The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 61 - Peran Beda Sosok


__ADS_3

...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


”jadi bagaimana kedepannya, apa rencana kalian?” tanya Sen Lin, setelah ia menceritakan proses perpindahan jiwa.


“belum tahu arah mana yang akan kita tempuh, masih belum menemukan petunjuk berikutnya,” sahut Wei Heng.


“bukankah masih ada 1 Si Xiong yang masih berkeliaran diluar sana?” bahas Dewa Hutan seraya melakukan kegiatan sehari-harinya, kalau bukan memungut buah yang jatuh dari induknya.


“Nah ambilah, pir ini akan memperpanjang umurmu hingga 50 tahun kedepan” beri Senlin.


“untuk apa saya menunda kematianku, bukankan jika saya hidup juga akan seperti orang mati,” ujar Wei Heng menatap dalam buah pir itu.


Senlin Zhi Sen yang sudah mengerti maksud dari Wei Heng hanya mendesah dingin, kemudian menepuk pelan bahu kiri teman lamanya. Jika dilihat oleh orang lain, Senlin Shen yang sudah berumur puluhan kalpa tahun dengan penampilan yang seperti kakek tua yang berjanggut putih tidak pantas bersanding dengan Wei Heng yang masih terlihat muda dengan wajah nya awet meski usianya tak kalah jauh dari Dewa Hutan.


Haa… sebuah hembusan nafas panjang ditarik dan dikeluarkan dari mulut kecil Wei Heng.


“kembali pada topik, tak usah terlalu dipikirkan,” potong Wei Heng mencairkan suasana.


“masih ada monster Tao Wu yang harus kita cari, dan Saya masih belum menemukan lokasi dimana ia berada,” ujar Wei Heng.


“Hmm… terlalu sulit untuk mencari keberadaannya, yang saya tahu makhluk ganas itu akan terus berpindah tempat, tidak menetap pada satu tempat,” imbuh penghuni hutan yang sedang memberi pertanyaan.


“apakah kalian tidak ingin menikahkan kedua manusia itu?” cetus Kakek Dewa seraya berbicara dengan cucunya.


“Siapa maksudmu? Xiao Jing dan Li Wei?” celetuk pria berambut putih terurai itu.


“Iya, setelah kalian menikahkan mereka, bukankah satu tugas sudah selesai dilaksanakan? Bukankah itu harapan Xin Qian?”


“Saya tak dapat mengambil alih, sebab Saya bukan siapa-siapa,” tolak Wei Heng.


“lebih baik langsung tanyakan pada Jie Ru.”


Dewata agung itu menggaruk kepala nya yang tidak gatal, pasalnya mengapa harus menanyakan kepada bocah tengik seperti Jie Ru, apakah ia adalah mak comblang keduanya.


“Jie Ru adalah adiknya Xiao Jing,” jawab Wei Heng sebelum Dewa agung itu memberi pertanyaan yang bertubi-tubi.

__ADS_1


“Ha? Bagaimana mungkin? Darimana Kau tahu?” tanya Raja Hutan itu.


“Di suatu malam, ia tertidur bergumam memimpikan Kakak perempuannya yang menghilang di buang oleh Raja He Tian itu. Saya tidak tahu apa penyebabnya, oleh itu Saya meminta bantuan Shan Shen mencari tahu hubungan mereka berdua,” paham Wei Heng.


“Ohhh Jadi kau masih mencari Sih tua busuk itu!?” sindir Senlin.


“Hahaha jadi permasalahan kalian berdua belum selesai rupanya,” ujar Wei Heng menggolengkan kepalanya sembari tertawa meledek.


“sih tua busuk itu yang selalu mencari masalah dengan ku, Saya tidak pernah membahas wilayah kekuasaan siapa yang paling luas,” gerutu kasar Senlin.


“Hahaha sudahlah, mungkin suatu hari Saya harus mempertemukan kembali kalian berdua serasa sedang bernostalgia.”


“Tidak Tidak, tidak akan,” nolak Dewata tersebut.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Tanpa sengaja pria yang kegirangan ini menabrak seorang wanita hingga keduanya jatuh tersungkur ke tanah.


“maaf Da Jie, Saya tidak sengaja, Maaf maaf,” ucap Jie Ru berucap berulang kali.


“Yah tak apa Jie Ru.”


Masih tersimpan kesenduan di manik mata terdalam Xiao Jing yang masih mengharapkan kesempatan kedua untuk mengembalikan Xin Qian yang sudah di alam lain.


“Ha? Tidak tidak,” imbuh Xiao Jing menghindar dari tatapan mata Jie Ru.


Jika Saya yang mati, apakah Da Jie akan mengkhawatirkanku seperti ini?, batin pria berwajah imut ini.


Sedalam hati Jie Ru, sejujurnya ia begitu ingin mengungkapkan isi hatinya jika ia adalah adik kandungnya, tetapi untuk menghindar dari masalah yang akan direncanakan oleh raja istana yang selaku ayahnya, lebih baik ia tetap menutup mulut untuk tidak mengungkapkan identitas Xiao Jing.


“Jie Ru kamu tidak apa? Mengapa kamu terlihat sedang banyak masalah?” ujar Xiao Jing melambaikan tangan nya di hadapan wajah Jie Ru.


“Ha? Hahaha tidak ada apa-apa,” gelagat kaku Jie Ru yang tiba-tiba menyahut.


“Jie Ru, boleh Da Jie mengungkapkan sesuatu?”


“Yah silahkan Da Jie, Jie Ru siap mendengar dan menjawab sampai malam juga Jie Ru akan ladenin Hahaha,” goda Jie Ru.


Baru hari ini, Xiao Jing bisa tertawa puas melihat tingkah laku adik bungsunya ini.


“Jie Ru, Saya rasa kamu ada kemiripan denganku,” papar Xiao Jing mengejutkan hawa ruangan.


JLEBB, Perkara yang tidak ingin dikeluarkan oleh Jie Ru, lambat laun pasti akan terbongkar Oleh Xiao Jing dengan sendirinya.


“Mak-Maksud Da Jie?” lagat bingung Jie Ru.

__ADS_1


“Iya kamu punya kemiripan dengan ku, Kamu rentan dengan makanan air bukan?”


“Hmm iya.”


“Apakah kamu sering mimpi buruk?” pertanyaan yang sangat dihindari oleh Jie Ru bagaimana Xiao Jing bisa mengetahuinya.


“Hmm Aã Hmm...bagaimana Da Jie bisa tahu?”


“Saya sering mendengar teriakan mu setiap malam, Kamu tidak tahu?” tukas Xiao Jing.


“maaf Saya tidak menyadarinya,” ujar Jie Ru.


Perubahan suasana semakin larut semakin dalam, semakin pula pembicaraan mereka hingga sudah membahas tentang lebih dalam mimpi buruk Jie Ru yang sedang dialaminya.


Pemuda tangguh yang baru keluar selesai bertarung dengan alat dapur memakai potongan kain yang melekat di pinggangnya, sembari memegang tampan makanan yang sudah berisi hidangan hasil buatannya.



Pemandangan yang pernah dilihat sebelumnya, hanya berbeda peran pria yang telah menggantikannya. Jika dulunya Xin Qian yang menjadi sosok ibu yang mengayomi anaknya, sekarang terlihat Li Wei yang akan menggantikan perannya dalam menjaga Xiao Jing.


“Hahaha… Shi Xiong kau terlihat mirip seperti,” potong Jie Ru yang tidak menyanggupi ucapannya.


Kenangan itu kembali terjadi pada ketiga manusia yang sedang mengenang peninggalan Xin Qian.


“Oohhh Hahaha kau ingin bilang aku mirip Hou Zi kan?” ujar Li Wei yang hendak mencairkan suasana.


Hou Zi\= sebutan untuk monyet.


“Ohh iya Hahaha kau sungguh mirip Hou Zi yang berbokong merah,” ucap Jie Ru memperagakan gaya jalan Monyet.



“Hahahaha, kurasa Kau yang sangat mirip, bukan Li Wei,” tawa Xiao Jing menutup mulut sembari mengelap air mata bahagianya.


“Jie Ru, Li Wei terima kasih untuk kehadiran berdua, jika tidak ada kalian mungkin Saya sudah akan larut dalam kesedihan,” papar Xiao Jing.


“Xiao Jing, Saya sudah memegang janji kepada Xin Qian untuk menjagamu, dan akan saya lakukan itu sampai akhir hidupku,” tutur Li Wei mengenggam telapak tangan Xiao Jing.


Kali ini, Jie Ru tidak akan merusuhkan keadaan, sebab benar Xiao Jing membutuhkan sosok yang dapat membantunya keluar dari kedukaannya.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2