dan Wei Heng menutup kedua bola matanya yang hendak memusatkan pikirannya untuk membelah jiwa dan raganya.
Raganya masih terduduk seperti semula hanya saja tiada nafas yang keluar dari indera Wei Heng seolah-olah mayat dengan tubuhnya kaku, Sedangkan jiwanya melayang diatas raganya yang tak tampak oleh mata biasa.
Li Wei membuka mata batinnya untuk menerawang keberadaan jiwa Wei Heng yang sudah keluar sedari tadi.
Setelah semuanya sudah selesai dipertunjukkan, jiwa Wei Heng kembali ke dalam raganya menyatu dengan aman tanpa ada secerca masalah.
“qi mu luar biasa hanya tingkat pernafasanmu dalam mengendalikan energi qi perlu ditingkatkan, kamu masih terlalu panik dalam memisahkan jiwa mu,” ujar Li Wei yang seakan-akan telah mengetahui semuanya.
"Datanglah ketempat ini esok pagi, Saya akan mengajari kalian untuk mengatur konsentrasi kalian."
“lantas bagaimana keadaan sekolah, mengapa hanya kalian bertiga yang bertugas mencari Si Xiong?”
Ketiga sosok manusia itu hanya duduk termenung menghela nafas, entah harus darimana mereka memulai kejadian tragis yang menimpa sekolah Qi Jing.
“Hei apa yang terjadi? kenapa dengan sikap kalian yang mendadak berubah? Terjadi masalah apa dengan sekolah Qi Jing?”
Alhasil, Chen Fei yang membuka suara untuk menceritakan segala hal yang terjadi dengan sekolah qi jing, dimulai dari iblis gagak yang mencuri Hunli Tao Tie hingga akhirnya sekolah yang diserang oleh iblis gagak yang telah bangkit dari kematian juga ia lontarkan segalanya.
Kemarahan yang melanda sifat Li Wei yang mendadak begitu berapi-api, pasalnya Mu Shifu yang sudah ia anggap sebagai orang tuanya sendiri, dibunuh dengan tragis oleh iblis gagak tanpa memandang siapapun.
BEDEBAH TAK AKAN KUBERI AMPUN, TAK AKAN KUBIARKAN KAU HIDUP LEBIH LAMA. AKAN KUBUAT KAU MENEMANI SHIFU KU!!!, Hardik Li Wei dengan mengepalkan tangannya.
__ADS_1
Ketiga manusia yang masih bergidik ngeri dengan perlakuan Li Wei yang mendadak naik pitam, sedari tadi ketika berargumen dengan ketiga manusia lainnya, Ia masih dapat menjaga sikap ramahnya.