The Tale Of Abandoned Dragon

The Tale Of Abandoned Dragon
Bab 33 - Sebuah Pengorbanan #2


__ADS_3

~Di Chapter kali ini, Persiapkan air mata kalian ya Manteman, Kalau bisa nangis ya persiapkan tissue, Kalau yang tak ada air mata cukup dihayati yah🤭. Soalnya author juga sambil nangis bawang ketik bagian chap ini😭~


...快樂閱讀~~...


...Happy Reading's~~...


...Selamat Membaca~~...


...........


..........


.........


Keadaan semakin berduka dengan keadaan Chen Fei yang sudah lemas setengah nyawa dengan sisa separuh nafas yang masih tersisa dalam dirinya. Kekuatan Huakui terlalu sulit untuk ditaklukan, Ia meluapkan segala keinginan balas dendam nya kepada Chen Fei yang tidak melihatnya pada saat itu.


“Wei biarkan aku berbicara berdua denganmu, Ada yang harus kuberitahu,” ujar Chen Fei dengan nafas yang mulai terengah-engah.


Yang lainnya mundur dari posisi seakan telah tahu maksud dari Chen Fei.


“Wei ada hal yang perlu kamu tahu,” papar wanita yang tidur di bawah kaki Wei Heng.



“Kamu bisa katakan jika kamu sudah sembuh Fei,” tutur Wei Heng merapikan anak rambut Chen Fei.


Chen Fei merasa senang dengan sikap Wei Heng yang begitu perhatian dengannya “Wei... Hari ini adalah hari kebahagiaan yang terakhir kalinya untukku, Karena hari ini juga akan menjadi hari kematianku."


Wei Heng terheran dengan ucapan Chen Fei yang ia lontarkan jika hari ini adalah hari kematiannya “Apa maksudmu Fei?”


“Wei maaf, Jika selama ini aku sudah merepotkan mu. Wei sampai hari ini juga namamu, wajahmu akan tetap ada dihatiku. Aku sudah menyukaimu sejak lama tapi perasaan ini masih saya simpan sendiri.”


“Fei maaf, Saya tidak dapat membalas perasaan tulusmu. Saya sudah mengganggap mu sebagai Adik, Saudara sekaligus Sahabat ku sendiri,” balas Wei Heng dengan perasaan bersalah.


“Tak apa, Sekarang hatiku sudah merasa lepas, Setelah kamu tahu perasaanku yang sebenarnya, Wei… Uhukk.” Muntahan darah Chen Fei mengenai jubah luar Wei Heng.

__ADS_1


“Fei berhentilah berbicara, kan kubantu dirimu sampai ke desa Jianchi, Kita akan menolongmu Fei,” papar Wei Heng yang dibalas dengan gelengan kepala Chen Fei.


“Tidak Fei, Ini sudah saatnya saya mengaku dosaku yang sebenarnya, Inilah karmaku. Terima kasih Wei sudah menemani saya untuk menjadi sosok yang baik.”


“Apa maksudmu Fei?”


Wanita terbaring lemah itu mulai menceritakan kisah yang sebenarnya terjadi mengapa ia mengikut Wei Heng mencari Si Xiong.


“Wei, Awal dari saya mengikutimu adalah ingin merebut Si Xiong dari tanganmu dan dari awal saya sudah memperkirakan dengan energi qi mu sebab saya melihat kamu bukanlah manusia biasa. Wei tolong sampaikan maafku kepada A YI, Xi Xi dan juga penduduk desa Jiangchi. Sebab saya jugalah yang membuat mereka menjadi begini,” tutur Chen Fei yang masih menahan sakit di jantungnya.


“Maksudmu? Kamu adalah…”


"Wei kuharap kamu tidak akan membenciku setelah saya menceritakan yang sebenarnya Wei."


“Iya, Saya adalah Fei Fei yang menyerap semua energi manusia para penduduk, Sekaligus saya yang membunuh istri kepala desa. Tak disangka ajal ku akan menjemputku dengan keadaan yang seperti ini. Disaat aku hendak berubah, Disaat itu juga karmaku berbuah. Xie Wei tolong sampaikan terima kasihku dan permintaan maafku,” ujar dengan air mata Chen Fei yang mengalir untuk terakhir kalinya.


Chen Fei menyentuh halus wajah Wei Heng dengan mata yang memerah. Disaat itu juga, telapak wanita yang bermata lentik terlepas dari genggaman Wei Heng. nyawanya sudah berpindah ke dunia lain, Nafasnya yang tersengal-sengal kini sudah tenang dengan wajahnya yang tersenyum.



"Tidak Fei, kami semua sudah memaafkan dirimu. Bangunlah Fei, Bangun untuk kami semua,” lontar Wei Heng dengan air  mata yang berlinang di kedua pelupuk matanya.


Lambat laun semua manusia yang masih menghindari kedua manusia yang dibawah pohon, begitu mendengar rintihan tangis dari mulut Wei Heng. Mereka berlari dengan cepat dan saling menatap.


Wei Heng yang masih memeluk erat tubuh kaku Chen Fei yang sudah tak bernyawa atas jasanya telah menyelamatkan Xi Xi yang baru tersadarkan dari hawa iblis. Genangan air mata mulai membasahi pipi para pemuda yang masih berdiri menatap kematian Chen Fei yang tak sia-sia.


Xi Xi masih terdiam di tempat yang sudah tak dapat berkomentar sedikitpun, Perihal baru saja ia mengenal seorang kakak yang begitu menyayangi dan melindunginya. Kini sosok itu hanya akan menjadi sebuah kenangan.



Perlahan Xi Xi mendekati sosok wanita yang kini sudah menjadi jasad dan berkata “Chen Jie, Bagaimana bisa hari ini menjadi hari terakhir kami bersama. Perihal baru kemarin kita bermain bersama, membeli baju bersama, Berjalan bersama, Bagaimana mungkin hari ini adalah hari terakhirmu. Bangunlah Jie, Kita masih harus menghabiskan semua koin mu, Kau telah berjanji padaku. Bangun!!!” Teriak Xi Xi menggoyangkan dengan kuat tubuh Chen Fei.


Xi Xi merasa terpukul Ketika melihat tiada respon dari sosok wanita yang terbaring di pangkuan Wei Heng “ini semua karena ku, Jika Chen Jie tidak menyelamatkan ku mungkin saya yang akan menggantikannya, Maafkan aku Chen Jie,” Ujar Xi Xi dengan membenturkan kepalanya dengan keras di pohon tua sebelah nya.


Li Wei yang melihat hal itu, langsung menarik Xi Xi kepelukannya dan berkata “ini semua tidak ada salahmu, ini semua sudah kehendak Lao Tian Ye yang mengatur jalan terbaik untuk Afei.”

__ADS_1



Jie Ru masih setia dengan posisi berlutut nya dihadapan Chen Fei. Setelah ini, hidupnya akan sepi tanpa ada yang menegurnya, memarahinya ataupun memakinya “Fei, Kau pergi begitu cepat, sekarang sudah tidak ada lagi yang namanya wanita tercantik lagi diantara aku dan Wei Heng. Tidak ada lelucon lagi diantara kami, Pergilah dengan tenang Fei kamu tetap akan menjadi sahabat terbaik kami.”


Wei Heng memapah tubuh keras Chen Fei kembali ke desa Jiangchi, Perihal ia tidak mengetahui dimana asal Chen Fei dan setelah wanita itu menceritakan asal dirinya yang sesungguhnya. Akan lebih baik Chen Fei dimakamkan bersama dengan Kepala Desa yang telah menjadi suaminya.


Pertarungan yang terjadi kemarin malam hingga pagi subuh membuahkan hasil baik, dengan kaki Jie Ru yang terkena racun iblis hingga hampir menjalar ke atas kakinya, Dan perjuangan seorang wanita iblis yang telah berubah menjadi wanita baik.


”Xi Er, kemana saja kalian kemarin malam? Mengapa subuh begini kalian baru pulang,” lontar A Niang yang belum memperhatikan Chen Fei yang dipapah Wei Heng.


“Aiyoo, kenapa dengan wajah kalian begitu suram, Apa yang terjadi?”


Tidak ada yang menanggapi perkataan A Niang, Sebab manusia itu masih berkabung dengan kematian sahabat.


“Wei Xiansheng, Mengapa jubahmu ada darah?” ujar A Niang yang melihat Wei Heng baru sampai dengan perkumpulan manusia yang sampai terlebih dulu.


“Xiao Jie?” A Niang tersentak jatuh Ketika melihat keadaan Chen Fei yang sudah tak menghembuskan nafasnya.


Xi Xi lekas memapah ibu nya berdiri yang jatuh ke tanah “A Niang, Chen Jie sudah tak ada,” ujar nya yang kembali menangis histeris.


“Bagaimana mungkin? Siapa yang membuatnya menjadi seperti ini? Apa yang kalian lakukan semalam?” lontar A Niang yang masih tidak percaya dengan lontaran Xi Xi.


“Dia wanita yang sangat baik, Bagaimana… bagaimana Lao Tian Ye mengambilnya secepat ini?”


Wei Heng masih tak dapat mengatakan amanat yang telah dipesankan oleh Chen Fei, Ia tak sanggup jika ia harus berkata jujur siapa Chen Fei yang sebenarnya.


“Afei dibunuh oleh Huakui saat pertarungan kemarin malam,” ujar Jie Ru yang tidak sanggup lagi menyembunyikan perasaannya.


“Afei?” tutur A Niang melihat kearah Jie Ru dan lainnya.


“Iya, Chen Fei sudah mengungkapkan padaku jika ia adalah Fei Fei yang telah membuat kalian menjadi keadaan yang seperti ini dan Ia meninggal pesan untuk meminta maaf kepada penduduk Desa Jianchi,” ujar Wei Heng yang mendadak membuka suara.


“Ha? Bagaimana bisa? Kalian para anak muda jangan mencoba-coba untuk membohongi orang tua,” papar tegas A Niang yang tidak bisa menerima argumen mereka.


Seorang A Niang sudah begitu tidak percaya dengan lontaran yang mereka ucapkan, apalagi para penduduk yang belum terlalu mengenal Chen Fei dalam waktu lama.

__ADS_1


 


 


__ADS_2