The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 48 - Pertikaian Dengan Senior


__ADS_3

...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


“Wei… Bukankah kalian ingin menerpa qi yang lebih tinggi?” tanya Xin Qian membuka suara keheningan yang sedari tadi sedang beringsut.


“Hmm, ini kami bertiga tiap hari juga melatih diri di bawah air terjun,” ujar Wei Heng menyeluput teh buatan Li Wei.


“tapi di desa ini terkenal dengan satu tempat melatih qi lebih cepat dari alam lain, Kalian tidak ingin mencobanya?"


“Dimana wilayah itu?” sambung Li Wei yang masih menyeduh teh melati buatannya.



“tapi perjalanan ke wilayah hutan itu cukup berbahaya” ucap Xin Qian menerima cangkir teh yang diserahkan teman yang berada diatas umurnya.



“Bukankah dibalik sebuah keajaiban harus melalui yang namanya musibah terlebih dulu?” tutur Li Wei dengan santai.


Pemuda yang super aktif, baru bangun dari malam indahnya, mengucek mata dan menguap besar sudah menjadi salah satu kebiasaanya “Hoammm… terlalu banyak gaya merugikan diri sendiri,” sindiran berupa maksud tersembunyi, ia lontarkan kepada kakak seniornya.



Li Wei yang baru tersadarkan jika sindiran itu ditujukan untuknya, sebelum mulutnya menimpali kata kasar kepada lawannya, tangan Xian Qian sudah mendahului menutup erat cibiran yang akan didalihkan nya. Lebih baik menutup mulut Li Wei daripada Jie Ru yang mungkin akan langsung menggigit telapaknya.


“Mana teh ku?” pinta Jie Ru menjatuhkan bokong nya di sebelah kursi kanan Wei Heng.


“Kau minta kepada siapa?” racau Li Wei.


“mana kutahu mau minta sama siapa, yang penting saya lihat setiap meja tetap ada cangkir teh, makanya kuminta mana bagian teh ku?” sungut Jie Ru.


Pemuda yang duduk di samping kiri Wei Heng terlalu berat untuk menanggapi dengan tenang, setiap ucapan kasar yang dilemparkan Jie Ru kepadanya. Kedua pemuda itu saling melemparkan Kausa kasar dan tak ada yang ingin mengalah. Wei Heng yang berada di tengah-tengah posisi pertikaian hanya mampu menggelengkan  kepalanya, daripada saling membantu yang terakhir ia yang akan terkena batunya. Seperti hal nya Xin Qian yang terlalu usil memisahkan kedua kucing dan tikus yang saling berargumen, alhasil ia yang disiram teh bekas seruputan Li Wei.


“HAAAA, Saya pergi,” lanjut Wei Heng mengangkat bokongnya.


“Tidak! Tidak! Kau tidak boleh pergi, Kau harus menjadi saksi siapa yang memenangkan babak perselisihan ini,” Tarik ulur Li Wei yang tak kalah malu.


“Bisakah kalian diam!!! Apa kalian lupa tujuan perjalanan kita! Kalau kalian masih ingin melanjutkannya, silahkan. Tapi jangan salahkan aku jika saya pergi duluan dari tempat ini!” bentak Wei heng disudahi ambang batas kesabaran.


Kedua pemuda dari sisi kiri dan kanan berubah menjadi kucing manis yang bisa diajak komunikasi, terduduk diam tanpa bersahutan kembali.


Xin Qian tampak dari kejauhan sedang merapikan baju dan rambutnya yang basah atas perlakuan kedua manusia yang masih dalam keadaan tak bergeming.


“Hahaha… ada apa dengan kalian berdua? Apa sudah selesai babak pertarungannya,” ujar Xin Qian mengacak rambutnya yang basah.


“Sudah kujinakkan,” ucap Wei Heng.


“Hahaha”

__ADS_1


“Jadi bagaimana? apa kalian ingin menantang diri ke wilayah angker itu?” tanya Xin Qian sekali lagi.


“kemana?” sahut Jie Ru yang ketinggalan informasi.


“ke Xuexi Qi, tempat itu bagus untuk orang yang ingin menimba ilmu qi.”


Pria jangkung itu dengan antusiasnya menjawab “Ya sudah tunggu apa lagi?”


“Hei Kau masih belum tahu seberapa berbahaya nya daerah sana,” timpal Li Wei.


Wei Heng berpikir sendiri, jika mereka tidak mengembangkan energi mereka untuk lebih dalam, maka sudah dapat dipastikan mereka akan kalah dalam pertarungan dengan iblis gagak.


“Seberapa jauh daerah Xuexi Qi?”


“mungkin akan memakan waktu 3 hari 2 malam dan yang Saya dengar dari pengalaman penduduk desa lain, hanya yang bernasib baik dan memiliki tujuan sama yang akan dipilah untuk berlatih didalam sana,” ungkap Xin Qian dengan panjang kali lebar.


“Jadi yang tidak beruntung apa yang akan terjadi?” sanggah Jie Ru.


“mungkin akan didepak dari sana.”


Xuexi Qi adalah sebuah Kawasan hutan rindang yang dilindungi oleh penjaga tak kasat mata yang telah menghuni selama beratus-ratus tahun lamanya. Bahkan konon diyakini oleh penduduk desa wilayah hutan tersebut, dapat mengembangkan qi lebih cepat dari berlatih di alam biasa, sekalipun mampu melatih diri hingga menjadi orang sakti sekalipun, tetapi itu semua bergantung pada kemampuan menahan sakit yang luar biasa yang akan dirasakan oleh setiap penguji yang merasakannya.


Sebelum memasuki hutan rimba itu, maka perjalanan yang harus dilalui yaitu jembatan Fuqiao, sebuah jembatan yang dibangun diatas awan dan terkenal, jika daerah sanalah yang memakan banyak korban yang membuat pertapa atau penguji lain untuk tidak memberanikan diri ke hutan rimba tersebut. Suara auman dari berbagai hewan akan senantiasa menemani setiap perjalanan menuju ke daerah sana, pengujian kali ini akan berpihak pada sebuah lorong dimensi dengan makhluk tak kasat mata.


“apapun yang terjadi kita hanya perlu bersama-sama,” ujar Wei Heng.


“baiklah kalau begitu persiapkan barang yang diperlukan selama 3 hari kedepan, mungkin akan terlalu sulit sewaktu perjalanan,” ucap Xin Qian.


“Kalian mau kemana?” tanya Xiao Jing yang baru selesai menyapu halaman belakang.



Xin Qian lupa menyiratkan kepada mereka untuk tidak mengatakan kepada Xin Qian kemana mereka hendak bertujuan, buku jarinya memutih dan gigitan kecil di bibirnya membuktikan jika ia sedang gelisah yang akan menerima makian kasar dari kakak angkatnya “Hado betapa bodohnya diriku.”


“Xuexi Qi? Hutan rimba? Untuk apa kalian kesana?” cela Xiao Qing.


“perjalanan kedepan akan lebih rumit untuk menghadapi iblis gagak, oleh sebabnya kami harus meningkatkan qi. Jika hanya terus begini, mungkin kemampuan kami tak akan sanggup melawan iblis gagak,” imbuh Wei Heng penuh penjelasan.


Seketika Xiao Jing menyetujui perkataan Wei Heng yang terdengar masuk akal “pergilah dan hati-hati, segera pulang jika kalian sudah menyelesaikannya,” usul penghuni wanita tersebut.


Ha? Dia tidak marah? Bagaimana bisa? Wei Heng pakai mantra apa kenapa Da Jie bisa nurut kepadanya? batin Xin Qian.


“jangan terlalu banyak berkisar dengan pemikiranmu, Saya tahu apa yang kau pikirkan Xin Qian,” sungut Xiao Jing seakan-akan dapat membaca isi otak Xin Qian.


“Hehehe, Ya sudah tunggu apa lagi?” timpal lelaki yang ketahuan oleh kakaknya.


*


“Apa lebih baik saya mengganti warna rambutku, corak putih ini terlalu mencolok di pandangan penduduk lain. Saya terlihat lebih tua dengan rambut putih ini,” gumam Wei Heng dengan cermin di dalam kamarnya.


Pemuda itu mengeluarkan batu giok yang sudah lama tidak ia latih kembali, masih dalam keadaan yang sama. Giok itu masih berpusar pada telapak tangannya memanifestasikan cahaya merah keunguan di tapak tangannya. Kemungkinan batu giok tersebut belum menemukan target selanjutnya, maka energi nya akan seperti keadaan majikan nya saat ini.


Batu berharga tersebut membubung mengubah warna rambut Wei Heng sepenuhnya menjadi hitam. Wei Heng hanya merasakan pergantian fisik ini berguna untuk ia bersembunyi dibalik intaian dewata lain yang mungkin sedang mengincar dirinya.


Usai ia mengganti keadaan raganya, stamina tubuhnya serasa dipoles kembali, meski itu tidak terlalu besar.


“Wei Di, kau sudah selesai? Panggil Jie Ru yang sudah siap berkumpul dengan kedua pemuda lainnya dan seorang perempuan yang menunggu kepergian mereka.

__ADS_1


“sebentar lagi saya akan selesai,” timpal Wei Hen dari bilik pintu.


KREKKK, Suara pintu kotak itu terbuka dengan pelan, tatapan penunggu itu tak beralih sekalipun dari fokus matanya.


“Wei-Wei Heng, kapan kamu mengganti warna rambutmu?” ujar Li Wei terpotong-potong.


“ada apa dengan penampilanku? Apa ini terlihat jelek?”



“ha? Tidak tidak, kamu lebih tampan dengan corak rambut hitam mu,” lanjut Jie Ru, masih diposisi penglihatannya.


“Wei ubah rambutku juga menjadi warna putih, bisakah? Jadi kita akan bergantian, kamu rambut hitam dan aku rambut putih,” usul Jie Ru.


“Bisa.”


Permintaan Jie Ru yang terlalu kekanak-kanakan disanggupkan oleh Wei Heng yang kembali memancarkan sinar giok nya mengubah rambut Jie Ru secara keseluruhan.


“bagaimana tampan tidak?”



“Kau lebih mirip dengan orang tua,” ungkap Li Wei dengan tepat.


“Sialan kau!" maki Jie Ru, menendang lutut lawannya.


Perjalanan masih tertunda seperti biasanya, gaya dan aksi yang memperlambat langkah perjalanan semakin terhambat waktu.


“Ya sudahlah, cepat bergegas dan hati-hati diperjalanan, cepat pulang lebih baik,” ujaran yang selalu diucapkan dari kekhawatiran Xiao Jing.


“Ya Da Jie, jaga dirimu, tunggu kami pulang selama 3 hari kedepannya,” pamit Jie Ru melambaikan tangan nya.


“jaga dirimu Xiao Jing, Kamu tinggal seorang diri di rumah ini, apa perlu saya tidak ikut pergi dan menemanimu?” harap Li Wei yang tidak tega meninggalkan Xiao Jing seorang diri.


“tidak perlu, masih ada penduduk tetangga yang akan membantuku, kalian pergilah hati-hati,” balas Xiao Jing memegang punggung tangan Li Wei.


“Hei hei hei, sudah kubilang jangan terlalu banyak tingkah atau cinta itu akan membuat mu kesusahan,” gerutu Jie Ru membalikkan badannya yang sudah beranjak dari tepi ladang, menarik telinga Li Wei yang sudah tercetak kemerahan.


Hahaha, tawa keras dari kerongkongan besar Wei Heng dan Xin Qian menikmati pertunjukkan seorang kekasih yang diganggu oleh anak kecil.


Lamban laun semakin dekat dengan Da Jie, rasa-rasanya Ia memiliki ikatan darah yang sama denganku, apakah mungkin benar jika ia adalah kakakku yang dibuang oleh ayah.


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2