
...快樂閱讀~~...
...Happy Reading's~~...
...Selamat Membaca~~...
...........
..........
.........
Wei Heng masih menyeka air matanya sejak membaca sepucuk surat yang disampaikan oleh isi hati saudara perempuannya. Tak disangka seorang dewa juga bisa menumpahkan air matanya kepada seorang wanita, bukan karena memiliki perasaan cinta melainkan hati yang tulus yang diberikan kepadanya.
Jie Ru dan Li Wei yang dari tadi saling mengata-ngatai, terdiam sejenak saat mengamati wajah kecil Wei Heng dibanjiri air mata. Keduanya saling menatap dan bergidik bingung dengan sikap Wei Heng.
“Wei Di apa yang dituliskan dalam surat ini?” tanya Jie Ru yang mencoba mengintip isi surat yang masih dibaca Wei Heng.
Wei Heng yang merasa sudah cukup untuk menangisi seseorang yang sudah berjasa dan juga yang telah menyelamatkan hidupnya, Ia menyerahkan surat tersebut berpindah ke tangan Jie Ru dan mengambil tas Chen Fei sebagai kenangan terakhirnya.
“Wei, Tunggu!” Panggil Li Wei yang mencermati Wei Heng akan pergi dari penginapan tersebut.
Jie Ru masih terlalu serius dalam pemikirannya, hingga ia lupa dengan keberadaannya sekarang. Ia membaca dengan tatapan yang menegangkan seolah-olah maksud dari surat itu diberikan untuknya.
“Wei Di, Surat ini dituliskan Chen Fei dengan perasaan terdalamnya, Wei… Wei kenapa kau tidak menyahutku Wei…” panggilnya dengan tatapan yang masih intens terhadap surat tersebut.
Jie Ru mengedarkan pandangannya, ternyata kedua manusia tersebut sudah beringsut cukup jauh dari posisinya.
“Wei Di, Li Xiong tunggu aku, Wei tunggu Wei!” jeritnya dari kejauhan dengan melabrak semua penghalang yang ada didepan jalannya.
“Wei Di, Li Xiong kalian tidak menungguku,” ujar Jie Ru dengan nafas yang tergopoh-gopoh.
“Kamu yang sangat lamban seperti Man Gui,” hardik Li Wei yang sudah menjadi teman makiannya.
Man Gui\= kura-kura lambat
“Hei, Hei kalian berdua diamlah, Kita sekarang sudah ada dimana?” cela Wei Heng yang baru mulai membuka suara.
Jie Ru mengambil jalan depan dengan gundukan batu yang menjadi penghalang jalan.
“Wei kemana arah tujuan kita?” tanya Li Wei.
__ADS_1
“belum tahu Li Xiong, Kita lihat kedepannya, Jie Ru mendapat petunjuk apa,” jawab Wei Heng memandang Jie Ru yang mencoba menaiki bebatuan yang tersusun tinggi.
Seekor burung gagak menghinggap di dahan tertinggi di sebuah pohon kokoh, yang terus mengintai target sepanjang jalan dari kota Pai Tian hingga menuju bukit berikutnya.
"Wei, Kamu lihat keatas, seekor Wu Ya sedang mengintai kita dari kejauhan," papar Li Wei melihat dengan ekor matanya.
"Wu Ya? iblis gagak sedang menerawang keberadaan kita, lebih baik kita berhati-hati. kita masih belum mengetahui keadaan didepan," balas Wei Heng.
SHIUNGGG, Jie Ru menghempaskan angin nya kearah burung gagak yang masih bertengger di atas pohon.
"Saya melihatnya , Saya tidak suka ada orang lain yang ikut mengawasi perjalanan kita," timpal Jie Ru seakan telah tahu dengan pertanyaan yang akan dilontarkan dari pemuda itu.
Seorang Pria pendek dengan membawa tunggangan kuda sebagai jarak tempuhnya dan beberapa kendi arak yang digantung ke tali yang diikatkan pada tubuh kuda. Pria yang sedikit brewokan dengan penampilan yang bisa dibilang tidak terawat. Berjalan ke arah Wei Heng dan teman-temannya.
“Hari ini adalah hari yang bahagia, tetapi saya tidak dapat melanjutkan sarjana menjadi seorang menteri istana. Hahaha hari yang bahagia harus dirayakan dengan arak yang manis dilidah. Diibaratkan dengan manis di lidah tak akan bertahan lama, pahit dilidah meninggalkan kenangan selamanya,” lontaran pria yang berjalan dengan sempoyongan.
Ketiga manusia yang masih tersadarkan dengan pemahaman jika pemuda ini menjadi Shen Jing Bing setelah ia tidak lulus menjadi sarjana.
Shen Jing Bing\= sakit saraf/ sakit otak, Gila, Idiot
“Hei anak muda, jalan itu tak bisa dilalui, buat apa kau memindahkan batu itu Hahaha… dasar bodoh,” ujar Pemuda tersebut.
“Ru, Dia sedang mabuk, jangan kau ladeni. Kau akan dikatai gila ketika kau berbicara dengan orang mabuk,” bisik Li Wei dengan suara yang cukup keras.
“Anak muda! Saya tidak mabuk, Saya hanya sedikit melayang, Apa yang kau ucapkan jangan kira saya tidak mendengarnya,” ujar Pemuda dekil itu mengoceh arak di dalam mulutnya.
“maaf Da Shu, ka-kami..” ujar Wei Heng yang dipotong oleh pemuda mabuk itu.
“Eiii… jangan panggil aku Da Shu, jangan kalian lihat dari segi penampilanku, biar kalian tahu saya masih seumuran dengan kalian semua,” canda gurau Pemuda seraya menunjuk-nunjuk dengan langkah gantung nya.
“panggil saya Xin Qian yang artinya selalu bahagia dan selalu menyebar kebahagiaan, tapi saya sendiri tidak bahagia. Huhuhu,” ujar nya yang mendadak mengubah raut wajahnya, yang sedari tadi tertawa seperti orang tak waras sekarang terduduk di tanah kotor seperti orang yang banyak masalah.
“Aiyaa Da Shu jangan terlalu dipikirkan, lebih baik bawa kita kerumahmu. Kita bicara baik-baik ya,” ujar Jie Ru dengan cerdik untuk mendapat tumpangan hidup.
Xin Qian tak punya pilihan lain selain membawa ketiga manusia yang tersesat di tengah perjalanan, Sebenarnya Xin Qian dapat meninggalkan pemuda tersebut di tengah bukit, tetapi karena pikirannya yang sudah dipenuhi dengan arak hingga ia tak sadar jika ia harus tertipu dengan ucapan Jie Ru.
Perjalanan yang cukup mudah untuk sampai ke rumah Xin Qian, tidak sampai Shiwu Fenzong mereka telah sampai di kediaman Xin Qian yang berada di bawah air terjun yang menyuguhkan pemandangan yang sangat indah dipandang.
__ADS_1
Shiwu Fenzong\= 15 menit
“Aiyooo Xin Qian, rumahmu sangat nyaman, Saya bisa tinggal disini untuk waktu yang cukup lama,” papar Li Wei meneliti semua yang ada di sekitarnya.
Wei Heng merasa kediaman Xin Qian cukup aman jika ia harus mengembangkan energi qi nya, Selain atmosfer yang mendukung, juga energi alam bukit yang sangat besar. Mungkin jika ia melatih nya disini, Ia akan mencapai tempaan membentuk Lin Dan yang semakin tinggi.
Lin Dan\= energi dalam
“Eǐǐǐ, Kamu tidak mabuk rupanya,” tanya Jie Ru yang merasa Xin Qian tidak layak dikatakan seperti orang mabuk.
“Saya sudah bilang, Saya tidak mabuk hanya sedikit melayang. Jika saya benar-benar sampai mabuk maka kepalaku dalam sekejab akan ditebas oleh wanita itu,” ujar Xin Qian mengunjuk pada seorang wanita yang sedang menyiram tanaman.
Wajahnya masih terlihat muda meski penampilan nya seperti gaya orang tua, dengan topi bulat yang menggantung di kepalanya. Dari segi penampilannya sangat berbeda dengan yang lainnya, layaknya orang dari kalangan yang berada. Juga memiliki wajah yang simetris dan juga hidung yang mancung.
“A Ru, jika dilihat-lihat , wajah wanita itu hampir mirip dengan wajahmu,” ujar Wei heng meneliti dari jarak jauh.
DEGGG, Tekanan pada pikiran Jie Ru kembali terjadi “Hahaha mungkin hanya kembaranku versi wanita,” gelak Jie Ru yang mencoba menghindar dari masalah yang dialaminya.
“Xin Qian siapa wanita itu?” tanya Li Wei.
“Oohh Dia wanita yang dibawa oleh ayahku, ketika ia terhanyut dalam sungai, karena dia kehilangan ingatannya jadi ia tinggal disini dan menjadi kakak angkatku,” jawab Xin Qian.
Jie Ru yang menilai tuturan Xin Qian menjadi lebih antusias ingin menanyakan yang lebih detail tentang wanita yang sedang ditujukan.
“Sudah berapa lama ia ada disini?” tanya Jie Ru kembali.
“Mungkin jika saya perkirakan sejak Ershisi Nian Qian, yang masih saya ingat pada saat itu saya juga baru menginjak usia Jiu Nian," ujar Xin Qian menghitung dengan sepuluh jari tangannya.
Ershisi Nian Qian\= 24 tahun silam/ 24 tahun lamanya
Jiu Nian\= 9 tahun
“tapi bagaimana mungkin wajahnya masih terlihat sangat muda,” ujar Li Wei menatap wanita tersebut.
“Hei Hei jangan bilang kau suka pada kakakku,” papar Xi Qian.
“Hahaha tidak mungkin terjadi, Saya seorang pendekar tidak berniat mencari seorang istri.”
“entahlah mungkin dulunya dia dari keluarga berada maka dari itu penampilannya seperti orang dari kalangan atas, tapi kalian jangan takut, Dia wanita yang baik dan lembut, hanya kepadaku lah ia bertindak seperti Shizi yang kelaparan.
__ADS_1
Shizi\= singa
Perasaan akrab ini timbul darimana, sedangkan saya tidak mengenal wanita itu. Apakah mungkin? Tidak mungkin, Dia sudah meninggal, Dia bukan wanita itu!