
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
“Terima kasih sudah mau ikut membantu,” ujar Da Jie dengan senyuman yang seperti biasanya ia suguhkan.
Li Wei terpesona dengan senyuman disertai lesung pipi yang diberikan Da Jie.
“Hei sadar, Saya tahu dia cantik, tapi jangan kau tatapi lebih dari 10 detik atau kau akan jatuh hati,” pukulan keras Jie Ru menyadarkan Li Wei.
Wanita yang sedang diperbincangkan merasa malu dengan pujian dari mulut Jie Ru, pipinya merona tersenyum malu dan segera berbalik menanam Tudou yang sudah setengah ia tanam.
“Xiao Jing, biar kubantu dirimu,” tawar Li Wei yang tiba-tiba sudah berdiri di samping wanita tersebut.
Penyebutan Li Wei kepada Xiao Jing memang hanya panggilan sebuah nama, tidak mengikuti yang lainnya dengan panggilan Da Jie yang artinya umur wanita itu lebih tua dari Wei Heng dan Jie Ru, Sedangkan usia Li Wei dengan Xiao Jing sebanding tak berbeda jauh, hanya perbedaan bulan.
Jie Ru yang melihat tingkah Li Wei yang sok imut merasa geli, masalahnya dari tadi Kakak seniornya sangat sulit diperintah. Jika bukan untuk membantu Xiao Jing dia mungkin tidak akan pernah beranjak dari ranjangnya.
“Wei tarik dia kembali, sebelum dia khilaf,” ujar Jie Ru meracuni pikiran Wei Heng.
“Heii Heiii, Apa yang kalian lakukan? Ehh… bocah buat apa kau menarikku?” teriak Li Wei disela-sela kehangatan matahari yang mencairkan suasana menjadi lebih hangat dari biasanya.
“Shutttt” papar Jie Ru menutup mulutnya Li Wei yang sangat membisingkan gendang telinga.
“Kau itu sudah kubilang dari tadi, Jangan terlena dengan kecantikan Da Jie atau kau tidak akan pernah bisa meninggalkan desa ini,” bisik Jie Ru dengan wajah yang kesal.
“Ta-tapi” ucap Li Wei menatap kearah Wei Heng yang berharap ada pembelaan dari mulut saudara yang seakrab dengannya.
Wei heng tak berkutik dengan ujaran Jie Ru yang dianggap benar olehnya, hanya anggukan kepala yang dituturkannya pada saudara seperguruan nya yang tengah dilanda asmara.
Shi Xiong ini, berlagak sok tinggi, lain mulut lain hati, menyukai tetapi tidak berani mengungkapkan Hahaha
“Sudah, Sudah, tujuanku menyuruh mu kemari untuk membantu ku menanam Zhang Dou, bukan untuk menanam Tudou. Disini kan belum pernah menanam ada tanaman Zhang Dou, jadi saya punya ide, Apa kita sebaiknya menanam sayur lain untuk dijual ke pusat kota, bukankah jika banyak sayur yang kita jual akan lebih banyak tael perak yang kita dapatkan?” ujar Jie Ru.
__ADS_1
Zhang Dou\= kacang panjang
“ini bibit Zhang Dou yang saya titipkan pada A Yi yang tinggal di sebelah rumah, Apa mungkin Zhang Dou bisa hidup di dataran tinggi seperti ini?"
Li Wei dan Wei Heng merenungi pertanyaan dari Jie Ru tentang kacang panjang yang dapat hidup di dataran tinggi, perihal yang mereka ketahui Zhang Dou hidup di dataran rendah.
“Entahlah, kalau tidak mencobanya kita tidak akan tahu hasilnya,” papar Wei Heng.
Ketiga pria linglung itu membulatkan tekadnya, menanam Zhang Dou yang tidak takut resiko akan gagal, dengan bibit yang cukup banyak.
“Kamu yakin Zhang Dou akan tumbuh di lahan ini?" tanya Li Wei masih ragu-ragu.
“Hmm… percaya saja,” ujar Jie Ru.
“Ohh ya Li Xiong, bukankan energi Qi mu mampu mengendalikan alam ya, kenapa kamu tidak mencoba untuk menumbuhkan Zhang Dou,” tanya Wei heng.
“Ohh iya, kenapa saya tidak terpikirkan dengan rencana ini, Saya jadi lupa Hahaha.”
“Yah karena otakmu sudah teracuni dengan wanita,” ujar Jie Ru memutar bola matanya dengan malas.
Li Wei menyentuh tanah, perlahan energi Qi pengendali alam menjalar ke tanah-tanah hingga ke ujung tanah yang disekat. Tampak bibit Zhang Dou dapat bertumbuh dengan baik di dalam tanah, yang jarang mungkin terjadi jika harus ditanam di daerah dataran tinggi. Ini percobaan pertama yang pernah dilakukan oleh Li Wei, biasanya ia hanya akan mengendalikan tanaman yang benar-benar sudah ada atau tanaman mati.
“Li Xiong tampaknya akan berhasil,” ujar Wei Heng masih meneliti dengan cermat.
“hanya segini yang bisa saya lakukan, Selanjutnya kita lihat besok,” papar Li Wei.
“Setidaknya sudah ada hasil, ternyata rencana ku berhasil juga,” puji Jie Ru.
“Hahaha, ini semua berkat qi ku, bukan karena dirimu,” sindir Li Wei.
Penelitian untuk yang pertama kalinya telah berhasil dilakukan oleh pemuda itu, setidaknya sudah ada tanaman pengganti Tudou yang menjadi pendamping
“selanjutnya saya berniat menanam Lian Hua, jadi nanti akarnya akan saya masak seperti sup buatan A Yi,” papar Jie Ru yang menikmati masakan pertama ibunya Xi Xi.
“jadi, Apa maksudmu?” tanya Li Wei.
“Yah pasti saya akan memanggilmu, kan tidak mungkin aku yang memakai qi angin ku untuk menumbuhkan nya kan, yang ada semua panen ini akan rata dengan tanah.”
“Dasar Licik, Biar kau tahu… hei jangan pergi, Saya sedang berbicara denganmu , Heiii!!!” teriak Li Wei yang ditinggalkan oleh Jie Ru.
“Da Jie, tutup matamu, Ada sebuah kejutan untukmu Hehehe,” papar Jie Ru.
__ADS_1
“Hahaha ada apa? Da Jie sudah terlalu tua untuk menerima kejutan.”
Meski Xiao Jing berkata menolak, tetapi ia tetap menuruti perintah Jie Ru yang menyuruhnya untuk menutup mata.
Dengan langkah pelan, Jie Ru menggandeng tangannya membawa ke arah dimana Zhang Dou telah berhasil ditanam.
“Tadaaa.”
“Tanaman apa ini? Zhang Dou?” tanya wanita tersebut kepada tiga pemuda yang berdiri disekelilingnya.
Para pemuda tersebut hanya menjawab dengan anggukan gengsi memutar bola matanya dan melipat kedua lengan tangan di dada.
“Lihai, ternyata Zhan Dou berhasil tumbuh di tanah He Ping, kukira ini semua tidak akan berhasil,” papar Xiao Jing.
“Iya, ini semua juga berkat Li Xiong yang menumbuhkan dengan bantuan energi qi nya, jika tidak itu cukup mustahil jika Zhan Dou dapat hidup di daerah tinggi seperti ini,” ujar Wei Heng.
“Bukan karena Li Xiong, tapi karena saya juga yang punya ide seperti itu, tidak mungkin juga si tuan tanah ini dapat memikirkan ide menanam Zhang Dou, jangan kalian lihat badannya yang besar tapi isinya kecil seperti secuil biji Zhang Dou ini," ledek Jie Ru memperagakan jemarinya.
“bocah dungu, mulutnya susah diatur,” seru Li Wei.
Dari belakang rumah, terlihat Xin Qian memakai sebuah Appron celemek masak bermotif bunga biru yang terikat sempurna, memamerkan sebuah hasil pencapaiannya dengan membawa semangkuk lauk di tangan kanannya, membuktikan jika ia telah berhasil melakukan pertarungan di dapur.
“Da Jie makanan sudah siap,” teriak Xin Qian dari kejauhan.
“Baiklah tunggu kami disana,” pekik Xiao Jing.
“Hahaha, seorang laki-laki yang cocok jadi istri di dapur, ternyata keahlian ada di tangan nya, yang kupikir dia hanya tahu mabuk-mabukan,” tawa ledek Jie Ru.
“mabuk? Xin Jian mabuk?” ujar Xiao Jing yang mulai bertanya.
“Ohhh Hahaha, tidak, Xin Qian tidak pernah mabuk-mabukan, tapi otak anak ini yang sedang mabuk,” bela Li Wei menimpali ke Jie Ru.
“Aiyaa, hentikan perdebatan kalian, kasihan Xin Qian telah menunggu lama, Cepat masuk sebelum makanannya menjadi dingin,” ujar Wei Heng yang mengakhiri percakapan.
__ADS_1